Widowati perempuan cantik yang baru saja melahirkan bayinya yang mati. Langsung dicerai oleh Aditya suaminya, karena dianggap tidak bisa menjaga bayi yang sudah dinanti nantinya.
Widowati akhirnya memilih hidup mandiri dengan mengontrak rumah kecil di pinggir sungai, yang konon kabar beritanya banyak makluk makluk gaib di sepanjang sungai itu.
Di suatu hari, di rumah kontrakannya didapati dua bayi merah. Bayi Bayi itu ukuran nya lebih besar dari bayi bayi normal. Bulu bulu di tubuh bayi bayi itu pun lebih lebat dari bayi bayi pada umumnya.
Dan yang lebih mengherankan bayi bayi itu kadang kadang menghilang tidak kasat mata.
Bayi bayi siapa itu? Apakah bayi bayi itu akan membantu Widowati atau menambah masalah Widowati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29.
Petugas keamanan dan petugas hotel tampak masih sibuk memadamkan bara api di kepala Mintarsih dan Nyi Ratu. Juga menertibkan para tamu yang berebut keluar dari pintu ballroom.
Sedang Langit dan Lintang tampak mengerucutkan lagi bibir mungil mereka berdua. Mengeluarkan udara dari mulut mereka. Meniup dua cunduk mentul yang melayang ke udara.
Dua cunduk mentul yang masih membara itu kembali berbalik arah. Satu cunduk mentul ke arah Nyi Ratu yang rambut nya sudah terbakar, kini basah kuyup karena disiram satu galon soft drink dingin oleh petugas hotel.
Satu cunduk mentul lainnya, melayang ke arah mempelai pria.
“Hah! Kenapa malah menuju ke sini?” teriak Aditya dan melangkah mundur lalu ke samping berdiri di belakang Erina.
Kedua tangan Aditya memegang kedua lengan Erina sambil menundukkan kepalanya.
“Mas kenapa malah di belakang ku? Itu cunduk mentul menuju ke sini!” teriak Erina berlari menuju ke Mintarsih yang rambut dan bajunya juga tampak basah kuyup karena disiram bergalon galon minuman oleh petugas hotel. Mereka semua sangat panik jadi mengambil begitu saja benda cair yang bisa disiramkan pada kepala Mintarsih dan Nyi Ratu.
Nyi Ratu tampak sangat marah. Dia kembali mengeluarkan energinya untuk membalikkan arah cunduk mentul ke arah dua bocil itu.
“Hah kesabaran ku sudah habis pada dua bayi itu! Aku mulai sedikit saja tubuh mereka agar tidak membuat ulah lagi!” teriak Nyi Ratu sambil mengulurkan kedua tangannya untuk mengeluarkan energi dalamnya.
Satu tangan terarah ke cunduk mentul yang melayang ke arahnya. Dan satu tangan ke arah cunduk mentul yang melayang menuju ke Aditya yang berlarian bersama Erina.
Akan tetapi di saat tenaga dalam Nyi Ratu sudah mengenai ke dua cunduk mentul itu..
Dua cunduk mentul itu, tidak berbalik arah seperti kemauannya. Akan tetapi malah berputar putar dan naik ke atas menuju plafon ball room, yang lumayan tinggi.
Petugas hotel tampak semakin panik..
“Hah, api itu naik ke plafon bisa terjadi kebakaran besar apalagi kalau mengenai kabel listrik!” teriak salah satu petugas hotel.
Orang orang yang masih berjubel di depan pintu ball room pun semakin panik.
Wido wati yang masih menggendong Langit ikut antre keluar dari pintu. Ikut menoleh ke arah cunduk mentul yang melayang naik ke atap ball room..
“Kalian semua lihat, masalah muncul karena cunduk mentul itu! Tangkap pemilik cunduk mentul itu!” Teriak Widowati dengan suara sangat lantang.
“Benar itu!” teriak orang orang membenarkan omongan Widowati.
“Iya benar, gara gara kedatangan pemilik cunduk mentul itu pesta jadi kacau!” teriak seorang perempuan yang tidak lain adalah Adisty saudara satu Trah dengan Widowati dan Retno.
“Iya cepat tangkap orang itu!” teriak Pak Sigit yang menggendong Lintang sambil memapah istrinya yang agak kesulitan berjalan.
Aditya tampak menoleh ke arah Nyi Ratu yang masih mendongak menatap cunduk mentul nya. Dari ekspresi wajah Aditya dia membenarkan pendapat para tamunya.
Mintarsih yang basah kuyup tubuhnya tidak rela jika Nyi Ratu junjungannya ditangkap oleh petugas keamanan hotel. Dia berteriak lebih lantang dari Pak Sigit dan Widowati.
“Dia tamu kehormatan ku. Jangan tangkap!”
Namun beberapa petugas keamanan hotel tetap berlari ke arah Nyi Ratu yang tampak terlihat bingung. Dengan mulutnya yang komat kamit merapalkan mantera mentera.
Nyi Ratu lalu menengadah melihat dua cunduk mentul yang terus melayang layang di dekat plafon ball room yang lumayan tinggi itu. Dua cunduk mentul yang masih membara itu tampak berputar putar bagai menggoda Nyi Ratu saja.
“Itu senjata ku kenapa malah bisa naik di situ. Sudah yang satu hangus yang dua kenapa malah di situ berputar putar.” Gumam Nyi Ratu tampak bingung dan kesal.
“Aku sudah merapalkan mantra mantra agar balik ke aku kenapa tetap tidak bisa kembali.” Gumam Nya Ratu di dalam hati sambil masih terus menatap cunduk mentul nya yang masih melayang layang.
“Mana orang orang itu akan menangkap aku. Biar saja tiga senjata ku hilang. Besok minta lagi pada Bendoro Gusti. Sekarang aku harus lari meloloskan diri. Kalau aku ditangkap pasti ditanya macam macam, tentang pembunuhan, pelecehan dan penyekapan...” Gumam Nyi Ratu di dalam hati sambil siap siap berlari memakai ajian langkah ular bersayap ber kaki seribu nya..
Akan tetapi Nyi Ratu tampak kaget saat kakinya begitu terasa berat. Dan tidak bisa digerakkan sedikit pun..
“Hah! Kenapa otot otot ku terasa kaku, kakiku tidak bisa digerakkan?” gumam Nya Ratu di dalam hati masih berusaha untuk menggerakkan kedua kakinya. Namun sia sia kaki Nyi Ratu tetap tidak bisa digerakkan.
Semacam ada dua tangan yang besar dan sangat kuat mencengkeram ke dua kaki Nyi Ratu.
Dan memang ada dua tangan besar memegang kedua kaki Nyi Ratu dengan sangat kuat. Akan tetapi tangan dan pemilik tangan itu dalam mode tidak terlihat oleh semua orang. Hanya Langit dan Lintang anak nya tercinta yang bisa melihat.
Dua bocil yang masih digendong itu tertawa dengan imutnya..
“Hi... Hi... Hi... lacain kamu nenek cihil kamu tidak bica belali hi.... Hi... Hi... Hi... “ suara imut Lintang sambil tertawa kecil bahagia .
“Dan lacain cekayang pembalatan ku nenek cihil tuwek tuyuk tuyuk...” suara imut Langit dengan sangat lantang sambil mengulurkan tangannya ke arah dua cunduk mentul yang masih melayang layang.
Dua cunduk mentul itu pun langsung melayang turun ke bawah dan terus terbang ke arah Nyi Ratu, yang sudah ditangkap oleh Pak Satpam. Meskipun masih meronta ronta melawan sekuat tenaga.
Namun tiba tiba..
JLEP
Dua cunduk mentul yang masih membara itu kembali menancap di kepala Nyi Ratu. Namun kini dia cunduk mentul itu tidak membakar rambut Nyi Ratu yang sudah tidak lagi teratur wujudnya.
“Aaaawwwwww..” teriak Nyi Ratu sangat keras dan menyayat hati.
Dalam seketika itu juga tubuh Nyi Ratu dalam wujud yang asli bisa dilihat oleh semua orang. Semua orang membulat kedua matanya.
“Hah, benar itu Wid, dia sudah tua renta, kulit keriput dan tubuh bungkuk..” gumam Retno yang melihat sosok asli Nya Ratu dengan kedua matanya.
Wajah keriput Nyi Ratu menoleh ke arah dua bocil itu..
“Aku tidak telima.. Akan aku lapolkan kamu beldua pada Bendolo Gusti.. “ suara Nyi Ratu yang menjadi celat karena semua giginya sudah ompong. Nyi Ratu pun tidak bisa bicara dengan keras lagi..
Kapokk hancur lebur acaranya
ternyata ilmunya blm seberpaa mkne masih kalah sm om wowo
secara om wowo mah lg tmpil mode gamteng maksimal atuhh 😍😍😍
coba mode 👻👻👻
ngacir dehhh