Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 31
"Nak, itu beneran suamimu mengatakan hal kayak tadi? Apa dia benar-benar sehat atau mungkin kepalanya mengalami benturan?" bisik Mami Tanisa saat mereka berada di dalam mobil menuju kantor Davindra.
"Seingat Aya, dia nggak terbentur Mi, mungkin saja dia sudah mulai pintar saat melihat semua buktinya. Kan kemarin-kemarin tetap tidak percaya dan lebih memilih percaya kepada wanita itu!" jawab Ayana.
"Iya juga! Tapi baguslah, kalau begini kalian bisa benar-benar menjalani rumah tangga sewajarnya kan tanpa takut adanya ulat gila itu datang dan menganggu kalian," jawab Mami Tanisa membuat Ayana kebongkar menjawab.
Ayana bahkan ingin segera mengakhiri sandiwara pernikahannya dengan Gavin. Padahal keberadaan Vania sudah di ketahui dan tinggal proses penangkapan. Ayana berfikir setelah mendatangkan Vania dia bisa pergi dan melakukan pembatalan pernikahan. Tapi ucapan Gavin tadi malah membuat dia pusing. Ada apa dengan pria itu? Sepertinya Gavin memang sengaja membuat dirinya kesal bukan main.
"Bisa mi, tapi nggak tahu dengan Ayana karena dia sepetinya yang enggan membuka hati dan memulai rumah tangga bersama Gavin! Dia saja masih selalu galak padaku! Bahkan bangunin suaminya saja seperti bangunin maling!" ujar Gavin membuat Ayana melotot dan Gavin menahan tawa melihat ekspresi wajah istrinya melalui kaca spion.
"Makanya kamu jangan main-main game di ponsel Mulu! Jadinya tidur malem dan di bangunin susah. Susah mending ada Ayana yang bangunin kamu! Kalu tidak, tiap hari kamu pasti akan datang terlambat ke kantor!"
"Jam sepuluh kok aku tidur, Mi!"
"Halah ngeles!" jawabnya.
"Ya sudah mulai sekarang kalian belajar berumah tangga yang sesungguhnya ya? Kalian bisa sama-sama belajar membuka diri dan saling mencintai sebagai suami istri. Kalian bisa mulai dengan pacaran halal, jalan-jalan bersama, mengobrol setelah makan atau sebelum tidur. Itu bisa membuat kalian semakin dekat, segala sesuatu harus di mulai dan di biasakan. Kamu sebagai laki-laki yang harus lebih dahulu memulai segalanya! Tapi mami ingatkan, jangan pernah memberi harapan kepada Ayana kalau kamu masih memiliki perasaan kepada si ular kepala bekicot itu!" omel Mami Tanisa panjang lebar kepada anak dan menantunya.
"Lah, gimana mau ngobrol bareng berdua di kamar! Orang kamar kami aja berjauhan!" jawab Gavin seolah jika Ayana yang meminta mereka pisah kamar.
"Loh kalian masih tidur pisah kamar? Ini udah lebih dari dua Minggu kalian menikah loh! Bahkan hampir tiga Minggu! Apa lagi alasannya kali ini? Jangan sampai Papi kalian tahu hal ini! Dia pasti akan marah kepada kalian!" kesal Mami Tanisa.
"Mi, itu karena ... Kami sama-sama belum siap!" jawab Ayana.
"Bagaimana mau siap? Sampai kapan kalian akan mau siap kalau tak pernah di mulai! Pokonya mulai ini kalian tidur dalam satu kamar! jangan sampai papi dan mami datang ke rumah kalian masih tidur di kamar terpisah!" perintah Mami Tanisa.
"Mi, Aya terbiasa tidur sendiri, rasanya agak aneh kalau harus tidur dalam satu ranjang bersama dengan orang asing," Ayana mencair alasan.
Kalau dia harus tidur dalam satu kamar dengan Gavin, maka dia akan semakin kesulitan untuk bisa menyelinap keluar rumah dan menjalankan misinya. Setidaknya kalau pisah kamar, dia masih bisa keluar masuk dengan leluasa. Kalau dalam satu kamar pasti akan banyak pertanyaan dari Gavin.
"Biasakan sayang, awalnya pasti tidak akan nyaman. Apalagi tidur dengan orang lain, tapi orang lain itu adalah suami kamu sendiri. Kalian sudah halal satu sama lain, kalian masih ingat ucapan mami dan papi setelah menikah kan? Jika pernikahan ini adalah suci dan kalian jangan mempermainkan pernikahan ini apapun alasannya. Mami yakin seiring berjalannya waktu kalian akan terbiasa bersama!" ujar mami Tanisa pelan sambil mengusap lembut tangan Ayana.
"Baiklah Mi, Gavin akan belajar menjadi suami yang baik. Mungkin benar kata mami, kami bisa belajar saling dekat dengan banyak quality time bersama," jawab Gavin membuat Ayana yang akan membuka mulut kembali mendelik kesal.
"ck! Apa lagi rencana dia sekarang! Aku yakin dia pasti sedang mencoba untuk membuat ulah lagi. Apa dia masih belum puas membuat aku berada dalam pernikahan konyol ini! Astaga, kenapa aku harus bertemu dengan pria menyebalkan seperti ini! Aku harus segera pergi, aku tak bisa lama-lama dan terus mengulur waktu. Terlalu lama aku membuang waktu sia-sia selama ini," batin Ayana.
Ayana akhirnya memilih diam saja dan tak lagi membantah. Karena dia merasa tak enak kepada Mami Tanisa yang begitu menerima dan menyayangi dia. Semoga saja ada jalan keluar lain yang bisa membuat dia lepas dari pernikahan ini. Dia juga tak ingin menikah dan hidup bersama dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya. Pria yang bahkan masih menyimpan nama wanita lain dalam hati dan pikirannya. Dia tak pernah berfikir untuk menikah, karena dia hanya fokus dengan tujuannya sejak sekolah menengah atas.
"Loh meja aku kok nggak ada? Di pindah kemana?" kaget Ayana saya tiba di depan ruang kerjanya.
"Ada apa, Nak?" tanya Papi Evan.
"Ini loh Pah, meja kerja aku kok nggak ada ya? Kemarin masih di sini!" tanya Ayana sambil menunjuk ke arah tempat biasanya teronggok meja kerjanya di sana.
"Aku pindahin ke ruangan aku!" jawab Gavin santai.
"Apa? Kok di pindah? Ish, aku nggak mau ah di dalam ruangan kamu! Ribet, banyak nyuruhnya. Kamu suka iseng minta aku Ngerjain tugas aneh sampai-sampai kerjaan aku jadinya terbengkalai!" kesal Ayana.
Kedua orang tua Gavin malah saling pandang dan menahan senyum. Rupanya Anak lelakinya ini Muali posesif kepada Ayana. Dan tanpa sadar sudah memiliki perasaan kepada wanita yang dia nikahin asal tunjuk. Mereka berdoa semoga rumah tangga keduanya akan tetap bertahan selamanya. Walau di awali dengan asal tunjuk dan iseng. Tapi semua itu sudah tertuliskan dalam garis hidup dns takdir mereka. Jodoh datang dengan cara yang tak pernah di duga.
"Repot amat sih! Perkara meja kerja di pindah aja kamu rempong!" jawab Gavin santai.
"Loh, bukannya kamu yang nggak mau sampai ad orang yang tahu dengan pernikahan kita! Kalau begini malah membuat mereka jadi berfikir yang macam-macam!", kesal Ayana.
"ck! palingan kamu yang akan di anggap sebagai asisten gatel!" jawab Gavin membuat Ayana benar-benar kesal.
Plaaaakkk
"Sakit tau!" Gavin mengusap lengan atasnya yang sakit karena di geplak Ayana di depan kedua orang tuanya.
"Sukirin!" kesal Ayana kemudian pamit kepada kedua mertuanya dan masuk ke dalam ruangan Gavin untuk melihat meja kerjanya.
"Eh Ayana! Tunggu, tanggung jawab oii, ini tangan aku sakit tau! Awas saja kalau sampai membuat aku nggak bisa kerja ya!" omel Gavin mengikuti Ayana masuk ke dalam ruangannya.
"Pi ..." kekeh Mami Tanisa membuat Papi Evan memeluk bahu istrinya sambil tersenyum lebar dan berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya.