Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Jemput
"Ke mane lagi sih, lu? Toko mau tutup, ade aje alesan lu!" Babe melihat Collins kembali keluar toko.
"Itu, Be. Ustadzah berdiri di pagar sekolah sama muridnya, dari tadi gak pergi-pergi. Bara mau tanya ada apa." Collins menunjuk ke arah sekolah SLB yang ada di seberang. Memang terlihat Aida dan seorang murid laki-laki berdiri di depan pagar. Padahal cuaca panas walaupun sudah mulai sore.
"Ye udeh, deh! Pegi dah, sono! Biar babe nyang tutup tokonye."
Collins menyeberang. Ia melihat Aida dan muridnya bercakap-cakap.
"Apa kamu tidak telepon?" tanya Aida pada sang murid.
"Aku sudah telepon, tapi kata Mami, suruh tunggu di pintu gerbang," sahut sang murid yang matanya hampir seluruhnya putih. Wajahnya seperti anak terbelakang. Suaranya tidak jelas, tapi beruntung bisa bicara.
"Tapi dari tadi sepertinya tidak ada yang datang. Apa kamu tidak bisa pastikan sekali lagi, di mana Mamimu berada?"
Wajahnya tampak sedih. "Mami gak suka ditelepon terus-terusan. Nanti dia marah-marah."
Aida menyentuh bahu sang murid karena iba. "Ya sudah, ibu temani ya?" Ia mendengar langkah kaki. Aida sangat hapal suara sendal pria itu. "Bang, kamu ke sini?"
"Eh, bagaimana Mbak tahu itu aku!?" Collins terkejut.
"Langkah kakimu, Bang. Cara jalanmu, aku tau."
"Sedang apa Mbak di sini?"
"Ini. Menemani anak murid. Dia belum dijemput orang tuanya padahal sudah sore. Sekolah juga mau tutup, kasihan."
"Aku bisa mengantarnya, bila dia tahu alamat rumahnya."
"Masalahnya ibunya sudah di jalan, katanya."
"Oh ...."
Akhirnya Collins menemani keduanya di sana. Namun tak lama, mobil orang tua murid itu datang. Wajah seorang wanita muncul ketika kaca pintu belakang terbuka. Wanita itu berkulit putih, bermata sipit dengan tubuh sedikit gemuk menatap ke arah mereka. Dari pakaiannya, wanita itu terlihat kaya. "Rendy, ayo pulang!" teriaknya.
Murid yang bertubuh sedikit gempal dan berkulit putih itu, meraih tangan Aida dan menciumnya. "Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam."
Anak laki-laki itu mendatangi mobil. Sang wanita kaya melirik ke arah Aida. "Lain kali tak usah ditunggu, Bu, anak Saya. Nanti Ibu komplen lagi sama Saya, kenapa telat jemput. Kalau sampai malam Saya belum juga jemput, biarkan saja anak Saya di situ. Itu urusan Saya dengan anak Saya. Ibu tidak usah ikut campur!" ucapnya ketus sambil bergeser ke samping ketika sang anak datang membuka pintu. Setelah anaknya masuk, mobil itu segera pergi.
"Sopan sekali ibu itu! Sudah dibantu temani anaknya, eh, dia tidak bilang terima kasih!" Collins mendengus kesal.
Aida menyentuh lengan pria itu. "Jangan marah-marah, Bang. Kasihan anaknya."
Mata Collins melotot, kesal. "Dia itu ya ...." Namun ucapannya terhenti karena mendengar kata-kata Aida barusan hingga ia menekan amarahnya. Collins mengepal kedua tangan erat-erat karena geram. "Hh ... kok ada orang tua yang seperti itu ya, sama anaknya sendiri!"
"Terima kasih ya, Bang. Sudah temani aku di sini."
Collins menoleh. Senyum wanita itu mencairkan amarahnya seketika. "Mmh."
"Bang."
"Ya?"
"Bisa temani aku ke kuburan?"
"Kuburan?"
"Iya. Sabtu depan aku mau ke kuburan orang tua dan saudara."
"Bara!" terdengar teriakan Babe dari seberang jalan.
Keduanya menoleh. Collins memutar kepalanya kembali ke arah Aida. "Oh, ya. Bisa! Kamu mau pulang?"
"Abang pergi aja dulu, aku mau masuk sebentar ke dalam."
"Ya udah, Abang pulang ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
"Mpok, kalo beli mukena yang bagus tapi murah sekitar berapaan, Mpok?" tanya Collins yang sedang memperhatikan Ipah menjahit dengan mesin jahit di sebuah meja di sudut ruangan.
"Mmh ... kalo bajetnye kecil, mending Mpok bikinin aje, pegimane?" Ipah berhenti menjahit dan menoleh.
"Oh, bisa bikin juga?" Collins terkejut.
"Oh, jelas bisa dong. Selama bisa dijahit, Mpok bisa bikin. 'Kan bentar lagi kursus Mpok selesai. Mpok udah bisa jadi penjahit deh!"
"Mpok mau buka jahitan? Di rumah?"
"Ya ... mulai dari yang kecil dululah ...." Wanita itu tersenyum.
"Hebat, Mpok! Aku dukung. Aku jadi pelanggan pertamanya ya."
"Boleh."
"Ya udah Bara cari duit dulu buat bikin mukenanya. Bikin yang bagus ya, Mpok!"
"Semangat buat lu. Biar cepet nikahnye lu ame ustadzah Aida tersayang lu itu." Ipah menepuk-nepuk bahu Collins.
Collins tersenyum lebar. "Amin."
Keduanya berpandangan sambil tersenyum.
***
Pria muda itu tersenyum ke arah Babe.
Babe memasang wajah datar membuat sang pria sedikit tegang. "Jadi kedatengan lu ke sini buat ape?" tanya pria paruh baya itu pada Arman.
"Eh, berarti aye udeh bisa ngajak Ipah jalan dong, Be, ye?" Arman tersenyum.
"Kate siape?!" Mata Babe langsung mendelik dengan sadis.
Arman langsung terdiam mendengar bentakan Babe. Selain ketua RT, ia tak bisa sembarangan karena Babe Ipah guru silat, dan yang lebih penting lagi pria itu adalah ayah Ipah, calon mertuanya. Ia sulit mengajak Ipah karena tersandung aturan yang dibuat pria ini. Padahal Arman dan Ipah berteman sejak kecil, tapi sejak SMP, Ipah hanya boleh berteman dengan sesama perempuan. Sejak itulah Arman mulai sadar, sudah menyukai gadis periang nan barbar ini sejak lama. "Jadi pegimane, Be?" Ia menggaruk-garuk rahangnya karena bingung.
"Ya, lu pan udeh kenal ame anak gua. Ape lagi? Ye pastinye langsung ngelamarlah!"
"Tapi, Be. Aye pan baru masuk kerja, Be. Belum ke kumpul duitnye." Arman beralasan.
"Ya udeh. Lu kumpulin dulu aje," sahut Babe santai.
Tepat pada saat itu Collins keluar. Ia pamit pada Babe dan memakai helm. Collins naik motor.
"Nah, entu die bisa pacaran, Be," sahut Arman menunjuk Collins.
"Enak aje lu ngomong! Die ngojek itu, bukan pacaran!" Babe kembali mengomel.
Collins yang sedang memundurkan motor tersenyum lebar. Ternyata banyak juga yang salah sangka terhadapnya, karena ia memang tidak ngojek di luaran. Ia hanya ngojek dengan Aida.
****
Motor Collins sampai ke depan kontrakan Aida. Ternyata ketika wanita itu turun, Collins meraih tangan Aida. "Mbak, aku boleh 'kan lihat si Mono?"
"Oh, iya." Sebenarnya Aida sedikit sungkan. Ia tak bisa mengusir Collins, karena pria itu ingin bermain dengan kucing yang mereka temukan waktu itu. Padahal itu kontrakan perempuan tapi Collins selalu punya cara untuk membuat Aida membiarkannya mengunjungi kamar. Pintu dibuka dan pria itu akan duduk di lantai dekat pintu.
Collins memang membuktikan ia hanya bermain dengan kucing itu. Setiap Collins datang, kucing itu akan mengitari kakinya. "Mono ...." Ia meraih kucing kecil itu dan duduk di lantai sambil memangkunya. Mono paling suka kalau punggungnya diusap Collins. "Kamu kasih makanan yang aku beli itu 'kan?"
"Iya, tapi ini bukannya mahal ya?"
"Ngak papa, biar bulunya bagus. Ini saja sudah terlihat ...."
"Bara!"
Collins memutar kepalanya. Ia melihat Babe bergegas masuk. Collins tak sempat mengelak ketika tangan pria paruh baya itu menjewer telinganya ke atas. "Ahh ... Babe ...!"
"Pulang kagak lu! Jangan bikin malu babe! Udah babe bilang, masih bandel aje, ni bocah koreah!"
Collins terpaksa berdiri dan mengikuti Babe karena telinganya masih dijewer. Aida sempat terkejut, tapi kemudian tersenyum menahan tawa karena melihat kedatangan Babe.
"Mbak, aku pulang dulu!" teriak Collins sambil menahan nyeri di telinga. "Udah, Be. Malu dilihat orang," bisiknya pada Babe.
Bersambung ....