Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Dia
Bima tentu tahu siapa yang dimaksud dengan kata "dia" oleh bosnya. Siapa lagi kalau bukan Aluna?
Bima tiba-tiba teringat sesuatu lalu bertanya dengan hati-hati, "Tuan Gavin, Anda... tidak memberi tahu Nona Aluna soal biaya kompensasi donor ayahnya?"
"Dia tidak perlu tahu."
"Tapi kalau Anda tidak mengatakannya, bagaimana dia bisa tahu isi hati Anda yang sebenarnya?" Melihat Gavin bertingkah begitu kaku, Bima ikut gemas. Gavin sudah berkorban begitu banyak, tetapi selalu memilih diam. Bagaimana Aluna bisa tahu ketulusannya?
"Dia hanya perlu melahirkan anak kami dengan selamat dan tetap tinggal di sisiku." Wajah Gavin kembali datar tanpa ekspresi.
Bima hanya bisa terdiam sambil menggelengkan kepala melihat bosnya. Pria ber-IQ tinggi dan disegani banyak orang ini kalau sudah menyangkut Aluna ternyata berubah menjadi pria yang sangat keras kepala.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Bima sembari melangkah keluar dari ruangan kerja.
Namun, tepat sebelum menutup pintu, Bima menahan daun pintu, berbalik, dan berkata dengan sedikit lantang, "Sekadar informasi, Tuan. Saya baru saja kembali dari rumah sakit. Kondisi fisik Nona Aluna sangat lemah, dia bahkan hampir pingsan tadi. Saya rasa Anda sebaiknya—"
Wusss!
Bima belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika sesosok tubuh bergerak cepat melesat di depan matanya. Detik berikutnya, Bima sudah terdorong keras ke dinding koridor oleh Gavin. Saat Bima berhasil menguasai diri, sosok Gavin sudah menghilang dari pandangan.
"Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk datang dan menunjukkan perhatianmu," gumam Bima sembari tersenyum geli, akhirnya menyelesaikan kalimat yang sempat terpotong tadi.
Ketika Gavin tiba di lorong rumah sakit, ia mendapati Aluna sedang duduk menyandar di bangku besi koridor yang dingin. Tubuhnya hanya dibalut selembar selimut tipis pada bagian bahu. Karena Bu Utami sedang pulang ke rumah untuk membuatkan sup, saat ini hanya ada Rendra yang duduk berjaga di sampingnya.
Sepasang mata Gavin menyipit tajam. Langkah kakinya bergerak cepat dan penuh emosi, lalu tanpa basa-basi ia langsung menarik lengan Rendra agar menjauh dari kursi tunggu tersebut.
Gerakan mendadak itu membuat Rendra kehilangan keseimbangan. Emosinya spontan terpancing dan ia berteriak gusar, "Siapa yang kasar begini?!"
Namun, kemarahan Rendra langsung surut ketika ia mendongak dan membentur tatapan mata Gavin yang sedingin es. Rendra seketika ciut dan buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyuman canggung. "Eh, ternyata Tuan Gavin! Saya kira siapa tadi. Maaf, ini hanya salah paham."
"Kamu pulang dan istirahatlah sekarang. Aku yang akan menjaganya di sini," perintah Gavin. Karena mereka sudah saling mengenal sejak kecil, Gavin masih menggunakan intonasi yang relatif sopan kepada Rendra.
Rendra sempat melirik adiknya dengan cemas. Namun, begitu melihat sorot mata Gavin yang melembut saat memandangi Aluna, ia merasa lega lalu segera melangkah pergi meninggalkan area rumah sakit.
Larut malam.
Suasana koridor VIP terasa sangat sunyi, hanya menyisakan bunyi dengung samar dari lampu indikator ruang operasi.
Gavin merasa sangat iba melihat wajah Aluna yang tampak pucat pasi di dalam tidurnya. Ia melepas jas peraknya, menyelimutkannya ke tubuh Aluna, lalu merangkul gadis itu ke dalam pelukannya untuk membagikan kehangatan tubuhnya sendiri. Sepanjang sisa malam itu, mereka berdua melewati waktu dalam posisi saling mendekap.
Pagi-pagi sekali.
Aluna yang masih setengah sadar perlahan mulai terbangun. Ia segera menyadari bahwa sekujur tubuhnya dikelilingi oleh hawa hangat yang nyaman. Sepasang tangan berukuran besar tampak diletakkan di atas permukaan perutnya yang membuncit, terus-menerus menyalurkan kehangatan.
Sensasi nyaman itu membuat Aluna tanpa sadar meloloskan erangan kecil yang lemah. "Eungh..."
Gavin tidak merasa terganggu sama sekali meski waktu tidurnya terusik. Ia hanya menundukkan kepala, menatap Aluna dengan lekat. Gurat wajahnya yang semula sedingin es kini mencair, digantikan oleh binar mata yang penuh kelembutan. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Aluna, menikmati momen kedekatan mereka. Gavin merasa sangat puas, dan sebuah senyuman mulai terukir di sudut bibirnya.
Sampai akhirnya, dua patah kata lolos dari bibir Aluna.
"Adrian... Kak..."
Aluna yang masih berada di bawah alam sadarnya secara refleks menggumamkan nama cinta pertamanya.
Senyuman di wajah Gavin seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi yang berubah menjadi sangat muram. Ia mengeraskan hatinya, lalu mengguncang bahu Aluna dengan kasar untuk membangunkannya secara paksa.
Begitu Aluna membuka sepasang matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Gavin yang sedang menatapnya dengan kilat amarah yang meluap-luap, seolah siap meledak saat itu juga. Aluna tersentak kaget. "Kamu... sejak kapan kamu ada di sini?"
Gavin mengangkat tangannya, mencengkeram dagu Aluna dengan kuat sembari mencibir dengan dingin. "Hah, kamu masih berani bertanya? Jika aku tidak datang dan berjaga di sini semalaman, apa kamu berniat memanggil pria itu untuk menemuimu di rumah sakit ini?"
Aluna benar-benar kebingungan mendengarkan tuduhan sepihak tersebut. Ia merasa kalimat Gavin sama sekali tidak masuk akal. Karena kondisi fisiknya juga sedang lelah, Aluna ikut tersulut emosi dan membalas dengan ketus, "Gavin, sebenarnya ada apa lagi denganmu?! Jika ada masalah, katakan saja dengan jelas, jangan terus-menerus menyindirku dengan kalimat kasar seperti itu!"
"Apa kamu sampai detik ini masih memikirkan pria sialan itu?!"
"Apa maksudmu?"
"Adrian!" desis Gavin rapat melalui giginya yang bergeletuk. Sepasang matanya memerah padam menahan amarah yang luar biasa. Jauh di lubuk hatinya, ego terasa sangat terluka. Namun, karena obsesi dan cintanya yang terlalu dalam pada Aluna, ia tetap tidak tega untuk melakukan tindakan kekerasan fisik lebih jauh pada gadis ini.
Melihat reaksi ekstrem Gavin, Aluna seketika menyadari bahwa dirinya pasti telah salah bicara atau mengigau saat tidur tadi. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur, dan suaranya mendadak terbata-bata karena takut, "Aku... aku tidak sedang memikirkan dia. Itu pasti hanya manifestasi bunga tidur, semua ini hanya salah paham."
Meskipun Aluna berusaha keras untuk terlihat tenang di depan Gavin, gerakan jemarinya yang sedikit bergetar serta nada suaranya yang tidak stabil jelas menunjukkan bahwa ia sedang didera ketakutan. Bagaimanapun, amarah seorang Gavin Ramadhan adalah hal terakhir yang ingin ia hadapi.
"Salah paham, kamu bilang?!" Gavin menatap Aluna dengan pandangan menghujam, lalu mencengkeram lengan Aluna dengan erat. "Aku mendengar dengan telingaku sendiri kamu memanggil namanya berulang kali!"
Setelah melontarkan kalimat itu, Gavin tiba-tiba meloloskan tawa getir yang mencela kebodohan dirinya sendiri.
"Benar-benar lelucon yang menjijikkan! Aku semalaman ketakutan setengah mati memikirkanmu yang kedinginan di koridor ini, sampai-sampai aku memelukmu sepanjang malam tanpa memejamkan mata. Tapi ternyata, otakmu justru sibuk merindukan pria lain dan bibirmu terus memanggil namanya. Apa keberadaanku di matamu memang sama sekali tidak memiliki harga diri?!"
"Aluna! Katakan padaku, bagaimana lagi aku harus memperlakukanmu agar kamu bisa menghargaiku?! Untuk biaya operasi Ayahmu saja, aku bahkan sudah....."
Gavin berniat membeberkan fakta bahwa seluruh transaksi dan ketersediaan donor sumsum tulang belakang yang diterima ayahnya pagi ini adalah hasil dari dana kompensasi lima miliar yang ia bayar secara personal. Namun, begitu melihat mata Aluna yang tampak jernih dan ketakutan, rentetan kalimat tersebut mendadak tercekat di tenggorokannya.