NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sevilla dan Sebuah Pesan

Sevilla menyambut Liam dengan cahaya pagi yang hangat, matahari yang belum terlalu tinggi, dan udara yang terasa kering di paru-paru. Kota itu terlihat sama seperti terakhir kali ia meninggalkannya—tenang di permukaan, tapi penuh lapisan di baliknya. Tidak ada rasa rindu, juga tidak ada kelegaan yang ia rasakan. Sebab, Sevilla memang bukan tempat untuk bernapas lega, melainkan tempat untuk mengingat kembali dan mengenang.

Dari bandara, Liam langsung menuju rumah Rafael. Orang-orang suruhannya langsung membawanya dengan cepat dan sigap, tanpa menunggu aba-abanya lagi. Jalan-jalan yang mereka lewati terasa terlalu akrab, seolah kota ini tidak pernah benar-benar melepaskannya.

Bagi Liam, Sevilla bukan kota tujuan. Ini adalah titik awal. Tempat ia pertama kali belajar diam ketika seharusnya berbicara, dan bertindak ketika seharusnya menunggu. Sevilla tidak pernah terasa ramah baginya—tapi selalu jujur.

Rumah Rafael berdiri seperti biasa—tampak besar, tua, dan terlalu tenang untuk ukuran rumah seseorang yang dulu menguasai separuh kota New York. Gerbang besi yang berdiri kokoh dan tinggi tampak terbuka perlahan—membawa Liam menuju rumah yang menyimpan cukup banyak kenangan di masa lalu.

Di dalam rumah tua itu, udara yang dipenuhi bau obat-obatan langsung menyambut kedatangan Liam, diikuti kehadiran dokter pribadi Rafael yang berdiri di depan kamar Rafael. Pria itu berbicara dengan suara rendah, profesional, dan tanpa basa-basi.

“Kondisinya mulai stabil,” katanya. “Tidak ada komplikasi baru. Tapi… kami tidak bisa menjanjikan banyak.”

Liam pun hanya mengangguk—tidak bertanya, dan tidak meminta penjelasan tambahan. Sebab, ia sudah memahami arti kata-kata itu sejak lima tahun lalu. Bahwa stabil bukan berarti membaik, melainkan hanya berarti waktu masih mau menunggu Rafael sebentar lagi. Ini bukan tentang bertahan hidup, tapi ini tentang menunda perpisahan.

Saat pintu kamar Rafael akhirnya terbuka, ia langsung bisa melihat Rafael yang tengah terbaring di atas ranjang besar yang kini tampak terlalu luas untuk tubuhnya. Kini, tubuh Rafael jauh lebih kurus dari yang ada di ingatannya. Bahunya tampak menyempit, dan wajahnya cekung. Namun ketika mata itu terbuka dan menatap ke arah pintu, masih ada sesuatu yang sama yang bisa Liam temukan, yaitu ketajaman tatapan Rafael yang dulu membuat banyak orang memilih tunduk daripada berdebat dengannya.

“Liam,” suara Rafael parau, tapi jelas.

Liam pun mendekat. “Aku di sini.”

Ia duduk di sisi ranjang, menatap wajah Rafael yang tampak layu, namun tetap dipaksakan kuat. “Kau selalu datang tepat waktu,” kata Rafael, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Bahkan sekarang.”

“Untukmu, aku pasti datang.”

Rafael mengangguk pelan. “Kau masih sama... seperti dirimu yang dulu.”

“Aku tidak pernah berubah, Rafael,” jawab Liam tanpa ekspresi.

Untuk sesaat, mereka diam. Menyisakan suara mesin medis yang berdetak pelan, nyaris tak terdengar. Liam memperhatikan tangan Rafael—tangan yang dulu mampu membuat satu isyarat kecil yang mengubah nasib banyak orang. Dan kini tangan itu tampak gemetar di atas selimut yang tebal.

Untuk pertama kalinya, Liam melihat bosnya itu sebagai lelaki tua—bukan lagi pria yang dipenuhi kekuasaan dan tidak takut terhadap apapun atau siapapun.

“Kau ingat pertama kali kita bertemu?” tanya Rafael tiba-tiba.

Liam tidak langsung menjawab. “Aku ingat kau hampir menyuruh mereka menembakku, di salah satu jalanan gelap di New York.”

Rafael tertawa pendek, lalu batuk. “Hampir. Kau terlalu berani untuk anak seusiamu.”

“Atau terlalu bodoh.”

“Tidak,” Rafael menggeleng pelan. “Kau hanya keras kepala. Itu berbeda.”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan, “Terkadang, kau memang tidak tahu kapan harus mundur. Tapi kau selalu tahu kapan harus maju.”

Liam menatap lurus ke depan. “Dan itu hampir membunuhku.”

“Ya. Dan lebih dari sekali,” sahut Rafael. “Dan setiap kali itu terjadi, kau kembali berdiri. Aku selalu memperhatikanmu.”

Rafael menoleh sedikit, menatap Liam dengan lebih serius. “Banyak yang kuat. Banyak yang pintar. Tapi hanya sedikit yang berusaha tetap berdiri, meski sedang bertaruh dengan maut.”

Liam tetap diam. Ia tidak menyangkal, juga tidak membenarkan.

“Orang-orang mengira aku menyerahkan segalanya padamu karena aku sakit,” lanjut Rafael. “Itu tidak sepenuhnya benar.”

“Kau memilih,” kata Liam pelan.

“Aku bertaruh,” Rafael membetulkan. “Kepercayaan tidak pernah diberikan, Liam. Ia dipertaruhkan.”

Liam mengangguk satu kali–ia masih ingat hari itu. Hari ketika segalanya berpindah tangan begitu saja, tanpa pengumuman yang berarti. Hari itu hanya ada satu percakapan tertutup, dan satu keputusan yang benar-benar mengubah hidup Liam.

“Kau tidak pernah ragu?” tanya Liam akhirnya.

Rafael tersenyum tipis. “Tentu saja ragu. Tapi aku lebih ragu pada siapa pun selain kau.”

Keheningan pun kembali turun. Kali ini lebih berat dan lebih penuh makna. Liam masih duduk di sana, menyadari bahwa semua yang ia miliki sekarang—sepert kekuasaan, tanggung jawab, dan juga beban, semua itu berakar dari kepercayaan seorang pria yang kini berjuang melawan waktu. Dan untuk pertama kalinya, Liam merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Rafael menarik napas lebih dalam sebelum kembali bicara. Ada jeda yang disengaja, seolah ia sedang memastikan tubuhnya masih sanggup mengikuti pikirannya.

“Kau tahu kapan semuanya berubah,” katanya pelan. “Lima tahun lalu.”

Liam mengangguk cepat. Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu bahkan sebelum Rafael melanjutkan.

“Dokter pertama menyebut kata kanker, aku langsung tahu,” lanjut Rafael. “Bukan soal mati atau hidup. Tapi semua itu soal waktu. Dan aku tidak mau organisasi ini goyah hanya karena aku berharap terlalu lama.”

Rafael pun menoleh, menatap Liam dengan sorot mata yang masih tajam, meski dibingkai wajah yang tampak menua dan rapuh.

“Aku menyerahkannya padamu bukan karena aku lemah.”

“Aku tahu,” jawab Liam singkat.

“Bukan karena aku tidak mampu lagi memimpin,” Rafael menegaskan. “Tapi karena aku yakin.”

Liam menghela napas pelan. “Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan.”

Rafael tersenyum tipis. “Itulah sebabnya aku memilihmu. Kau tidak pernah melihat kekuasaan sebagai hadiah.”

Narasi itu menekan dada Liam lebih dari yang ia akui. Sejak hari pertama, ia tahu beban itu tidak pernah ringan, dan tidak pernah menjadi lebih mudah.

“Aku tidak pernah menyesal,” kata Rafael. “Tidak sekali pun.”

Liam tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai sesaat, lalu kembali pada wajah lelaki tua di hadapannya.

“Aku sudah melakukan segalanya,” kata Rafael setelah beberapa detik. “Dan aku tahu kau juga.”

Liam menggeleng pelan. “Tapi itu belum cukup. Yang kulakukan tidak akan pernah cukup.”

Rafael mengernyit samar. “Kau menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Kau menjaga semuanya agar tetap berdiri sebagaimana mestinya.”

“Dan tetap saja aku tidak bisa membeli waktu,” balas Liam, suaranya lebih rendah.

Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Bukan keheningan yang canggung, melainkan yang berat seperti pengakuan yang terlambat.

“Hidup memang tidak adil,” ujar Rafael akhirnya. “Dan waktu… tidak pernah bisa ditawar.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke kamar itu, bahu Liam terlihat sedikit mengendur. Ia tidak berbicara sebagai pemimpin, bukan sebagai kepala organisasi, dan bukan juga sebagai penerus yang terpilih. Ia berbicara sebagai seseorang yang sedang dilanda ketakutan.

“Aku tidak siap kehilanganmu,” katanya jujur.

Rafael menatapnya lama. Ada kelembutan di sana, sesuatu yang jarang ia tunjukkan selama bertahun-tahun memimpin. “Tak ada yang pernah siap,” jawabnya.

Beberapa saat kemudian, Rafael kembali bicara, kali ini lebih pelan.

“Maria.”

Nama itu menggantung di udara.

“Aku tahu,” kata Rafael sebelum Liam sempat merespons. “Aku tahu kau sudah menjaganya selama ini, dengan caramu sendiri.” Ia menarik napas pendek. “Tapi aku perlu mendengarnya”, lanjutnya.

Liam menegakkan punggungnya sedikit. “Aku akan selalu menjaganya.”

“Bukan hanya dari bahaya,” Rafael menambahkan. “Tapi dari kesepian. Dari keputusan-keputusan yang seharusnya tidak ia buat sendirian.”

Liam menatap Rafael tanpa ragu. “Aku akan melakukannya.”

Rafael mengangguk pelan. Wajahnya terlihat lebih tenang, seolah sebagian beban akhirnya bisa ia lepaskan.

“Itu permintaanku yang utama dan yang terakhir,” katanya. “Bukan tentang organisasi. Tapi tentang darah dagingku.”

Percakapan mulai mereda setelah itu. Rafael terlihat kelelahan, dengan kelopak matanya yang perlahan turun, dan napasnya yang menjadi lebih teratur. Mesin medis di sudut ruangan pun mengeluarkan bunyi pelan, namun konstan.

Sementara itu, Liam tidak bergerak. Ia tetap duduk di sisi ranjang, tangannya bertumpu di paha, dan pandangannya tidak lepas dari wajah Rafael.

Beberapa menit berlalu sebelum seorang perawat akhirnya masuk dengan langkah hati-hati. Ia memberi isyarat singkat bahwa Rafael perlu istirahat. Membuat Liam sontak mengangguk dan berdiri perlahan.

Ia melangkah keluar kamar saat malam mulai turun di Sevilla. Entah kenapa lorong terasa lebih panjang dari sebelumnya. Ia berhenti sejenak, menempelkan punggung ke dinding, dan mengatur napas. Untuk pertama kalinya, ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia akan kehilangan Rafael. Cepat atau lambat.

Ia masih mampu berdiri tegak, dan masih terlihat kuat. Tapi fondasi yang menopangnya selama ini tampak mulai retak. Lima tahun lalu, Liam menerima kekuasaan. Dan hari ini, ia belajar arti kehilangan yang sesungguhnya.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!