Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Dunia yang Berbeda
Sore itu, rumah masih sepi. Langit belum pulang. Bu Maura dan Bu Rina tengah asyik mengobrol di teras. Ishani baru saja menidurkan Elang saat ia duduk di sisi ranjang menatap layar ponselnya.
Berita tentang Wicaksana Insurance masih menghiasi headline portal berita bisnis besar. Kolaborasi antara Langit dan Meilina masih menjadi sorotan. Foto mereka berdua banyak ditampilkan di portal-portal berita.
Ishani menghela napas, mencoba melegakan dadanya yang sedikit sesak. Ia menggulir layar ke bawah.
Komentar mulai terlihat. Awalnya biasa saja. Namun semakin ke bawah semakin terasa berbeda.
“Cocok banget mereka berdua.”
“Dua-duanya dari keluarga besar, selevel.”
“Aura pemimpin. Beda kelas.”
Jari Ishani berhenti. Ia membaca satu komentar lagi.
“Kalau jadi pasangan, pasti powerful banget.”
Ishani menelan pelan. Ia tidak sadar sejak kapan menahan napas.
Bu Maura masuk ke dalam kamar melihat cucunya. “Kamu belum makan lagi?” tanya pada Ishani.
Ishani menggeleng. “Nanti saja, Bu.”
“Jangan nanti terus,” sahut Bu Maura sambil duduk di sebelahnya. “Kamu butuh tenaga.”
Ishani tersenyum kecil. “Iya, Bu.”
Bu Maura melirik pada layar ponsel yang masih dipegang Ishani. “Berita apa?”
Ishani tidak langsung menjawab. Ia hanya memiringkan sedikit ponselnya.
Bu Maura membaca sekilas. “Oh… soal perusahaan.”
“Iya,” jawab Ishani pelan.
Bu Maura mengangguk. “Memang dari dulu dunia Langit seperti itu. Sudah, tidak usah dibaca terus,” suara Bu Maura terdengar lembut.
Ishani langsung mematikan layar ponselnya. “Iya, Bu.”
Ishani bergerak ke teras, terlihat Bu Rina sedang membereskan daun-daun yang berserakan di halaman. Beberapa tetangga tampak berkerumun di depan salah satu rumah.
“Ternyata Pak Langit tuh orang besar ya? Aku nggak tahu kalau keluarganya salah satu pengusaha terbesar di negara ini,” salah satu ibu berusaha berbisik tapi tetap terdengar oleh Ishani.
“Iya, sekarang sering masuk TV,” timpal yang lain..
“Wah… cocok ya sama perempuan yang kemarin itu. Yang di berita… cantik banget,” ujar ibu pertama melirik ke arah Ishani.
Ishani langsung masuk kembali ke dalam rumah. Ia sudah cukup mendengar.
Malam hari,
Pintu depan terbuka. Langit masuk dengan langkah lelah. Wajahnya sedikit lebih keras dari biasanya.
Namun begitu melihat ruang tengah langkahnya melambat. Ishani masih di sana. Duduk di sofa. Iyan sudah dipindah ke boks bayi di kamar.
“Masih belum tidur?” tanya Langit.
Ishani menggeleng kecil. “Belum.”
Langit berjalan mendekat. Meletakkan kunci mobil di meja. “Kenapa belum istirahat? Jangan menungguku, Shani. Aku bisa pulang malam setiap hari. Kamu harus jaga kesehatanmu demi Iyan.”
Ishani mengangguk pelan.
Langit duduk di sebelahnya.
“Kak Langit… capek?” tanya Ishani.
Langit menghela napas pendek. “Lumayan.”
Ishani mengangguk, lalu diam lagi.
Langit meliriknya sekilas. “Ada yang mau kamu bilang?”
Ishani menatap tangannya sendiri. “Beritanya masih ramai”
“Hmm…”
Ishani mengangkat kepala sedikit. “Kak Langit sekarang… sering di berita ya.”
“Karena kerjaan.”
Jawaban sederhana dan masuk akal.
Ishani meremas pinggiran bajunya. “Wanita itu… mantan tunangan Kakak… Meilina.. “ ucapnya pelan, hampir tidak terdengar.
Langit menoleh.
Ishani langsung menunduk. “Direktur operasional.”
“Iya.”
“Kalian… pasti akan sering kerja bareng?”
“Iya.”
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu jujur.
Ishani diam.
Langit memperhatikannya beberapa detik.
“Kamu tidak suka?” tanyanya akhirnya.
Ishani langsung menggeleng. “Bukan begitu.”
“Lalu?”
Ishani bingung. Ia ingin menjelaskan. Tapi tidak tahu bagaimana. “Aku cuma…” ia berhenti. “Tidak terbiasa.”
“Dengan apa?” tanya Langit pelan.
Ishani menelan ludah. “Dunia Kak Langit.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Langit menatapnya lebih lama.
Ishani melanjutkan, “Di sana… semua terlihat pasti. Jelas. Besar.” Ia tersenyum kecil dan tipis. “Aku lihat tadi… Kak Langit cocok di sana.”
Langit sedikit mengernyit. “Maksudmu?”
Ishani menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Ia berdiri pelan. “Aku mau tidur dulu.”
Langit ikut berdiri. “Shani.”
Ishani berhenti.
Langit mendekat satu langkah. “Lihat aku.”
Ishani ragu, tapi akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Langit bicara pelan, tapi jelas. “Kamu tidak perlu menyesuaikan diri dengan dunia itu.”
Ishani mengerutkan kening sedikit.
Langit melanjutkan, “Karena aku tidak pernah minta kamu masuk ke sana.”
Ishani membisu.
“Tapi…” suaranya lebih pelan sekarang, “…aku yang masuk ke duniamu.”
Ishani menatapnya. Tidak berkedip.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara.
Langit menghela napas kecil. “Jangan berpikir terlalu jauh.”
“Iya.”
Namun jawabannya tidak sekuat biasanya.
Langit tahu. Tapi ia kembali tidak memaksa. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit. Sempat ragu, tapi sekarang ia memberanikan diri mengusap pelan kepala Ishani.
Gerakan yang sederhana. Tapi membuat tubuh Ishani membeku sekaligus hangat.
Untuk sesaat, Ishani ingin berhenti di sana. Di jarak sedekat itu. Di dunia yang sederhana itu. Tanpa berita. Tanpa nama besar. Tanpa Meilina. Namun saat Langit menarik tangannya kembali, perasaan itu ikut menghilang pelan.
“Tidur,” kata Langit.
Ishani mengangguk. Ia berbalik masuk ke dalam kamar.
Langit masih berdiri di ruang tengah. Tatapannya berpindah ke arah layar televisi yang gelap. Ia tahu semua ini baru mulai.
🥀🥀🥀🥀🥀
Meilina duduk di sebuah kafe. Ponselnya di tangan. Layar menampilkan artikel yang sama. Foto dirinya dan Langit. Berdampingan. Sempurna.
Ia tersenyum tipis. “Responnya cepat juga…”
Ia menggulir layar. Komentar demi komentar muncul.
“Power couple.”
“Perfect match.”
“Visual CEO banget.”
Senyumnya semakin lebar.
Seorang pria duduk di hadapannya..“Semua media sudah mulai mengangkat isu ini,” katanya.
Meilina tidak menoleh. “Bagus.”
“Ini akan berdampak ke internal juga.”
“Aku tahu.”
Akhirnya ia mematikan layar ponselnya.
Menatap jalanan kota Jakarta dari balik jendela Kafe. “Langit tidak akan bisa menghindar terus,” katanya pelan.
Pria itu mengernyit. “Maksud Anda?”
Meilina tersenyum kecil. “Kita tidak perlu mendekatinya lagi.”
Ia akhirnya menoleh ke arah pria itu. Tatapannya tajam. “Karena sekarang… dunia yang mengelilinginya sudah berubah.”
Pria itu diam. Tidak sepenuhnya mengerti. Namun tidak bertanya lagi.
Meilina kembali melihat ke luar jendela. “Dan perempuan itu…” gumamnya pelan. Senyumnya tidak lagi hangat. "Tidak akan bertahan lama.”
Jeda untuk sesaat.
Meilina mengambil tasnya. “Besok jadwalkan meeting dengan divisi media,” katanya santai. “Kita perlu menjaga momentum ini.”
Pria itu mengangguk.
“Dan satu lagi,” lanjut Meilina. “Pastikan semua publikasi tetap menempatkan aku… di sisi Langit. Jangan beri ruang untuk yang lain.”
🥀🥀🥀🥀🥀
Di dalam kamar. Ishani berdiri di samping Box bayi, menatap Iyan yang tengah terlelap. Tangannya mengusap pelan dada kecil itu. Lalu tanpa sadar pikirannya kembali ke satu hal.
Foto itu. Langit dan Meilina. Berdampingan, tanpa celah. Ia tahu Langit tidak pernah menjauh. Bahkan selalu ada. Tapi dunia di sekeliling pria itu terasa semakin jauh darinya.
Ishani menghela napas pelan, seolah takut suara itu terdengar. Matanya menutup. Dan untuk pertama kalinya pertanyaan itu muncul dengan jelas.
“Apa aku benar-benar bisa… ada di dunianya?”
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
Ini hanya mimpi sih ya...
Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲