Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33| Mulai Goyah
Seharian ini Ara habiskan dengan berbaring di sofa atau pun bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Tubuhnya sangat lemas, sehingga ia tidak bisa untuk naik ke atas menuju ke kamarnya. Ara memilih di ruang tengah dan membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil menatap ke arah layar televisi, dirinya memang sangat bosan di rumah hanya menonton televisi yang membosankan.
Ara ingin bekerja di kantor dan bertemu dengan rekan-rekan kerjanya, tetapi Jason melarangnya, karena keadaan Ara yang sangat lemah. Jason tak ingin Ara kelelahan dan terlalu banyak pikiran.
“Sangat membosankan!” kesal Ara mematikan layar televisi dan memilih memainkan ponselnya. Ia melihat beberapa menu masakan baru yang bisa ia coba nantinya.
“Jika, aku mengajakmu jalan-jalan di sore hari ini. Apa kau akan merasa senang?” suara Jason di telinga Ara. Ara menoleh ke samping dan bibir mereka saling bertemu.
Jason terkejut saat merasakan bibir Ara menyentuh bibirnya. Tak lama kemudian, Jason menarik tengkuk Ara untuk memperdalam ciuman mereka. Ara memejamkan matanya menikmati ciuman mereka, kali ini Ara juga membalas ciuman itu.
Jason tersenyum di sela-sela ciuman panjang mereka. Saat udara mulai menipis mereka melepaskan pangutannya dan saling menatap ke dalam manik mata masing-masing.
Kening mereka saling bersentuhan, begitu pun dengan hidung mereka. Jason kembali menarik tengkuk Ara dan menciumnya dengan lembut.
“Kenapa kau sudah pulang?” tanya Ara saat mereka duduk bersebelahan di sofa.
Jason menarik kepalanya dan menyandarkan kepala Ara di bahunya. Tangannya tidak berhenti mengusap rambut panjang Ara yang tergerai.
“Aku sengaja tidak mengambil jam istirahat, agar pekerjaanku cepat selesai dan aku cepat bertemu denganmu lagi,” jelas Jason membuat Ara sedikit senang mendengarnya.
Ara tersenyum kecil tanpa di ketahui oleh Jason. Sudah hampir satu minggu Jason bisa membuatnya sedikit goyah dengan tindakan dan perubahan dari sikapnya.
“Aku dengar tadi kau sangat bosan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sore, itu akan baik untukmu yang sedang mengandung,” usul Jason yang membuat Ara berpikir.
“Boleh, aku juga ingin makan es krim di taman kota,” setuju Ara, membuat Jason tersenyum mendengarnya.
Jason mengulurkan tangannya di hadapan Ara. “Ayo, kita berangkat sekarang!” serunya.
“Tapi, aku harus ganti baju dulu!” sahut Ara sambil menerima uluran tangan Jason.
Jason tertawa kecil dan mengusap lembut pipi sang istri.
“Tidak perlu, kau sudah cantik dan aku ada hadiah untukmu!” Jason menggandeng lengan Ara keluar dari rumah mereka. Mobilnya sudah terpakir di depan.
“Ini! Kau pakai, biar baju kita samaan!” Jason menyerahkan paperbag kepada Ara dan wanita itu langsung membukanya.
Ara melihat sebuah hoodie berwarna hitam di dalamnya. Saat ia menaikkan pandangannya, Jason sudah menggunakan hoodie yang sama dengannya. Tetapi, sizenya lebih besar dari yang dipengangnya.
“Pakailah!” Jason tersenyum kepadanya, dengan hati-hati Ara memakai hoodie tersebut dan lelaki itu tersenyum senang melihatnya.
Jason mengeluarkan ponselnya dan menarik Ara ke dalam pelukannya, setelah itu ia mengambil selfie dirinya dengan Ara di dalam pelukannya. Ara terkejut dan sudah menyangka hasilnya akan jelek, karena ia belum siap.
“Pasti gambarku jelek!” kesal Ara saat Jason melihat hasilnya.
Jason tertawa kecil dan menarik Ara kembali ke dalam pelukannya. Ia memperlihatkan hasilnya kepada Ara, ternyata hasilnya tidak jelek seperti bayangan Ara.
“Di sini kau terihat begitu cantik, nona Jeon. Meskipun kau tidak siap, tapi hasilnya tidak bisa diragukan lagi. Kecantikanmu ini alami, sehingga mau bagaimana pun kau akan tetap terlihat begitu cantik di mataku,” ujar Jason sambil mengecup cepat pipi kanan Ara.
“Kau ini! Sudahlah, aku sangat ingin makan es krim!” kesal Ara yang langsung memasuki mobil Jason.
Jason tersenyum geli melihat wajah malu-malu dari istrinya.
“Kau begitu cantik dan sangat menggemaskan!” gumam Jason sebelum masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Jason lebih banyak mendominasi dalam percakapan, ia ingin Ara tidak terlalu dingin kepadanya dan bisa kembali seperti dulu. Jason selalu memutar otaknya untuk menemukan topik yang menarik untuk di bahas dengan Ara.
“Kita sudah sampai!” Jason menghentikan mobilnya di parkiran taman kota.
Cukup susah menemukan tempat parkir yang masih kosong, karena begitu banyak orang yang berkunjung di taman ini. Kebanyakan dari mereka adalah para anak-anak kecil yang menghabiskan waktu sorenya dengan bermain di taman bermain dan di awasi oleh orang tua mereka.
Jason yang melihat anak kecil begitu gemas dan ia tidak sabar menunggu kehadiran buah hatinya di dunia ini. Menyenangkan ketika anaknya nanti memanggilnya Ayah.
“Kenapa kau tersenyum begitu?” suara Ara menyadarkan Jason yang berkhayal itu.
Jungkook tidak langsung menjawab, ia merangkul pundak Ara memasuki kedai es krim langganan sang istri.
“Tidak ada, kau ingin pesan berapa es krimnya? Biar aku yang pesankan!” tanya Jason saat mereka sampai di salah satu meja di dekat jendela besar.
“Lima!” seru Ara membuat Jason melotot sempurna.
Ara hanya mengerjap menatapnya. Jason menggelengkan kepalanya dengan tegas, lalu ia menatap Ara datar dan membuat wanita itu sedikit takut melihat perubahan ekspresi Jason yang mendadak itu.
“Tidak boleh! Kau tidak boleh terlalu banyak makan es krim. Itu tidak baik untukmu, aku pesankan dua saja. Satu untukmu dan satu lagi untukku!” ujar Jason sebelum pergi memesan di kasir.
Ara hanya mendengus kesal mendengarnya.
“Bukannya ia tadi bertanya? Lalu kenapa memesan sesuai keinginannya? Padahal aku sangat ingin makan banyak es krim,” gerutu Ara sambil memainkan kotak tisu di atas meja.
Jason mendengar gerutuan itu hanya tersenyum kecil, ia melihat wajah masam Ara yang begitu menggemaskan.
Jason baru menyadari kalau semua ekspresi yang ditampilkan Ara kalau tidak cantik, ya imut dan itu membuat Jason sangat senang berlama-lama memandanginya.
“Ini es krimmu!” seru Jason meletakkan satu mangkuk besar es krim di hadapan Ara.
Ara menatap es krim tersebut dengan mata berbinar, lalu ia menatap ke arah es krim Jason yang hanya seperempat dari es krimnya.
Ara sangat senang dan langsung melahap es krim itu dengan rakus, Jason tertawa kecil melihatnya. Tangan lelaki itu terulur untuk membersihkan bibir Ara yang belepotan oleh es krim.
“Pelan-pelan, sayang. Aku tahu kau sangat menyukainya, tetapi tidak perlu sampai segitunya juga,” ujar Jason.
Ara hanya tersenyum dan kembali menikmati es krimnya.
“Apakah kau menikmati es krimmu?” tanyanya setelah Ara menghabiskan satu mangkuk besar es krim.
Ara menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.
“Aku ingin gulali, apa kau akan membelikanku gulali yang besar juga?” tanya Ara menatap ke arah Jason dengan penuh harap.
Jason tidak tahan lagi untuk memeluk erat tubuh Ara dan menciumi wajahnya yang terlihat begitu imut.
“Sepertinya kau mengindam ya? Apa pun itu, asalkan bisa masuk ke dalam perutmu, aku akan membelikannya untukmu,” jawab Jason sambil memeluk erat tubuh Ara.
Seharian ini, dirinya selalu di buat goyah dengan sikap Jason kepadanya, Ara sampai tidak bisa mengelaknya lagi.
Bersambung...