Bianca berjalan seorang diri menyusuri taman yang mulai sepi pengunjung. Taman yang biasanya ramai lalu lalang orang-orang berolahraga lari ataupun jalan santai. Suasana dingin mulai menusuk kedalam jiwanya, Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang terdapat beberapa bintang. Sesekali ia mengasihani dirinya sendiri, "Pekerjaan bagus,pendidikan bagus semua berjalan sesuai keinginan,tapi entah kenapa rasanya semua hampa.." gumamnya. "Bugh bugh bugh.." Terdengar suara pukulan tak jauh dari tempatnya berdiri,ia segera berlari sembunyi di salah satu pohon besar. "Aku ga salah denger kan,kaya ada yang sedang dihajar.." bathinnya dengan perasaan was-was. Hampir 10 menit ia duduk bersandar dibawah pohon tersebut,merasa aman dengan keadaan ia berjalan keluar sedikit berlari. "Tolonggg aakuuu.." Ucap seseorang dibalik semak-semak tak jauh dari tempat ia bersembunyi. "Astaagaaa.." "Kenapa ini..apa yang terjadii.." ucap bianca meraih tangan seseorang pemuda yang berjalan gontai menghampirinya. Pria tersebut langsung jatuh kepelukan bianca, Darah yang menetes dari sudut bibirnya menetes mengenai sisi bahu bianca.
Episode 14
Ciittt
Suara dari decitan ban mobil dan lantai parkiran apartemen terdengar beberapa bersaut-sautan.
Hujan deras yang mengguyur jakarta membuat beberapa orang buru-buru untuk sampai keapartemen masing-masing.
Termasuk bianca.
Ia menempelkan kartu akses milik jonathan.
Bianca melirik kekiri kekanan setiap sudut ruangan yang masih terlihat gelap.
Dan menyalakan lampu dengan tepukan tangannya.
Clap clap
Dua tepukan tangan mampu membuat semua ruangan langsung terlihat terang menderang.
Ia melangkahkan kakinya menuju dapur dan memasukkan semua bahan makanan,
Lalu setelah itu ia memasuki kamar milik jonathan.
"Hmm kamar yang rapi.."
"Hahh apa ini..semuanya putih.." ucapnya terheran setelah membuka lemari pakaian milik jonathan.
Bianca meletakkan semua barang miliknya yang baru ia beli dan beberapa yang ia bawa dari apartemennya.
Dua koper kecil miliknya telah kosong,ia telah selesai memindahkan barang pribadi miliknya.
"Bianca.." suara jonathan yang membuat bianca melompat dari kasur milik jonathan.
Ia segera berlari menghampiri sumber suara tersebut.
"Baru pulang??.."
"Iyaa tadi aku mengejar kerja..."
"Kayanya emang setiap lelaki pasti beralasan pekerjaan.." kali ini bianca terdengar lebih sinis memotong ucapan jonathan.
"Mmm..maaf.."
"Ga perlu minta maaf,karna kamu tadi ga ada jadi aku lebih leluasa memindahkan barang-barang pribadiku disini.."
"Yaudah yaa aku ketempatku dulu.." ucap bianca meninggalkan jonathan yang masih mematung di sebelah sofa.
"Haha..bener kara reno.." bathin jonathan sembari meletakkan tas kerjanya di sofa.
Jonathan berlalu kedapur mengambil air minum,sebelumnya ia juga mengecek isi kulkas yang kini terisi penuh bahan makanan,bumbu-bumbu tertara rapi di tempat barunya.
Dan juga beberapa alat masak yang baru saja di cuci karna baru.
"Ternyata dia udah siap menjadi istri.."
"Buktinya..tanpa melihat terlebih dahulu dia sudah tau betul apa yang tidak ada disini.." gumamnya.
Jonathan kini menuju kamarnya,ia menyadari setiap sudut yang berbeda,
Koper yang bertambah, peralatan mandi yang bertambah,dan tentu saja meja rias yang kini penuh terisi barang milik bianca.
"Astaga..jadi dia beli ini.." ucap jonathan meraih paperbag bertuliskan victoria's secret.
Ia menyimpannya kedalam lemari baju yang kini di hak milik oleh bianca.
Jonathan duduk di sudut kasur ia kembali membayangkan bagaimana jika pernikahannya sangat harmonis.
"Masih bangun.."
"Kita perlu ngobrol ga ya.."
Mengingat besok nyonya fara akan datang,ia mencoba membuka komunikasi dengan bianca.
Ting "kesini aja.."
Membaca pesan yang masuk,jonathan segera berjalan menuju lift dan menekan pintu apartemen bianca.
"Belum ngantuk??..." ucap jo melewati bianca yang kini masih mematung memegang pintu apartemennya.
"Setelah aku amati ga jauh berbeda kok isinya.."
"Udah..mau bahas apa kesini.."
"Bianca Jangan ketus terus dong.." pinta jonathan.
"Mama kamu besok dateng,setidaknya kita bisa sedikit halus cara bicaranya.."
"Mm yaudah iyaa.."
"Aku lagi mau makan..mau sekalian?.."
"Boleh.."
"Masak apa.." ucapnya mengikuti bianca yang kini berjalan ke dapur.
"Belum mateng si..aku lagi bikin nasi goreng aja.."
"Mau minum apa ambil sendiri.."
"Dan tadi aku udah belanja semua yang di perluin buat di apartemen kamu.."
Jonathan berjalan menghampiri bianca yang masih memegang spatula,
Ia memeluk bianca dari belakang.
"Aku harus tau si beli apa aja.." godanya.
"Jo lepasin..ini panas.." ucap bianca sedikit berontak.
Bukannya melepaskan bianca,jonathan justru mencium tengkuk bianca dengan lembut.
"Apapun yang kamu beli kamu mau,akan aku turuti.." lalu melepaskan bianca dan kembali duduk.
"Mm dinasnya kan mulai hari senin,jadi aku ngecancel tiket pesawatnya,
Aku akan berangkat di hari minggu.."
"Ga enak kalau mama kamu dateng tapi akunya pergi..
"Gapapa kok,mungkin itu malah bisa membuatku nyaman..ga perlu berpura-pura.." kini suaranya sedikit datar.
"Aku juga maunya ga pura-pura di depan mama kok.." ucap jonathan sembari menikmati makanannya.