Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Beberapa saat kemudian, Jessica bersama kedua kakaknya meninggalkan kantor pengacara.
“Jessica… kapan kau akan pulang bersama kami?” tanya Catty hati-hati.
Jessica tetap berjalan, pandangannya lurus ke depan.
“Jessica,” Nico ikut berbicara, suaranya lebih tegas namun penuh kekhawatiran. “Papa dan mama sudah tidak ada. Kita bertiga… jangan sampai terpisah.”
Ia berhenti sejenak.
“Kau bisa datang bekerja di perusahaan. Kita jalani bersama.”
Jessica akhirnya berhenti melangkah.
Ia berbalik perlahan.
“Tidak perlu,” jawabnya singkat.
Catty terdiam.
“Aku tidak suka berbisnis,” lanjut Jessica tenang. “Aku lebih suka hidup dengan bebas. Dunia perusahaan… tidak cocok untukku.”
Ia menarik napas pelan. “Aku akan tinggal di apartemenku dulu.”
Catty menggigit bibirnya. “Jessica… apa kau masih menyalahkan kami?” tanyanya lirih. “Saat kau menjadi tersangka… kami tidak percaya padamu…”
Nico menunduk.“Jessica, kami akui itu kesalahan kami,” ucapnya berat. “Dan kami akan menebusnya.”
Jessica menatap mereka berdua. Tatapannya tidak marah. Tidak juga hangat.
Hanya… tenang.
“Bukan karena itu,” jawabnya pelan.
Ia menggeleng sedikit.
“Aku hanya ingin hidup seperti orang lain… tanpa tekanan dari mana pun.”
Suaranya melembut, namun terasa dalam.
“Selama ini… papa dan mama hanya hidup untuk perusahaan,” lanjutnya. “Mereka bahkan tidak pernah benar-benar hidup untuk diri sendiri.”
Ia menunduk sejenak.
“Aku tidak ingin seperti mereka.”
Jessica kembali mengangkat pandangannya. “Aku ingin menjalani hidupku sendiri,” ucapnya.
“Jadi… biarkan aku memilih jalanku sendiri.”
Hening.
Tidak ada yang bisa membantah.
Karena untuk pertama kalinya—
Jessica tidak berbicara sebagai anak keluarga Zhou…melainkan sebagai dirinya sendiri.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua kakaknya, Jessica berbalik dan melangkah pergi.
Langkahnya semakin jauh tanpa pernah menoleh lagi.
Nico dan Catty hanya bisa berdiri diam di tempat.
Tidak ada yang berani menghentikannya.
Karena mereka tahu mereka telah kehilangan sesuatu yang tidak mudah diperbaiki.
Di sisi lain, Jessica terus berjalan. Wajahnya tetap tenang. Namun di dalam hatinya semuanya bergejolak.
“Di saat aku dituduh menjadi pembunuh oleh semua orang… kalian adalah orang yang menginginkan aku dihukum…” batinnya lirih.
Langkahnya sedikit melambat.
“Kalian bahkan tidak memberiku kesempatan untuk bicara…”
Matanya mulai memerah.
Namun ia tetap menahan air matanya.
“Walau kita sedarah… tapi saat sesuatu terjadi padaku… baru saat itu aku melihat siapa kalian sebenarnya…”
Ia menarik napas panjang.
Berusaha tetap kuat.
“Pa… Ma…” bisiknya dalam hati.
Langkahnya kembali terhenti sejenak. “Maafkan aku… aku bukan anak yang berbakti…”
Air mata akhirnya jatuh perlahan.
“Aku tidak ingin tinggal bersama kakak… tidak ingin masuk ke perusahaan…”
Tangannya mengepal pelan.
“Aku hanya ingin memilih jalanku sendiri…”
Angin berhembus pelan.
Membawa kesunyian yang menyakitkan.
“Aku merindukan kalian…”
Jessica kembali melangkah.
Sendiri.
Tanpa siapa pun di sisinya.
Namun kali ini meski hatinya penuh luka ia tetap berjalan ke depan.
Karena hanya itu satu-satunya pilihan yang ia miliki.
***
Beberapa saat kemudian, Jessica tiba di apartemen pribadinya.
Ia membuka pintu perlahan.
Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi.
Jessica melangkah masuk dengan wajah lesu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Tatapannya kosong menatap langit-langit.
Namun pikirannya dipenuhi kenangan.
“Jessica… setelah dewasa, kau harus menikah dengan pria yang kau cintai… dan hidup bahagia,” suara lembut ibunya terngiang.
“Papa dan mama tidak akan menjodohkanmu dengan siapa pun,” suara ayahnya menyusul. “Kau berhak memilih… demi kebahagiaanmu.”
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
“Pa… Ma…” bisiknya lirih. “Aku merindukan kalian…”
Suasana semakin terasa sesak.
Beberapa saat ia hanya diam.
Membiarkan kesedihan itu mengalir.
Namun perlahan tatapannya berubah. Tidak lagi kosong.
Jessica menegakkan tubuhnya.
Menghapus air matanya.
“Aku tidak bisa diam saja…” gumamnya pelan.
Ia menatap ke depan dengan sorot mata yang mulai tegas.
“Aku harus mengingat semuanya… aku akan kembali ke rumah tempat kejadian itu…”
“Ini satu-satunya cara… untuk menemukan kebenaran.”
Jessica berdiri.
Sendiri di dalam apartemen yang sunyi.
Namun kali ini—
ia tidak lagi terlihat rapuh.
Melainkan seseorang yang siap menghadapi masa lalunya sendiri.
***
Di sisi lain, JJ Zhou akhirnya dibebaskan—sesuai rencana Adrian Li.
Pria itu berjalan cepat, nyaris berlari, menuju terminal bus. Ia berdiri di sana, matanya terus mengawasi sekitar dengan gelisah.
“Tanpa bukti… kalian tidak bisa berbuat apa-apa,” gumamnya sinis. “Hakim Li… sehebat apa pun dirimu, kau tetap tidak berguna tanpa saksi dan bukti.”
“Jessica…” bisiknya pelan.
Sorot matanya berubah tajam.
“Dia adalah saksi kunci.”
Tangannya mengepal.
“Aku harus menemukannya… dan membungkam mulutnya. Setelah itu… aku akan pergi ke luar negeri,” lanjutnya lirih. “Hakim Li… membebaskanku adalah kesalahan terbesarmu.”
Namun tanpa disadari JJ, sebuah mobil hitam telah mengikutinya sejak tadi.
Di dalam mobil itu, Adrian duduk dengan wajah tenang, matanya tajam mengawasi setiap gerakan JJ.
Di sisi lain, Max juga berada di mobil berbeda.
Ia memegang alat komunikasi.
“Menurutmu dia akan pergi ke mana?” tanya Max.
Adrian menatap lurus ke depan.
“Tatapannya penuh kebencian… tapi dia merasa sudah bebas,” jawabnya tenang. “Dan aku yakin satu hal—dia akan mencari Jessica.”
Max menyipitkan mata.
“Menghapus saksi mata.”
“Benar,” jawab Adrian singkat. “Jika dia bertindak, kita bisa langsung menjeratnya dengan percobaan pembunuhan atau pembunuhan berencana.”
Max menghela napas pelan.
“Bukankah gadis itu dalam bahaya?”
Adrian tetap tenang.
“Kirim rekanmu untuk melindunginya,” ujarnya. “Kalau tebakanku benar… saat ini JJ Zhou akan menuju lokasi kejadian.”
Ia berhenti sejenak.
“Untuk menghapus semua bukti.”