NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singapore

Singapura terasa seperti mesin.

Udara lembap, gedung-gedung tajam, dan arus manusia bergerak seolah kota ini punya nadi sendiri, cepat, rapi, tanpa celah. Rick berdiri di balik jendela gedung seberang, menyembunyikan tubuhnya di bayangan tirai, memandang ke arah gedung yang jadi targetnya.

Arthhone.

Tempat produksi alat elektronik—begitu tertulis di map. Bersih di luar. Terlihat legal.

Rick menahan napas, mengangkat binocular kecil, menempelkan mata ke lensa.

Di lantai 10 gedung Arthhone, Robert Ng terlihat jelas, berdiri, memberi arahan, tangannya bergerak tegas. Rapat. Orang-orang duduk rapi. Kaca besar memberi peluang yang terlalu indah bagi sniper… dan Rick merasakan detak jantungnya naik, karena “indah” dalam dunia ini selalu jebakan.

Tidak sampai satu menit, Robert Ng mengangkat tangan dan berkata sesuatu pada orang di dekatnya.

Tirai rapat.

Horden ditutup.

Kaca lantai 10 berubah jadi dinding abu-abu.

Rick mengumpat dalam hati. Kesal. Bukan karena gagal, tapi karena targetnya paham permainan.

Satu kesimpulan langsung muncul di kepala Rick:

Robert Ng profesional.

Dia paham ancaman sniper.

Dia hidup dengan protokol.

Dan kalau dia se-hati-hati itu, berarti dia bukan “bos pabrik biasa.”

Rick menurunkan binocular, menatap lantai 10 yang kini buta. Ia merasakan sesuatu yang tidak ia suka: rasa bahwa target ini bisa memaksa Rick keluar dari rencana nyaman.

Rick menarik napas panjang, lalu turun.

Di bawah, Rick berjalan menyusuri trotoar, mencari sudut pandang baru.

Jika tidak bisa dari gedung seberang, maka dari tempat yang tampak normal: kafe.

Rick menemukan kafe yang posisinya menghadap Arthhone—jarak cukup dekat untuk melihat pintu masuk, cukup jauh untuk tidak menarik perhatian. Ia masuk dengan langkah tenang, memilih meja strategis: dekat jendela, punggung ke dinding, aman dari sudut CCTV, dan punya pantulan kaca untuk memantau ruangan tanpa menoleh.

Ia memesan minuman.

Pelayan datang bukan hanya membawa minum, tapi juga satu paket makanan: burger dan kentang goreng. Seolah itu bagian dari “menu wajib” agar pelanggan tidak hanya duduk menatap gedung sebelah.

Rick menatap kentangnya sebentar.

Ia tidak lapar. Tapi ia mengerti: orang yang tidak makan, hanya menatap, akan terlihat seperti orang yang menunggu sesuatu.

Jadi ia makan.

Sedikit.

Pura-pura.

Ia menunggu target keluar.

Lima menit.

Sepuluh.

Dua puluh.

Tiga puluh.

Dan tepat ketika Rick mulai menghitung kemungkinan lain, pintu belakang, jalur loading, jadwal kendaraan, seseorang duduk di kursi sebelahnya.

Rick tidak mendengar langkahnya.

Tidak ada bunyi kursi diseret.

Orang itu muncul seperti bayangan yang memutuskan menempel di sampingmu.

Rick menegang. Tangannya tidak bergerak, tapi ototnya mengunci.

Wanita itu mengambil satu kentang goreng dari piring Rick, tanpa izin, dan memakannya pelan. Santai. Seolah mereka teman lama.

Rick menoleh sedikit, cukup untuk melihat profilnya: wanita muda, rapi, cantik dengan cara yang tidak berlebihan. Bukan cantik yang minta perhatian. Cantik yang membuat orang lengah.

Yang aneh: wanita itu tidak menatap Rick.

Ia menatap keluar jendela, seolah bicara pada pemandangan yang sama dengan Rick.

Lalu suaranya keluar, tenang, datar, dan membuat darah Rick berhenti.

“Fred Tucker. Hampir lima tahun kita tidak bertemu.”

Rick kaku. Jantungnya seperti menghantam dada dari dalam.

Fred Tucker.

Nama yang seharusnya tidak dipakai siapa pun.

Nama yang seharusnya terkubur di Prancis.

Rick ingin meraih pistol.

Tangannya sudah bergerak setengah ke pinggang, titik di mana senjata tersembunyi.

Wanita itu berkata pelan, masih menatap jendela:

“Tenang. Aku tadi juga di atap.”

Rick menahan napas.

Wanita itu melanjutkan, seperti orang yang bicara tentang cuaca:

“Aku lihat kamu memantau. Jadi kalau kamu benar Rank S… harusnya kamu lebih hati-hati.”

Rick menggertakkan gigi. “Siapa kau?” tanyanya cepat, sebelum wanita itu terus bicara seperti popcorn yang baru matang, terus meletup tanpa berhenti.

Wanita itu tidak menjawab namanya.

Ia malah memberi pertanyaan yang membuat Rick merasa telanjang:

“Kalau kamu Rank A atau S… coba tebak. Ada berapa orang di dalam kafe ini tanpa menengok?”

Rick membeku.

Ia pernah membaca teknik itu di buku Mercer, pemetaan ruangan. Tapi Rick belum pernah melakukannya dengan serius di lapangan. Mercer melatihnya banyak hal, tapi itu… itu seperti level berikutnya.

Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang bukan ramah, tapi seperti menguji.

Ia mulai menyebutkan tanpa menoleh:

“Ada dua belas orang, dan dua petugas kafe.”

Rick menelan ludah.

Wanita itu melanjutkan, suaranya tetap datar, seolah membaca daftar belanja:

“Sudut kanan: tiga wanita heboh pamer kekayaan.”

“Tengah: pria eksentrik baca koran.”

“Dua pria di meja berbeda: fokus HP dan pekerjaan.”

“Sudut kiri pojok: dua anak muda kasmaran.”

“Dan… kamu dan aku.”

Rick merasakan dingin menjalar di punggung.

Detailnya terlalu rapi untuk tebakan.

Ini bukan orang sok pintar.

Ini orang yang hidup dengan cara itu.

Wanita itu akhirnya berdiri. Ia merapikan mantelnya seperti tidak pernah duduk.

Ia berkata pelan, kali ini suaranya sedikit lebih tajam, bukan ancaman langsung, tapi peringatan yang halus:

“Apa pun code name kamu, kamu masih mentah.”

Rick menegang, tapi menahan diri agar tidak bergerak gegabah.

Wanita itu mencondongkan kepala sedikit, seolah memastikan Rick mendengar.

“Jangan sekali-kali kita berbenturan,” katanya. “Atau kamu akan menyesal.”

Lalu wanita itu pergi.

Begitu saja.

Tidak ada nama.

Tidak ada kartu.

Tidak ada nomor.

Tidak ada jawaban.

Ia menghilang di antara orang-orang kafe seperti asap yang menolak ditangkap.

Rick duduk kaku beberapa detik, otaknya bekerja liar.

Ia memproses cepat:

Wanita itu mengenal namanya: Fred Tucker.“Hampir lima tahun” berarti ia sudah memperhatikan sejak sebelum Rick jadi Paper penuh.Wanita itu tidak tahu code name Rick—berarti aksesnya berbeda dari jaringan Mercer Café.Tapi dugaannya tepat: Rank A, target Robert Ng.Wanita itu pro, dan baru hari ini ia “mengonfirmasi” Rick sebagai assassin karena Rick melakukan kesalahan: terlalu terlihat memantau.Wanita itu juga tidak membunuh Rick… padahal kalau dia rival, menyingkirkan Rick adalah solusi cepat.Rick menelan ludah, lalu satu memori mencuat seperti kilat:

Pesan lama.

“JANGAN SENDIRI.”

Empat tahun lalu. Hampir lima tahun.

Saat ia menemukan “orang tuanya” tergantung, saat dunianya retak.

Rick berdiri tiba-tiba. Kursinya berdecit.

Ia berlari keluar kafe, menabrak udara panas lembap Singapura, matanya menyapu trotoar, mencari bayangan wanita itu.

Tidak ada.

Wanita itu sudah hilang.

Seperti dia tidak pernah ada.

Rick berdiri di pinggir jalan, napasnya berat. Ia mengepalkan tangan.

Kalau mereka punya kepentingan yang sama—Robert Ng—maka wanita itu juga assassin.

Tapi kenapa dia tidak membunuh Rick?

Apakah dia meremehkan?

Atau… apakah dia butuh Rick hidup untuk sesuatu?

Atau lebih buruk: apakah dia sedang memandu Rick menuju sesuatu yang sudah diatur?

Rick menutup mata sebentar.

Ia sadar satu hal yang membuat tenggorokannya kering:

Jika harus adu kekuatan dalam perebutan Robert Ng… maka hasilnya akan jelas.

Salah satu akan kalah.

Dan yang kalah akan jadi berita singkat, atau bahkan tidak jadi berita sama sekali.

Rick berjalan pulang ke apartemen, tidak lagi memikirkan gedung Arthhone.

Ia memikirkan wanita itu.

Ia memikirkan pesan “Jangan sendiri.”

Dan ia memikirkan pertanyaan yang paling menyakitkan:

Hari ini, siapa sebenarnya yang sedang memburu siapa?

Di kamar, Rick duduk di tepi ranjang, menatap map Rank A yang masih terbuka.

Nama Robert Ng di atas kertas kini tidak terasa seperti target.

Ia terasa seperti umpan.

Dan di balik umpan itu, ada dua nama dalam kepalanya yang saling bertabrakan:

Rick Nolan… atau Fred Tucker.

Yang mana yang akan bertahan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!