NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-33

Sementara itu...

Mobil mewah milik Arkan melaju kencang membelah jalanan kota. Di dalamnya, suasana terasa begitu dingin dan mencekam. Wajah Arkan datar tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan amarah yang tertahan. Pikirannya bekerja keras, mencoba merunut siapa saja yang mungkin punya dendam atau keinginan untuk menjatuhkan Delvin Group.

Tak lama kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan salah satu kantor cabang yang menjadi lokasi kejadian. Suasana di sana sudah tampak sangat berbeda. Beberapa mobil dinas terparkir rapi, dan beberapa petugas terlihat lalu lalang membawa kotak-kotak berisi berkas penting.

Arkan turun dengan langkah tegap dan penuh wibawa. Aura ketegasannya seketika membuat suasana yang tadinya ricuh menjadi hening seketika.

"Selamat siang, Tuan," sapa kepala cabang dengan wajah pucat dan keringat dingin, menyambut kedatangan bos besarnya dengan gemetar.

Arkan hanya mengangguk singkat tanpa banyak bicara, lalu langsung masuk dan menemui para petugas yang sedang melakukan pemeriksaan.

Dengan gaya kepemimpinannya yang luar biasa, Arkan bernegosiasi dan memberikan penjelasan dengan sangat tenang namun tegas. Ia menunjukkan bahwa semua laporan keuangan dan administrasi perusahaan tersusun rapi, legal, dan transparan. Tidak ada celah sedikitpun yang bisa disalahkan.

Setelah proses panjang dan melelahkan, akhirnya para petugas memutuskan untuk membawa sampel data untuk diperiksa lebih lanjut, namun tidak menemukan pelanggaran fatal di tempat.

Setelah situasi sedikit terkendali, Arkan memanggil seluruh tim ke ruangan tertutup. Wajahnya kini sangat serius.

"Aku ingin tahu... siapa yang melapor? Siapa yang punya nyali sebesar ini menuduh kita tanpa bukti jelas?" tanya Arkan dingin, matanya menatap tajam satu per satu anak buahnya.

"Maaf Tuan, kami sudah coba telusuri dari mana asal laporan itu. Tapi..." Arjun menghela napas panjang, "...sistemnya sangat rapi dan tertutup Tuan. Pelapor menggunakan identitas samaran, dan jejak digitalnya sudah dibersihkan dengan sangat ahli. Seolah-olah orang ini memang ahli dalam hal ini."

Arkan menghentakkan tangannya ke meja dengan keras.

Brak!

"Jadi maksud kalian... tidak ada petunjuk sama sekali?!" geramnya frustrasi.

"Maaf Tuan... musuh ini sangat pintar. Dia bermain dengan sangat bersih dan hati-hati. Seolah-olah dia tahu betul seluk-beluk perusahaan kita dan tahu kapan waktu yang tepat untuk menyerang," jawab Arjun jujur dengan nada putus asa.

Arkan terdiam, menatap jendela kaca besar di hadapannya. Dadanya terasa sesak.

Sangat pintar... tahu seluk beluk perusahaan... dan berani main kotor.

Siapa dia? Dimas? Atau ada orang lain?

"Telusuri terus! Jangan berhenti! Aku mau tahu siapa dalang di balik ini semua! Hancurkan reputasi mereka jika perlu!" perintah Arkan tegas.

"Siap Tuan!"

Meski masalah hari ini bisa diredam dan citra perusahaan mulai bisa diselamatkan, namun rasa penasaran dan waspada di hati Arkan justru makin membara. Musuhnya bersembunyi di balik bayang-bayang, bermain catur dengan sangat licik, dan saat ini... Arkan merasa sedang dikendalikan oleh permainan yang belum ia mengerti aturannya.

_____

Nara yang sejak tadi nampak cemas langsung berdiri dari duduknya saat pintu lif terbuka dan muncul sosok Arkan..

"Arkan!" panggilnya.

Pria itu tersenyum begitu tulus meski ada gurat lelah disana...

Nara yang sejak tadi duduk dengan perasaan gelisah dan penuh tanda tanya, langsung melompat berdiri dari kursinya saat melihat pintu lift terbuka. Matanya langsung menangkap sosok yang paling ia rindukan dan khawatirkan.

"Arkan!" panggilnya cepat, suaranya terdengar lega namun masih menyisakan nada cemas di dalamnya.

Pria itu melangkah keluar dari lift. Wajahnya tampak lelah, ada kantung gelap yang mulai terlihat di bawah matanya, dan aura tegang yang tadi membara perlahan mulai mereda. Namun begitu melihat Nara yang berlari kecil menghampirinya, seketika semua beban di pundaknya seakan hilang sejenak.

Arkan tersenyum... senyum yang begitu tulus dan hangat, senyum yang hanya ia berikan untuk Nara seorang. Meski jelas sekali terlihat guratan kelelahan dan kekesalan yang belum selesai, namun kehadiran wanita itu adalah obat paling ampuh baginya.

"Sayang..." panggil Arkan lembut, tangannya langsung terulur memeluk bahu Nara erat-erat, seakan mencari ketenangan di dalam pelukan kekasihnya itu.

"Kamu gimana sayang? Semuanya gimana? Bisa diatasi kan?" tanya Nara bertubi-tubi, tangannya dengan reflek memijat pelan lengan kekar Arkan, merasakan ketegangan otot yang menumpuk di sana.

Arkan menghela napas panjang, lalu mengusap kepala Nara lembut.

"Alhamdulillah... lumayan bisa dikendalikan sayang. Untung saja administrasi dan laporan kita rapi dan bersih, jadi mereka tidak menemukan kesalahan fatal apa pun. Cuma ya gitu deh... capek mentalnya harus jelasin sana sini," jawab Arkan jujur sambil mengusap wajahnya yang terlihat lelah.

"Tapi... siapa yang berani melakukan ini semua? Kenapa tiba-tiba banget sih?" tanya Nara lagi, matanya menatap lekat manik mata hitam itu.

Arkan terdiam sejenak, tatapannya berubah menjadi serius dan tajam.

"Masih jadi misteri sayang. Jejaknya dibersihkan sangat rapi dan profesional. Orang ini pintar, dia tahu betul kapan waktu yang tepat menyerang dan tahu di mana titik lemah yang harus disentil," jelas Arkan, suaranya terdengar berat. "Tapi tenang saja, aku tidak akan berhenti sampai tahu siapa dalangnya. Berani-beraninya dia ganggu ketenangan kita."

Nara mengangguk paham, lalu tersenyum tipis berusaha menghibur.

"Yaudah yang penting sekarang kamu aman dan perusahaan juga aman. Masuk sana dulu, istirahat sebentar. Aku buatin kopi hangat ya biar seger dikit," tawar Nara manis.

Arkan tersenyum lagi, kali ini senyum yang lebih lebar dan penuh rasa syukur.

"Makasih ya sayang... kamu memang penyelamatku. Kalau gak ada kamu di sini nemenin, mungkin aku udah meledak marah dari tadi," godanya sambil mencubit gemas pipi Nara.

"Iya iya, ayo masuk Bosku yang ganteng tapi lagi capek," seru Nara sambil menarik tangan pria itu menuju ruangan utama.

Di sudut lain yang tak terlihat, seseorang yang sejak tadi mengamati dari jauh hanya mendengus pelan.

Hhh... baru menang sedikit aja udah senang. Tunggu saja, ini baru pemanasan. Masih banyak permainan lain yang akan aku mainkan, batin Amira dingin, lalu kembali menyibukkan diri seolah tidak terjadi apa-apa.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!