Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Mobil melaju cepat meninggalkan area parkiran.
Ban berdecit saat Liora membelok tajam ke jalan utama.
Tangannya mencengkeram setir erat.
Di kursi belakang...
Nathan bersandar dengan mata setengah terpejam.
Darah masih merembes dari luka di perutnya.
Marcus menoleh sekilas, rahangnya langsung mengeras. “Tuan… darahnya semakin banyak.”
“Apa kita harus ke rumah sakit?” tanya Liora panik.
“Tidak,” jawab Nathan pelan namun tegas.
Marcus langsung mengerti. “Kalau ke rumah sakit sekarang, terlalu berisiko.”
Liora menggigit bibir bawahnya.
Mobil terus melaju.
Namun sorot lampu muncul dari belakang.
Marcus langsung menoleh ke kaca spion. Ekspresinya berubah dingin.
“Mereka mengejar.”
Deg.
Liora ikut melihat ke belakang.
Dua mobil hitam muncul dari tikungan.
Melaju cepat.
Jarak mereka semakin dekat.
“Mereka benar-benar gila…” gumam Liora.
Salah satu mobil langsung mendekat ke sisi mereka.
Terlalu dekat.
Brak!
Mobil mereka terguncang keras.
Liora hampir kehilangan kendali.
“Mereka menabrak kita!” serunya panik.
“Pegang setir kuat-kuat!” teriak Marcus.
Mobil hitam itu kembali menghantam dari samping.
Brak!
Suara gesekan besi memekakkan telinga.
Nathan membuka mata perlahan.
“Mereka ingin membuat mobil kita kehilangan kendali…” gumam Marcus.
Mobil kedua kini mencoba memotong dari depan.
Liora langsung memutar setir menghindar.
Ban berdecit tajam.
Nyaris saja menabrak pembatas jalan.
“Nona, jangan biarkan mereka mengurung kita!” ujar Marcus cepat.
Liora mengangguk gugup.
Tangannya mulai berkeringat.
Mobil di samping kembali mendekat—
Brak!
Tabrakan lagi.
Kaca samping retak.
Mobil mereka berguncang keras.
Nathan menahan napas sakit.
Luka di perutnya terasa semakin menyiksa. Namun ia tetap memaksa membuka mata.
Tatapannya mengarah ke depan. “Liora…” ucapnya pelan.
“Iya?”
“Tabrak mobil di depan.”
Deg.
“Apa?!”
“Sekarang.”
Liora menelan ludah.
Mobil hitam di depan mulai memperlambat laju, mencoba mengunci jalan mereka.
Marcus langsung mengerti maksud Nathan.
“Nona, lakukan! Sebelum mereka menjepit kita!”
Liora menarik napas dalam.
Lalu pedal gas diinjak penuh.
Mesin meraung.
Mobil melesat lurus ke depan.
Para pengejar mulai sadar.
Namun terlambat.
Brakkk!
Benturan keras mengguncang jalan.
Mobil hitam di depan terdorong miring, kehilangan keseimbangan.
Liora langsung memutar setir melewati celah sempit.
Ban berdecit panjang.
Mobil mereka lolos.
Sementara di belakang ... mobil hitam itu menghantam pembatas jalan.
Namun...lampu mobil terakhir masih terlihat di kaca spion.
Mereka…masih mengejar.
Mobil terus melaju membelah jalan malam.
Suasana di dalam mobil semakin tegang.
Napas Nathan terdengar berat dari kursi belakang. Darah di perutnya semakin banyak.
Liora beberapa kali melirik kaca spion.
Lampu mobil hitam itu masih terlihat.
Belum menyerah.
“Marcus… mereka masih mengikuti,” ucap Liora cemas.
“Aku tahu.”
Marcus menoleh ke belakang sebentar.
Mobil pengejar terus mempercepat.
Jarak mereka perlahan menipis lagi.
Nathan membuka mata pelan.
Wajahnya pucat. Namun pikirannya masih tajam.
“Jalan depan…” gumamnya lirih.
Marcus langsung memahami. “Tikungan pelabuhan?”
Nathan mengangguk tipis.
“Itu terlalu sempit,” kata Liora gugup.
“Satu-satunya cara terbaik,” jawab Marcus.
Mobil melaju semakin cepat.
Lampu jalan mulai berkurang.
Area sekitar menjadi lebih gelap dan sepi.
Di depan...jalan menuju kawasan pelabuhan tua mulai terlihat.
Jalur sempit.
Banyak kontainer besar di sisi jalan.
Marcus langsung menatap Liora. “Nona, tetap tenang. Jangan kurangi kecepatan.”
Liora mengangguk pelan meski jemarinya mulai gemetar.
Mobil mereka masuk ke jalur sempit itu.
Ban bergesekan kasar saat melewati tikungan.
Mobil hitam di belakang tetap mengejar tanpa ragu.
Terlalu dekat.
Brak!
Tabrakan lagi dari belakang.
Tubuh Liora terdorong ke depan.
Nathan menahan napas sakit.
Marcus langsung menoleh tajam. “Mereka mau menjatuhkan kita sebelum keluar dari area ini.”
Nathan mengangkat kepala perlahan.
Tatapannya menyapu sekitar.
Lalu matanya berhenti pada sebuah truk kontainer besar yang sedang parkir miring di sisi jalan.
Sudut bibirnya bergerak tipis.
“Liora…”
“Iya?”
“Lewati sisi kiri truk itu.”
Marcus langsung sadar maksudnya.
“Nona, cepat!”
Liora langsung membelok.
Mobil mereka melesat melewati celah sempit di sisi kiri kontainer.
Nyaris bergesekan.
Mobil pengejar mencoba mengikuti, namun ruangnya terlalu sempit.
Brakkk!
Suara benturan keras menggema.
Mobil hitam itu menghantam sisi kontainer.
Bagian depannya ringsek.
Mobil itu belum sepenuhnya berhenti.
Mesinnya masih meraung kasar.
“Brengsek… mereka belum putus asa,” gumam Marcus.
Mobil pengejar kembali bergerak mundur.
Rusak.
Tapi tetap mengejar.
Liora mulai panik. “Kenapa mereka tidak berhenti juga?!”
Nathan bersandar lemah.
Kelopak matanya mulai berat.
Namun ia masih memaksa bicara.
“Karena… mereka tahu… kalau aku lolos malam ini…”
Napasnya tersendat.
“…mereka yang akan habis.”
Deg.
Mobil hitam itu kembali melaju dari belakang.
Mesinnya meraung kasar meski bagian depannya sudah ringsek.
“Mereka masih mengejar kita!” seru Liora panik.
Marcus menoleh ke belakang sekilas. “Mereka benar-benar nekat…”
Jalan pelabuhan semakin sempit.
Kontainer besar berjajar di kanan kiri.
Lampu jalan redup.
Mobil pengejar terus mempercepat, mencoba menabrak lagi dari belakang.
Brak!
Benturan keras kembali terasa.
Mobil mereka berguncang.
Liora hampir kehilangan kendali.
“Tetap lurus!” ujar Marcus cepat.
Nathan yang bersandar lemah perlahan membuka mata.
Tatapannya mengarah ke depan.
Lalu...ke arah jalur sempit di antara dua kontainer besar.
“Ke kanan…” gumam Nathan pelan.
Liora langsung memutar setir.
Mobil melesat masuk ke jalur sempit itu.
Ban berdecit keras.
Mobil pengejar langsung mengikuti tanpa berpikir panjang.
Namun jalur itu terlalu sempit untuk kecepatan tinggi.
Mobil mereka berhasil lolos keluar lebih dulu.
Sedangkan mobil hitam di belakang...terlambat membelok.
Brakkk!
Sisi mobil menghantam kontainer besi dengan keras.
Percikan api muncul.
Mobil itu oleng hebat.
Pengemudinya mencoba mengendalikan setir—
Tapi terlambat.
Brak!
Mobil kembali menghantam pembatas beton di ujung jalur.
Bagian depannya ringsek parah.
Mesinnya masih meraung beberapa detik… lalu mati perlahan.
Sunyi.
Liora menatap kaca spion dengan napas berat.
Mobil itu tidak bergerak lagi.
Marcus akhirnya menghela napas panjang.
“Sudah selesai,” ucapnya rendah.
Akan tetapi saat Liora menoleh ke belakang—wajahnya langsung pucat.
“Tuan!”
Nathan masih sadar.
Darah terus membasahi kemejanya. Tangannya masih menekan perutnya.
Marcus langsung menegang. “Tuan, bertahan sedikit lagi.”
Nathan memejamkan mata beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Cepat pergi dari sini…”
Liora langsung menginjak pedal gas lagi.
Mobil melaju meninggalkan kawasan pelabuhan.
Dan malam itu—akhirnya tidak ada lagi kendaraan yang mengejar mereka.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???