Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Ustadz… mau nikah sama Hanindya?”
“Iya,” jawab Ustadz Ilyas lembut.
Dan kali ini Shaka benar-benar kehilangan kata-kata. Untuk beberapa detik ia hanya berdiri diam sambil menatap ustadz muda di depannya. Ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dadanya sekarang. Perasaan yang tiba-tiba membuat napasnya terasa sedikit berat. Namun sebelum Shaka sempat berkata apa-apa, Ustadz Ilyas yang mulai menyadari perubahan ekspresi di wajah lelaki itu langsung terlihat sedikit teringat sesuatu.
“Oh iya…” Ustadz Ilyas mengusap tengkuknya sendiri dengan pelan. “Saya lupa cerita ke kamu.”
Shaka masih diam sementara Ustadz Ilyas lalu tersenyum lagi.
“Sebenarnya saya sama Hanin sudah bertunangan dua bulan yang lalu.”
Kalimat itu langsung membuat Shaka kembali terdiam. Dua bulan lalu? Berarti itu sebelum dirinya datang ke pesantren ini. Ustadz Ilyas lalu melanjutkan dengan nada santai,
“Waktu itu pertunangan saya dan Hanin digelar secara sederhana. Cuma keluarga sama orang pondok saja yang datang.” Lelaki itu kemudian tertawa kecil. “Mungkin karena kamu masih baru di sini jadi saya belum sempat cerita.”
Namun Shaka sama sekali tidak tertawa. Ia masih berdiri mematung sambil mencoba mencerna semuanya. Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di pesantren itu, Shaka merasakan hatinya terasa benar-benar kacau.
Subuh yang tadinya terasa begitu tenang mendadak berubah aneh baginya.
Hanindya, Perempuan yang selama dua bulan terakhir tanpa sadar terus hadir di pikirannya.
Perempuan yang pertama kali menyuruhnya tersenyum, yang menyuruhnya memperbaiki diri, yang selalu berbicara lembut padanya, yang membuat dirinya mulai percaya kalau hidupnya mungkin masih bisa diselamatkan.
Dan sekarang, Perempuan itu ternyata akan menikah dengan orang lain.
Dengan Ustadz Ilyas yang tak lain adalah lelaki baik yang selama ini membimbing dirinya. Shaka langsung menundukkan wajahnya dengan pelan. Entah kenapa tenggorokannya terasa kering sementara Ustadz Ilyas masih terlihat sangat bahagia tanpa menyadari apa yang sedang terjadi di hati Shaka.
“Abi bilang akad nikah kami akan digelar minggu depan,” lanjut Ustadz Ilyas sambil tersenyum kecil. “Saya sendiri masih merasa kayak mimpi.”
Shaka mencoba tersenyum kecil namun senyum itu terasa sulit sekali untuk muncul begitu saja.
“Oh…” hanya itu yang keluar dari bibir Shaka dan Ustadz Ilyas akhirnya mulai menyadari kalau reaksi Shaka sedikit berbeda.
“Shaka?”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
Shaka cepat-cepat menggeleng.
“Enggak kok ustadz, saya nggak apa-apa.” ujar Shaka yang suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Ustadz Ilyas memperhatikan lelaki itu beberapa detik. Namun karena memang tidak punya prasangka apa-apa, ia hanya tersenyum lagi lalu duduk di dekat tiang musholla.
“Saya benar-benar bersyukur sama Allah,” gumam ustadz Ilyas dengan pelan sementara
Shaka cuma diam.
Lelaki itu masih berdiri sambil menatap sajadah di depannya. Pikirannya mendadak berantakan dan yang paling membuatnya tersiksa adalah ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia rasakan sekarang. Apakah ia sedih? Tentu.
Namun di sisi lain, bagaimana mungkin ia merasa sedih? Bukankah Ustadz Ilyas adalah orang yang baik? Bukankah Hanindya juga memang pantas mendapatkan lelaki seperti itu? Bukankah sejak awal mereka memang cocok? Satu-satunya yang tidak cocok di antara semua itu mungkin justru dirinya sendiri. Shaka menundukkan wajahnya lebih dalam. Dulu ia hanyalah preman jalanan, mantan pengedar narkoba yang penuh dosa.
Sementara Hanindya…
Perempuan itu begitu bersih, Begitu baik, begitu shalihah dan taat pada agama. Ustadz Ilyas jauh lebih pantas berada di sampingnya dibanding dirinya. Logikanya tahu itu, Namun entah kenapa dadanya tetap terasa sakit. Shaka mengepalkan jemarinya perlahan. Ia bahkan baru sadar sekarang bahwa diam-diam dirinya memang sudah menyimpan perasaan pada Hanindya. Perasaan yang selama ini coba ia abaikan. Perasaan yang tumbuh pelan-pelan setiap kali Hanindya tersenyum padanya.
Setiap kali perempuan itu memujinya, setiap kali Hanindya mengatakan kalau dirinya sudah berubah menjadi lebih baik, Shaka selalu merasa bahagia setiap mendengarnya.
Dan bodohnya, Ia tidak pernah sadar kalau rasa bahagia itu ternyata berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Sampai pagi ini, Sampai ia mendengar kabar bahwa Hanindya akan menikah. Barulah Shaka sadar dan kesadaran itu justru datang terlambat. Sangat terlambat.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara adzan subuh akhirnya berkumandang lembut memecah keheningan di dalam musholla. Para santri mulai berdatangan satu per satu namun Shaka masih berdiri diam beberapa detik. Tatapan matanya terlihat kosong sementara di depannya, Ustadz Ilyas masih terlihat tersenyum bahagia sambil menjawab salam para santri yang masuk ke musholla. Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di pesantren itu, Shaka tidak tahu harus merasa apa. Apakah ia harus ikut bahagia? Atau justru merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar ia miliki?
Suasana musholla setelah shalat subuh berjamaah pagi itu terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Udara dingin masih menyelimuti area pondok pesantren sementara cahaya matahari bahkan belum benar-benar muncul dari balik langit. Para santri dan santriwati masih duduk rapi di saf masing-masing sambil memegang Al-Qur’an kecil atau tasbih di tangan mereka. Beberapa masih melantunkan dzikir pelan.
Shaka sendiri duduk di saf bagian belakang dekat tiang musholla. Namun sejak tadi pikirannya sama sekali tidak tenang. Tatapannya terlihat kosong mengarah ke depan sementara suara dzikir para santri terdengar samar di telinganya. Dadanya masih terasa sesak sejak mendengar kabar dari Ustadz Ilyas tadi. Hanindya akan menikah dengan Ustadz Ilyas dan pernikahan mereka akan digelar minggu depan. Kalimat itu seperti terus berputar-putar di kepalanya tanpa henti. Sampai sekarang Shaka bahkan masih belum benar-benar bisa menerima kenyataan itu sepenuhnya.
Di depan sana, Ustadz Ilyas duduk dengan wajah yang masih terlihat sangat bahagia. Sesekali lelaki itu tersenyum sendiri sambil merapikan sajadah di sampingnya. Dan setiap kali Shaka melihat wajah itu, rasa bersalah aneh muncul di dalam dirinya. Karena bagaimana mungkin dirinya bisa menyukai perempuan yang akan menikah dengan lelaki yang sudah begitu baik padanya? Lelaki yang sudah membimbingnya selama ini, lelaki yang selalu sabar mengajarinya membaca Al-Qur’an, lelaki yang membuat dirinya merasa diterima di tempat ini.
Shaka menundukkan wajahnya perlahan. Dadanya makin terasa berat. Namun lamunannya buyar ketika suara Ustadz Haidar terdengar dari depan musholla.
“Anak-anak…”
Semua santri dan santriwati langsung mengangkat kepala mereka.
Ustadz Haidar berdiri di dekat mimbar kecil musholla dengan senyum hangat di wajahnya. Di samping beliau ada Ummi Hafizah sementara Hanindya duduk bersama para santriwati di sisi belakang musholla.
“Ustadz ingin menyampaikan sedikit kabar bahagia pagi ini.”
Suasana musholla langsung menjadi lebih fokus. Beberapa santri bahkan mulai saling melirik penasaran.
“Kabar bahagia?”
“Ada apa ya?”
Bisik-bisik kecil mulai terdengar pelan.
Ustadz Haidar tersenyum lagi lalu menoleh ke arah Ustadz Ilyas.
Ini mengajarkan untuk mencintai tanpa harus memiliki, melepaskan keterikatan, serta memahami bahwa cinta sejati tidak menuntut balasan.
Cinta tak harus memiliki memang terdengar sangat pedih.
Bahkan jika dituangkan dalam sebuah lagu akan sangat menyayat hati.
Cinta memang harus diperjuangkan. Namun, ketika dia tidak bisa membalas dan menerima, kita harus terima dengan lapang dada.
Mencintai seseorang itu memang hak kita, namun memiliki seseorang yang sudah menjadi milik orang lain itu bukan hak kita, jangan pernah takut untuk melepas sesuatu yang belum menjadi milikmu karena Tuhan pasti akan menggantinya dengan sosok yang lebih baik...😅😂🤣
Mencintai orang yang bukan milik kita sering memberikan cerita sedih sehingga dibutuhkan hiburan.
Orang yang sedang mengalami kesedihan karena hal tersebut membutuhkan penguat karena cinta yang tidak terbalaskan.
Kekuatan bisa diperoleh dari dukungan orang terdekat atau dengan kata-kata mencintai orang yang bukan milik kita...😨😰