NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin Pertunangan Terindah

Angkasa melihat smart watchnya. Pukul 15.17. Matahari masih begitu terik meskipun sudah condong di sisi barat. Angkasa menatap Nia yang sibuk merapikan rambutnya setelah melepas helm.

"Ayo naik," ajak Angkasa.

"Eh?"

Angkasa menatap Nia yang juga menatapnya.

"Kamu bawa alat gambarmu?" tanya Angkasa. Nia mengangguk.

"Ya udah, ayo naik. Ku rasa kamu nggak bakal bosan selama punya pensil dan kertas," kata Angkasa sambil berjalan mendaki bukit. Nia berjalan mengikuti Angkasa.

Dua puluh menit kemudian, keduanya sudah berada di puncak bukit. Matahari masih cukup terik. Angkasa lalu duduk menghadap matahari yang terik itu sambil melepas jaketnya. Nia duduk di samping Angkasa, agak berjarak.

Nia membuka totebagnya, mengambil buku sketsa yang terlihat masih baru dan sebuah pensil HB. Angkasa menoleh ke arah Nia, lalu tersenyum tipis kemudian kembali menatap matahari.

Selama beberapa menit, Nia dan Angkasa duduk dalam diam. Nia sibuk menggoreskan pensilnya di atas buku sketsanya. Angkasa sibuk memilin sesuatu sambil sesekali melirik ke arah Nia, memastikan Nia tidak melihat apa yang sedang dia lakukan.

Cahaya mentari terasa semakin meredup. Langit yang semula terang, kini dihiasi semburat kuning dan jingga yang indah. Nia masih sibuk mengarsir beberapa titik di buku sketsanya dengan pensil warna. Angkasa sudah duduk diam, menikmati pemandangan sore di Bukit Senja. Nia terlihat mengangkat buku sketsanya, lalu menatap lurus ke depan, lalu kembali menatap buku sketsanya. Angkasa memperhatikan gerak-gerik Nia sambil melirik gambar di buku sketsa Nia.

"Udah pas," kata Angkasa sambil kembali menatap langit senja. Nia menoleh ke arah Angkasa lalu kembali menatap hasil gambarnya.

"Mmmm... Iya kah?" tanya Nia, masih merasa belum puas dengan hasil karyanya. Angkasa mengangguk.

"Tapi... mungkin kamu merasa ada sesuatu yang kurang," kata Angkasa. Nia menoleh ke arah Angkasa lagi.

"Aku pernah sekolah vokasi di Jepang, jurusan fotografi," kata Angkasa sambil masih menatap mentari yang perlahan merayap ke arah barat. Nia menatap Angkasa, menyimak ceritanya.

"Menurutku, fotografer dan pelukis itu mirip," lanjut Angkasa.

"Selalu mencoba memvisualisasikan rasa yang di dapat saat melihat sesuatu. Dan itu nggak mudah," kata Angkasa.

Nia kembali melihat ke dalam hasil gambarannya. Benar. Menyampaikan rasa lewat gambar memang bukan hal mudah. Berkali-kali dosen-dosen Nia sering mengingatkan, jangan hanya meniru bentuk, rasakan apa yang ada pada bentuk itu. Entah mengapa, sering kali hasil karya lukis terlihat indah dalam komposisi warna, namun tidak terasa hidup.

"Aku masih merasa ada sesuatu yang kurang. Tapi... apa?" tanya Nia, lebih kepada dirinya sendiri.

Angkasa menoleh, menatap Nia yang masih fokus menatap hasil gambarnya. Angkasa mengulurkan tangannya pada Nia, meminta buku sketsa Nia. Nia sedikit terkejut, lalu menyerahkan buku sketsanya. Angkasa menatap hasil lukisan Nia lalu menatap pemandangan yang terlihat dari puncak bukit.

"Udah bagus," kata Angkasa sambil mengembalikan buku sketsa Nia. Nia menerima kembali bukunya dan menatap lebih teliti lagi ke arah gambarnya.

"Kalo kamu merasa ada yang kurang, itu artinya skill kamu sedang naik tingkat," kata Angkasa sambil menatap langit. Nia menoleh ke arah Angkasa lalu menoleh menatap langit.

"Mungkin," kata Nia, menyerah mencari sesuatu yang kurang dari lukisannya.

Nia dan Angkasa kembali diam. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing, sambil menatap senja yang selalu indah di Bukit Senja.

Saat sedang menikmati indahnya langit senja, sebuah cincin terbuat dari bunga rumput mengganggu pandangan Nia. Nia menoleh ke arah Angkasa yang sudah menatapnya sambil mengulurkan cincin bunga itu ke depan wajah Nia.

"Aku kira aku lupa cara buatnya," kata Angkasa sambil mengambil tangan kanan Nia dan memasangkan cincin dari bunga wedelia ke jari manis Nia. Jantung Nia berdegub kencang.

"Aku pernah buat satu yang sama. Dulu. Sebelum aku dijemput keluarga Mahendra," kata Angkasa sambil melihat cincin buatannya melingkar di jari manis tangan kanan Nia. Nia menatap Angkasa dengan penuh perasaan.

"Tapi, aku tak bisa memberikannya ke kamu," lanjut Angkasa.

"Kenapa?" tanya Nia penasaran. Angkasa menatap Nia, tajam seperti biasa. Jantung Nia berdegub semakin kencang.

"Aku... terlalu sibuk," jawab Angkasa singkat lalu melepaskan tangan Nia dan menatap kembali ke langit. Nia mengerutkan kedua alisnya.

"Sibuk?" tanya Nia, penasaran sekaligus heran.

Hening kembali menyelimuti Nia dan Angkasa. Nia masih menatap Angkasa seolah menanti jawaban atas rasa penasarannya. Angkasa menghela napas panjang lalu menoleh, menatap Nia.

"Aku terlalu sibuk menatap wajahmu saat itu," kata Angkasa dengan nada dingin yang entah mengapa membuat pipi Nia terasa panas.

"Aku hanya berpikir, mungkin itu terakhir kalinya aku melihatmu. Jadi..." Angkasa menjeda kalimatnya. Nia menunggu dengan degup jantung yang semakin tak beraturan.

"Jadi... saat itu... aku hanya mau menghabiskan waktuku untuk menikmati wajahmu dalam balutan cahaya senja," lanjut Angkasa.

Nia merasa wajahnya semakin panas. Nia yakin saat itu pipinya pasti begitu merah. Angkasa kembali menatap langit senja.

"Aku baru ingat hal itu hari ini. Jadi, aku buat cincin yang baru sebagai gantinya," kata Angkasa sambil menatap langit.

"Sebagai tanda bahwa kamu calon isteri aku," kata Angkasa sambil menatap Nia. Jantung Nia seperti hendak melompat keluar.

Angkasa menatap Nia lama. Nia terdiam, menatap kedua mata Angkasa yang begitu tajam dan seperti menyimpan banyak rahasia dan luka disana.

"Kamu... nggak keberatan... dengan perjodohan kita?" tanya Nia, hati-hati. Angkasa masih menatap Nia lalu menggelengkan kepalanya. Angkasa kembali menatap langit.

"Selama kamu nggak keberatan, aku nggak keberatan," jawab Angkasa sambil menatap senja yang semakin indah. Nia tersenyum, lalu kembali menatap cincin bunga liar di jari manisnya.

"Bunga wedelia," kata Angkasa. Nia menoleh menatap Angkasa.

"Entah mengapa, setiap kali aku melihat bunga itu, aku seperti melihat kamu. Ceria, hangat, dan kuat," kata Angkasa tanpa menoleh ke arah Nia.

"Jadi, aku memilihnya untuk kamu," lanjut Angkasa, masih tetap fokus menatap senja.

Nia kembali menatap cincin bunga rumputnya. Nia bahkan baru tahu nama bunga itu sekarang. Memang tampak seperti dirinya yang terlihat kuat padahal rapuh. Yang memberi kesan ceria meski sebenarnya dirinya mempunyai banyak luka yang menguras airmata.

Nia menatap langit yang perlahan menggoreskan warna merah muda dan ungu tipis di kejauhan. Warna-warna senja yang teduh membuat Nia merasa begitu tenang setelah beberapa hari yang lalu merasakan ketegangan dan tragedi yang cukup mengguncang dirinya.

Nia kembali menatap cincin bunga wedelia di jari manisnya. Sebuah senyum terkembang di wajahnya.

'Bunga wedelia. Aku rasa... ini cincin pertunangan terindah yang pernah ku liat. Makasih, Ang,'

***

1
Vivi Zenidar
Angkasa romantis👍
Purnamanisa: dingin2 romantis ya kak, bikin klepek2 🤭🤭
total 1 replies
Vivi Zenidar
mikirin dunia pasti nya
Vivi Zenidar
sediiih /Sob//Sob//Sob//Sob/
Purnamanisa: cup cup kak 😊
total 1 replies
Vivi Zenidar
merasa sepi di keramaian
Vivi Zenidar
sedih banget jadi Nia
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!