Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Busuk yang Salah Sasaran
Pagi itu kabut masih tebal menyelimuti jalan setapak berkelok menuju Desa Bukit Jernih. Axel dan Leonardo berjalan cepat namun tetap berhati‑hati, membawa perlengkapan seperlunya dan berharap bisa sampai sebelum tengah hari. Di belakang mereka, tersembunyi di balik pepohonan pinggir jalan, Cindy sudah mengintai sejak pagi buta. Ia diam‑diam menyusul mereka naik kendaraan sewaan sampai tak jauh dari kaki bukit, lalu berjalan kaki menyusuri jejak yang sama. Di dalam tas kecilnya tersimpan kotak bekal berisi nasi hangat, lauk gurih, dan minuman manis yang aromanya menggugah selera. Namun semuanya sudah dicampur ramuan obat perangsang ampuh yang didapatnya diam‑diam.
Rencananya sudah disusun matang: begitu sampai di tempat peristirahatan sementara di pinggir desa, ia akan menghampiri seolah baru datang menyusul karena khawatir. Ia akan menawarkan makanan dan minuman itu, membuat Axel kehilangan pertimbangan, menghabiskan malam bersamanya, dan gagal menemui Ayranza. Nanti saat semuanya terlambat, ia akan berdalih semuanya terjadi karena takdir dan kelemahan sesaat.
Sesampainya di tempat lapang di pinggir desa, Axel dan Leonardo berhenti sejenak untuk mengatur napas dan mengecek arah jalan. Belum sempat mereka duduk, Cindy muncul dari balik semak dengan wajah pura‑pura lega dan napas terengah.
“Akhirnya bisa menyusul juga!” serunya sambil berjalan mendekat. “Kalian berjalan terlalu cepat sampai aku tertinggal jauh di belakang.”
Axel langsung tampak tak senang. Ia menegakkan badan dan menatap tajam.
“Cindy? Kenapa kau ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu ikut?”
“Aku hanya khawatir, itu saja,” jawabnya tak peduli nada dingin Axel. “Perjalanan ke sini berbahaya, banyak tikungan curam dan orang tak dikenal. Aku takut ada hal buruk menimpamu.”
Leonardo berdiri agak ke samping, matanya mengawasi gerak‑gerik Cindy dengan curiga. Ia tahu niat wanita ini tak pernah sesederhana rasa khawatir semata.
“Terima kasih sudah peduli, Nona Cindy,” ucap Leonardo tegas. “Tapi sebaiknya kau segera kembali. Urusan kami di sini cukup berat dan tak butuh gangguan apa pun.”
Cindy pura‑pura tak mendengar. Ia segera meletakkan kotak bekal dan botol minum di atas batu datar.
“Sudah, jangan marah dulu. Kalian pasti lapar dan haus setelah mendaki jauh. Aku bawa makanan enak dan minuman segar. Mari makan sebentar, baru bicara hal lain.”
Axel hendak menolak keras, namun Cindy sudah menyodorkan sepotong lauk dan gelas berisi minuman berwarna kekuningan tepat di hadapannya.
“Sedikit saja takkan ada salahnya,” bujuknya manja. “Ini masakan kesukaanmu dulu, kan?”
Di saat yang sama, tak jauh dari situ Dr. Rendra kebetulan lewat membawa keranjang berisi obat‑obatan dari puskesmas. Ia berjalan santai sampai melihat kerumunan kecil itu, lalu berhenti mendekat karena penasaran sekaligus ingin memastikan tak ada tamu yang tersesat atau kesulitan.
“Selamat pagi,” sapanya sopan sambil menatap satu per satu wajah mereka. “Ada yang bisa saya bantu?”
Cindy sedikit terkejut melihat kedatangan orang asing yang ternyata warga desa setempat. Namun ia segera mengubah sikap menjadi ramah berlebihan.
“Ah, selamat pagi, Pak Dokter. Kami sedang beristirahat sebentar. Mau ikut menikmati makanan kami? Kebetulan aku bawa cukup banyak.”
Rencana jahatnya berubah seketika dalam benak Cindy. Kalau Axel tetap menolak, tak ada salahnya orang asing ini ikut meminumnya dulu. Siapa tahu nanti bisa dimanfaatkan untuk menciptakan keributan dan kekacauan yang mengalihkan perhatian Axel. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyodorkan gelas penuh itu ke arah Dr. Rendra.
“Silakan diminum dulu, pasti haus setelah berjalan jauh keliling desa begini.”
Dr. Rendra sempat menolak halus. “Terima kasih, tapi saya masih punya persediaan air minum sendiri.”
“Ayo saja, tak usah sungkan,” desak Cindy makin kuat sambil mendekatkan gelas itu sampai tak bisa ditolak lagi. “Anggap saja tanda terima kasih karena sudah menyambut pendatang seperti kami.”
Akhirnya Dr. Rendra menerimanya dengan sopan. Ia meminum habis isi gelas itu dalam sekali teguk karena dahaga yang memang terasa kering. Tak lama setelah itu Cindy juga menyerahkan sepiring penuh makanan padat yang juga sudah tercampur obat. Tanpa curiga sedikit pun, Dr. Rendra pun memakannya habis sambil berbasa‑basa sebentar.
Sementara itu Axel tetap menolak keras segala tawaran makanan maupun minuman Cindy. Leonardo pun sama sekali tak menyentuh apa pun yang dibawa wanita itu.
“Kami sungguh tak butuh apa‑apa darimu, Cindy,” tegas Axel sekali lagi. “Sekarang, kumohon pergilah sebelum terjadi hal yang tak kita inginkan.”
Melihat usahanya sama sekali tak mempan pada sasaran utamanya, Cindy kesal namun tak berani berbuat lebih jauh di hadapan Leonardo dan orang asing itu. Ia terpaksa menyimpan sisa bekalnya kembali ke dalam tas sambil melontarkan kata‑kata penutup yang bernada ancaman halus.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi ingatlah, Axel, aku takkan pernah berhenti menjagamu, tak peduli seberapa keras kau menolakku.”
Setelah Cindy pergi dengan langkah tergesa dan wajah masam, Axel dan Leonardo segera bergegas melanjutkan perjalanan tanpa banyak pikir panjang. Mereka sama sekali tak menyadari kejadian yang baru saja terjadi: obat ampuh buatan Cindy sudah habis masuk ke tubuh Dr. Rendra.
Baru berjalan beberapa menit meninggalkan tempat itu, Dr. Rendra mulai merasakan sesuatu yang aneh. Kepalanya terasa pening luar biasa, tubuhnya perlahan menjadi panas dan tak bisa dikendalikan, pandangan matanya mulai kabur serta rasa berdebar yang tak wajar memenuhi dada. Ia berusaha berjalan tegap kembali ke rumah kayu tempat Ayranza tinggal, berniat minta bantuan karena mengira terserang demam mendadak atau keracunan makanan.
Sesampainya di sana, Angga dan Arshen sedang bermain di halaman, sementara Ayranza sedang menyusui Alex di beranda depan. Melihat Dr. Rendra datang dengan wajah merah padam, napas memburu, dan gerak‑gerik tak terarah, mereka langsung panik dan bergegas mendekat.
“Dokter! Ada apa denganmu?” seru Ayranza cemas sambil menidurkan Alex pelan di ayunan gantung.
Dr. Rendra berusaha bicara namun suaranya parau dan berat. Ia menatap Ayranza dengan pandangan yang tak biasa—penuh gejolak, nafsu, dan kebingungan yang mencampuradukkan segalanya. Ingatannya sempat samar namun masih tersisa sedikit kesadaran untuk bicara terbata‑bata.
“Tadi… wanita pendatang berambut panjang… bawa makanan… aku tak curiga… sekarang rasanya tak karuan sekali…”
Angga segera menyadari ada sesuatu yang tak wajar, bukan sekadar sakit biasa. Ia segera berdiri di depan kakaknya melindungi, sementara Arshen berlari masuk mengambil air dingin dan kain basah.
“Dokter, tenanglah sebentar!” seru Angga tegas namun tetap sopan. “Duduklah dulu di sini, kami bantu menenangkanmu sampai reda.”
Ayranza pun ikut berusaha menenangkan, meski hatinya makin waspada mengingat penjelasannya tempo hari bahwa ia hanya menganggapnya sahabat semata. Kini kondisi Dr. Rendra yang tak sadarkan diri sepenuhnya karena obat membuat situasi jadi sangat pelik dan berbahaya.
Di kejauhan, Axel dan Leonardo terus berjalan naik mendaki bukit tanpa tahu rencana jahat Cindy yang salah sasaran itu telah menimbulkan masalah baru besar di depan rumah kayu Ayranza. Mereka makin dekat ke tujuan, namun tak sadar bahwa kekacauan besar baru saja dimulai dan bisa saja menghalangi pertemuan mereka yang sudah tinggal selangkah lagi.
Di sisi lain Cindy yang sudah menjauh sempat menoleh ke belakang sambil tersenyum licik, yakin meski tak mengenai Axel, kekacauan yang terjadi pada dokter desa itu sudah cukup membuat suasana kacau dan Axel akan makin sulit bergerak leluasa. Ia pun berniat menunggu di tempat aman tak jauh dari situ, bersiap memanfaatkan keadaan saat semuanya berantakan.