“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 6 - CH 33 : TEROR
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari celah gorden jendela nako, menyorot langsung ke wajah Lintang.
Gadis itu terkesiap. Matanya terbuka lebar, dadanya naik turun dengan cepat. Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk memproses sekelilingnya. Bantal bersarung kain perca, lemari kayu jati tua, dan bau kapur barus khas rumah pedesaan. Dia berada di ruang TV rumah ibu Bara.
Ingatan tentang hutan bambu, jalan setapak yang berputar-putar, dan aroma melati busuk itu kembali menghantamnya. Lintang refleks meraba wajah dan lengannya sendiri. Utuh. Dia masih hidup. Udara pagi yang segar dan kicauan burung di luar perlahan menurunkan ritme jantungnya. Dia menghela napas panjang, bersyukur luar biasa.
Lintang menoleh ke samping. Kasur lipat di sebelahnya kosong, ibunda Bara sepertinya sudah bangun lebih dulu.
Gadis itu kemudian mengubah posisinya menjadi duduk, dan saat itulah matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuat perutnya kembali melilit.
Di sudut ruangan, tak jauh dari kasurnya, Bara duduk meringkuk di atas lantai beralaskan tikar pandan. Pemuda itu terlihat sangat memprihatinkan.
Bara duduk memeluk kedua lututnya sendiri. Pandangannya kosong menatap lurus ke arah lantai. Lingkaran hitam tebal menghiasi bawah matanya yang memerah layaknya orang yang baru saja menangis semalaman. Wajah bosnya yang selalu memancarkan aura arogansi dan dominasi absolut itu kini terlihat layu, rapuh, dan kehilangan kewarasannya.
"Mas... Bara?" panggil Lintang ragu, suaranya parau.
Bara menoleh patah-patah.
Semalaman suntuk, pemuda itu disiksa oleh teror mental yang tak berujung. Bukan penampakan wujud menyeramkan, melainkan suara-suara. Suara langkah kaki berat yang mengelilingi rumah, berhenti di depan pintu, mengetuknya perlahan dengan kuku panjang... tok... tok... tok... Lalu ketika Bara memberanikan diri mengintip dari balik gorden jendela dengan jantung nyaris meledak, tidak ada siapa-siapa di luar sana. Hening.
Siklus itu berulang berkali-kali sampai pagi. Ditambah lagi, di sela-sela teror itu, Lintang terus-menerus mengigau dan menangis dalam tidurnya, meracau tidak jelas tentang orang tinggi besar. Bara harus berjaga seorang diri, mencengkeram sapu lidi di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, takut makhluk itu benar-benar menerobos masuk dan mengambil karyawannya.
Kini, melihat Lintang sudah bangun, bisa duduk sendiri, dan menatapnya dengan kesadaran penuh, pertahanan terakhir Bara akhirnya runtuh.
Tugasnya selesai. Semua orang di rumah ini selamat.
Sisa-sisa adrenalin di tubuh Bara menguap tak berbekas. Matanya yang kosong perlahan memejam. Pegangannya pada lutut mengendur, dan tanpa sepatah kata pun, tubuh pemuda itu tumbang ke samping, jatuh menghantam lantai tikar dengan suara berdebum pelan.
Lintang menjerit tertahan. "MAS BARA!"
Bara merasakan tubuhnya terguncang pelan. Kepalanya pusing bukan main, seolah ada beban berton-ton yang menekan tengkoraknya. Suara dengungan panjang di telinganya perlahan tergantikan oleh suara gumaman banyak orang. Bukan sekadar gumaman biasa, melainkan lantunan ayat suci Al-Quran dan doa-doa yang dibaca secara serempak.
Bara memaksa matanya terbuka. Cahaya lampu neon yang terang menyilaukan pandangannya.
Dia tidak lagi tergeletak di lantai bersalut tikar pandan, melainkan sudah berpindah ke atas kasur di kamar dan yang membuatnya tersentak kaget hingga refleks bangun dari baringannya adalah pemandangan di sekeliling kasur tersebut.
Ruangan itu penuh sesak. Mbah Yai Harun duduk bersila di dekat kakinya, memegang tasbih kayu. Di belakang sang kiai, ada Mang Ojak, beberapa bapak-bapak tetangga, Bude Sumi, dan ibunya yang sedang menangis.
Bara menoleh ke arah jendela yang terbuka separuh. Langit di luar sana gelap gulita. Hanya ada suara jangkrik malam.
"M-malam? Ini jam berapa?" suara Bara serak, tenggorokannya seringsek kertas pasir. "Bukannya tadi baru pagi?"
Ibu Bara langsung berhambur memeluk anaknya. "Alhamdulillah, Le... kamu akhirnya bangun. Ini udah jam delapan malam. Kamu tidur seharian penuh nggak bangun-bangun dari pagi."
Bara mengusap wajahnya dengan kasar. Otaknya mencoba memutar kembali kepingan memori terakhirnya.
Tidur seharian?
Di sudut ruangan, Mang Ojak yang melihat kebingungan bosnya mulai menceritakan apa yang terjadi.
-Flashback-
Pagi itu, saat Lintang menjerit panik melihat Bara tumbang, Mang Ojak dan ibu Bara langsung terbangun dari tidurnya. Mang Ojak yang panik buru-buru mengecek napas dan denyut nadi di pergelangan tangan Bara.
"Nggak apa-apa, Neng! Den Bara cuma pingsan kecapekan! Jantungnya mah aman!" lapor Mang Ojak lega. Mereka lalu gotong royong memindahkan tubuh Bara yang lumayan berat itu ke atas kasur.
Sesuai rencana awal yang sempat dibahas sebelumnya, niat mereka adalah segera pulang ke kota sore harinya setelah keadaan lebih tenang. Sambil membiarkan Bara istirahat, Lintang dan ibu Bara mulai membereskan pakaian dan barang-barang ke dalam tas.
Sekitar pukul sembilan pagi, Mang Ojak berjalan keluar rumah dengan niat ingin memanaskan mesin mobil. Namun, langkah pria paruh baya itu terhenti di teras semen.
Mata Mang Ojak membelalak melihat lantai teras, pekarangan samping, hingga ke arah pagar depan. Tanah pekarangan itu dipenuhi oleh bekas jejak telapak kaki yang jumlahnya sangat banyak, saling tumpang tindih mengelilingi rumah.
"Buset dah, ini jejak warga semalem pada nyariin Den Bara apa ya? banyak amat," gumam Mang Ojak mencoba berpikir positif. Dia berjongkok, berniat mengambil selang air untuk menyemprot jejak kotor tersebut.
Namun, belum sempat tangannya meraih keran air, sebuah suara teguran membuat Mang Ojak nyaris melompat.
"Astaghfirullahaladzim..."
Mang Ojak menoleh. Di luar pagar bambu, Mbah Yai Harun berdiri mematung. Wajah sesepuh desa itu terlihat jauh lebih tegang dari malam sebelumnya. Matanya menatap tajam ke arah jejak-jejak lumpur yang mengepung rumah tersebut.
"M-Mbah Yai? Aya naon, Mbah? Ini mah jejak bapak-bapak semalem kan?" tanya Mang Ojak cemas.
Mbah Yai Harun menggeleng pelan, rahangnya mengeras. "Jangan disiram, Mang Ojak. Cepat masuk, kunci pintunya. Jangan ada yang keluar rumah sebelum saya kembali."
End of Flashback.
Bara menatap Mang Ojak dan Mbah Yai Harun bergantian setelah mendengar cerita singkat tersebut. Kepalanya kembali berdenyut nyeri.
"Jadi... jejak itu bukan jejak warga, Mbah?" tanya Bara pelan. Semangatnya untuk mendebat secara logis sudah habis tak bersisa.
Mbah Yai Harun menghentikan putaran tasbihnya. Beliau menatap Bara dengan pandangan sarat akan peringatan. "Jejak itu tanda, Mas Bara. Dia tidak hanya datang untuk menakut-nakuti semalam. Dia sedang mengurung rumah ini. Ada sesuatu dari kalian berdua yang membuat dia sangat marah dan tidak rela membiarkan kalian pergi begitu saja dari desa ini."
Hening. Udara di dalam kamar itu terasa semakin padat dan menyesakkan. Lintang meremas ujung jaketnya dengan tangan gemetar.
Tiba-tiba, di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah suara tawa kecil memecah suasana.
Hi... hi... hi...
Semua kepala refleks menoleh. Suara itu bukan berasal dari luar rumah, bukan pula dari arah atap.
Suara itu berasal dari Bude Sumi yang sedari tadi duduk bersila menenangkan ibu Bara.
Wanita paruh baya yang biasanya ramah dan suka bergosip itu kini duduk membeku dengan postur yang sangat kaku. Kepalanya tertunduk dalam hingga dagunya menyentuh dada. Rambutnya yang diikat cepol perlahan terlepas, menjuntai menutupi sebagian wajahnya.
Hi... hi... hi...
Tawa itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras, lebih serak, dan sama sekali tidak terdengar seperti suara Bude Sumi.
"Bude? Sampean kenopo?" tegur salah satu bapak-bapak di dekatnya, hendak menyentuh bahu wanita itu.
Namun, sebelum tangan bapak itu menyentuhnya, Bude Sumi tiba-tiba mendongak. Matanya melotot lebar, menatap lurus ke arah Bara dengan tatapan kosong yang dipenuhi kebencian luar biasa. Bola matanya memutih, dan otot-otot di wajahnya menegang tak wajar.
Mbah Yai Harun langsung berdiri, memasang badan di depan Bara. "Mundur semuanya! Jangan ada yang menyentuh!"
Bude Sumi menyeringai lebar, memamerkan gigi-giginya. Lalu, dari bibir wanita paruh baya itu, keluarlah suara berat dan serak yang persis sama dengan suara yang didengar Bara dari balik pintu semalam. Suara yang menggema bagaikan berasal dari dasar sumur tua.
"Kalian... sudah mengganggu... tidurku..."
Tubuh Lintang langsung ambruk berlutut di lantai saking terkejutnya. Bara mematung di atas kasur, darahnya serasa ditarik habis hingga ke ujung kaki. Malam panjang di desa ini, ternyata benar-benar baru dimulai.