Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kartini menatap Arga yang tengah berlari hingga menghilang di balik kerumunan.
"Astagfirullah..." bibir kecil karena kedorong pipi tembem itu hanya bisa Istigfar mengingat apa yang terjadi baru saja. Ia membanting bokongnya dengan kasar. Menyenderkan badan di pohong kelapa yang masih terasa hangat karena sebelumnya digunakan oleh Arga. Beberapa menit di tempat itu tidak menemukan ketenangan hati, Kartini pindah tempat.
Angin laut berhembus pelan, membelai rambut panjangnya yang terurai. Kartini duduk di atas gundukan pasir yang mulai dingin. Matanya menatap lurus, di mana matahari perlahan mulai bergeser, hari berganti sore.
Kartini tidak mengerti dengan jalan hidupnya, berubah drastis setelah kepergian bapak dan ibunya tepat di hari kelulusan. Kedua orang tuanya meninggal di tempat, saat mobil mewah menabrak beliu ketika pulang kerja di salah satu pabrik. Bapak bekerja di sana sebagai pengawas, sementara ibu bagian dapur. Kartini menjadi orang yang paling beruntung dibandingkan dengan teman-teman sekolah dari segi ekonomi. Namun, semenjak saat itu Kartini harus memikul beban berat. Mengubur cita-citanya menjadi tenaga medis, demi kedua adiknya. Ia harus ambil alih tanggung jawab bapak dan ibunya menjadi orang tua tunggal demi kelanjutan pendidikan adik-adik.
Ketika itu Kartini rela bekerja menjadi cleaning servis di puskesmas yang tidak jauh dari tempat tinggal, tapi penghasilan hanya cukup untuk biaya uang sekolah kedua adiknya, sedangkan untuk makan sehari-hari masih kekurangan.
Dari tempat itulah, satpam puskesmas memberi tahu jika di Jakarta ada keluarga yang membutuhkan perawat kakek jompo dengan gaji lumayan. Kartini yang memang sedang kepepet terpaksa meninggalkan kedua adiknya yang baru kelas satu SMP dan SMA.
"Sekarang sudah tidak ada Bapak sama Ibu, sudah saatnya kita mandiri," nasehat Kartini ketika itu, kepada Kartono dan Kartika.
Begitulah, awal Kartini bekerja di rumah kakek. Bukan hanya gaji besar, tapi keluarga besar Chandresh semua baik terhadapannya. Kendati sering mendengar keributan dua remaja cucu kakek, yakni Arga dan Kenzo entah apa masalahnya, tapi toh mereka datang hanya sesekali saja. Namun siapa sangka, Kartini harus dipaksa menikah dengan Arga, pria yang selama ini acuh kepadanya, terlebih dia adalah kekasih orang.
“Kenapa jadi seperti ini sih?” bisiknya pelan, suaranya tertelan deburan ombak.
Kartini sebenarnya menyadari bahwa hatinya terlalu bodoh untuk tetap bertahan meski pernikahan ini sangat melukai. Namun, bukankah ia sudah menandatangani surat nikah kontrak? Isi kontrak yang menekankan. Pihak istri tidak boleh merecoki hubungan pihak suami terhadap wanita manapun, begitu juga sebaliknya. Kartini kini merasa seperti penonton film hidupnya sendiri, yang terjebak di tengah-tengah percintaan mereka, selalu menjadi alasan keributan, dan dianggap orang ketiga.
Kartini kadang ingin pergi menjauh agar Arga dan Nadine bisa bahagia seperti yang mereka harapkan. Tapi tidak semudah itu. Ada pria tua baik hati yang membuatnya terpaksa bertahan.
Deerttt...Deerttt... Deerttt...
Kartini kaget melihat nama Maryono Teguh menghubunginya. Begitu ia geser pria hitam manis itu muncul di layar.
Vidio call?
Kartini panik sendiri karena saat ini pikiranya sedang kacau. Namun, secepatnya merubah ekpresi di depan kekasihnya bahwa hatinya sedang baik-baik saja.
"Hallo," ucap Maryono Teguh, senyum manis itu mampu menghilangkan rasa tegang di wajah Kartini. "Kartini, kamu kenapa?" Tanya Teguh.
Kartini kaget, karena Teguh tetap saja masih bisa menangkap bahwa wajahnya sedang sedih. "Aku baik-baik saja Mas."
"Jangan bohong Tini, mata kamu habis menangis gitu loh."
"Ti-tidak, Mas, aku habis berenang jadinya mataku merah," Kartini spontan memegang matanya, ia sampai lupa jika baru saja menangis.
"Kok tumben Mas, telepon sore-sore begini?" Tanya Kartini mengalihkan, biasanya Teguh telepon ketika malam hari ketika sudah santai.
"Mana sore? Aku baru saja selesai shalat dzuhur," Teguh memang mengenakan peci dan baju koko, tapi Kartini pikir shalat ashar. Kartini lupa jika saat ini sedang di Maladewa.
"Kamu baru selesai berenang, memang sedang di mana? Di belakangmu orang juga ramai sekali."
"A-aku... sedang jalan-jalan, Mas."
"Ke mana?"
Kartini menceritakan jika saat ini ikut jalan-jalan majikannya ke Maladewa. Beruntung, Teguh tidak banyak tanya soal itu, padahal Kartini sejak tadi was-was.
"Oh, hati-hati Tini. Oh iya, aku telepon kamu siang ini karena ada kabar gembira."
"Apa itu, Mas?" Kartini sudah tidak sabar.
"Aku lulus tes pegawai negeri sipil di Kecamatan Tini."
"Alhamdulillah..." ucap Kartini memotong.
"Untuk itulah sebaiknya kita menikah saja, aku sudah punya tabungan untuk kita menikah tapi sederhana saja ya."
Deg.
Mulut Kartini terkunci rapat, mana mungkin ia menerima permintaan Teguh sekarang? Padahal di kantor agama Jakarta ia tercatat istri sah Arga Dhirendra Chandresh.
"Tini... kamu mendengar aku?"
"Emmm... maaf Mas, aku belum bisa menikah sekarang, setidaknya menunggu Tono lulus SMA dulu ya," jawaban Kartini masuk akal. Jika empat bulan lagi ia resmi bercerai dengan Arga pun ia tidak akan terburu-buru menikah. Menikah dengan Teguh berarti Kartini harus siap pulang ke daerah, terlebih saat ini Teguh sudah mempunyai pekerjaan tetap di sana. Kartini tidak mau membebani Teguh, karena dia juga punya kedua orang tuanya yang harus Teguh bantu.
"Kan aku sudah bekerja Tini, adik kamu kan adik aku juga. Masalah biaya sekolah Tono dan Tika jangan kamu pikirkan."
Itulah nama keluarga Kartini yang biasa orang panggil Tini, Tono dan Tika. Nama peninggalan kedua orangtua.
"Terima kasih Mas, aku percaya sama kamu, tapi beri aku waktu aku," Kartini menjelaskan bahwa Kartono tidak sampai setahun lagi sudah lulus.
"Ya sudah... tapi jaga hati kamu untuk aku ya, Tin. Aku mencintaimu."
Akhir kata Teguh bersamaan dengan Kartini yang menutup handphone. Tidak terasa, 15 menit sudah Kartini ngobrol. Kartini beranjak dari duduknya hendak shalat ashar. Tetapi sebelumnya menulis pesan untuk Arga.
"Aku shalat ashar di masjid dekat pantai, Bos," Kartini mengirim pesan. Karena Arga minta untuk menunggu, ketika tiba nanti supaya tidak harus bingung-bingung mencarinya.
Selama 10 menit di masjid, Kartini hendak kembali ke tempat semula. Dalam perjalanan mengecek pesan yang ia kirim tapi tidak Arga buka. Tidak masalah bagi Kartini, ia selalu berpikir positif bahwa Arga saat ini sedang meyakinkan hati Nadine agar tidak ngambek lagi.
Duduk, berdiri, lalu berjalan selama menunggu Arga dan memandangi indahnya matahari sore yang hampir kembali ke perpaduan. Tetapi Arga belum juga tiba.
"Sebaiknya aku kembali ke resort sendiri saja, siapa takut," Kartini meyakinkan dirinya sendiri. Ia diberi akal dan pikiran, kenapa harus takut? Mulai saat ini Kartini tidak akan terlalu berharap kepada Arga.
Prahu kecil telah membawanya kembali ke resort, tepat magrib sudah tiba. Sebelum kembali ke dalam, ia menyempatkan diri membeli makanan di restoran dekat resort terlebih dahulu. Segera melakukan aktivitas mandi, shalat dan lain sebagiannya.
Menganggap bahwa Arga tidak akan kembali, ia makan sendiri seolah balas dendam. Begitulah Kartini, jika kesal bukan lantas tidak nafsu makan, tapi sebaliknya. Dengan makan banyak mampu membuatnya sedikit melupakan kesedihan.
Malam harinya ia keluar lalu duduk di pinggir kolam renang hanya seorang diri. Pandangannya menatap kilauan air yang berwarna biru di sorot beberapa lampu sekeliling.
Deerttt... deerttt... deerttt...
Handphone kembali bergetar Kartini seketika memeriksa.
"Kakek?"
"Hallo!"
...~Bersambung~...
udh tau kakeknya sakit..
dia negituu lgi