Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 27
"Kamu serius, Rita?!"
Bram tanpa sadar mencekal kuat bahu Amrita, ketegangan menggurat jelas di setiap inchi wajahnya.
Amrita nyaris meringis akibat cengkeraman kakaknya itu, dan mengangguk. "Ya, Kak... karena aku melihatnya. Ada seseorang yang bicara pada pelayan yang ditangkap polisi itu, tepat sebelum Kak Zenna minum mocktail dan jatuh...!"
"Siapa?!"
Amrita menarik napas dalam-dalam.
"Rendy Wangsa."
Bram membelalak. Jantungnya seolah hampir meledak.
"Kamu yakin?!"
"Seratus persen," kata Amrita serius. "Kalau Mas nggak percaya, cek saja rekaman CCTV hari itu... Polisi juga harusnya tahu. Tapi mereka diam saja, dan penyelidikan hanya menetapkan pelayan itu sebagai pelaku. Itu bukti bahwa dalang yang menyuruh pelayan itu sanggup membuat penegak hukum sekalipun tak bisa menyentuhnya. Dan orang yang sangat kaya dan berkuasa untuk itu, adalah Rendy Wangsa...!"
Bram terdiam. Sekalipun dilanda geram, ia tetap berusaha berpikir cepat dan jernih.
"Baik. Akan kuperiksa tayangan CCTV hari itu. Terima kasih sudah memberitahuku, Rita. Tapi kamu tak boleh membiarkan informasi penting ini bocor ke mana-mana. Jika sampai ada yang tahu--"
"Ah," ekspresi Rita tampak menyesal. "Kalau soal itu... maaf aku sudah memberitahu orang lain mengenai hal ini, Mas... apalagi Mas Bram nggak pernah pulang sejak Kak Zenna masuk rumah sakit dan nggak bisa kuhubungi, jadi--"
Bram terkejut. "Kamu memberitahu orang lain? Siapa?"
"Paman Darwin."
Meski malam sudah larut, Bram tak ragu melesat ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar paman tirinya itu. Ekspresinya gelap dan tegang.
Pintu kayu jati tebal berhias ukiran Jepara itu terbuka. Sesosok laki-laki paruh baya berambut ikal sebahu yang sudah beruban semua muncul dalam balutan kimono tidur hitam. Mata hitam kecilnya menatap Bram tajam.
"Kamu sudah pulang, Bram?" tanyanya dengan suara berat dan dalam. "Bagaimana kondisi Zenna? Dia baik-baik saja sekarang?"
"Zenna sudah membaik. Maaf mengganggu istirahatmu, Paman, tapi aku perlu bicara. Empat mata. Sekarang. Bisa?"
Paman Darwin mengangkat alis. Tetapi ia tak menolak.
"Ke ruang kerjaku, kalau begitu. Ayo."
Paman Darwin memimpin langkah menuju kantor pribadinya yang terletak di ujung barat lantai dua, dekat perpustakaan keluarga.
"Kamu mau membahas soal perusahaan, atau soal pembunuh Zenna?"
Paman Darwin duduk di belakang mejanya yang kokoh dan lebar, nyala pandangnya setajam elang.
Bram tertegun. "Bagaimana Paman--"
"Aku sudah cukup tua untuk paham situasi dan jalan pikiran keponakan tiri yang kuurus sejak kecil," tukas Paman Darwin. "Tapi buatmu tragedi yang menimpa Zenna pasti lebih penting untuk dibahas. Jadi kamu ingin bicara karena butuh nasihatku? Atau mau tahu langkah apa yang sudah kuambil?"
"Maksud Paman...?"
"Nasihatku, kita lawan pembunuh itu. Sampai akhir. Keadilan harus ditegakkan. Tak ada yang boleh mengusik anggota keluarga, apalagi pewaris Atmaja. Perang dunia ketiga sekalipun akan kulakukan asal bisa menyeret kepala pembunuh itu ke tiang gantungan."
Nada bicara Paman Darwin begitu tegas dan tajam, hingga Bram sesaat bungkam.
"Paman sudah mengecek CCTV pesta dan gedung kita hari itu?" tanya Bram perlahan.
Paman Darwin mengangguk. "Ya. Ada satu orang tertangkap kamera berinteraksi dengan pelayan yang terbukti meracuni minuman Zenna. Dia adalah Rendy Wangsa."
"Bisa aku lihat rekamannya? Paman menyimpannya di ruang kerja ini, bukan?" pinta Bram cepat.
Paman Darwin membuka laptop di mejanya dan menyalakannya. Beberapa saat kemudian, sebuah rekaman CCTV lengkap dengan keterangan tanggal kejadian diputar di layar.
Rekaman itu menunjukkan sosok Rendy Wangsa memasuki toilet di salah satu lorong gedung. Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul. Mereka membicarakan sesuatu. Dan Rendy menyerahkan sesuatu--seperti botol kaca kecil--kepada pelayan itu.
"Itu--"
"Racunnya," kata Paman Darwin lugas. "Jelas. Dan lihat waktu kejadiannya. Tepat satu jam sebelum Zenna minum mocktail di pesta dan tumbang."
Bram nyaris menghantam meja. Darahnya benar-benar menggelegak.
"Polisi pasti sudah tahu ini--dan mereka diam saja?!"
"Begitulah," timpal Paman Darwin masam. "Tapi Paman sudah berkonsultasi dengan para pengacara. Kita masih bisa menuntut Rendy, dengan bukti rekaman CCTV ini."
Bram memicingkan mata. "Paman yakin polisi akan memproses tuntutan itu dan membawanya sampai meja hijau?"
"Kita bisa gunakan pengaruh media dan massa untuk menyoroti kasus ini hingga viral," kata Paman Darwin tenang. "Dengan begitu, polisi dan pengadilan mau tak mau akan bekerja sesuai fungsinya. Kita masih punya kesempatan menang."
Bram terdiam. Jemarinya mengetuk permukaan meja dengan berirama.
"Tak akan semudah itu. Dan bukti seperti ini saja tidak cukup... Rendy dan tim pengacaranya masih bisa mematahkan tuduhan dengan mudah. Botol dalam rekaman itu tidak serta-merta menjadi bukti valid, kecuali fisik botol itu ditemukan dan positif mengandung racun dan sidik jari Rendy... apa bukti semacam itu sudah ditemukan juga?"
"Botol racunnya tidak ditemukan. Sepertinya sudah hancur di tempat pembuangan sampah," kata Paman Darwin pelan. "Tapi itulah bukti bahwa pembunuhan Zenna sudah diatur secerdas dan serapi ini. Kita masih bisa melawan di pengadilan dengan argumen itu juga."
"Tak akan cukup. Kita perlu bukti lebih," tegas Bram, rahangnya mengeras.
Paman Darwin menatap Bram sejenak.
"Kenapa kamu meninggalkan Zenna malam ini?"
"Itu karena... kondisi Zenna sudah membaik," gumam Bram, berusaha memasang raut mukanya tetap datar.
"Benarkah? Bukankah dia masuk ICU dan hampir meninggal malam ini?"
Bram memandang sang Paman dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan.
"Bagaimana Paman bisa tahu...?"
"Dokter pribadi Paman yang menangani situasi darurat Zenna malam ini, dan mengabari Paman melalui pesan singkat," jelas Paman Darwin. "Apa kamu kira Paman tak memantau kondisi keponakan Paman sendiri, apalagi setelah terbukti ada yang berusaha membunuhnya? Sudah Paman bilang, Paman tak akan membiarkan siapapun mengusik keluarga kita. Siapapun yang berani melakukannya, harus menerima konsekuensi setimpal."
Ekspresi dan sorot mata Paman Darwin memancarkan kilat kekuatan yang tak bisa diremehkan. Bram menghela napas kasar dan memutuskan tak lagi menyimpan kebenaran.
"Aku terpaksa meninggalkan Zenna, Paman... Rendy sudah mengusirku."
"Jelas dia melakukan itu, agar dia lebih leluasa menghabisi Zenna setelah ini," komentar Paman Darwin kelam.
"Tak akan kubiarkan!" Bram meradang, emosinya kembali mengaburkan pandang. "Akan kujemput istriku dan kupindahkan secara paksa sekarang!"
"Kamu tak perlu melakukan itu."
Bram terperangah. "Apa maksud Paman...? Nyawa Zenna sedang terancam sekarang...!"
"Ya, tapi dia juga bisa mati jika kamu memindahkannya sekarang dalam kondisi begitu," tegur Paman Darwin. "Sekalipun ia dalam cengkeraman Rendy, kamu tak perlu terlalu khawatir--mulai malam ini, Paman juga sudah menggerakkan orang-orang Paman. Salah satunya dokter kepercayaan Paman, dia sudah bersiaga di sana untuk menjaga Zenna. Dan sudah terbukti Zenna selamat karena perannya berfungsi dengan baik, kan? Kamu sudah menyaksikannya sendiri."
Bram menunduk, batinnya kembali memerih terkenang Zenna yang berhasil lolos dari lubang maut dengan sangat dramatis.
"Sementara ini Paman bisa mengupayakan Zenna tetap aman di sana. Tapi kita tak bisa berlama-lama. Kalau kamu ingin dia tetap hidup dan pulang ke rumah ini dengan selamat, kamu harus bisa membuat Rendy kalah dan mendekam di penjara. Cuma itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan pewaris keluarga kita," pungkas Paman Darwin perlahan.
Hari itu terasa begitu panjang dan mengerikan. Tsunami peristiwa dan fakta buruk tak henti menghantam Bram, tanpa jeda, tanpa belas kasihan.
Bram memejamkan mata, perlahan memijat titik di antara dahinya untuk meredakan ketegangan yang telanjur menghujam kedalaman nadinya.
"Akan kutemukan bukti lainnya secepat mungkin, dan mengeluarkan Zenna dari sana. Aku bersumpah."
Paman Darwin mengangguk. "Bagus. Paman akan membantumu dengan segenap kekuatan yang Paman miliki. Paman janji."
Begitu dialog usai, Bram melangkah pergi menuju kamarnya, sementara Paman Darwin mengambil ponsel dari kantong kimononya dan menelepon seseorang.
"...tak ada celah sekarang, bukan? Tak apa. Biarkan saja. Tetap kamu awasi dan laporkan setiap perkembangannya padaku. Setelah ini, dua anak itu akan bertarung satu sama lain. Di saat mereka kacau itulah, pasti ada titik lengah. Dan itu adalah kesempatan emas--dan mungkin kesempatan terakhir kita--untuk menghabisinya."
Darwin tersenyum lebar.
"Tentu. Aku akan sangat sabar menunggu."
***