Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zidan Protektif
Pagi itu, udara Ubud terasa begitu segar dengan aroma tanah basah dan hamparan sawah hijau yang membentang luas. Zidan dan Shakira sampai di sebuah tempat penyewaan motor kustom yang cukup terkenal di area tersebut. Di sana berjajar rapi motor-motor dengan desain scrambler, bobber, hingga cafe racer yang sangat mengkilap.
Zidan, dengan gaya maskulinnya yang khas—mengenakan kaos hitam polos yang ketat dan kacamata hitam—langsung menuju ke arah seorang pria muda berambut gondrong yang merupakan penjaga tempat tersebut. Shakira mengekor di belakang, mengenakan crop top rajut berwarna putih dan celana pendek denim, membuat kakinya yang jenjang terlihat sangat jelas.
Pria penjaga itu awalnya sedang membersihkan sebuah tangki motor, namun begitu melihat Shakira, gerakannya melambat. Matanya terpaku, menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala Shakira dengan binar yang tidak bisa disembunyikan.
"Misi, Bli. Saya mau ambil motor yang atas nama Zidan. Udah saya DP kemarin," ujar Zidan dengan suara bariton yang berat, sengaja mengambil posisi tepat di depan Shakira untuk menutupi pandangan pria itu.
Pria itu tersentak, lalu berdehem canggung. "Oh, iya, Mas Zidan. Bentar ya, saya cek datanya."
Namun, bukannya fokus pada layar komputer di meja kayu itu, matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah Shakira yang sedang asyik melihat-lihat helm kustom di rak. Saat Shakira mencoba salah satu helm dan tersenyum pada pantulan cermin, pria itu terang-terangan terpesona.
"Cantik banget ya, Mbaknya... cocok banget kalau naik motor kustom," celetuk pria itu tanpa sadar, suaranya terdengar sangat memuji.
Zidan langsung terdiam. Rahangnya mengeras. Ia melepaskan kacamata hitamnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap pria itu dengan pandangan tajam yang bisa membuat baut mesin seketika copot.
"Bli," panggil Zidan dengan nada yang sangat rendah namun menekan.
"Eh, iya Mas?" pria itu menoleh, langsung menciut saat melihat tatapan "mematuh" dari Zidan.
"Data motornya udah ada? Kalau udah, tolong disiapin. Jangan sibuk liatin yang bukan urusannya," Zidan memelototi pria itu dengan mata yang tidak berkedip sedikit pun. Hawa di sekitarnya mendadak berubah jadi sangat dingin.
Pria itu menelan ludah dengan susah payah. "I-iya Mas, maaf. Ini kuncinya. Motornya yang warna hijau army di depan itu ya."
Shakira yang menyadari suasana mulai tegang, segera menghampiri Zidan dan merangkul lengannya. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya sangat kaku dan keras.
"Mas... udah ih, kamu malu-maluin," bisik Shakira sambil mencoba menarik Zidan menjauh. "Ayo, itu motornya udah siap."
Zidan tidak bergeming. Ia masih menatap pria itu seolah-olah ingin menandai wilayah kekuasaannya. "Bli, satu lagi. Helm buat istri saya yang mana?"
"Yang... yang merah itu, Mas," tunjuk pria itu dengan tangan gemetar.
Zidan mengambil helm itu, lalu berbalik menatap Shakira. Ia memakaikan helm itu ke kepala Shakira dengan sangat telaten, namun matanya tetap melirik tajam ke arah penjaga tadi yang masih saja mencoba mencuri pandang.
Begitu sampai di samping motor hijau army yang gagah itu, Zidan naik dan menghidupkan mesinnya. Suara knalpot blar-blar yang menggelegar seolah mewakili kekesalan hatinya.
"Naik, Ra," perintah Zidan singkat.
Shakira naik ke boncengan dan melingkarkan tangannya erat di pinggang Zidan. Sebelum Zidan menarik gas, ia menoleh ke belakang sekali lagi, memberikan tatapan "peringatan terakhir" pada pria penjaga itu sampai pria tersebut menunduk pura-pura sibuk dengan kain lapnya.
Zidan melajukan motornya membelah jalanan Ubud yang berkelok. Ia menarik gas dengan cukup kencang, membiarkan angin menerpa wajah mereka. Sepanjang jalan, Zidan sama sekali tidak bicara, membuat Shakira merasa harus mulai merayu "singa" yang sedang merajuk ini.
Shakira mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di bahu Zidan. "Mas... masih marah ya?"
"Nggak," jawab Zidan singkat, suaranya tertelan angin namun terdengar ketus.
"Boong. Itu mukanya masih ditekuk gitu. Lagian kamu lebay banget sih, Mas. Dia kan cuma liatin doang, nggak nyolek juga," goda Shakira sambil terkekeh kecil.
"Liatinnya nggak sopan, Ra! Mata dia itu kayak mau nelan kamu hidup-hidup. Aku nggak suka barang milik aku dipelototin kayak gitu sama cowok nggak jelas," sahut Zidan akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.
"Ya ampun, Mas Zidan Karatan... itu artinya istri kamu ini emang cantik. Kamu harusnya bangga dong punya istri yang dilirik orang tapi tetep setianya cuma sama tukang bengkel galak kayak kamu," Shakira mencium bahu Zidan dari balik kaosnya.
Zidan sedikit melunakkan ekspresi wajahnya, namun ia tetap mendengus. "Bangga sih bangga. Tapi kalau caranya kayak tadi, rasanya pengen aku servis itu matanya pake kunci inggris."
"Hahaha! Kasihan dong matanya. Udah ah, jangan cemberut terus. Kita kan mau jalan-jalan romantis. Masa sepanjang jalan kamu mau diem-dieman sama aku?"
Zidan menghela napas panjang, ia mengambil tangan kanan Shakira yang melingkar di perutnya dan mencium punggung tangan itu sambil tetap fokus menyetir dengan satu tangan lainnya. "Ya habisnya aku kesel, Ra. Kamu pake baju gitu lagi... bikin orang salah fokus."
"Tadi pagi yang milihin baju ini siapa? Kamu sendiri kan? Katanya biar kelihatan seger buat difoto?" tagih Shakira.
Zidan terdiam sejenak, lalu terkekeh rendah. "Iya sih. Tapi kan aku nggak tau kalau bakal ada cowok yang matanya nggak bisa dijaga kayak tadi."
"Udah ya? Maafin Bli-nya. Anggap aja dia fans aku yang ngenes," canda Shakira.
Zidan akhirnya tersenyum miring. Ia membelokkan motor ke sebuah jalan kecil yang kanan kirinya adalah terasering sawah Tegalalang yang sangat ikonik. Ia menghentikan motor di pinggir jalan yang sepi, lalu mematikan mesinnya.
Zidan membuka kaca helm Shakira, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya yang masih mengenakan sarung tangan kulit. "Ra, denger ya. Di Bali ini banyak cowok keren, banyak cowok kaya. Tapi aku nggak mau satu orang pun ngerasa punya kesempatan buat deketin kamu, bahkan lewat tatapan sekalipun. Paham?"
Shakira tersenyum manis, ia mengalungkan tangannya di leher Zidan meskipun mereka masih di atas motor. "Paham, Mas Posesif. Di mata aku juga cuma ada kamu kok. Cowok paling ganteng yang tangannya selalu bau oli tapi hatinya bau surga."
"Bau surga gimana?" Zidan tertawa.
"Soalnya bikin aku bahagia terus," jawab Shakira sambil mengecup singkat bibir Zidan.
Zidan menarik Shakira lebih dekat, menciumnya lebih dalam sebagai penanda perdamaian di antara hamparan sawah hijau yang tenang. Rasa kesalnya menguap seketika, digantikan oleh rasa hangat yang selalu menyelimuti hatinya setiap kali bersama Shakira.
"Oke, dimaafin. Sekarang, kita cari tempat makan bebek bengil yang paling enak. Terus... aku mau foto kamu lagi, tapi kali ini nggak boleh ada yang liat selain aku," bisik Zidan nakal.
"Siap, Mas! Ayo jalan lagi!" seru Shakira semangat.
Motor kustom hijau itu kembali menderu, membawa sepasang suami istri yang baru saja melewati "drama kecil" kecemburuan menuju petualangan selanjutnya di Ubud. Bagi Zidan, tidak peduli seberapa banyak mata yang melirik, selama Shakira tetap memeluknya erat di boncengan, dunianya sudah aman terkendali.