Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Ini tidak baik, kemungkinan besar mental kakak anda terguncang. Saya menyarankan agar nyonya Hanna melakukan konsultasi dengan psikiater untuk membuat mentalnya kembali baik"
Hanin merasa sangat terpukul mendengar keadaan sang kakak "Kami akan melakukan yang terbaik dokter"
"Saya akan merekomendasikan seorang psikiater terbaik untuk menangani mental nyonya Hanna hingga kembali membaik"
"Terima kasih dokter! Terima kasih juga karena sudah menyelamatkan kakak saya kemarin" Ujar Hanin pada pria dihadapannya
"Sama-sama" Dokter tampan itu tersenyum "Saya tidak akan bertanya tentang masalah yang menimpa Hanna, tapi untuk sekarang sebaiknya dia tidak bertemu dengan pemicu stress nya!"
Hanin mengangguk tanda mengerti, artinya Rizal tidak perlu tahu tentang keberadaan sang kakak
Ia akan bertanya nanti pada Hanna tentang apa yang terjadi sebenarnya. Namun dari penjelasan Rama yang mengatakan Hanna ingin melakukan bunuh diri artinya masalahnya sudah sangat serius
Hanin kembali keruang perawatan Hanna setelah bicara dengan dokter kandungan itu. Hanin terus berpikir tentang kesehatan sang kakak yang saat ini mentalnya terganggu
Saat dirinya tiba, disana Hanna tengah menangis dalam pelukan sang ibu. Terdengar begitu pilu membuat Hanin mengepal
Jika bukan ingin menyembunyikan keberadaan Hanna, mungkin saat ini ia sudah memberi pelajaran kepada Rizal
"Mbak" Panggil Hanin, namun Hanna diam saja sambil terus menangis dalam pelukan sang ibu
"Mbak Hanna"
"Aku hampir membunuh anakku Bu, karena marah aku mencoba menghabisinya!" Ujar Hanna yang terus menangis
"Sabar nak! Semua sudah berlalu, kamu tidak salah"
"Ibu benar mbak, mbak Hanna gak salah, baji___ itu yang salah"
Hanum menoleh menatap sang putri yang bicara sembarangan. Melihat tatapan sang ibu gadis cantik itu menunduk karena merasa bersalah
Setelah minum obat, saat ini Hanna tengah terlelap dengan Hanum yang menjaga. Wanita paruh baya itu duduk dikursi samping brankar dengan selalu menggenggam tangan putrinya
Hanum menatap sendu pada Hanna yang memejamkan matanya, ada gurat kesedihan yang tersisa dari wajahnya
"Bu" Hanin masuk dengan membawa beberapa bungkus makanan serta air. Sudah malam dan mereka akan menjaga Hanna
"Ibu makan dulu!"
"Ibu gak laper nak" Hanum terus menatap wajah pucat putri sulungnya
"Aku mau bicara tentang mbak Hanna"
Hanum menatap putrinya lalu mengangguk. Wanita paruh baya itu melangkah menuju sofa disudut ruangan
"Aku sudah bicara sama dokter Rama soal kondisi mbak Hanna" Ujar Hanin pada sangat ibu
"Lalu apa kata dokter?"
"Mbak Hanna harus mendapat perawatan dari psikiater, Bu. Semalam mbak Hanna mencoba untuk bunuh diri"
Hanum terkejut, ia kembali menatap putrinya dengan tatapan sendu. Ternyata masalah yang dihadapi Hanna bukan masalah yang mudah
"Apa yang terjadi pada kakakmu nak? Apa kamu tahu sesuatu?" Tanya Hanum. Selama ini ia tidak pernah ingin terlibat dalam masalah rumah tangga putrinya
"Aku gak tau pasti buk, yang jelas masalah ini karena mbak Hanna dan mas Rizal menyelamatkan seorang wanita bernama Arum" Jawab Hanin
"Aku sudah mengatakan bahwa kak Hanna harus secepatnya menyingkirkan wanita itu, tapi mbak Hanna memikirkan tentang hidupnya kedepannya Mbak Hanna juga sudah mencarikan Arum tempat tinggal, dan masalah ini terkuak"
Hanum mendengar semua penjelasan putrinya, ia merasa bersalah karena tidak tahu apapun tentang putrinya sendiri
"Lalu bagaimana selanjutnya nak?"
"Aku gak tau keputusan yang akan mbak Hanna ambil mengenai rumah tangganya" Kata Hanin "Tapi dokter Rama mengatakan agar mbak Hanna tidak bertemu dulu dengan pemicu stress nya yaitu mas Rizal"
Hanum mengangguk, apapun yang terbaik bagi putrinya maka ia akan setuju
"Dokter Rama juga akan mengatur terapi Mbak Hanna di Singapura, bagaimana menurut ibu?"
"Lakukan apapun yang terbaik, asalkan mbakmu bisa kembali seperti semula" Hanum tidak bisa membayangkan akan sehancur apa hidup putrinya kedepannya
"Baiklah, aku akan bicara dengan dokter Rama secepatnya!"
Rizal kembali kerumah dengan wajah lesu, seharian ia gunakan untuk mencari keberadaan istrinya saja
Rizal tidak akan bisa bekerja jika dirinya tidak bertemu dengan Hanna. Ia berjanji akan memperbaiki semuanya, bahkan ia akan bersujud dikaki wanita itu untuk memohon ampun
Hanna harus kembali padanya, ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan istrinya. Terlebih putri mereka yang entah bagaimana keadaannya
Arum menyambut dengan senyum manisnya, namun Rizal bahkan tidak melihat kearahnya sedikitpun
"Mas" Panggil Arum saat Rizal melewati dirinya begitu saja "Mas Rizal!"
Pria itu menoleh, wajahnya terlihat kusam dengan lingkaran hitam dibawah mata. Bahkan ketampanannya hilang entah kemana
"Ada apa? Aku ada disini tapi kamu malah lewat gitu aja!" Kata Arum dengan wajah cemberut
"Tolong jangan ganggu aku sekarang Arum! Lakukan apa yang kamu ingin lakukan dirumah ini tapi jangan pernah menganggu aku!"
Rizal pergi setelah mengatakan semua itu. Arum hanya bisa menatap kepergian pria pujaannya itu tanpa bisa berkata-kata lagi, bahkan terdengar suara pintu yang dikunci
Rizal bersandar disisi tempat tidur, sungguh rasanya separuh jiwanya telah pergi bersama Hanna
"Kamu dimana sayang? Mas mohon kembalilah! Kamu bisa menghukum Mas apa saja!"
Rizal menangis pilu, benar kata orang, jika kita akan merasakan pentingnya seseorang jika dia sudah tidak bersama kita lagi
"Kembalilah Hanna! Mas dan Fathan butuh kamu! Kenapa kamu begitu jahat sama mas"
Rizal marah dan melampiaskan semuanya pada barang-barang. Semua rangakaian produk kecantikan yang tertata diatas meja rias jatuh berserakan
Arum yang mendengar itu tentu saja merasa khawatir, namun suaranya tidak digubris dan Rizal tetap sibuk dengan amarah nya
"Kenapa kamu tidak bisa melihat sekali saja padaku mas? Aku ada disini dan seharusnya kamu bisa melupakan Hanna"
Arum hanya menatap sendu pintu kamar yang tertutup, didalam sana seorang pria tengah melampiaskan amarahnya hingga keadaan kamar itu hancur
***
Setelah tiga hari menjalani perawatan, kini Hanna telah diizinkan pulang bersama putri cantiknya
Entah kenapa saat ini Hanna enggan untuk melihat putrinya, wanita itu hanya sibuk melihat keluar jendela mobil yang dikendarai oleh Hanin
"Apa kamu sudah punya nama?" Tanya Hanum yang tengah menggendong bayi cantik yang senantiasa menutup matanya itu
Namun Hanna diam saja, wanita itu terlihat tidak baik. Seolah hanya raganya saja yang berada di sini, tapi jiwanya entah berada dimana
"Nak!" Tegur Hanum lagi, barulah Hanna mengangkat wajahnya
"Iya Bu?"
"Kamu sudah punya nama untuk putri kamu?" Hanum mengulangi pertanyaannya
Hanna menggeleng sebagai jawabannya "Bagaimana kalau Eleanor? Itu nama yang cantik" Ujar Hanin dengan penuh semangat
"Bagaimana mbak?" Hanin bertanya karena sang kakak diam saja
"Terserah kamu saja!" Jawab Hanna dingin
Hanin menoleh kebelakang dan sang ibu mengangguk, tanda agar Hanin tidak membebani Hanna dengan nama bayi
ayo hana pergi bawa anak anakmu ke luar negri
kl wanita kuat pasti gk akn sperti ini pasti akn berpikir sblm bertindak.
semoga byk yg baca