NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Tragedi Bubur Sumsum

Cahaya fajar menyusup turun melalui "Jendela Kekosongan" di atap Dapur Luar, melukiskan pilar keemasan yang menembus sisa-sisa kabut pagi. Debu-debu spiritual menari lambat di dalam pilar cahaya tersebut, menciptakan pemandangan yang begitu damai hingga terasa nyaris tidak nyata bagi tempat yang seharusnya dipenuhi oleh bau darah dan intrik dunia kultivasi.

Di atas lantai batu yang dingin, kelopak mata Bai Ling berkedut pelan.

Insting pertama yang selalu menguasai tubuhnya setiap kali terbangun selama dua puluh tahun terakhir adalah meraba gagang belati beracun di balik jubahnya, menahan napas, dan memindai radius sepuluh meter untuk mencari hawa membunuh.

Namun pagi ini, tubuhnya menolak untuk mematuhi insting mematikan itu.

Jari-jarinya terasa begitu lemas dan hangat. Alih-alih melompat bangun dalam posisi siaga, Bai Ling justru mengerang pelan, meregangkan kedua lengannya ke atas, dan memutar lehernya hingga terdengar bunyi *krek* yang luar biasa memuaskan. Sensasi pegal yang menumpuk di tulang belikatnya—akibat berhari-hari merayap di tanah berlumpur dan tidur di dahan pohon—telah lenyap tak bersisa.

Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya menangkap langit-langit kayu Dapur Luar, lalu turun ke arah lantai batu tempat pipinya menempel. Ada genangan kecil air liur di sana. Air liurnya sendiri.

Detik itu juga, realitas menghantam otak Bai Ling sekeras hantaman godam besi.

*Aku... tertidur?* Mata hitamnya membelalak sempurna, memancarkan horor eksistensial yang membekukan darahnya. Ia, 'Viper Tak Terlihat' dari Sekte Gagak Hitam, pembunuh bayaran kelas elit yang pernah bertahan terjaga selama tujuh belas hari penuh dalam misi pembunuhan, baru saja tertidur lelap seperti bayi babi di sarang musuh utamanya! Dan yang lebih parah, ia tidur sambil menganga!

Bai Ling merangkak mundur dengan panik, punggungnya membentur keranjang berisi lobak spiritual. Ia menatap ke arah tirai sutra biru di sudut barat laut dengan napas terengah-engah.

Murid-murid 'Pencari Kekosongan' lainnya mulai bangkit satu per satu, wajah mereka memancarkan cahaya segar seolah baru saja meminum embun keabadian. Mereka berjalan keluar dari dapur dalam kebisuan yang khidmat, meninggalkan Bai Ling sendirian dalam badai kebingungannya.

*Bagaimana bisa aku kehilangan kesadaran secara total?* Bai Ling meraba dadanya, mencoba memeriksa Dantian-nya. Ia bersiap menemukan racun pelumpuh atau segel kutukan yang ditanamkan saat ia tidak sadar.

Namun, saat indra spiritualnya memindai tubuhnya sendiri, napas Bai Ling kembali tercekat. Kali ini bukan karena teror, melainkan karena syok yang melampaui batas akal sehat.

Sumbatan energi hitam di meridian bahu kirinya—luka dalam permanen akibat racun kalajengking es yang ia derita tiga tahun lalu saat melindungi Master Sekte Gui Jue—telah menghilang. Tidak ada sisa racun. Tidak ada jaringan parut spiritual. Aliran Qi-nya mengalir deras bagai sungai di musim semi, lebih murni dan lebih kuat dari sebelumnya.

Bai Ling menatap kedua telapak tangannya dengan bibir bergetar.

*Dia tidak membiusku...* batin Bai Ling, air mata keputusasaan dan kekaguman mulai menggenang. *Hawa kelesuan yang dia pancarkan... itu adalah frekuensi pemurnian absolut! Monster ini menghancurkan niat membunuhku dan menyembuhkan luka dalamku hanya dengan membiarkanku menghirup udara buangannya saat ia tidur! Kultivasi macam apa ini?! Aku datang untuk membunuhnya, tapi dia malah memurnikan dosa-dosaku!*

Di balik tirai sutra biru, penyebab dari semua krisis teologis Bai Ling baru saja membuka sebelah matanya.

Lin Fan mengerjap pelan. Cacing-cacing di perutnya sedang mengadakan orkestra protes. Ia lapar.

Dengan sangat enggan, Lin Fan mengalirkan sedikit Qi ke dalam **Jubah Penolak Gangguan**-nya, memutar dial spiritual jubah tersebut ke mode 'Transparan Maksimal'. Seketika, wujud fisik Lin Fan mengabur, membaur dengan warna udara dan cahaya di sekitarnya hingga ia nyaris sepenuhnya tidak kasat mata. Ini adalah cara terbaiknya untuk mengambil sarapan tanpa harus berinteraksi dengan siapa pun, meminimalkan pengeluaran energi vokal dan sosial.

Menggunakan jurus **Langkah Bayangan Malas**, tubuh transparan Lin Fan meluncur keluar dari Ranjang Awan. Ia tidak melangkah; ia seolah-olah bergeser di atas rel udara yang tak terlihat, menembus tirai sutra tanpa membuatnya beriak sedikit pun.

Di atas meja kayu di luar paviliunnya, Wang Ta telah menyiapkan mahakarya sarapan pagi: Semangkuk Bubur Sumsum hangat. Bubur beras yang luar biasa putih dan lembut itu digenangi oleh sirup gula aren kental yang memancarkan warna cokelat keemasan, ditaburi dengan irisan nangka spiritual yang aromanya manis menusuk hidung.

Siluet samar tangan Lin Fan terjulur, mengangkat mangkuk keramik itu beserta sendok bebeknya.

Namun, saat Lin Fan baru saja akan menyuapkan sendok pertama yang sangat krusial itu, sebuah anomali pergerakan terjadi di sudut matanya.

Bai Ling, yang otaknya masih berputar dalam kekacauan logika antara menjadi pembunuh atau menjadi pendoa, bangkit berdiri dengan langkah gontai. Ia memutar tubuhnya, bermaksud melarikan diri dari Dapur Luar untuk melaporkan fenomena mengerikan ini ke markas.

Karena mata fananya tidak bisa menembus kamuflase Jubah Penolak Gangguan, Bai Ling melangkah cepat dengan kepala tertunduk, berjalan *tepat* ke arah ruang kosong tempat Lin Fan sedang berdiri memegang mangkuk buburnya.

Di mata Lin Fan, seluruh dunia tiba-tiba melambat (sebuah efek samping dari kepanikan seorang pemalas).

Gadis pelayan yang bau tanah ini sedang berjalan lurus menabrak sarapannya. Menghindar ke samping akan membuat kuah gula arennya tumpah menodai jubah barunya. Menggeser mangkuknya akan mematahkan ritme sendoknya. Lin Fan menolak kedua opsi melelahkan tersebut.

Tepat saat dahi Bai Ling berjarak setengah jengkal dari mangkuk buburnya, Lin Fan menarik napas pendek melalui hidung, dan menghembuskannya dari mulut dengan sedikit dorongan Qi Pendirian Fondasi.

*Huuufff...*

Bagi Lin Fan, itu hanyalah hembusan napas kesal, setara dengan orang yang meniup poni rambutnya sendiri yang jatuh ke mata.

Namun bagi Bai Ling, yang sedang berjalan menembus keheningan, dunia seketika kiamat.

Sebuah dinding tekanan udara yang luar biasa padat, sedingin es namun membawa beban seberat gunung raksasa, menghantam seluruh tubuh bagian depannya. Gelombang Qi murni itu tidak melukainya, namun ia memblokir momentumnya secara absolut.

*BAM!*

Dada Bai Ling seolah menghantam tameng baja transparan. Ia terlempar mundur setengah langkah. Rambutnya yang lepek tertiup ke belakang dengan ganas. Udara di sekitarnya mendadak menjadi vakum, mengunci sendi-sendinya hingga ia tidak bisa menggerakkan satu jari pun.

*Tekanan spasial!* jerit Bai Ling dalam hati, matanya membelalak ngeri menatap udara kosong di depannya. *Dia mengunci ruang di sekitarku tanpa wujud fisik! Aku bahkan tidak bisa merasakan fluktuasi serangannya!*

Di udara kosong tersebut, tudung jubah abu-abu Lin Fan sedikit diturunkan, memperlihatkan separuh wajahnya yang datar, lesu, dan menatap tajam ke arah Bai Ling.

"Cukup," gumam Lin Fan, suaranya terdengar menggema di dalam kepala Bai Ling, seolah-olah ruang dan waktu sendiri yang sedang berbicara padanya.

Bai Ling tidak bisa menahan beban teror itu lagi. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai, berlutut dengan kedua tangan gemetar menempel di lantai batu.

"A-ampun, Master Agung!" suara Bai Ling pecah, nyaris menangis oleh kombinasi rasa takut dan ketakjuban yang fanatik. "Mata hamba buta! Hamba tidak bisa menembus wujud ketiadaan Anda! Hamba nyaris menodai ruang suci Anda dengan tubuh hina ini!"

Lin Fan menyuapkan bubur sumsum itu ke dalam mulutnya. Matanya sedikit melebar saat rasa manis gula aren dan kelembutan bubur meleleh di lidahnya. Ia mengunyah pelan, menatap gadis pelayan yang sedang bersujud di depannya dengan pandangan yang murni kalkulatif.

*Pelayan ini aneh sekali,* batin Lin Fan. *Kemarin dia napasnya ngos-ngosan mengganggu tidurku, sekarang dia mau menabrak buburku. Tapi refleksnya lumayan bagus untuk ukuran pelayan rendahan.*

"Kau menghalangi aliran cahayaku," ucap Lin Fan mengulang kalimat sakti andalannya, memalsukan wibawa. Ia menelan buburnya. "Waktu meditasimu sudah habis dua jam yang lalu. Kau berutang sepuluh batu roh tambahan padaku atas biaya *overstay*."

Tubuh Bai Ling menegang. Ia tidak memiliki sepuluh batu roh lagi. Seluruh modal misinya telah habis di meja pendaftaran. Jika ia diusir sekarang, ia harus kembali ke Sekte Gagak Hitam, melaporkan kegagalannya, dan mungkin dieksekusi oleh Gui Jue. Atau lebih buruk lagi... ia harus meninggalkan tempat di mana ia bisa tidur tanpa dihantui mimpi buruk.

Otak pembunuhnya segera mencari jalan keluar ekstrem. Kesetiaannya pada sekte asalnya telah menguap bersama rasa sakit di bahunya.

"Hamba tidak punya harta benda fana lagi, Master!" seru Bai Ling, mendongak menatap wajah Lin Fan yang mengambang di udara. Mata hitamnya memancarkan keputusasaan yang nyata. "Hamba adalah pengungsi yatim piatu. Namun... setelah merasakan pemurnian dari ketiadaan Anda, hamba menyadari bahwa hidup hamba selama ini hanyalah debu kotor! Hamba memohon... izinkan hamba menebus utang hamba dengan menjadi pelayan pribadi Anda!"

Lin Fan berhenti menyendok buburnya. Alis kanannya sedikit terangkat.

"Hamba tidak membutuhkan gaji! Hamba tidak membutuhkan tempat tidur!" lanjut Bai Ling dengan tempo cepat, takut Lin Fan akan kembali menghilang menjadi udara. "Hamba bisa membersihkan debu tanpa suara! Hamba bisa mengusir lalat sebelum mereka berani mengepakkan sayap! Hamba bersedia menjadi bayangan yang hanya melayani satu tujuan: menjaga kenyamanan absolut Anda!"

Di dalam kepala Lin Fan, sebuah sempoa imajiner mulai berbunyi *ktek-ktek-ktek*.

*Pelayan gratis. Tidak butuh digaji. Tidak butuh kamar. Dan dia mengklaim bisa membersihkan rumah tanpa suara?* Bagi Lin Fan, tawaran ini setara dengan mendapatkan langganan layanan kebersihan premium seumur hidup tanpa biaya *subscription*. Jika ia memiliki asisten pribadi, ia tidak perlu lagi bangkit untuk sekadar mengambil minum atau membetulkan posisi kipas. Kemalasannya akan mencapai tingkat efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya.

Lin Fan menatap Bai Ling lekat-lekat. Matanya yang sayu seolah sedang menelanjangi rahasia jiwa gadis itu, membuat Bai Ling menelan ludah ketakutan. Padahal, Lin Fan hanya sedang memastikan apakah gadis ini terlihat cukup kuat untuk disuruh mengangkat bak mandi.

"Namamu siapa?" tanya Lin Fan datar.

"Xiao Ling, Master," jawabnya cepat.

"Baiklah, Xiao Ling. Tawaranmu diterima," ucap Lin Fan, suaranya kembali monoton. Ia menghabiskan suapan terakhir buburnya dan meletakkan mangkuk itu ke atas meja. Ia kemudian menyingkap jubahnya sepenuhnya, menampakkan dirinya secara utuh, dan berbalik menuju Ranjang Awan.

"Sebagai ujian pertamamu," Lin Fan berhenti sejenak di ambang tirai sutra. Ia menoleh sedikit, menatap ke arah Xiao Ling dari sudut bahunya. "Sikap tidurku masih memiliki satu kecacatan komposit. Aku membutuhkan sebuah penyangga."

Bai Ling menahan napas. *Penyangga? Ujian memperebutkan material langka!* pikirnya liar.

"Carikan aku sebuah bantal guling," perintah Lin Fan dengan nada lambat yang terdengar seperti sabda langit. "Panjangnya harus presisi: satu setengah meter. Dan yang paling krusial... tingkat kelembutannya harus setara dengan kekenyalan paha bayi. Jangan bawa material kaku yang akan melukai meridianku. Dan jangan berisik saat mengerjakannya."

Tanpa menunggu jawaban, Lin Fan masuk kembali ke balik tirainya, tenggelam ke dalam Sutra Awan Bintang, dan dalam tiga tarikan napas, dengkuran halusnya telah kembali menguasai ruangan.

Di luar tirai, Bai Ling masih berlutut. Matanya terbelalak menatap ruang kosong tempat Lin Fan berdiri tadi. Jantungnya berdebar kencang oleh gelombang interpretasi kosmik yang menghantam kewarasannya.

*Bantal guling? 1,5 meter? Paha bayi?* Insting Viper Tak Terlihat-nya langsung mendekode pesan absurd itu menjadi sebuah cetak biru artefak spiritual tingkat tinggi. Ia membungkuk dalam-dalam ke arah Ranjang Awan, matanya kini memancarkan tekad sekeras baja yang tidak lagi diperuntukkan bagi Sekte Gagak Hitam, melainkan murni demi memenuhi spesifikasi tidur sang Master.

*[Ding! Misi Tersembunyi Selesai: 'Merekrut Agen Musuh Menjadi Budak Korporat Tanpa Gaji.']*

*[Sistem mencatat: Host telah secara tidak sadar mengubah ancaman pembunuhan tingkat elit menjadi manajemen sumber daya manusia yang sangat eksploitatif. Efisiensi kemalasan meningkat 20%.]*

*[Menerima Pengalaman Kultivasi Pasif: +3000.]*

Di sudut dapur yang berminyak itu, roda nasib benua kultivasi telah berbelok tajam, digiring bukan oleh ambisi penaklukan, melainkan oleh kebutuhan mendesak seorang pemalas untuk memeluk guling yang sempurna.

1
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣💪
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣🤭
Gege
idenya keren tiduran saja bisa ngalahin para ahli...epic dan apik..
Gege
temanya menarik..makin malas makin sakti...belom lagi hadiah hadiah yang diluar nalar... nabok nyilih tangan menang tanpo ngasorake sugih tanpo kerjo...🤣
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!