NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Pagi datang seperti biasa,

Tapi bagi Arcelia, tidak ada yang terasa biasa. Sinar matahari masuk melalui tirai tipis kamarnya, jatuh lembut di lantai. Burung-burung berkicau di taman. Suara peralatan makan terdengar dari lantai bawah.

Rumah itu hidup seperti hari-hari lain. Namun di belakang lehernya, denyut itu masih ada. Ia berdiri di depan cermin. Dengan ragu, ia menyingkap rambutnya.

Dan di sana.

Simbol itu masih ada.

Samar. Seperti tinta yang hidup di bawah kulitnya.

Arcelia menelan ludah,

“Ini bukan mimpi…”

Ia menyentuhnya pelan. Hangat. Tidak sakit. Tapi terasa seperti sesuatu yang sedang… menunggu.

Tok

Tok

Tok

Ketukan pintu.

“Lia? Sudah bangun?” suara mamanya lembut dari luar.

“Iya, Ma!”

Ia cepat-cepat menurunkan rambutnya, menutup tanda itu. Wajahnya kembali tenang. Ia sudah belajar sejak kecil, menyembunyikan rasa takut.

Di meja makan, suasana hangat seperti biasa.

Elvarin sedang bercerita tentang proyek sekolahnya yang akan dipresentasikan minggu depan.

“Minggu depan Adek ada presentasi di sekolah, doain ya biar lancar” katanya penuh semangat.

Arcelia tersenyum kecil dan mengelus rambut adeknya dengan sayang “Tentu dek, semangat yaa. ” Dan di angguki sama adeknya.

Papa Alveron duduk di ujung meja, membaca berita di tablet. Wajahnya tetap tenang, karismatik seperti biasa. Tapi hari ini, Arcelia memperhatikan sesuatu. Papa terlihat… sedikit lebih diam.

Sesekali pandangannya kosong beberapa detik. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Lia, kamu tidak terlambat Sayang?” suara papanya memecah lamunannya.

Arcelia tersentak kecil. “Ah,,, tidak, Pa.”

Tatapan Papa Alveron berhenti lebih lama dari biasanya pada wajah putrinya. Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Tapi ia tidak jadi.

Di sekolah,

Hari berjalan normal. Arcelia duduk di kelas saat guru menjelaskan materi. Pena di tangannya bergerak otomatis di buku tulis.

Namun di sudut halaman, tanpa sadar ia menggambar simbol itu.

Berulang-ulang

Sampai satu teman sebangkunya menyentuh lengannya.

“Lia?”

Arcelia tersentak.

“Kamu kenapa dari tadi melamun. Itu gambar apa sih?”

Arcelia cepat-cepat menutup bukunya.

“Cuma coretan aja kok.”

Tapi saat bel istirahat berbunyi, ia merasa pandangan orang-orang di koridor sedikit berbeda, atau mungkin hanya perasaannya.

Saat ia melewati kaca jendela panjang di lorong, sekilas. Sosok berjubah gelap berdiri di belakangnya.

Arcelia berhenti mendadak,

Menoleh cepat.

Kosong.

Lorong tetap ramai oleh siswa. Napasnya mulai tidak teratur.

“Kenapa hanya aku yang melihatnya…”

Di sisi lain kota,

Kaelion berdiri di ruang kerja Papa Alveron. Ruangan luas dengan jendela tinggi dan pemandangan gedung-gedung menjulang.

Papa Alveron berdiri membelakangi, menatap keluar.

“Kamu datang lebih pagi dari biasanya,” ujar Papa Alveron tanpa berbalik.

“Ada yang perlu saya bicarakan, Om.” Nada Kaelion lebih serius dari biasanya.

Papa Alveron akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, membaca sesuatu di wajah Kaelion.

“Ini tentang perusahaan?”

“Sebagian.” Kaelion berhenti sejenak. “Sebagian lagi tentang Arcelia Om.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Papa Alveron menatapnya lama. “Apa maksudmu Kael?”

Kaelion mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto simbol yang sempat ia tangkap sebelum layar berubah.

Papa Alveron membeku. Untuk sepersekian detik saja. Tapi Kaelion melihatnya. “Om tahu tentang ini,” kata Kaelion pelan.

Papa Alveron menghela napas panjang. Sudah lama sekali ia tidak melihat simbol itu.

“Beberapa hal,” katanya pelan, “seharusnya tetap terkubur.”

“Kalau itu menyangkut Arcelia, saya tidak bisa diam Om.”

Tatapan mereka bertemu. Dua pria dengan cara melindungi yang berbeda.

Papa Alveron berjalan kembali ke meja, membuka laci terkunci. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kayu hitam.

“Ulang tahun Elvarin kemarin,” katanya pelan. “Itu bukan hanya perayaan.”

Kaelion menegang. “Gerbang?” tanyanya pelan.

Papa Alveron tidak menjawab langsung. Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, ada liontin perak dengan simbol yang sama.

“Aku berharap anak-anakku tidak pernah terlibat,” bisiknya.

“Sudah terlambat Om,” jawab Kaelion lirih. “Tandanya sudah muncul.”

Ruangan itu hening.

Untuk pertama kalinya, Papa Alveron terlihat bukan hanya sebagai pemimpin perusahaan besar. Tapi sebagai ayah yang menyadari, ia mungkin tidak bisa melindungi putrinya dari sesuatu yang bahkan lebih tua dari keluarganya sendiri.

Sore hari,

Arcelia berjalan sendirian di halaman sekolah. Langit mulai mendung. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Ia berhenti saat melihat pohon besar di ujung lapangan. Daunnya bergerak tak wajar. Seperti ada pusaran kecil di bawahnya. Dan di sana, sosok berjubah itu kembali berdiri. Kali ini lebih jelas, lebih dekat.

“Kenapa aku?” suara Arcelia bergetar.

Sosok itu tidak bergerak.

Namun suara itu terdengar di kepalanya.

“Karena darahmu membuka.”

Tanah di bawah kakinya retak tipis. Arcelia terhuyung mundur.

“Tidak…”

Angin tiba-tiba berhenti. Semua suara menghilang. Dunia seperti dimatikan. Dan hanya tersisa dirinya… dan gerbang batu yang muncul perlahan di belakang sosok itu. Retakan cahaya keluar dari sela-selanya.

“Waktu semakin tipis.”

Arcelia memejamkan mata.

“Berhenti!”

Dan saat ia membukanya, semua kembali normal. Lapangan sekolah biasa.

Tidak ada retakan.

Tidak ada sosok.

Namun jam di dinding sekolah menunjukkan waktu yang berbeda.

Sepuluh menit hilang.

Di kejauhan,

Kaelion berdiri di luar gerbang sekolah. Ia menatap ke arah Arcelia yang tampak pucat. Instingnya benar. Sesuatu sudah mulai bergerak. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkannya sendirian.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!