andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
ekarang aku mengetahui banyak hal tentang teror ini, bahkan cukup detail untuk ukuran seseorang yang seharusnya tidak tahu apa apa. Semua kepingan informasi itu tersusun perlahan di kepalaku, membentuk gambaran yang utuh sekaligus menakutkan.
Eksekutor teror ini bukan orang sembarangan. Mereka adalah pembunuh bayaran kelas dunia. Setiap gerakan mereka rapi, senyap, dan presisi. Tidak ada langkah yang terburu buru, tidak ada jejak yang tertinggal. Seolah mereka sudah memetakan dunia ini jauh sebelum orang lain menyadari bahayanya.
User memberi perintah pembunuhan melalui sebuah aplikasi bernama Memento. Aplikasi itu jelas tidak ada di Google Play Store. Mustahil diakses oleh orang awam. Sepertinya ia beroperasi melalui jalur yang lebih gelap, mungkin deep web, wilayah internet yang selama ini hanya kudengar namanya. Internet yang kukenal selama ini ternyata hanya permukaannya saja.
Setiap order berisi data lengkap, waktu eksekusi, dan nilai bayaran. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Para pembunuh bayaran itu bergerak seperti mesin, tetapi tetap dengan naluri manusia yang terlatih. Tidak ada sistem keamanan yang benar benar mampu menahan mereka.
Pria kecil yang dipanggil Master menjadi teka teki tersendiri. Tingginya bahkan tidak sampai satu meter, tetapi ia mampu melompati pagar setinggi lima meter dengan mudah. Aku ingin menyangkalnya, tetapi apa yang kulihat tidak masuk akal jika hanya dijelaskan dengan kekuatan fisik. Ia seperti menguasai ilmu kuno, entah apa namanya. Mungkin semacam sihir, atau teknik yang sudah lama hilang dari catatan manusia modern.
Si Bisu berperan sebagai pengendali teknologi. Ia mampu memutus jaringan internet dan listrik tanpa kesulitan berarti. Sabotase yang dilakukannya rapi, seolah sistem itu memang disiapkan untuk runtuh hanya dengan satu sentuhan.
Black adalah pengemudi yang luar biasa. Ia bukan sekadar sopir. Ia hafal jalan, hafal ritme kota, dan hafal waktu. Selama berada di kendaraan, aku tidak pernah melihatnya menggunakan peta digital atau aplikasi penunjuk arah. Ia mengemudi dengan keyakinan penuh, seakan jalan jalan itu sudah tertanam di kepalanya sejak lama.
Dua pria raksasa yang lain, meski bertubuh lebih dari dua meter dengan badan besar, bergerak sangat lincah. Tidak ada kesan berat atau canggung. Saat mereka bergerak, semuanya terasa ringan dan efisien.
Keempat orang ini hanyalah sebagian kecil dari jaringan besar pembunuh bayaran yang menyebarkan teror 172. Dengan fakta seperti itu, satu kesimpulan menjadi sangat jelas bagiku. Ini bukan ulah Nirmala.
Nirmala hanyalah seorang anak berusia tujuh belas tahun. Latar belakangnya pun sederhana. Anak dari seorang pekerja seks komersial. Sehebat apa pun ia berlatih, mustahil ia mampu menciptakan skema sebesar dan serumit ini. Gua di Purwakarta yang disebut sebut sebagai markas Nirmala bagiku hanyalah pengalihan.
Lalu siapa Piter. Nama itu kembali muncul di kepalaku. Apakah benar ada legenda tentara bayaran berkeliaran di negeri ini. Beberapa artikel yang pernah kubaca menyebutkan bahwa Piter tewas dalam sebuah ledakan di Afghanistan.
Kesimpulanku semakin menguat. Pelakunya bukan Nirmala.
Jika Nirmala memiliki kekuatan sebesar ini, seharusnya ia menyelamatkan ibunya. Merawatnya, melindunginya. Namun kenyataannya, ibunya masih terkurung di rumah sakit jiwa. Dari cerita yang kudengar, Nirmala sangat menyayangi ibunya. Bukankah ia bersekolah di SMP Nusantara Global demi masa depan yang lebih baik, demi menghentikan ibunya dari pekerjaan kelam itu.
Namun fakta tetap fakta. Semua korban memang memiliki hubungan dengan Nirmala.
Jika bukan Nirmala, lalu siapa.
, Lampu di dalam mobil kembali menyala. Mesin bergetar pelan, lalu van itu kembali melaju menembus malam yang semakin pekat. Aku masih duduk di bangku tengah, diapit oleh para pembunuh bayaran dan pikiranku yang kian kalut. Setiap detik terasa panjang, seolah waktu sengaja melambat untuk menguji kewarasanku.
Kota tampak sepi. Hujan turun rintik rintik, membasahi kaca dan jalanan yang lengang. Sesekali kami melewati kendaraan lain, tetapi jumlahnya sedikit. Di salah satu persimpangan, sebuah papan iklan digital menampilkan wajah wajah para korban. Lebih dari tiga puluh orang, seingatku, tewas dalam waktu kurang dari sepekan. Wajah mereka berganti bergantian, disertai tulisan singkat yang dingin. Pemandangan itu benar benar mencekam.
Semua ini terjadi karena tidak ada yang jujur mendalami kasus Nirmala. Sejak awal, penyelidikan dipaksakan ke satu arah. Padahal Nirmala sama sekali tidak masuk akal untuk dijadikan pelaku. Ia hanya seorang remaja dengan luka masa lalu, bukan otak di balik teror internasional.
Ibu Lusi, ibu Nirmala, lebih tidak masuk akal lagi. Perempuan itu bahkan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Pak Romi pun demikian. Sebenci apa pun dia terhadap dunia, rasanya mustahil ia melakukan kejahatan sebesar ini.
Lalu ada soal uang. Satu nyawa dibayar dua hingga lima miliar rupiah. Artinya, ratusan miliar sudah mengalir keluar. Pelaku jelas sangat kaya. Setiap langkah yang diambil petugas keamanan selalu terbaca lebih dulu, seolah ada mata yang terus mengawasi dari tempat yang tak terjangkau.
Dan aku harus berbuat apa. Aku sendiri sudah dijadikan tersangka. Haruskah aku masih peduli. Peduli untuk apa, jika pada akhirnya aku hanya akan disalahkan.
Gumaman pelan terdengar dari si Bisu.
“Ada apa, Bisu?” tanya si Master.
Si Bisu mengulurkan tablet ke depan. Tangannya melewati bahuku, membuatku refleks menegang. Si Master menatap layar tablet itu beberapa detik.
“Sultan ingin ini secepatnya diselesaikan,” gumam si Master.
“Ah, menarik sekali. Kita sudah dapat puluhan miliar. Aku ingin segera pergi dari sini,” ucap Black sambil tersenyum tipis.
“Ya, aku juga bosan di sini. Perempuannya tidak ada yang menarik,” sahut salah satu pria besar.
Sultan.
Nama itu menggantung di kepalaku. Siapa Sultan. Apakah dia pelaku sesungguhnya. Ingatanku melayang pada seorang anak lelaki yang dulu pernah menjadi pelindung Nirmala. Ia berasal dari keluarga sultan di Timur Tengah. Mungkinkah ia memiliki hubungan dengan para pembunuh bayaran ini.
Untuk menciptakan teror sebesar ini, memang dibutuhkan seseorang dengan uang tak terbatas, akses ke dunia gelap, dan jejaring lintas negara. Anak lelaki itu memenuhi kriteria tersebut.
Namun ia masih seusia Nirmala, sekitar tujuh belas tahun. Apakah mungkin seorang remaja mampu mengatur teror yang begitu sistematis dan mematikan.
Tiba tiba tengkukku dipegang. Sebelum sempat bereaksi, kesadaranku menghilang begitu saja.
Perlahan pandanganku kembali terang. Cahaya lampu neon menusuk mata, membuatku meringis. Kepalaku terasa berat dan berdenyut, sementara tenggorokanku kering seperti terbakar. Aku berniat memijat pelipis, tetapi rasa nyeri menjalar dari pergelangan tangan. Saat kulihat, tanganku ternyata terpasang infus.
Aku berada di sebuah rumah sakit. Dari selimut yang menutup tubuhku, terbaca jelas tulisan Rumah Sakit Polri. Dadaku berdesir. Apakah aku sudah kembali ke markasku. Apakah aku dikembalikan begitu saja oleh para pembunuh bayaran itu.
Untuk apa semua ini dilakukan.
“Ayah sudah bangun,” ujar seseorang sambil menggoyangkan tanganku pelan.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Pandanganku masih remang remang.
“Dika, kenapa kamu di sini?” tanyaku lirih.
Saat mataku mulai menyesuaikan cahaya, aku melihat sosok Ratna berdiri tidak jauh darinya.