NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Titip Pacar Saya

Setelah mobil SUV hitam itu melaju cukup jauh dari area perumahan dan deru tawa canggung mereka perlahan mereda.

Aeros mengemudikan mobil dengan satu tangan di kemudi, sementara tangan kirinya bergerak santai ke tengah, membuka telapak tangannya di atas 𝘢𝘳𝘮𝘳𝘦𝘴𝘵. Sael yang menyadari kode itu tersenyum tipis, lalu perlahan menyelipkan jemarinya ke dalam genggaman Aeros.

"Masih malu, hmm?" goda Aeros tanpa menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Sael mendengus pelan, menatap lurus ke depan sambil mengeratkan genggaman tangannya. "Ya lagian Kak Aeros tiba-tiba banget. Mana di depan rumah lagi. Kalau Papa sama Kael nggak ada sih nggak apa-apa..." ucap Sael, di akhir kalimat suaranya mengecil karena menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Mendengar itu, Aeros terkekeh renyah. Saat lampu lalu lintas di depan mereka berubah merah, Aeros menghentikan mobilnya. Ia memanfaatkan momen itu untuk menoleh ke arah Sael.

Tangan kiri Aeros yang menggenggam jemari Sael terangkat perlahan. Tanpa melepas pandangannya dari sepasang mata Sael, Aeros membawa punggung tangan gadis itu ke depan bibirnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di sana.

"Kalau gitu, anggap yang tadi di kening itu buat pamitan sama camer," ucap Aeros setelah menjauhkan tangan Sael dari bibirnya, namun tetap menggenggamnya erat. "Nah, kalau yang di tangan ini... khusus buat pacarku yang cantik pagi ini."

Wajah Sael kembali memerah, "Kak Aeros beneran ya, sejak kapan sih pinter banget ngomong kayak gini? Kayaknya dulu kakak irit banget kalau ngomong."

"Kan aku udah bilang semalam," Aeros kembali melajukan mobilnya saat lampu berubah hijau. "Colokan kulkasnya udah dicabut sama kamu. Tujuh tahun aku nahan diri buat nggak bisa memperlakukan kamu kayak gini, Sael. Jadi sekarang, mending kamu siap-siap aja karena aku bakal sering bikin kamu salah tingkah."

Sael tidak bisa menahan senyumnya lagi. Ia membuka kotak bekal yang dibawakan Aeros tadi, aroma roti panggang yang gurih langsung memenuhi mobil.

"Mau?" tanya Sael menawarkan,

"Boleh... Suapin ya?" sahut Aeros santai.

"Hahaha..." Sael memotong kecil roti panggang itu, lalu dengan telaten menyuapkannya ke mulut Aeros yang sedang fokus menyetir, kemudian menyuap potongan berikutnya untuk dirinya sendiri.

Perjalanan pagi yang manis itu berakhir tepat di depan gedung Adhitama & Partners. Sebelum turun, Aeros memastikan untuk merapikan sedikit kerah blazer Sael dan memberikan senyuman penyemangat yang sukses membuat Sael melangkah masuk ke kantor dengan perasaan berbunga-bunga.

Namun, suasana hati Sael yang cerah berbanding terbalik dengan atmosfer di dalam kubikel kerja.

Begitu Sael meletakkan tasnya di meja, Arka sudah berdiri di dekat dispenser. Ia memegang cangkir kopinya dengan erat. Matanya sejak tadi tidak lepas dari jendela besar yang menghadap ke area lobi luar, menyaksikan dengan jelas bagaimana Sael turun dari SUV hitam dan bagaimana Aeros memperlakukan Sael dengan penuh perhatian.

"Pagi, Sael. Cerah banget mukanya," sindir Arka.

Sael yang sedang menyalakan laptopnya hanya tertawa kecil, sama sekali tidak menyadari riak cemburu di mata Arka. "Pagi, Arka."

Melihat Sael yang kini tersenyum tipis sambil menatap kotak bekal dari Aeros di atas meja, dada Arka terasa semakin sesak. Rasa cemburu yang membakar membuatnya sadar bahwa ia benar-benar menyukai Sael.

Siang harinya, Sael ada janji temu dengan klien di sebuah restoran yang terletak tepat di sebelah kafe milik Aeros. Bersama Arka, yang bertindak sebagai rekan penasihat.

Setelah pertemuan dengan klien selesai, Sael dan Arka berjalan keluar restoran. Saat itulah mereka berpapasan dengan Aeros yang kebetulan baru saja keluar dari kafenya untuk mengecek area luar.

"Kak Aeros!" panggil Sael riang, reflek melangkah mendekat.

Aeros menoleh, dan binar matanya langsung melembut begitu melihat Sael. Namun, tatapan lembut itu hanya bertahan sedetik sebelum beralih ke sosok pria tinggi di sebelah Sael yang sedang menatapnya dengan pandangan tidak bersahabat.

𝘈𝘳𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪, batinnya, ia melangkah maju, mendekati Sael.

"Sudah selesai?" tanya Aeros lembut, tangannya tanpa ragu bergerak merapikan beberapa helai rambut Sael yang berantakan karena angin. Tindakannya seolah menegaskan kepemilikan.

Sael agak kaget namun tidak menolak. "Sudah, Kak. Ini baru mau balik ke kantor sama Arka."

Sael menoleh ke arah Arka, teringat belum memperkenalkan mereka berdua. "Oh iya, Kak, ini Arka temen sekantor Sael. Arka, ini Kak Aeros."

Arka memaksakan sebuah senyuman profesional dan mengulurkan tangannya. "Arka, rekan kerja terdekat Sael di kantor." Ada penekanan pada kata 'terdekat'.

Aeros menyambut uluran tangan itu. Genggaman mereka terasa kuat, sebuah perang dingin tak kasat mata yang sama sekali tidak disadari oleh Sael.

"Aeros. Pacar Sael," jawab Aeros tenang, dengan sengaja menekankan kata 'pacar'.

Kata 'pacar' itu telak menghantam ulu hati Arka. Wajah Arka sempat menegang sesaat sebelum ia menarik kembali tangannya.

Aeros tidak berhenti di situ untuk memamerkan kemenangannya. Ia kembali menatap Sael, lalu merangkuh pinggang Sael dengan posesif namun lembut, menarik tubuh gadis itu sedikit lebih dekat ke sisinya di hadapan Arka.

"Nanti malam aku jemput lagi ya? Aku udah masakin menu baru di kafe khusus buat kamu," ucap Aeros, suaranya sengaja dibuat terdengar sangat perhatian.

"Eh? Beneran, Kak? Mau!" sahut Sael bersemangat.

Aeros melirik Arka lewat sudut matanya, mendapati wajah rekan kantor Sael itu kini sudah menahan cemburu. Aeros mengulas senyum tipis—senyuman kemenangan.

Arka hanya mengepalkan tangan di dalam saku celananya, menahan gemuruh di dada yang rasanya ingin meledak saat itu juga.

"Uhm, Sael," Arka berdeham kaku, "Kita harus segera balik ke kantor. Berkas untuk sidang besok masih ada beberapa yang perlu direvisi."

"Oh, iya benar!" Sahut Sael langsung, Ia menoleh ke arah Aeros. "Kalau gitu aku balik ke kantor dulu ya, Kak."

"Iya, semangat kerjanya, Sayang," ucap Aeros sengaja.

Kata 'Sayang' yang meluncur begitu mulus dari bibir Aeros sukses membuat Sael hampir tersedak ludahnya sendiri, sementara Arka membuang muka.

Aeros melepaskan rangkulannya di pinggang Sael, beralih mengacak pelan rambut Sael yang ditujukan langsung untuk memprovokasi Arka. "Sampai ketemu nanti malam. Arka, duluan ya. Titip pacar saya."

Arka tidak menjawab, ia hanya mengangguk kaku sekilas, lalu berbalik dan berjalan mendahului Sael dengan langkah lebar.

Suasana di dalam mobil Arka terasa begitu dingin. Arka memegang setir mobil dengan sangat erat.

Sael yang duduk di kursi penumpang mulai merasakan atmosfer yang tidak enak itu. Ia menoleh ke arah Arka yang menatap lurus ke jalanan dengan rahang mengeras.

"Arka? Kamu nggak apa-apa? Kok mendadak diam banget?" tanya Sael polos.

Arka menghela napas berat, mencoba menahan emosinya. "Nggak apa-apa. Cuma kepikiran berkas kantor aja." Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu berpura-pura bertanya dengan nada santai yang dipaksakan. "Jadi... Kamu sama cowok tadi udah lama?"

"Oh, Kak Aeros?" Sael sedikit ragu untuk membicarakannya. "Hm...Kita baru jadian tadi malam, sih."

𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮, batin Arka menjerit. Itu berarti ia kalah cepat.

"Oh... selamat ya," ucap Arka lirih.

"Makasih," Jawab Sael pelan.

*****

Pukul tujuh malam, SUV hitam Aeros sudah di depan lobi kantor Sael. Ia berdiri bersandar di pintu mobil sambil melipat tangan di dada, ia mengenakan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih keren.

Ketika Sael berjalan keluar lobi, Arka berjalan di sampingnya, sengaja membawakan beberapa map tebal milik Sael.

Aeros yang melihat itu langsung menegakkan tubuhnya. Senyum tipisnya terkembang. Ia melangkah maju menyambut kedatangan mereka.

"Malam, Kak Aeros!" sapa Sael riang.

"Malam, Sael," Aeros mengecup puncak kepala Sael sekilas.

Mata Aeros kemudian beralih ke map yang dipegang Arka. Dengan gerakan cepat namun sopan, Aeros mengambil alih map-map tersebut dari tangan Arka.

"Biar saya aja yang bawa, Arka. Makasih ya udah repot-repot bantu pacar saya sampai malam gini," ucap Aeros menekankan setiap kata dengan intonasi yang sangat ramah.

1
Fazira
Sael 🫶
Fazira
Karakter Sael keren😍
Fazira
Aeros 💞💞
Fazira
Suka banget sama pembawaan suasananya. Feelnya langsung dapat dari bab ini. Semangat terus ya lanjutin ceritanya 💪👍
Skyline Scribe: Makasih, Kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!