Alya, wanita cantik yang sudah lelah dengan kisah kehidupannya, mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk seorang pria yang dijodohkan oleh bos di kantornya. Ia berharap itu yang menjadi cinta terakhirnya. Namun, siapa sangka ternyata pria itu menyimpan sebuah masa lalu yang membuat Alya, kembali berpikir apakah ia harus hidup tanpa cinta untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon empat semanggi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak sesuai rencana
"pamann,,,!!" Raka yang tengah disibukan dengan beberapa dokumen pentingnya, terkejut saat melihat kedatangan Arka.
Pria itu kembali menarik nafas dalam saat melihat sosok Rossa yang ikut masuk ke dalam ruangannya.
"maafkan aku Ar,,aku nggak bermaksud menganggu mu, tapi Arka terus menangis ingin bertemu denganmu" ucap Rossa, sebelum Raka berkata-kata.
Raka memperhatikan pria kecil itu, dan memang ucapan Rossa benar, karena mata Arka tampak sembab.
"pamannn,,,aku merindukan paman. kenapa paman nggak kerumah sakit lagi?" suara kecil Arka terdengar.
"maaf sayang, paman cukup sibuk, jadi nggak bisa kesana" ucap Raka.
Raka tak bangun dari duduknya, pria itu juga tak mempersilahkan Rossa untuk duduk, membuat wanita itu terlihat kikuk.
"apa kau sangat sibuk, Ar?" tanya Rossa karena Raka kembali fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan mereka.
"yaa, seperti yang kau lihat" jawab Raka asal.
Rossa menatap Raka kesal, ia tak suka dengan sikap Raka yang seperti ini. ia ingin sifat pri itu seperti saat ia masih dirumah sakit.
"kau tahu, sebenarnya dokter belum mengizinkan ku untuk pulang, tapi karena Arka sangat ingin bertemu denganmu, jadi terpaksa aku harus keluar hari ini" ucap Rossa lagi, berharap Raka akan kembali memberi perhatian padanya. Namun ternyata ia salah, Raka tetap cuek dan melanjutkan pekerjaannya.
"hmm,,seharusnya kau beristirahat saja" ucap Raka setelah lama terdiam.
"yaaa gimana aku mau istirahat Ar, Arka sangat rewel, ia terus mengatakan ingin bertemu denganmu. coba aja kau menjawab panggilanku, pasti Arka nggak akan serewel itu" ucap Rossa, berusaha untuk tetap sabar.
"padahal, ia hanya ingin mendengar suaramu" gumam Rossa lagi.
"apa kau nggak lihat betapa sibuknya aku? harusnya kau katakan itu padanya" balas Raka.
"tapi ia tetap nggak mau, aku bahkan telah memarahinya tapi ia tetap menyebut namamu dan berkata ingin bertemu."
Raka memutar bola mata malas mendengar ucapan Rossa. Ia tak sepenuhnya mempercayai ucapan wanita itu, karena ia yakin semuanya ini pasti sudah ia rencanakan.
"hmmm,, tapi dia sudah bertemu denganku. Apa kalian bisa pergi sekarang? aku benar- benar sibuk hari ini dan nggak bisa diganggu" ucap Raka lagi.
Rossa terdiam mendengar ucapan Raka. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Namun, berbeda dengan Arka. Anak kecil itu sepertinya paham jika Raka memang sedang tak ingin diganggu, sehingga ia hanya diam saat melihat respon cuek Raka yang tak seperti kemarin.
"kau tahu Ar, apa mungkin karena aku memberi nama Arka padanya,,?" ucap Rossa lagi, membuat Raka mengangkat wajahnya menatap wanita itu.
"yaaa ku rasa kau pasti tahu, nama Arka merupakan kebalikan dari namamu. Karena aku nggak bisa melupakanmu, aku rela menamai anakku Arka agar aku bisa mengingatmu melalui nama itu" jelas Rossa.
Raka terdiam mendengar penjelasan Rossa. Ia memang telah mengetahui dari awal, bahwa Rossa sengaja menami anaknya Arka, agar ada kemiripan di antara mereka.
"dan satu lagi Ar, ulang tahunnya hanya berbeda satu hari dengan mu," tambah Rossa lagi.
Raka tak merespon dan hanya menatap Arka yang juga sedang menatapnya.
"ku rasa kalian berdua memiliki banyak kesamaan" ucap Rossa lagi yang tak ingin berhenti berbicara itu. wanita itu seperti memiliki banyak tenaga untuk terus bicara.
"kau senang berada disini Arka?" tanya Raka yang bukannya merespon ucapan Rossa, ia justru bertanya pada pria kecil itu.
Arka menggeleng kepalanya pelan. "aku nggak suka disini, aku ingin bermain disana,,!" ucap Arka sambil menunjuk kesalah satu bangunan mall yang bisa ia lihat dari kaca jendela Raka.
Raka mengangkat bahunya, "see,,tunggu apa lagi, cepat bawa dia kesana" ucap Raka cuek.
Rossa menatap kesal ke arah puteranya, namun dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya saat dilihat Raka.
"kenapa nggak bilang dari tadi sih sayang,,kan kita malah ngerepotin paman Raka" ucap Rossa yang dibuat selembut mungkin.
"hmm,baiklah Ar. ku rasa kami harus pergi. maaf karena sudah menganggu waktumu" ucap Rossa. wanita itu berharap Raka akan bangun dari duduknya untuk mengantarnya dan Arka, namun ternyata Raka masih tetap duduk dengan santai dibalik mejanya.
Rossa benar-benar kesal dengan sikap Raka. Ia pikir sikap Raka mulai melunak, namun ternyata ia salah, Raka memang hanya mengasihaninya waktu itu.
Saat keluar dari ruangan Raka, banyak rencana yang sedang wanita itu susun agar kembali menarik perhatian pria itu.
^^^^
"sayangg,,," sambut Alya saat menyambut kepulangan suaminya.
Raka mengerutkan keningnya mendengar panggilan Alya yang tak biasanya itu.
"ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Raka langsung, membuat Alya tersipu malu. Ternyata keinginannya mudah ditebak oleh pria itu.
"hmm,,apa aku boleh mengikuti kursus menjahit? aku sedikit bosan dirumah" ucap Alya.
Raka tak langsung menjawab, dan tampak berpikir sebentar.
"kita akan bicarakan nanti, setelah aku mandi" jawab Raka. Alya menganggukan kepalanya semangat, ia harap Raka menyetujui idenya itu.
Alya berminat mengikuti kurus menjahit karena di tawar oleh Darren. Ada kenalan pria itu yang membuka tempat kursus jadi ia bantu mempromosikannya pada Alya dan sepertinya Alya cukup tertarik dengan kursus itu.
Selesai mandi dan makan malam, Alya dan Raka duduk diruang santai untuk membicarakan hal itu.
Alya menyodorkan brosur kursus itu pada Raka. Pria tampan itu mengambilnya dan membacanya dengan begitu teliti.
Raka menganggukan kepalanya beberapa kali saat membacanya, sedangkan Alya menunggu dengan perasaan was-was.
"hmm,,sepertinya bagus, tempatnya juga nggak begitu jauh dari rumah, dan pertemuannya tiga kali dalam seminggu." ucap Raka, pria tampan itu kembali mengangkat sudut bibirnya saat melihat ekspresi wajah Alya yang sedikit gelisah itu.
"yaaa aku mengizinkannya asalkan kau tetap menjaga kesehatan mu. Kamu belum lupa kan dengan program kehamilannya?" tanya Raka.
Alya menganggukan kepalanya cepat saat mendengar ucapan Raka.
"yaa aku janji nggak akan kecapaian nanti, aku juga nggak akan lupa dengan program itu. Lagipula, aku ingin mengikuti kursus itu untuk menenangkan pikiranku" ucap Alya bahagia.
"makasih Ka,," ucap Alya dan memeluk tubuh Raka erat.
"hmm,,sama-sama" balas Raka. Pria itu mengelus belakang Alya lembut.
Tak bisa dipungkiri, sebenarnya Raka sudah sangat menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka. Namun entah kapan mereka akan dipercayakan untuk diberi keturunan, Raka sangat menanti momen itu.
"hmm, Ka,,apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Alya setelah melepaskan pelukannya.
Raka menatap mata indah Alya "boleh dong sayang, katakan,,"
"aku hanya ingin ngasih pesan buat kamu, tolong selalu jujur yaa sama aku. Apapun itu tolong jujur, walaupun itu akan menyakiti hatiku, aku nggak papa asalkan kamu jujur sama aku. Jangan pernah bohong sama aku dengan alasan ingin menjaga perasaanku. Percaya deh,,walau kebenarannya terasa sakit, tapi jauh lebih sakit jika harus berbohong dan aku harap kamu nggak akan lakuin itu" ucap Alya sambil menatap mata Raka.
Raka terdiam mendengar ucapan Alya. seketika ia tersadar apa yang sudah ia lakukan beberapa hari dibelakang isterinya.
"yaaa,,aku tahu itu. Maafkan aku jika tanpa sadar telah melukai hatimu" gumam Raka.
"hmm,,aku juga minta maaf karena belum menjadi isteri yang sempurna untukmu. Jangan pernah bosan yaa dengan pernikahan ini, walaupun kita belum diberi seorang anak" pesan Alya.
"nggak akan sayang, karena tujuanku menikah tak selalu tentang anak. Aku juga berharap bisa memiliki anak secepatnya, namun jika belum diizinkan aku nggak akan memaksa," jawab Raka.
"makasih Ka,," ucap Alya dengan mata berkaca-kaca, dan kembali memeluk erat tubuh Raka.
apakah si Raka bisa tegas bersikap 👍👍🤨
Good Job Alya 👍👍👍😂😂😂
terus penasaran bagaimana kelanjutan hubungan yg berawal dr kebodohan si laki atas nama masa lalu nya .. dan sejauh mana batas kesabaran seorang istri terhadap kondisi rumah tangga yg demikian 👍😏😏
apakah Raka akan mengecewakan Alya.. or.. Alya yg akan selalu jadi pilihan terakhir Raka....?!?