Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 32 KARMA ITU NYATA
Di sebuah rumah, tampaknya pertengkaran keluarga sedang berlangsung.
PRANG!
Suara lemparan pas bunga ke atas atas lantai hingga pecahan kacanya berserakkan dimana-mana.
Dimas dadanya naik turun kembang kempis karena menahan amarah yang sudah memuncak. "Apa ini pekerjaanmu selama ini, Nana?!" Suaranya menggema disetiap sudut ruangan.
Sinta mendekat dan mengelus tangan Dimas mencoba menenangkan suaminya meskipun hal itu mustahil, karena kelakuannya dan putrinya memang sudah keterlaluan.
Dimas langsung menghentakkan tangan Sinta dengan kasar. "Jawab Nana! Kamu kemanakan uang perusahaan. Hah? Karyawan sedang berdemo menanyakan gajih mereka tidak dibayar selama empat bulan. Apa kamu tidak berpikir sama sekali!"
Nana sedikit gemetar melihat kemarahan ayahnya. Namun, kilatan matanya tetap memancarkan keangkuhan yang tak terbantahkan. "Ayah! Aku hanya mengambilnya sedikit dan itu pun untuk kepentingan aku dan Ibu." jawabnya enteng.
Dimas semakin menatap tajam ke arah anak sambungnya itu, lalu menoleh ke arah istrinya yang berada di sampingnya. Setelah mendengar jawaban yang baru saja gadis itu lontarkan. "Sedikit kamu bilang! Mau uang sebanyak apapun jika kamu terus mengambil dana perusahaan untuk kepentinganmu yang tidak berguna itu akan tetap habis. Nana?!" bentak Dimas tidak habis pikir dengan pemikiran anak sambungnya.
"Siapa bilang kepentinganku tidak berguna! Memang perusahaan Ayah saja yang tidak berjalan. Makannya tidak ada pemasukkan sama sekali!"
Dada Dimas semakin berdenyut nyeri mendengar perkataan anak sambungnya. "Dua puluh lima tahun, Nana! Dua puluh lima tahun Ayah membangun perusahaan ini dari nol! Dan kamu menghancurkannya hanya dalam beberapa bulan?! Kamu memang tidak bisa diandalkan seperti Aline!"
Nana yang mendengar Nama kakak tirinya seketika wajahnya merah padam. "Ayah pikir ini mauku?! Dan cukup membandingkan aku dengan Aline! Dari awal memang perusahaan Ayah itu sudah tidak berjalan!"
Dimas tertawa sumbang, tawa yang penuh akan rasa kecewa kepada anak sambungnya yang selama ini ia bela mati-matian dibandingkan anak kandungnya sendiri. Ingatan akan sikapnya terlintas saat dengan teganya ia memutuskan hubungan dengan putri kandungnya sendiri.
"Jangan berkilah dan menyalahkan jika perusahaan Ayah tidak berjalan, Nana! Selama Aline yang memegangnya tidak pernah ada kendala semacam ini. Sekarang lihat? Semua aset harus disita untuk menutupi pinjaman kepada bank dan juga membayar gajih para karyawan! Kita tidak punya apa-apa lagi, apa kamu puas. Nana!"
DEGH!
Jantung Sinta berdegub kencang seperti genderang perang, kini ia sudah mulai cemas, ia tidak ingin jika harus kembali hidup miskin.
"Tenang Mas! Lebih baik kita cari jalan keluarnya." kata Sinta mencoba tetap tenang meski hatinya sudah diselimuti rasa khawatir.
"Tenang kamu bilang! Semuanya sudah habis dan tidak bersisa. Mau tenang seperti apa? hah! Semua ini gara-gara kalian yang selalu menghambur-hamburkan uang!"
Nana yang semakin dipojokkan tidak terima. Ia sama sekali tidak merasa bersalah seolah tindakannya semua benar. "Sudah cukup! Ayah memang tidak pernah menghargai usahaku!"
Dimas semakin tertawa miris. "Usaha apa, Nana? Usaha karena kamu berhasil menghancurkan semuanya!"
Nana menoleh ke arah ibunya, lalu memberi isyarat anggukan kepala yang hanya mereka berdua pahami.
"Ya sudah, jika memang perusahan kamu sudah tidak bisa diselamatkan, mau bagaimana lagi?" Sinta menggenggam tangan putrinya, lalu menatap suaminya dengan pandangan muak. "Aku dan Nana tidak akan berdiam diri di sini dan menunggu pihak bank datang mengusir kami."
Sinta dan Nana berbalik sambil tersenyum sinis. "Mulai hari ini, aku ingin kita bercerai, Mas! Aku tidak mau hidup miskin bersama kamu!"
DEGH!
Jantung Dimas seolah terlepas dari tempatnya melihat dua wanita yang dulu ia anggap baik kini meninggalkannya tanpa belas kasih.
"Kalian—" Kalimatnya terputus, tiba-tiba Dimas mencengkram dada kirinya dengan sangat kuat saat merasakan rasa sakit yang luar biasa. Napasnya mendadak terputus-putus. Sebelum akhirnya terhuyung kebelakang tergeletak tidak berdaya di atas lantai dan tidak sadarkan diri sepenuhnya.
Sinta dan Nana yang belum sepenuhnya pergi dari sana menoleh sejenak ke arah belakang. Keduanya mendapati Dimas yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
"Ibu! Dia jatuh pingsan!"
"Sudah biarkan saja, Nanti juga bangun sendiri, kalau kita bawa dia ke rumah sakit hanya buang-buang uang saja." ujar Sinta sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan kediaman tersebut.
Nana mengangguk setuju sambil tertawa jahat. "Hahaha... Ibu memang pintar."
Setelah itu keduanya pergi dari sana meninggalkan Dimas begitu saja.
Beberapa menit kemudian seorang asisten rumah tangga yang biasa datang ke rumah itu pagi hari dan pulang saat sore hari hari. Kebetulan ia datang tepat waktu dan langsung menolong Dimas yang tergeletak di atas lantai.
"Astaghfirullah... Tuan kenapa anda bisa seperti ini?" sang asisten rumah tangga itu tampak sangat terkejut.
Lalu sang asisten rumah tangga itu langsung berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan, beruntung ada beberapa warga yang kebetulan melewati area rumah itu. "Pak tolong! Pak, majikan saya pingsan. Tolong bantu saya untuk mengantar beliau ke rumah sakit."
Mereka mengangguk dan tidak membutuhkan waktu lama langsung menolong Dimas dan membawanya ke rumah sakit.
*
*
*
Di sisi lain, Aline dan Alya baru saja menaiki mobil untuk menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Aline mulai merasakan perasaan cemas dan takut yang ia sendiri tidak tau kenapa?
Alya yang menyadari wajah cemas sang menantu, memegang tangannya mencoba menyalurkan ketenang untuk sang menantu. "Kamu, kenapa Aline? Mommy perhatikan dari tadi sepertinya terlihat khawatir." tanya Alya lembut.
Aline yang mendengar pertanyaan Ibu mertuanya mencoba bersikap biasa saja. "Aline, hanya sedikit deg-degan saja, Mom."
Alya yang mendengar itu terkekeh kecil. "Dulu, Mommy juga deg-degan seperti kamu waktu pertama kali mau memeriksa, Bram." bisik Alya suaranya sedikit serak saat ia mengingat masa lalu. Ia menggenggam lebih erat tangan menantunya seolah mengerti dengan kekhawatiran wanita itu.
Tidak membutuhkan waktu lama kini mobil itu terparkir di depan rumah sakit.
Erlangga yang sedari tadi menunggu kedatangan ibu dan istrinya langsung bergegas menghampiri dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Aline yang mendapatkan sikap perhatian suaminya semakin dibuat salah tingkah. "Mas... padahal aku bisa sendiri." bisik Aline dengan wajah menahan malu.
Erlangga hanya bersikap santai seolah itu adalah hal biasa yang sekarang menjadi kebiasannya. "Aku hanya ingin memastikan istriku baik-baik saja. Apa salahnya?" jawabnya santai.
Aline hanya pasrah tidak bisa membantah apa yang suaminya katakan.
Di sisi lain, Alya yang melihat sikap lembut anak bungsunya menggelengkan kepala. "Dasar! Bucin." cibirnya. Namun, bibirnya tetap menampilkan senyum bangga kepada putranya.
Kini ketiganya memasukki rumah sakit, tidak sedikit orang-orang yang merasa iri dengan Aline karena bisa masuk ke dalam keluarga Dewangga dan juga menjadi istri dokter idaman pemilik rumah sakit itu.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣