Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Pintu kayu berwarna biru pudar itu masih bergetar pelan, menyisakan bunyi denting bel kecil yang seolah-olah menggantung di udara yang beraroma kopi pekat. Felysha Anindhita berdiri membeku di ambang pintu, telapak tangannya masih memegang gagang pintu yang terasa dingin dan bertekstur kasar. Di hadapannya, ruang kedai kopi yang sempit itu tiba-tiba terasa jauh lebih sesak daripada yang terlihat dari luar. Ia tidak segera melangkah masuk lebih jauh, hanya membiarkan embusan angin dingin dari gang di belakangnya menyelinap masuk melewati celah kakinya, membawa beberapa helai daun kering ke atas lantai kayu kedai.
Di balik konter kayu yang tinggi, pria itu berdiri diam dengan sebuah kotak kayu berisi biji kopi yang masih tertahan di kedua tangannya. Mahesa tidak bergerak, seolah-olah waktu di dalam L'Art du Café telah berhenti tepat saat matanya bertemu dengan mata Felysha. Cahaya kuning dari lampu gantung di atas konter menyinari rahangnya yang menegang dan helai rambut hitamnya yang sedikit berantakan karena ia tidak lagi mengenakan topi baseball. Celemek kain berwarna cokelat tua yang melilit pinggangnya tampak kontras dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh namun kini tampak sedikit bergetar.
Felysha menelan ludah, merasakan kerongkongannya yang mendadak kering dan perih. Ia melepaskan pegangannya pada pintu, membiarkan pintu itu menutup sepenuhnya dengan bunyi klik yang sangat jernih di tengah kesunyian. Ia merapatkan syal wolnya, menutupi plester di lehernya yang seolah-olah mendadak berdenyut kembali saat melihat pria ini. Ingatannya tentang malam di gang gelap itu berputar cepat seperti roll film yang dipaksa bergerak; suara langkah kaki, dorongan yang keras, dan kemudian suara rendah Mahesa yang menenangkannya di bawah lampu jalan.
Ia melangkah perlahan menuju konter, bunyi sepatu botnya di atas lantai kayu yang berderit pelan terdengar sangat dominan. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah ia sedang berjalan di dalam air. Felysha berhenti sekitar satu meter dari konter, meletakkan tas sketsanya di atas meja kayu kecil di sampingnya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Bertemu kembali dengan penyelamatnya di sebuah kedai kopi tersembunyi di tengah Paris adalah probabilitas yang tidak pernah ia hitung di dalam kepalanya.
Mahesa perlahan menurunkan kotak kayu itu ke atas konter. Bunyi tuk saat kayu bertemu kayu terdengar sangat kaku. Ia mengalihkan pandangannya ke arah biji-biji kopi di dalam kotak, tangannya bergerak secara mekanis untuk merapikan tumpukan itu, padahal biji-biji itu sudah tertata rapi. Ia tidak berani mengangkat wajahnya lagi. Ada sebuah kepanikan yang sangat halus yang coba ia sembunyikan di balik gerakan jemarinya yang lincah.
"Kamu... kerja di sini?" Suara Felysha terdengar tipis, nyaris seperti bisikan yang tertahan di udara yang hangat.
Mahesa terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma kopi memenuhi paru-parunya sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali. Ia menatap Felysha dengan ekspresi yang sulit diartikan—ada sebuah penghalang yang sengaja ia pasang di matanya, sebuah jarak yang tidak ada saat mereka berjalan beriringan di malam kejadian itu.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Mahesa pendek. Suaranya terdengar lebih formal, berbeda dengan nada bicara santai yang ia gunakan saat di jalanan. Ia mengambil selembar kain lap bersih dari bawah konter, mulai mengelap permukaan kayu yang sebenarnya sudah bersih mengkilap.
Felysha memperhatikan gerakan tangan Mahesa. Pria ini terlihat sangat ahli dengan peralatan kopi di sekitarnya. Mesin espresso kuningan yang mengkilap di sampingnya mengeluarkan suara desisan uap yang lembut, seolah-olah sedang memberikan nyawa pada atmosfer kedai yang canggung ini. Felysha meraba saku mantelnya, merasakan saputangan putih Mahesa yang sudah ia cuci bersih ada di sana.
"Saya nggak sangka bakal ketemu kamu lagi di sini," lanjut Felysha. Ia memajukan posisinya, berdiri tepat di depan konter. "Tadinya saya cuma mau cari tempat tenang buat gambar, terus saya cium bau kopi dari ujung gang."
Mahesa mengangguk singkat, matanya tetap tertuju pada mesin espresso. Ia mulai memutar tuas mesin, membiarkan air panas keluar sejenak ke dalam nampan pembuangan. Bunyi uap yang menderu keras memberikan sedikit distraksi yang ia butuhkan. Ia seolah-olah sedang membangun tembok dari bunyi-bunyi mekanis ini agar Felysha tidak bisa masuk lebih jauh ke dalam ruang pribadinya.
"Banyak orang yang nyasar ke sini karena baunya," ucap Mahesa tanpa menoleh. Ia kemudian mengambil sebuah cangkir keramik berwarna biru tua dari rak belakang, menimangnya sejenak di telapak tangannya. "Mau pesan apa? Cafe au lait? Atau cuma americano?"
Felysha tertegun mendengar tawaran itu. Cara Mahesa bicara seolah-olah mereka adalah barista dan pelanggan biasa yang baru pertama kali bertemu. Tidak ada pertanyaan tentang lukanya, tidak ada pertanyaan apakah ia sampai di rumah dengan selamat, bahkan tidak ada senyuman yang sama seperti saat di bawah lampu jalan malam itu. Felysha merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang seharusnya menyambung kembali momen mereka di taman tempo hari.
"Cafe au lait. Tanpa gula," jawab Felysha pelan.
Mahesa mulai bekerja. Ia mengambil portafilter dari mesin, mengetuk sisa bubuk kopi ke dalam tempat pembuangan dengan bunyi tok-tok yang ritmis. Ia mengisi kembali wadah logam itu dengan bubuk kopi segar dari mesin penggiling, lalu menekan bubuk itu dengan tamper menggunakan tenaga yang cukup besar dari bahunya. Felysha memperhatikan setiap detail gerakan Mahesa—otot lengannya yang sedikit menonjol di balik kemeja yang digulung, cara ia memperhatikan jarum tekanan pada mesin, dan konsentrasi penuh yang ia tunjukkan.
Suasana kedai kopi ini benar-benar mencerminkan sosok Mahesa—tersembunyi, tenang, namun memiliki kedalaman yang tidak bisa ditebak. Felysha menatap rak buku di belakang Mahesa, melihat buku-buku tentang arsitektur dan sketsa yang terselip di antara buku-buku resep kopi. Ia teringat sketsa jalanan Paris yang ia lihat di depan tadi.
"Sketsa di depan itu... kamu yang gambar?" tanya Felysha sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
Gerakan tangan Mahesa yang sedang menuangkan susu ke dalam pitcher logam terhenti sesaat. Ia tidak menjawab. Ia hanya terus menyalakan pipa uap untuk memanaskan susu tersebut. Bunyi desisan uap yang kencang menenggelamkan semua pertanyaan Felysha, menciptakan jeda panjang yang dipenuhi oleh aroma susu yang manis dan panas. Felysha menyadari bahwa Mahesa sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak memberikan akses apa pun pada masa lalunya atau kehidupannya yang sebenarnya.
Setelah susu mencapai konsistensi yang diinginkan, Mahesa mematikan uapnya. Ia mengetuk pitcher logam itu ke atas konter untuk memecah gelembung udara, lalu mulai menuangkannya ke dalam cangkir biru tua yang sudah berisi espresso kental. Ia menciptakan sebuah pola rosetta yang indah di atas permukaan kopi dengan gerakan tangan yang sangat halus. Ia meletakkan cangkir itu di atas tatakan kayu, lalu mendorongnya perlahan ke arah Felysha.
"Enam Euro," ucap Mahesa singkat.
Felysha meraba tasnya, mengambil dompetnya yang kini sudah terisi kembali berkat kiriman tambahan dari ibunya di Jakarta. Ia meletakkan lembaran uang di atas konter. Saat Mahesa mengambil uang itu, jari mereka sempat bersentuhan selama satu detik. Felysha merasakan tangan Mahesa yang sangat hangat, kontras dengan udara dingin yang masih ia rasakan di wajahnya.
Mahesa segera menarik tangannya kembali, memasukkan uang itu ke dalam mesin kasir dengan bunyi ting yang tajam. Ia kemudian berbalik, mengambil kotak biji kopi yang tadi ia bawa, dan berjalan masuk ke pintu belakang yang tertutup tirai tebal tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Felysha berdiri sendirian di depan konter, menatap cangkir kopi biru tua yang masih mengepulkan uap. Ia merasa ada sebuah misteri besar yang baru saja terbuka, namun Mahesa baru saja membanting pintunya rapat-rapat. Ia mengambil cangkirnya, berjalan menuju meja di pojok ruangan yang paling dekat dengan jendela, dan duduk di sana. Ia menyesap kopinya perlahan, merasakan pahit dan lembut yang menyatu di lidahnya. Sambil menatap ke arah tirai belakang yang tidak bergerak, Felysha menyadari bahwa pertemuannya dengan Mahesa di sini bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar kejadian pencopetan di malam hari.