NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:79.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Tenang Sebelum Serangan Balik

Para direksi kembali saling pandang.

“Benar. Sudah berulang kali saya baca, tapi tak menemukan celah.”

“Sepertinya posisi kita lemah.”

“Apa masih ada jalan keluar?”

Atyasa kembali bersandar di kursinya, menatap lurus ke arah Zelia.

“Sebagai CEO, kau harus mencari cara agar kita keluar dari masalah ini. Jika tidak… kau akan membuat ribuan karyawan kehilangan pekerjaan.”

Kalimat itu seperti tekanan yang sengaja dilemparkan ke tengah ruangan.

Zelia akhirnya tersenyum. “Kalian yakin tak ada celah?”

Semua yang hadir saling melirik, ragu.

“Bagaimana kalau saya menemukan celah itu?” lanjutnya tenang.

Atyasa tersenyum meremehkan. “Benarkah? Katakan. Celah itu.”

Zelia menatap ayahnya beberapa detik… lalu tersenyum tipis. “Kita lihat saja di pengadilan,” katanya ringan. “Saya akan membuat celah itu… dan menggunakannya untuk menyerang balik.”

Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.

“Benarkah CEO melihat celah di kontrak itu?”

“Dia begitu percaya diri…”

“Harusnya memang sudah ada sesuatu.”

Atyasa menyipitkan mata, menatap Zelia yang tampak begitu yakin, lalu beralih ke Are yang tetap berdiri tegak dan tenang seolah tak ada ketegangan sedikit pun.

"Apa mereka benar-benar sudah menemukan celah itu?" batinnya.

Entah mengapa, insting waspadanya tiba-tiba meningkat.

Sebelum semua mulai beranjak, sekretaris Zelia masuk tergesa membawa tablet.

“Bu… saham kita mulai bergerak turun sejak berita gugatan bocor.”

Ruangan langsung menegang. Beberapa direksi refleks saling pandang, wajah mereka berubah tegang.

Zelia menerima tablet itu, melihat grafiknya sekilas… lalu mengembalikannya dengan tenang seolah itu hanya laporan biasa.

“Biarkan.”

Ia berdiri, merapikan blazernya dengan gerakan rapi dan terkontrol.

“Pasar selalu bereaksi pada ketakutan. Tugas kita memastikan ketakutan itu salah.”

Suasana hening. Tidak ada yang langsung bergerak.

Tatapan para direksi kini bukan lagi penuh kekhawatiran… tapi rasa ingin tahu. Seolah mereka sedang mencoba membaca sesuatu yang tidak mereka lihat.

Atyasa menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi, matanya menyipit tipis. Bukan marah… tapi mengamati.

Kepercayaan diri Zelia yang terlalu tenang justru membuat insting waspadanya semakin kuat.

"Kenapa dia terlihat seperti orang yang memegang kartu terakhir?" pikirnya.

Beberapa direksi mulai berbisik pelan.

“Dia tidak terlihat panik sama sekali…”

“Seperti sudah tahu langkah berikutnya…”

Di sisi lain, Are berdiri diam dengan ekspresi datar seperti biasa. Namun ada kepuasan samar di matanya yang hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar memerhatikan.

Ia melihat Zelia bukan sebagai CEO yang sedang berpura-pura tenang… tapi sebagai pemimpin yang benar-benar mengendalikan situasi.

Dan sejak rapat dimulai, akhirnya sudut bibirnya terangkat nyaris tak terlihat.

Zelia melangkah keluar ruang rapat diikuti Are tanpa menoleh lagi.

Langkah mereka mantap. Tidak terburu-buru. Tidak ragu.

Namun jauh di dalam pikiran Zelia, ia tahu satu hal pasti, "Ini bukan sekadar gugatan. Ini perang. Dan perang tidak pernah berakhir tanpa korban."

***

Usai rapat, Zelia kembali ke ruangannya. Sunyi langsung menyergap begitu Are menutup pintu.

Zelia berdiri beberapa detik di tengah ruangan, lalu menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Bahunya yang terasa berat sejak pagi… kini terasa ringan.

Ia berjalan pelan ke arah meja, lalu bersandar di tepi meja dengan senyum kecil yang sulit disembunyikan.

“Aku berhasil,” gumamnya pelan.

Bukan hanya berhasil bertahan, tapi memimpin. Tanpa panik. Tanpa goyah.

Perasaan puas itu hangat… dan menenangkan. Namun ketika ia mengangkat pandangan dan melihat Are berdiri tak jauh darinya, ekspresi serius itu langsung mencair. Senyumnya melebar.

“Ini semua karena kamu,” katanya tiba-tiba.

Are mengangkat alis sedikit. “Karena aku?”

“Iya!” Zelia melangkah mendekat dengan mata berbinar. “Kalau kamu gak nemuin celah itu, aku pasti sudah dihancurkan di ruang rapat tadi.”

Dan sebelum Are sempat merespons—

"Are! Aku makin suka padamu!"

Zelia melompat. Tangannya melingkar di leher Are. Tubuhnya nyaris menabrak dengan antusiasme yang sama sekali tak ditahan.

Are refleks menangkap tubuh Zelia, tangannya langsung memeluk pinggang wanita itu agar tidak jatuh.

Jantungnya sempat tersentak. Dekat. Terlalu dekat. Aroma lembut itu lagi.

Dalam hati, ia menghela napas panjang. "Awalnya cuma berani pegang lengan… Lalu peluk pinggang… Sekarang leher…" Rahangnya sedikit mengeras. "Besok-besok…"

Pikirannya berhenti sendiri sebelum sempat menyelesaikan kalimat itu. Ia bahkan tak berani melanjutkan.

Zelia sama sekali tak menyadari badai kecil yang sedang ia ciptakan. Ia justru tersenyum puas dengan dagu hampir menyentuh bahu Are.

“Kamu hebat,” katanya ringan.

Are menatap ke samping sebentar, mencoba menjaga ekspresi tetap datar meski napasnya sedikit berubah.

“Kamu bisa turun sekarang?” katanya akhirnya, suaranya rendah.

Zelia terkikik pelan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan berdiri kembali. Namun senyum cerianya masih tersisa.

“Aku benar-benar lega hari ini,” katanya.

Are hanya mengangguk kecil, tapi tatapannya lembut… nyaris tak terlihat.

***

Di ruangan lain, suasana jauh berbeda.

Atyasa berdiri di dekat jendela dengan ponsel di telinga, wajahnya serius. “Mereka tidak panik,” katanya datar. “Zelia terlihat sangat yakin.”

Di seberang, Fero berdecak pelan. “Mustahil mereka menemukan celah dalam kontrak itu. Kita yang menyusunnya. Tim hukum terbaik yang merancangnya.” Nada suaranya penuh keyakinan.

Atyasa menyipitkan mata sedikit. “Tetap hati-hati. Cara dia bicara tadi… bukan gertakan kosong.” Ia berhenti sejenak. “Dan pria itu.”

Fero langsung tahu siapa yang dimaksud.

“Dia lagi,” gumamnya kesal. “Apa Om menemukan informasi lain tentang dia?”

“Belum,” jawab Atyasa pelan. “Aku juga tidak menemukan apa pun.”

Fero berjalan mondar-mandir, ekspresinya mulai tidak sabar. “Aku bahkan tidak bisa menemukan riwayat apa pun sebelum dia pindah ke kota ini,” katanya. “Seolah dia muncul begitu saja.”

Keheningan sejenak mengisi percakapan.

Atyasa menatap keluar jendela, rahangnya sedikit menegang. “Orang seperti itu… biasanya bukan orang biasa.”

Fero berhenti melangkah. Rasa tidak nyaman kecil muncul di dadanya.

***

Lorong pengadilan terasa tegang, penuh bisik dan sorot mata penasaran.

Zelia berjalan di depan dengan langkah mantap, wajahnya datar tanpa emosi. Blazer gelapnya rapi sempurna, auranya dingin dan terkendali.

Tim legal perusahaan mengikutinya dengan wajah serius.

Dan satu langkah di belakangnya… Are. Pria itu berjalan satu langkah di belakangnya, seperti biasa. Diam, tapi kehadirannya terasa seperti dinding tak terlihat.

Beberapa orang yang duduk di kursi tunggu menoleh tanpa sadar.

“Itu CEO baru…”

“Kasusnya besar…”

“Pria di belakangnya siapa…?”

"Auranya mencolok."

Zelia tidak menoleh sedikit pun.

Beberapa meter di belakang Zelia, Are dan tim legal…

Atyasa.

Ia berjalan terpisah. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Wajahnya tenang, bahkan tampak seperti figur senior yang hadir memberi dukungan moral. Namun matanya bergerak pelan, tajam mengamati situasi.

Secara posisi, ia adalah bagian dari perusahaan yang sedang digugat. Maka ia duduk di kubu Zelia.

Secara kenyataan?

Hanya dia yang tahu, di mana ia berdiri.

Tatapannya menyapu lorong, bukan pada Zelia. Tapi mencari seseorang.

 

...✨“Pasar bereaksi pada ketakutan. Pemimpin memastikan ketakutan itu salah.”...

...“Perang tidak dimenangkan oleh yang paling keras… tapi oleh yang paling siap.”...

...“Ketenangan adalah senjata paling menakutkan.”...

...“Saat semua orang panik, seseorang yang tetap tenang terlihat seperti memegang takdir.”...

...“Mereka mengira aku terpojok. Padahal aku hanya menunggu.”...

...“Beberapa perang dimenangkan bukan dengan menyerang… tapi dengan menunggu waktu yang tepat.”...

...“Kepercayaan diri yang terlalu tenang selalu membuat orang lain gelisah.”✨...

.

To be continued

1
abimasta
lanjut thor
Tiffany_Afnan
Yaa benar.. tunjukkan kalau dia memang yang kamu cari bertahun² dgn sejuta cinta yg kamu punya.. hempaskan duri² penganggu ! /Proud/
Oma Gavin
semoga kali ini are tidak mencla mencle konsisten memperkenalkan zelia sebagai istrinya, semoga zelia mau ikut datang tdk egois dan ngambey
love_me🧡
sudah bab 100 tapi masih stuck aja thor
Anitha Ramto
Nah gitu dong Are...kamu harus memilih untuk mengakui Zelia sebagai istrimu pada Dunia...
biar si Pelakor tahu Posisi
Anitha Ramto
Are terlalu ceroboh dan si Pelakor memanfaatkan situasi seperti itu,keadaan Are yang sedang Prustasi...
dan akan salah paham terus kalo seperti ini
tse
Are yang ngomong begitu minta panggung ko aku yang deg deg an ya....
semoga dengan hadir di acara itu dan semua orang tau siapa Zelia...
Zelia ga ngambek lagi ya....
aamiin... aamiin... Aamiin..
kangen Zelia yang manja dan menceritakan semua hal sama Are...
aku udah ga sabar Zelia cerita tentang foto2 dan video yang di kirim orangnya ulet keket....
tapi masa Are ga tau ya kalo Zelia dapat kiriman video atau paling ga dia tau kalo setiap dia di deket ulet keket pasti ada yang mengambil foto atau videonya..... mana ya tuan Dirga yang selalu menjadi bayang2nya
Dek Sri
semoga nanti gak ada gangguan
elief
gitu dong are, semoga permasalahan nya cepat selesai
Wardi's
kejelasan lebih jelas dari penjelasan panjang sekalipun.. -pengakuan-
Wardi's
nah gitu doong...
phity
ya smoga dgn langkah itu zelia bisa menurunkan egonya sedikit ya are,...
Wardi's
re are pelampiasannya mabok. ,malah jd bomerang krn ada yg memanfaatkan situasi..
phity
masih salah paham, . ..
Yunita Sophi
Are udah tau Zelia lagi marah krn salah paham dan masalah Viola... kamu malah membiarkan si ulet nangka mendekat... kata nya kamu pinter Are tp kok gak bisa mikir masalah istri yg marah kenapa..
Yunita Sophi
Are apa susah nya mengakui klo Zelia istri kamu... apa krn orang tua gak setuju?
Ina Yulfiana
snegja marathon bacanya tp kesalhpahamnya gk berkesudahan dan tindakan Are terlalu bertele² misterius tegas tp ko menghadapi Viola bertele² bner...
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
ternyata bloon jg si are..pinternya pas ngadepin atiyasa thok🫣🤭
Puji Hastuti
kenapa sih kalian ber 2.gemes AQ jadinya 😤
abimasta
viona akan semakin menjadi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!