"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 (Strategi dua Altar)
Ruang kerja utama CEO di lantai teratas gedung Raharja Group pagi itu dipenuhi oleh kepulan uap tipis dari aroma kopi arabika dan teh earl grey. Sinar matahari yang menembus dinding kaca besar menyinari meja rapat oval yang kini dikelilingi oleh lima orang inti dari dinasti korporasi tersebut.
Mike Raharja duduk di kursi kebesarannya dengan setelan jas abu-abu gelap yang kancingnya dibiarkan terbuka. Di samping kanannya, Alvin duduk sembari sesekali menggenggam jemari Anita yang tampak anggun mengenakan kemeja sutra berwarna marun. Sementara di seberang meja, Kevin dan Marvel sudah siap dengan tablet digital dan beberapa berkas dokumen rencana pengamanan.
"Baik, mari kita mulai dari agenda pertama," Kevin membuka suara, mengetuk layar tabletnya untuk menampilkan peta tata letak sebuah kapel privat berkonsep *glass house* di kawasan perbukitan Bogor. "Pernikahan Alvin dan Anita akan digelar tepat satu bulan dari sekarang. Karena Anita meminta konsep yang sangat privat dan tertutup dari media, aku sudah mengoordinasikan tim keamanan untuk memblokade radius dua kilometer dari lokasi kapel dua puluh empat jam sebelum acara dimulai."
Marvel menopang dagunya, menambahkan dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Firma propertiku kebetulan mengelola area sekitar kapel itu, Vin. Jadi, aku sudah menempatkan beberapa unit mobil patroli samaran di sepanjang jalur akses utama. Tim humas kita juga sudah menyiapkan surat tuntutan hukum cepat jika ada oknum jurnalis atau orang-orang suruhan dari luar—termasuk dari pihak Surabaya—yang mencoba menyusup masuk untuk merusak suasana."
Alvin mengangguk mantap, gurat kelegaan dan rasa terima kasih yang besar terpancar dari wajahnya. "Terima kasih, Kev, Vel. Aku benar-benar menghargai ini. Aku hanya ingin Anita bisa mengucapkan janji suci dengan tenang tanpa perlu memikirkan jepretan kamera atau tatapan menghakimi dari orang-orang."
Anita tersenyum tipis, meremas pelan tangan Alvin sebelum menoleh menatap Mike. "Dan terima kasih juga untukmu, Mike. Aku tahu tim hukum perusahaanmu bekerja lembur untuk memastikan perpindahan hak suara saham dan kontrak masa lalu kita benar-benar terkunci rapi secara hukum pidana, sehingga tidak bisa digoreng lagi oleh siapa pun."
Mike hanya mengangguk pelan, wajahnya masih sedingin biasanya. "Itu sudah menjadi kewajibanku, Anita. Pernikahan kalian harus menjadi awal yang bersih bagi kalian berdua."
Mike terdiam sejenak, memutar-mutar pena montblanc miliknya di atas meja. Pandangan elangnya menyapu wajah Kevin dan Marvel secara bergantian, sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang—sebuah helaan napas yang sarat akan kekalahan ego yang mutlak di hadapan sang istri tercinta tadi pagi.
"Agenda kedua," suara bariton Mike merendah, namun setiap kata yang keluar terdengar begitu tegas. "Mengenai acara wisuda Alisha yang akan digelar dua bulan lagi di aula utama universitas."
Kevin seketika menghentikan jemarinya di atas layar tablet, sementara Marvel langsung menegakkan punggungnya dengan binar mata yang mendadak berkilat penuh kemenangan.
"Aku membatalkan perintahku tadi malam," ucap Mike, wajahnya tetap datar meskipun ada gurat salah tingkah yang amat halus di sekitar lehernya. "Alisha... akan tetap datang ke acara wisudanya secara langsung. Dia akan memakai toganya di atas panggung bersama sahabat-sahabatnya."
Mendengar kalimat itu, Kevin dan Marvel spontan saling lirik sebelum akhirnya senyuman penuh arti yang teramat lebar terukir di wajah kedua pria lajang itu. Marvel bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh rendah sembari melirik Kevin dengan kedipan mata yang seolah mengatakan, *'Lihat, kan? Perkataanku semalam terbukti seratus persen.'*
"Kenapa kalian tersenyum seperti itu?" tanya Mike dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi lebih dingin dan mengintimidasi, mencoba menutupi rasa gengsinya sebagai seorang tirani yang baru saja takluk oleh air mata istrinya.
"Tidak ada apa-apa, Tuan CEO," sahut Marvel dengan nada yang sengaja dibuat se-polos mungkin, meskipun bahunya bergetar menahan tawa. "Kami hanya sangat senang melihat bahwa logika korporatmu yang sekeras berlian itu ternyata bisa mencair dalam waktu kurang dari delapan jam hanya karena setitik air mata dari Nyonya Alisha."
Kevin ikut menimpali dengan wajah yang pura-pura serius. "Benar, Mike. Kami sangat mengagumi fleksibilitas kepemimpinanmu yang luar biasa ini. Tenang saja, draf pengamanan berlapis yang diusulkan Marvel semalam sudah mulai kupersiapkan. Kita akan menyewa satu batalion pengawal elite untuk menyamar di dalam aula kampus."
Anita yang sejak tadi menyimak interaksi mereka dengan dahi berkerut akhirnya menoleh ke arah Kevin. "Tunggu dulu. Kevin, apa maksudnya? Mike sempat melarang Alisha datang ke wisudanya sendiri?"
Kevin mengangguk, lalu menjelaskan secara singkat namun padat tentang firasat buruk Kakek Surya serta laporan kembalinya Rendy ke Jakarta yang membuat Mike sempat mengambil keputusan ekstrem untuk mengurung Alisha di dalam rumah demi keselamatannya.
Mendengar penjelasan tersebut, wajah Anita seketika berubah menjadi lebih serius. Sebagai seorang wanita kedewasaan yang pernah mendampingi Mike secara profesional selama empat tahun, ia tahu betul seberapa parah tingkat protektif dan obsesi seorang Mike Raharja jika sudah menyangkut hal yang berharga di hidupnya.
Anita melepaskan tangan Alvin, memajukan tubuhnya untuk menatap Mike lekat-lekat dari seberang meja.
"Mike, dengarkan aku sebagai seorang kakak perempuan," buka Anita, nadanya melembut namun sarat akan penekanan yang mendalam. "Aku tahu kamu sangat mencintai Alisha, dan aku sangat tahu seberapa besar ketakutanmu akan kehilangan setelah apa yang menimpa ayahmu di masa lalu. Tapi keputusanmu untuk melarangnya datang ke wisuda tadi malam... itu adalah sebuah kesalahan besar."
Mike menatap Anita, rahangnya sedikit mengetat namun ia memilih untuk mendengarkan.
"Alisha itu masih sangat muda, Mike. Dia baru berusia dua puluh satu tahun," lanjut Anita dengan wejangan yang teramat matang. "Masa mudanya baru saja dimulai, dan sebentar lagi... dia sudah harus mengorbankan sebagian besar waktu mudanya untuk sibuk dengan peran barunya sebagai seorang ibu yang mengurus anakmu. Dia akan terjebak dengan rutinitas popok, menyusui, dan tangisan bayi di rumah."
Anita menyandarkan punggungnya, menatap Mike dengan pandangan yang sarat akan empati. "Hari wisuda itu adalah satu-satunya puncak perayaan dari seluruh kerja keras masa mudanya yang bebas sebelum dia memasuki fase kedewasaan yang berat itu. Jika kamu merampas hari itu darinya hanya karena ketakutanmu, kamu tidak sedang melindunginya, Mike. Kamu sedang membunuh jiwanya secara perlahan."
"Jangan pernah membatasi ruang gerak dan impiannya, Mike," sambung Anita tegas. "Alisha bukan Anita yang tangguh dan terbiasa dengan lingkungan hukum yang kotor. Alisha adalah bunga yang tumbuh dengan ketulusan. Cukup jaga dia dari belakang, tebalkan dinding pengamanan di sekitarnya, berdiri di sampingnya sebagai perisai, tapi biarkan dia tetap terbang menikmati kebahagiaannya. Karena istri yang bahagia adalah pondasi terbaik untuk anak yang sedang dikandungnya saat ini."
Ruangan rapat itu seketika menjadi sangat sunyi. Kata-kata Anita mengalir begitu mendalam, menembus dinding pertahanan ego Mike yang paling dalam. Alvin menatap calon istrinya dengan pandangan yang semakin dipenuhi rasa kagum, sementara Kevin dan Marvel mengangguk setuju dengan wejangan berharga tersebut.
Mike terdiam cukup lama, menatap permukaan meja kaca di depannya. Di dalam hatinya, ia membenarkan setiap kalimat yang diucapkan Anita. Bayangan wajah Alisha yang menangis terisak di dadanya tadi pagi kembali melintas, menggoreskan rasa perih yang nyata di hatinya.
"Aku tahu," jawab Mike akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah dan sarat akan penerimaan yang tulus. "Itu sebabnya aku mengubah keputusanku. Aku tidak akan pernah membiarkan sangkar emas yang kubuat berubah menjadi penjara yang menyiksanya."
Mike menegakkan tubuhnya, menatap Kevin dengan ketegasan yang kembali utuh. "Kevin, jalankan rencana pengamanan berlapis dari Marvel. Pastikan tidak ada satu pun celah di aula universitas dua bulan lagi. Alisha akan tersenyum di atas panggung itu, dan aku sendiri yang akan berdiri di sana untuk memindahkan tali toganya."
"Tugas dilaksanakan, Mike," jawab Kevin mantap, sementara Marvel tersenyum puas.
Rapat koordinasi pagi itu pun berlanjut dengan penyusunan strategi yang jauh lebih matang. Di atas meja kerja yang penuh dengan rencana pengamanan dua acara besar—pernikahan Alvin-Anita dan wisuda Alisha—lingkaran inti Raharja Group kini telah bersiap. Badai baru mungkin sedang mengintai dari balik bayangan Rendy, namun di bawah kepemimpinan sang tirani yang kini telah melunakkan egonya demi cinta, mereka siap meruntuhkan siapa pun yang berani mengusik kebahagiaan sejati yang layak mereka pertahankan.