Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di sebuah apartemen sempit di sudut kota yang jauh dari kemewahan Jakarta, suasana terasa sangat mencekam dan dingin.
Andre berdiri di ambang pintu dapur yang merangkap ruang tamu, menatap Mila yang duduk meringkuk di sofa usang dengan rambut berantakan.
"Sudah dapat kerjaan?" tanya Andre dengan nada suara yang tidak lagi lembut seperti dulu saat mereka masih berselingkuh di belakang Jati.
Kini, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti tuntutan.
Mila menggelengkan kepalanya pelan tanpa berani menatap mata Andre. Tangannya gemetar menggenggam ponselnya yang layarnya sudah retak.
"Belum, Dre. Aku sudah coba kirim lamaran ke beberapa butik, tapi mereka bilang kualifikasiku tidak cocok. Lagipula, mereka minta surat referensi kerja yang baik," bisik Mila dengan suara parau.
Andre mendengus kasar, ia melemparkan kunci mobilnya ke atas meja kayu yang sudah mengelupas.
"Kualifikasi tidak cocok? Atau kamu yang terlalu tinggi hati? Mila, sadarlah! Kita di sini bukan di Jakarta. Tidak ada yang kenal kamu sebagai istri CEO kaya lagi. Uang tabunganku sudah mulai menipis untuk bayar sewa apartemen ini!"
Mila memejamkan matanya, air mata bening jatuh di pipinya.
Ia merindukan pelayan-pelayan yang dulu menyiapkan sarapannya, ia merindukan kartu kredit yang tidak pernah ada batasnya.
Di sini, ia bahkan harus menghitung sisa kepingan uang hanya untuk membeli sepotong roti.
"Kenapa kamu jadi menyalahkanku, Dre? Bukankah kamu yang bilang akan membahagiakanku kalau aku meninggalkan Mas Jati?" tanya Mila dengan sisa keberaniannya.
Andre tertawa sinis, tawa yang menyakitkan telinga Mila.
"Itu dulu, saat aku pikir kamu akan keluar dari sana dengan membawa setengah harta Jati! Tapi kenyatannya? Kamu diusir seperti pengemis! Dan sekarang, lihat berita ini..."
Andre menyalakan televisi kecil di sudut ruangan. Di layar, tampak cuplikan berita tentang peluncuran "Yayasan Lintang Kasih".
Terlihat sosok Lintang yang anggun mengenakan kalung berlian zamrud—perhiasan turun-temurun keluarga Jati—sedang memeluk seorang anak yatim dengan penuh kasih.
Jati berdiri di sampingnya, tampak gagah dan sehat, menatap Lintang dengan pandangan yang begitu memuja.
"Lihat itu!" bentak Andre sambil menunjuk ke layar.
"Wanita yang kamu sebut 'tukang pijat' itu sekarang jadi ratu. Namanya dipuji-puji sebagai pahlawan perempuan. Sementara kamu? Kamu hanya beban untukku di sini!"
Mila mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Rasa cemburu dan dendam yang membakar hatinya jauh lebih menyakitkan daripada makian Andre. Ia melihat kalung zamrud itu—kalung yang dulu sangat ia inginkan namun tidak pernah diberikan oleh Mama Jati kepadanya.
"Ini tidak adil. Harusnya aku yang ada di sana! Harusnya itu namaku!" teriak Mila histeris sambil melemparkan bantal ke arah televisi.
"Hentikan dramamu, Mila!" Andre mendekat dengan tatapan mengancam.
"Kalau dalam minggu ini kamu tidak dapat pekerjaan untuk bantu bayar sewa, jangan salahkan aku kalau aku meninggalkanmu di jalanan ini sendirian. Aku tidak mau ikut hancur bersamamu."
Mila jatuh terduduk di lantai, menangis meraung-raung saat Andre membanting pintu kamar dan meninggalkannya sendirian di ruang tamu yang pengap.
Di tengah isak tangisnya, sebuah pikiran licik mulai merayap di otaknya.
Jika ia tidak bisa kembali pada Jati, maka Lintang pun tidak boleh hidup tenang.
Di sebuah sudut apartemen yang temaram di luar negeri, Mila terduduk lemas di lantai, matanya yang sembab menatap nanar ke arah layar televisi yang masih menampilkan kemesraan Jati dan Lintang di acara peresmian yayasan.
Rasa sakit hati dan cemburu yang membakar jiwanya kini berubah menjadi kegelapan yang pekat.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Lintang tidak boleh sebahagia itu di atas penderitaanku!" desis Mila dengan suara parau.
Dengan tangan gemetar, ia mulai menggeledah tas lamanya, mencari sebuah buku catatan kecil berisi kontak-kontak yang pernah ia simpan saat masih menjadi istri Jati.
Ia ingat betul, dulu ia pernah mencari tahu latar belakang mantan suami Lintang untuk mengancamnya.
Setelah beberapa menit mencari, jarinya berhenti pada sebuah nomor: Maya – Kakak Dery.
Mila segera menekan nomor tersebut menggunakan aplikasi panggilan internet agar tidak terlacak.
Setelah beberapa nada sambung, suara melengking yang penuh kecurigaan menjawab di ujung sana.
"Halo? Siapa ini?" tanya Maya ketus.
Mila menarik napas panjang, mencoba mengontrol suaranya agar terdengar meyakinkan.
"Maya,. ini Mila. Mantan istri Jati. Ingat aku?"
Hening sejenak di seberang sana sebelum Maya tertawa sinis.
"Oh, si Nyonya Besar yang sekarang jadi gelandangan? Mau apa meneleponku? Keluargaku sedang susah gara-gara adikmu dan Lintang sialan itu!"
"Justru itu, Maya," sela Mila cepat. "Aku punya rencana untuk menghancurkan Lintang. Dan kalau rencana ini berhasil, Dery bisa bebas dan kalian bisa mendapatkan uang lebih banyak daripada yang pernah Lintang berikan."
Mendengar kata 'uang' dan 'bebas', nada suara Maya langsung berubah.
"Apa rencanamu?"
Mila tersenyum licik, sebuah senyum kemenangan yang mengerikan.
"Lintang itu wanita yang perasa dan naif. Dia pikir Jati benar-benar mencintainya. Padahal kita tahu, Jati itu mandul dan putus asa. Dia hanya menginginkan anak yang dikandung Lintang untuk menjadi pewaris hartanya agar posisinya di perusahaan aman."
Mila menjeda kalimatnya, membiarkan racun itu meresap ke pikiran Maya.
"Tugasmu adalah masuk ke dalam kehidupan Lintang lagi. Katakan padanya bahwa kamu punya bukti kalau Jati sebenarnya membayar dokter untuk memalsukan hasil tes kesuburannya. Katakan bahwa Jati hanya memanfaatkan rahim Lintang, dan setelah bayi itu lahir, Lintang akan dibuang seperti sampah—sama seperti aku dulu."
Maya terdiam, otaknya yang licik mulai mencerna informasi itu.
"Tapi apa buktinya? Lintang tidak akan percaya begitu saja."
"Buatlah bukti palsu! Kamu pintar mengarang cerita, kan?" sahut Mila gemas.
"Katakan padanya bahwa Jati diam-diam sudah menyiapkan dokumen hak asuh anak tunggal tanpa nama Lintang di dalamnya. Jika Lintang mulai meragukan Jati, dia akan stres. Dan jika dia meninggalkan Jati, Jati akan hancur karena kehilangan satu-satunya harapan untuk memiliki keturunan."
"Dan apa keuntungannya untukku?" tanya Maya tegas.
"Aku akan mengirimkan sisa perhiasanku yang masih aku simpan di brankas temanku di Jakarta sebagai modal awalmu. Selebihnya, jika Lintang hancur dan Jati terpuruk, kita bisa memeras keluarga Jati dengan informasi ini. Bagaimana?"
Di ujung telepon, Maya menyeringai. "Kesepakatan yang bagus, Mila. Lintang memang harus sadar bahwa dia hanyalah 'mesin pencetak anak' bagi orang kaya seperti Jati."
Mila memutus sambungan telepon dengan perasaan puas yang meluap.
Ia menatap layar televisi sekali lagi, di mana Jati sedang mengusap perut Lintang dengan penuh kasih.
"Nikmatilah kasih sayang palsu itu, Lintang," bisik Mila penuh dendam.
"Karena sebentar lagi, kamu akan sadar bahwa pria yang kamu puja itu adalah iblis yang hanya menginginkan isi rahimmu, bukan dirimu."