Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Sandiwara yang Manis
Ketegangan di ruang tengah yang tadinya hampir meledak oleh intimidasi Pak Juned mendadak buyar ketika suara ketukan pantofel yang teratur terdengar mendekat dari arah anak tangga. Linda berjalan turun dengan pembawaan yang sangat tenang, meskipun di dalam rongga dadanya, jantung sang dosen berdegup kencang akibat sisa rasa mual yang belum sepenuhnya hilang. Sebagai seorang akademisi yang cerdas, ia tahu betul jika Irmi runtuh di tangan ayahnya pagi ini, nama baiknya di lantai dua juga akan ikut terseret ke dalam selokan kompleks.
"Permisi, Bapak, Ibu," potong Linda, suaranya yang halus namun berwibawa langsung memecah dominasi Pak Juned di depan Irmi. Linda meraba ponsel di saku blus kerjanya, menampilkan layar aplikasi taksi daring yang sudah ia pesan sejak di atas. "Mbak Irmi mau ke toko sekarang? Kebetulan aku sudah pesan kendaraan daring untuk ke kampus. Mau bareng ke depan?"
Irmi menoleh cepat ke arah Linda, matanya memancarkan rasa terima kasih yang teramat sangat atas interupsi penyelamatan tersebut. Tubuhnya yang gemetar karena menahan paranoia kehamilan mendadak mendapatkan ruang untuk bernapas.
"B-boleh, Mbak Linda," jawab Irmi terbata-bata, lidahnya mendadak grogi melihat perubahan sikap sang dosen yang biasanya kaku di lantai atas. Irmi buru-buru menyambar tas tangannya, berbalik menatap kedua orang tuanya dengan senyuman yang dipaksakan. "Pak, Bu... Irmi berangkat dulu kalau begitu. Mau sekalian ambil bahan makanan... eh, maksudnya ambil berkas toko di minimarket depan."
Ibu Meliska yang duduk di sofa kayu langsung mengibaskan tangannya pelan, merasa obrolan serius suaminya sudah terganggu oleh kehadiran penyewa atas. "Ya sudah sana berangkat, jangan malam-malam pulangnya."
Ibu Meliska kemudian berdiri, memegangi pundak Pak Juned yang masih menatap kepergian Irmi dengan wajah judesnya yang kaku. "Sudah, Pa... ayo kita ke kamar depan untuk istirahat. Ibu buatin kopi pahit kesukaan Papa di dalam?"
Pak Juned yang tadinya terlihat sangat garang dan berwibawa sebagai kepala keluarga, mendadak melunakkan raut wajahnya di depan sang istri. Ia terkekeh pelan, menggandeng jemari Ibu Meliska dengan gerakan yang membuat Irmi dan Linda yang masih berdiri di dekat pintu hampir memuntahkan seluruh isi lambung mereka karena merasa sangat mual.
"Jangan pahit dong, Bu..." ucap Pak Juned dengan nada manja yang terdengar sangat menggelikan di telinga orang lain. Pria tua itu mencubit pelan pipi istrinya. "Aku suka yang manis kaya kamu..."
Irmi dan Linda saling pandang selama satu detik dengan mata yang membelalak ngeri, menahan desakan muntah yang sangat menyiksa di tenggorokan mereka sebelum mereka benar-benar melangkah keluar melewati pintu pagar depan.
***
Di saat yang sama, Hino baru saja melangkah masuk kembali ke pekarangan setelah melarikan diri dari area parkir pasar modern. Kepalanya terasa sangat pengap oleh ancaman gembok rahim Bu Hina siang tadi. Namun, begitu ia sampai di ambang pintu depan, pemandangan Pak Juned yang sedang bermanja-manja dengan Ibu Meliska di ruang tengah membuat langkah kaki pelayan toko itu mendadak terkunci kaku.
"???" Hino melongo dengan dahi berkerut, menatap mertua sirinya yang judes itu dengan perasaan tidak percaya yang teramat sangat.
Sementara itu, di seberang jalan, di dalam gerai minimarket yang sepi karena jam istirahat siang, Bu Hina sedang berdiri di antara rak kosmetik dan deretan susu hamil dengan wajah yang kebingungan. Setelah gagal mengajak Erni berbicara di parkiran tadi, ia terpaksa melipir ke toko Hino untuk mencari alasan agar bisa terus mengawasi area kontrakan.
"Beli apa lagi ya?" gumam Hina lirih, jemarinya memandangi deretan sabun mandi di depannya dengan perasaan jengkel. Paranoia di dalam rahimnya membuat tubuhnya terasa sangat gerah. "Besok mana ada latihan senam lagi di rumah... kalau aku tidak punya alasan keluar, Baskoro pasti akan curiga melihatku terus-terusan mengintai dari balik gorden."
Jauh di ujung jalan kompleks, di dalam sebuah ruangan salon yang sejuk oleh embusan pendingin udara, Erni sedang duduk bersandar di atas kursi empuk dengan kedua kaki yang sedang direndam air hangat oleh pelayan salon. Di samping lengannya, sebuah cermin besar menampilkan wajahnya yang tampak sangat puas setelah berhasil memeras seikat uang tunai tebal dari dompet Irmi pagi tadi.
Erni memejamkan matanya perlahan, membiarkan jemari pelayan salon mulai merapikan kuku-kuku jarinya dengan kikir plastik sebelum ia melanjutkan aksi belanja barang bersalinnya siang ini. Rasa cemas soal boikot finansial Irmi sore lalu kini sudah menguap sepenuhnya dari dalam kepalanya.
"Uang ini memang bukan segalanya untuk masa depanku," bisik Erni pada bayangannya sendiri di cermin salon, sebuah senyuman rakus merayap di bibirnya saat ia mengingat wajah panik Irmi di kamar depan tadi. "Aku hanya lelah hidup miskin bersama gajimu yang kecil itu, Mas... jadi biarkan saja wanita-wanita kaya di rumah itu membayar mahal untuk setiap jengkal benih yang sudah kau tanam di perut mereka."