NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harta yang Harus Disembunyikan

Kesibukan di kantor pusat Sinclair Group mencapai puncaknya pagi ini. Keberhasilan pembukaan Maverick Automotive di mall utama kemarin membuat lalu lintas dokumen di meja mereka melonjak drastis. Suara denting keyboard dan gesekan kertas menjadi latar musik yang monoton.

Alessia memijat pelipisnya yang berdenyut. Angka-angka di layar monitornya seolah menari-nari mengejek rasa lelahnya. Ia menyandarkan punggung, lalu melirik ke arah meja besar di seberang ruangan. Di sana, Nathaniel tampak sangat berwibawa. Kacamata bertengger di hidungnya, dan jemari panjangnya bergerak taktis di atas berkas. Pria tampan jangkung itu selalu tampak sempurna, bahkan saat sedang dikepung pekerjaan.

Muncul keinginan dalam hati Alessia untuk sejenak melupakan status "rekan kerja" dan menjadi sepasang kekasih normal.

"Kak... nanti malam gak mau date?" tanya Alessia, suaranya memecah keheningan ruangan.

Nathaniel tidak langsung mendongak. Matanya masih terpaku pada laporan laba rugi kuartal pertama. "Mau date di mana?" tanyanya balik, suaranya berat dan tenang, namun tetap fokus pada pekerjaannya.

"Di restoran atau menonton," jawab Alessia penuh harap. Ia membayangkan makan malam romantis di bawah temaram lilin atau duduk bersisian di dalam bioskop yang gelap sambil berbagi popcorn.

Nathaniel terdiam sejenak, pulpennya berhenti bergerak. Ia melepaskan kacamatanya dan menatap Alessia dengan sorot mata penuh pertimbangan.

"Hm... bagaimana kalau di apartemenku saja? Aku tidak enak kalau ada staf atau kenalan Ayah yang melihat kita di luar. Risikonya terlalu besar untuk rahasia kita saat ini," ajak Nathaniel, memberikan solusi yang menurut logikanya adalah yang paling aman.

Mendengar jawaban itu, binar di mata Alessia meredup seketika. Ada rasa perih yang menyelinap di dadanya, tipis namun nyata. Ia merasa seolah-olah hubungan ini adalah sesuatu yang memalukan hingga harus terus disembunyikan di balik dinding beton apartemen.

Alessia merasa Nathaniel tidak se-excited dirinya. Baginya, date adalah tentang merayakan perasaan mereka, sementara bagi Nathaniel, sepertinya itu hanyalah masalah manajemen risiko.

"Oh... di apartemen ya? Baiklah kalau begitu," sahut Alessia pelan. Ia kembali menunduk menatap angka-angka di mejanya, namun kali ini penglihatannya sedikit mengabur.

Nathaniel menyadari perubahan nada bicara Alessia. Ia menghela napas panjang, ingin sekali menghampiri dan memeluk gadis itu, namun dering telepon internal di mejanya kembali memaksanya untuk kembali ke mode profesional. Ia tidak sadar bahwa keputusannya yang logis baru saja menggores hati wanita yang paling ia cintai.

———

Nathaniel melangkah cepat menyusuri koridor lantai eksekutif. Jasnya sudah tersampir di lengan, dan ia berniat mengajak Alessia berangkat bersama ke apartemennya. Namun, saat pintu ruangan mereka terbuka, kursi Alessia kosong. Hanya ada tumpukan berkas yang sudah tertata rapi, tanda bahwa gadis itu sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat disiplin.

Nathaniel mengernyit. Ia sempat khawatir jika Alessia pulang lebih dulu karena merajuk soal ajakan date di apartemen tadi. Ia pun memutuskan untuk mencari ke area pantry dan ruang staf di lantai bawah.

Saat sampai di sana, langkah Nathaniel terhenti. Dari balik pintu kaca yang sedikit terbuka, ia melihat Alessia. Bukannya sedang bersedih atau marah, gadis itu justru sedang duduk di tengah kepungan para staf administrasi dan beberapa petugas kebersihan yang sedang beristirahat.

Terdengar gelak tawa renyah dari sana. Alessia tampak asyik membagikan sekotak besar camilan yang sepertinya ia beli saat istirahat tadi.

"Wah, Nona Alessia benar-benar tahu ya tempat makan yang enak di sekitar sini," ujar salah satu staf senior dengan wajah berseri-seri.

"Panggil Al saja. Kan sudah dibilang berkali-kali," sahut Alessia sambil tertawa, tangannya sibuk mengupas jeruk dan memberikannya kepada seorang petugas kebersihan yang tampak sungkan. "Ayah selalu bilang, makanan itu paling enak kalau dimakan bareng-bareng."

Nathaniel bersandar di dinding koridor, memperhatikannya dari kejauhan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum bangga yang sulit ia sembunyikan. Baginya, nama besar Sinclair sering kali menjadi beban yang membuat orang menjaga jarak, namun di tangan Alessia, nama itu menjadi jembatan.

Alessia benar-benar berbeda dari anak-anak kolega bisnis yang mereka temui kemarin. Ia tidak angkuh, tidak memandang rendah, dan sangat memanusiakan manusia. Sifat humble itu adalah salah satu alasan mengapa Nathaniel jatuh hati sedalam ini, karena Alessia memiliki hati yang jauh lebih luas daripada sekadar angka-angka di laporan keuangan mereka.

Rasa bersalah kembali menyentil hati Nathaniel. Gadis sehangat itu, yang begitu mencintai interaksi sosial, justru harus ia sembunyikan di apartemen karena ketakutannya sendiri.

"Ehem," Nathaniel berdeham pelan sambil melangkah masuk ke ruangan.

Seketika para staf berdiri dan membungkuk hormat dengan wajah tegang. "Selamat sore, Pak Direktur."

Alessia menoleh, matanya beradu dengan mata Nathaniel. Ada kilat jahil di sana, namun juga sedikit sisa kekecewaan yang ia coba tutupi dengan senyum formal.

"Sudah selesai urusannya, Pak?" tanya Alessia, sengaja menggunakan panggilan resmi di depan staf lain.

"Sudah. Ayo pulang, pekerjaan kita masih ada yang harus dilanjutkan... di tempat lain," ujar Nathaniel dengan nada bicara yang penuh makna tersembunyi.

———

Suasana di dalam mobil terasa jauh lebih dingin dibandingkan suhu pendingin ruangan yang berembus pelan. Nathaniel melirik Alessia dari sudut matanya; gadis itu tampak sangat sibuk dengan ponselnya. Jari-jarinya bergerak lincah, berpindah dari aplikasi belanja barang-barang branded ke ruang obrolan dengan pihak panti asuhan yang biasa ia bantu.

Kesunyian ini menyiksa Nathaniel. Ia lebih suka Alessia yang cerewet dan manja daripada Alessia yang "patuh" namun menjaga jarak seperti ini.

"Kita drive-thru makanan ya untuk date di apartemen nanti? Kamu mau makan apa?" tanya Nathaniel, berusaha mencairkan suasana.

"Terserah Kakak saja," jawab Alessia singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Jawaban "terserah" itu adalah sinyal bahaya yang sangat dipahami Nathaniel.

Saat mobil mereka berhenti di antrean panjang sebuah gerai makanan cepat saji, Nathaniel menarik rem tangan. Ia melepas seat beltnya, membuat bunyi klik yang cukup keras di keheningan kabin.

"Al..." panggil Nathaniel lembut.

Alessia akhirnya menurunkan ponselnya, namun ia masih enggan menatap mata Nathaniel.

"Kamu marah ya? Maaf ya... aku benar-benar minta maaf," ucap Nathaniel, suaranya rendah dan sarat akan penyesalan. Ia meraih tangan Alessia yang terasa dingin, menggenggamnya erat. "Aku hanya ingin kamu aman. Aku tidak mau ada satu pun mata yang memandangmu dengan cara yang salah atau gosip yang bisa menyakitimu jika kita ketahuan sekarang."

Nathaniel menghela napas panjang, menatap wajah Alessia yang masih terlihat mendung. "Mungkin sekarang kita memang tidak bisa berkencan dengan terang-terangan di restoran mewah atau bioskop seperti pasangan lain. Tapi pelan-pelan kita cari jalannya ya? Aku janji akan memberikan waktu yang berkualitas untukmu malam ini."

Ia menyempatkan diri untuk menyampirkan anak rambut Alessia ke belakang telinga, sebuah gestur kecil yang selalu berhasil meluluhkan pertahanan gadis itu. "Jangan diam begini, aku lebih pusing melihatmu diam daripada melihat laporan audit kantor."

Alessia akhirnya menoleh, menatap mata Nathaniel yang tampak sangat tulus sekaligus cemas. Rasa perih di hatinya sedikit berkurang melihat pria yang biasanya sangat kaku dan otoriter di kantor ini sekarang justru memohon pengertiannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!