Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Palung Es Biru dan Pengkhianatan di Bawah Nol Mutlak
Lautan Gletser Utara bukan sekadar lautan yang membeku. Semakin jauh Ye Chen melangkah ke utara, es di bawah kakinya berubah warna dari putih menjadi biru tua, memancarkan aura Yin yang begitu pekat hingga mampu membekukan aliran waktu di sekitarnya.
Di sinilah letak Palung Es Biru (Blue Ice Trench).
Sebuah jurang raksasa yang membelah lautan beku, menganga lebar seperti mulut monster yang siap menelan dunia. Di kedalaman palung yang gelap gulita inilah, monster-monster purba bersemayam, dan suhu turun hingga mencapai titik Nol Mutlak.
Ye Chen berdiri di tepi palung. Angin yang berhembus dari dalam jurang itu membawa serpihan kristal es yang tajamnya melebihi pedang Tingkat Bumi. Setiap kali kristal itu mengenai jubahnya, suara robekan pelan terdengar.
"Tempat yang sempurna," gumam Ye Chen, uap napasnya langsung jatuh ke tanah dalam bentuk serbuk es.
Ketua Sekte Bintang Jatuh, Xing Tian, mengira Ye Chen datang ke sini untuk mempertaruhkan nyawa melawan Leviathan Es Kuno demi mendapatkan Inti Roh Bulan. Sebuah misi bunuh diri yang dirancang untuk menyingkirkannya.
Namun, Xing Tian tidak tahu satu fakta penting.
Ye Chen membuka telapak tangannya. Dari dalam Cincin Awan Putih, sebuah bola kristal berwarna perak yang memancarkan cahaya rembulan muncul. Benda itu berdenyut dengan energi Yin yang sangat suci dan murni.
Inti Roh Bulan (Moon Spirit Core).
"Orang tua itu berpikir aku harus memburunya," Ye Chen menyeringai tipis. "Padahal, aku sudah membunuh Leviathan itu di dunia bawah, dan intinya sudah ada di tanganku sejak lama."
Alasan Ye Chen tetap datang ke lautan gletser ini bukan untuk berburu, melainkan untuk bersembunyi dan menyerap energi.
Energi dari Sumsum Bintang Jatuh yang dia minum sebelumnya memiliki elemen bintang yang sangat panas dan agresif. Jika dia tidak menyeimbangkannya dengan elemen Yin (Es) yang ekstrem, meridiannya akan terbakar dari dalam. Palung Es Biru adalah tungku pendingin alami yang paling ideal di Benua Tengah.
Tanpa ragu, Ye Chen melompat ke dalam palung yang gelap itu.
WUUUUUSHHH!
Tubuhnya meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Semakin dalam ia jatuh, tekanan gravitasi dan hawa dingin semakin gila.
Dua ribu meter di bawah permukaan, Ye Chen mendarat di atas sebuah landasan es purba yang usianya jutaan tahun. Di sini, tidak ada air, hanya es padat yang memancarkan cahaya biru neon.
Ye Chen duduk bersila. Dia meletakkan Inti Roh Bulan di pangkuannya.
"Mutiara Penelan Surga... Aktifkan Mode Penyeimbang Yin-Yang!"
Pusaran hitam meledak di dalam Dantian-nya.
Dari luar, hawa dingin absolut dari Palung Es Biru disedot masuk melalui pori-pori kulitnya. Dari dalam, Inti Roh Bulan mengalirkan energi perak yang sejuk, menenangkan gejolak Sumsum Bintang Jatuh yang masih mengamuk di tulangnya.
Pertarungan dua energi ekstrem—Panas Bintang dan Dingin Bulan—terjadi di dalam Tulang Emas Gelap Ye Chen.
KRAK! KREK!
Ye Chen menggertakkan giginya hingga berdarah. Proses ini sama saja dengan meleburkan pedang di tungku api lalu tiba-tiba mencelupkannya ke dalam nitrogen cair. Tubuhnya dipaksa beradaptasi. Otot-ototnya sobek dan sembuh dalam hitungan mikrodetik.
Namun, hasilnya luar biasa.
Kepadatan tulangnya melonjak. Warna Emas Gelap-nya kini dihiasi dengan urat-urat perak yang berkilau.
Satu hari berlalu. Dua hari. Tiga hari.
Di hari ketiga, sebuah ledakan energi tak kasat mata menyapu dasar palung.
Dewa Fana Tingkat 5 Puncak... Tembus!
Dewa Fana Tingkat 6 (Awal)!
Ye Chen membuka matanya. Pupil naganya kini memancarkan aura bintang dan bulan secara bersamaan. Hawa dingin di sekitarnya tidak lagi menyakitinya; ia telah sepenuhnya menyatu dengan hukum es di tempat itu.
"Selesai," Ye Chen berdiri, mengepalkan tinjunya. Kekuatan fisiknya kini cukup untuk memukul hancur gunung dengan tangan kosong.
Namun, senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang.
Telinganya yang sangat peka menangkap getaran aneh dari atas palung. Bukan getaran binatang buas, melainkan fluktuasi Qi Dewa yang sangat kuat dan terarah.
Sembilan aura. Bergerak cepat, dan mengunci posisiku.
Ye Chen menatap ke arah langit-langit jurang yang gelap.
"Mereka datang lebih cepat dari dugaanku."
Di atas permukaan Lautan Gletser Utara.
Sebuah kapal perang perak melayang diam di atas celah Palung Es Biru. Di geladaknya, berdiri sembilan sosok yang memancarkan tekanan spiritual yang membuat salju di sekitar mereka menguap.
Pemimpin kelompok itu adalah Tetua Xing Kuang, pengawas turnamen sebelumnya. Di sekelilingnya adalah delapan Tetua Inti dari Sekte Bintang Jatuh.
Tingkat Kultivasi mereka rata-rata adalah Dewa Sejati (True God) Tingkat 1 dan 2.
Ini bukan pasukan biasa. Ini adalah tim elit pembunuh yang ditugaskan khusus oleh Ketua Sekte untuk "membereskan" masalah.
"Tetua Xing, kompas pelacak menunjukkan dia ada tepat di bawah kita," kata seorang tetua kurus dengan pedang melengkung. "Apakah kita harus turun? Hawa Yin di bawah sana sangat membatasi Qi Dewa kita."
Xing Kuang tersenyum sinis. "Tidak perlu. Jika dia benar-benar berani menghadapi Leviathan, dia pasti sudah mati atau terluka parah. Kita hanya perlu mengunci jalan keluarnya dan menghujani dasar palung dengan Meriam Bintang Penghancur."
Tetua itu mengangkat tangannya, bersiap memberi perintah penembakan ke dasar jurang.
Namun, sebelum meriam di kapal itu sempat diisi daya...
ZIIIIING!
Sebuah suara dentingan pedang yang sangat renyah terdengar dari kedalaman jurang. Suaranya tidak keras, tapi seolah bergema langsung di dalam jiwa para tetua tersebut.
Seketika, suhu di sekitar kapal turun hingga ke titik yang tidak masuk akal.
"A-Apa ini? Formasi es?!" salah satu tetua berteriak panik saat melihat kakinya mulai membeku menempel ke geladak kapal.
Dari dalam kegelapan Palung Es Biru, sesosok bayangan hitam melesat ke atas melawan gravitasi. Bukan terbang menggunakan Qi, melainkan melompat dari dinding ke dinding jurang dengan kecepatan yang memecahkan penghalang suara.
BOOM!
Sosok itu melesat keluar dari celah jurang, mendarat dengan keras di atas haluan kapal perang perak tersebut.
Baja kapal penyok ke dalam, dan kapal raksasa itu miring hebat.
Debu es mengepul.
Ye Chen berdiri perlahan. Dia memegang Pedang Naga Langit yang kini memancarkan cahaya perak sedingin es. Jubah hitamnya berkibar pelan, tidak ada segores luka pun di tubuhnya.
"Kalian mencariku?" Ye Chen menatap kesembilan Tetua Dewa Sejati itu dengan tatapan bosan.
Xing Kuang membelalakkan matanya tak percaya.
"Kau... kau masih hidup?! Di mana Leviathan itu?! Bagaimana kau bisa menahan hawa dingin Palung Es Biru tanpa menggunakan pusaka api?!"
"Terlalu banyak pertanyaan untuk orang yang akan segera mati," jawab Ye Chen.
"Lancang!" Tetua kurus berpedang melengkung menerjang maju. Sebagai Dewa Sejati Tingkat 1, dia merasa terhina dilecehkan oleh seorang pemuda yang auranya hanya di ranah Dewa Fana.
"Teknik Bintang Jatuh: Sabetan Komet Mematikan!"
Pedang tetua itu memancarkan cahaya biru panas, menebas lurus ke arah leher Ye Chen. Kecepatan dan tekanan Hukum Alam dari serangan seorang Dewa Sejati seharusnya membuat Dewa Fana tidak bisa bergerak.
Tapi Ye Chen hanya mengangkat tangan kirinya.
BAM!
Dua jari Ye Chen—jari telunjuk dan tengah—menjepit bilah pedang yang menyala itu.
Cahaya biru dari pedang itu padam seketika. Hukum alam yang mengelilingi pedang itu dihancurkan oleh kepadatan fisik Tulang Emas Gelap milik Ye Chen.
"M-Mustahil..." Tetua kurus itu gemetar, mencoba menarik pedangnya, tapi terasa seperti terjepit di antara dua benua.
"Kalian datang jauh-jauh ke wilayah es," Ye Chen menyeringai tipis, matanya memancarkan niat membunuh Asura yang pekat. "Apakah kalian tidak tahu bahwa suhu dingin membuat baja menjadi rapuh?"
Ye Chen menjentikkan jarinya.
KRAAAK!
Pedang Tingkat Surga milik Tetua itu patah menjadi dua.
Sebelum tetua itu bisa berteriak, Ye Chen mengayunkan Pedang Naga Langit di tangan kanannya. Kali ini, pedang itu tidak dilapisi api ungu, melainkan hawa dingin mutlak yang baru saja ia serap dari dasar palung.
Teknik Pedang Asura: Eksekusi Es Abadi!
SRET!
Garis pedang berwarna perak melesat, membelah udara.
Tubuh tetua kurus itu terdiam. Sedetik kemudian, seluruh tubuhnya membeku menjadi patung es biru, lalu hancur menjadi debu salju yang tertiup angin.
Mati tanpa setetes darah pun yang tumpah.
Delapan Tetua yang tersisa, termasuk Xing Kuang, mundur serentak dengan wajah penuh teror.
Seorang Dewa Sejati... dibunuh dalam satu serangan kasual oleh seorang Dewa Fana?
"D-Dia menyembunyikan kekuatannya! Formasi Tempur Bintang Sembilan! Kepung dia!" raung Xing Kuang, mencabut tongkat besarnya.
Delapan aura Dewa Sejati meledak di atas kapal, mengguncang langit Lautan Gletser Utara.
Ye Chen menurunkan ujung pedangnya, membiarkannya menyentuh geladak kapal.
"Sembilan lawan satu? Kurang banyak."
Ye Chen menatap mereka dengan seringai predator yang menemukan mangsanya.
"Mari kita lihat apakah kapal ini cukup besar untuk mengubur kalian semua."
Pertarungan antara Asura dan para elit Sekte Bintang Jatuh resmi pecah di atas samudra beku yang mematikan.
(Akhir Bab 34)
bantai para dewa yg munafik itu ye chen