"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Kerja Paksa dan Penguntit yang Sial
Pagi hari setelah kejadian konyol di Rumah Bordil Langit Merah, Jian Chen kembali ke paviliun pribadinya di Puncak Kedua dengan wajah yang luar biasa lelah mental. Sang jenius faksi pedang itu buru-buru mandi dan bermeditasi, mengira bahwa penderitaannya bersama dua tukang sapu sengklek itu telah berakhir sepenuhnya.
Namun, di Puncak Kesembilan, sebuah konspirasi taktis tingkat tinggi sedang berjalan dengan sangat mulus.
Lin Ling berdiri di depan meja pengurus sekte luar sambil membawa papan daftar nama murid untuk Alam Rahasia. Di urutan ketiga, setelah namanya dan nama Wang Ba, tertulis nama Jian Chen dengan tinta hitam yang sangat tebal.
"Murid Lin Ling, apakah kau yakin Murid Dalam Jian Chen dari Puncak Kedua bersedia bergabung dengan daftar kuota Puncak Kesembilan?" tanya tetua pengurus dengan kening berkerut ragu.
"Sangat yakin, Tetua," jawab Lin Ling dengan wajah polos tanpa dosa yang paling meyakinkan. "Sebagai Murid Dalam di ranah Foundation Establishment, Kakak Senior Jian Chen sangat bebas tugas dan tidak terikat harian. Karena Tetua Duanmu Rong tidak melarang bantuan lintas faksi demi memenuhi kuota, Kakak Senior Jian Chen dengan sukarela mengajukan dirinya demi kemanusiaan dan solidaritas antar-puncak. Hehehe."
Mendengar penjelasan yang begitu mulia, ditambah celah hukum sekte yang memang legal, tetua pengurus langsung mengangguk kagum. TOK! Segel resmi sekte langsung diketuk di atas papan daftar. Jian Chen resmi "terjual" secara hukum sekte tanpa sepengetahuannya.
Siang harinya, sebuah maklumat resmi ditempel di papan pengumuman Puncak Kedua. Dalam sekejap, area tersebut langsung ramai oleh kasak-kusuk puluhan Murid Dalam.
"Luar biasa! Kakak Senior Jian Chen benar-benar memiliki hati seputih jubahnya!"
"Benar! Dia rela merendahkan hatinya untuk membantu faksi buangan Puncak Kesembilan memenuhi kuota ke Alam Rahasia!"
Jian Chen yang baru saja selesai memulihkan batin pedangnya berjalan melewati kerumunan tersebut. Mendengar namanya disebut-sebut, dia melangkah mendekat dan membaca maklumat itu. Detik berikutnya, tubuh sang jenius pedang langsung membeku tegak lurus di tempat.
Wajahnya yang tampan seketika berubah kaku, dan urat di pelipisnya berdenyut begitu kencang hingga hampir pecah. Di sana, namanya tertera dengan sangat sah di bawah stempel merah sekte sebagai perwakilan Puncak Kesembilan.
Jian Chen buru-buru berlari ke Aula Tetua Faksi untuk memprotes, namun Tetua Faksi justru menepuk pundaknya dengan pandangan bangga. "Jian Chen, tidak perlu malu. Karena kau sedang tidak ada tugas harian, tindakan taktis dan muliamu membantu Puncak Kesembilan telah dicatat oleh sekte. Segelnya sudah sah dan tidak bisa diubah lagi. Berjuanglah bersama Puncak Kesembilan!"
Jian Chen keluar dari aula dengan tatapan kosong. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai kultivator Foundation Establishment, dia merasa ingin menangis tanpa air mata karena dijebak secara legal oleh seorang tukang sapu.
Malam harinya, kegelapan menyelimuti Puncak Utama tempat kediaman para kultivator kelas atas. Di salah satu paviliun termewah yang dilindungi oleh formasi spiritual berlapis, Lin You sedang duduk bermeditasi.
Meskipun dia adalah sosok jenius agung berusia seratus tahun yang telah mencapai ranah Golden Core, sepasang mata indahnya malam itu justru menyiratkan kekosongan dan konflik batin yang mendalam. Lin You menatap telapak tangan halusnya yang memancarkan aura emas tipis, lalu menghela napas panjang dengan nada sedih.
Sejak bayi, Lin You dibesarkan sendirian di bawah naungan sekte tanpa pernah melihat sosok orang tua maupun saudara kandung. Dia sama sekali tidak tahu bahwa dia memiliki seorang kakak. Namun, ada satu misteri yang selalu mengusik batinnya. Delapan puluh tahun yang lalu, saat dia masih menjadi murid luar, dia tidak sengaja mendengar rumor samar di antara para tetua kuno: bahwa seratus tahun silam, Keluarga Lin sebenarnya melahirkan dua anak kembar.
Jika rumor itu benar, artinya dia memiliki seorang saudara. Namun, ke mana saudaranya berada? Mengapa sekte seolah menyembunyikan eksistensinya? Apakah saudaranya terlahir tanpa bakat dan dibuang?
"Jika kau benar-benar ada... di mana kau sekarang...?" gumam Lin You pelan ke arah jendela, tidak pernah tahu bahwa jawaban dari pertanyaannya sedang jongkok di atas atap paviliunnya sambil mengunyah sate daging dengan watak bodo amat.
Menggunakan kemampuan menyembunyikan hawa keberadaan tingkat Mahayana miliknya, Lin Ling menatap adiknya dari balik bayang-bayang malam. Dia tersenyum tipis, mengingat bagaimana dia sengaja menghapus jejaknya dari memori sekte seratus tahun lalu demi bisa hidup malas-malasan sebagai tukang sapu tanpa diganggu beban ekspektasi.
Lin Ling merasa belum saatnya bagi Lin You untuk mengetahui kebenaran bahwa kakak yang dia cari selama ini adalah si ampas tukang sapu di faksi paling bobrok. Pertemuan mereka harus menunggu momentum taktis yang tepat dengan suasana yang lebih spesial.
Dengan gerakan yang melampaui logika ranah Golden Core, Lin Ling melesat turun ke teras tanpa memicu riak angin atau alarm formasi sama sekali. Dia menaruh sekantong camilan manis khas fana—jajanan dalam ingatan samarnya—dan seikat lobak murni milik Wang Ba di atas meja luar, lalu menghilang kembali ke dalam pelukan malam.
Namun, malam itu Lin Ling tidak sendirian.
Jian Chen, yang masih didera rasa penasaran luar biasa dan terus menebak-nebak hubungan antara Lin Ling dan sang phoenix baru, ternyata diam-diam mencoba menyelidiki dengan menguntit Lin Ling sejak dari kaki bukit. Mengandalkan kultivasi ranah Foundation Establishment miliknya, Jian Chen yakin gerakannya sangat rahasia.
Dia tidak tahu saja bahwa sejak langkah pertama dia membuntuti, Lin Ling sudah mendeteksinya dan menganggap ini sebagai sarana hiburan taktis. Lin Ling sengaja membiarkan Jian Chen menguntit tanpa pernah membiarkan sang jenius melihat momennya menaruh barang untuk Lin You.
Saat Jian Chen kehilangan jejak Lin Ling di dekat pagar paviliun, dia melompat ke atas dahan pohon besar untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut secara diam-diam. Namun, tepat ketika kakinya baru saja menapak di atas dahan pohon...
BZZZZT—!
Sebuah jentikan energi tak kasat mata yang sangat murni mengenai simpul tali jubah abu-abu yang dikenakan Jian Chen (jubah tukang sapu cadangan yang belum sempat dia kembalikan).
SREEEKK! PLUK!
Tali celananya mendadak putus total dan tersangkut kuat di dahan pohon yang tajam. Karena jubahnya tertarik ke atas oleh dahan, tubuh Jian Chen mendadak kehilangan keseimbangan dan langsung tergantung terbalik dengan posisi kepala di bawah, sementara tangannya harus bergerak super cepat untuk memegangi celananya yang hampir melorot jatuh.
"B-Bajingan...!" desis Jian Chen dengan wajah merah padam, menahan suara agar tidak memicu alarm penjaga Puncak Utama. Di tengah kegelapan malam, sang jenius pedang yang suci kini tergantung konyol di pohon seperti kelelawar, berjuang mati-matian mempertahankan celananya akibat dikerjai habis-habisan tanpa tahu bagaimana cara Lin Ling melakukannya.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara siulan santai dan langkah kaki yang menjauh dengan watak bodo amat. Jian Chen bersumpah, jika dia berhasil lolos dari pohon ini, dia akan menusuk Lin Ling dengan ribuan pedang.