Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Hingar bingar keramaian kota, membaur bersama aroma kue kukus dan asap panggangan. Kantuk itu belum juga sepenuhnya pergi, namun kota Tiankeng sudah terbangun sejak matahari masih jauh diujung timur.
Bai Anshu telah bersiap. Ia akan mengantarkan sabun kemenara Guangdong seorang diri, dengan menumpang gerobak Pei Dayan.
Kebetulan pagi ini hanya ada empat penduduk desa yang hendak pergi kekota. Jadi kabin gerobak masih amat lega, meski dijejali keranjang kemas sabun serta makanan dagangan.
Setelah menurunkan nenek Pan, Pan Qiao, kakek dan nenek Su, dilokasi dimana lapak mereka biasanya digelar. Pei Dayan gegas mengantarkan Bai Anshu ketempat tujuan pertamanya.
"Salam kakek, kakak Long, Lan-ya..!" seru Bai Anshu, setelah melewati mulut pintu masuk.
"Shu-ya...!"
"Shu'er...!"
Kakek Guang gegas menghampiri. Sementara Yulong dan Meilan, tetap sibuk melayani pembeli.
"Kakek, aku minta maaf karena terlambat dalam pengiriman kali ini." ucap tak enak Anshu, membungkuk rendah.
"Tidak masalah. Cuma sehari saja, itu bukan masalah besar."
Pei Dayan menurunkan sepuluh keranjang kemas berisi tiga ribu batang sabun, lalu pergi kepangkalan.
Bai Anshu menyerahkan kertas nota cacatan.
Kakek Guang memeriksa dengan seksama "kau tunggu dulu sebentar ya..? masih ada pelanggan." bisiknya rendah.
Bai Anshu tersenyum manis, lalu mengangguk mengerti "baik kakek...!"
Hampir lima belas menit lamanya, Bai Anshu menunggu para pelanggan pergi.
Proses transaksi diselesaikan secepat mungkin.
"Bagai mana dengan pesanan serikat dagang Dao..?"
"Sesuai kesepakatan, lusa akan kami kirimkan sabunnya."
Kakek Guang mengangguk "baik, nanti tuan muda kedua Murong, akan datang untuk melunasi rekening."
Satu alis Bai Anshu naik tinggi "kenapa tidak melalui kakek saja..? bukankah kesepakatan kerjasama itu antara kalian berdua..?"
Kakek Guang tersenyum "tuan muda kedua Murong ingin mengenal siapa orang hebat yang dapat membuat sabun ajaib ini."
Semburat rona merah jambu, menguar tipis diwajah Bai Anshu. Ia merasa tersanjung, sekaligus tak nyaman.
Sebenarnya Bai Anshu tidak ingin terlalu mencolok, terlebih oleh orang-orang berpangkat tinggi.
Namun apalah daya, hal seperti ini cepat atau lambat pasti terjadi, dan ia tak akan mampu menghindarinya.
Bai Anshu pamit, berjalan santai menuju kelokasi kedua.
Saat mata lentiknya tengah mengamati sekitar, sebuah pemandangan tak mengenakan terbingkai indra pengelihatannya.
Seorang gadis yang ia kenali, diusir dengan kasar dari sebuah toko perhiasan.
Bai Anshu melangkah cepat, mendekati gadis yang sedang menyeka ekor matanya.
"Kakak Meng-Meng...!" seru Anshu.
Meng-Meng, si pelayan menara Yuelao, menatap Bai Anshu dengan netra meruncing. Ia mencoba mengingat siapa gadis kecil didepannya ini.
"Kakak, aku yang waktu itu ke Yuelao bersama adik lelakiku." ucap Anshu riang.
Wajah bingung berselimut muram Meng-Meng melunak, ia ingat siapa gadis remaja berparas cantik ini.
Dua kakak beradik yang pernah diusir dengan tidak hormat, cuma karena penampilannya.
"Ah, nona muda, kau masih mengingatku..?"
"Tentu saja, orang sebaik dirimu bagaimana mungkin aku bisa melupakannya..?"
Meng-Meng tersipu "nona muda sungguh berlebihan..!"
"Kakak tidak bekerja..?" kepo Anshu mengernyit.
Rona wajah Meng-Meng kembali meredup, kilat frustasi melintas dinetra keruhnya.
"Aku diberhentikan nona muda." lirih sengau Meng-Meng, menunduk layu.
"Kenapa..?"
Meng-Meng menghela nafas berat "setelah pemilik toko melihat keramaian menara Guangdong, dan mengetahui jika semua itu disebabkan oleh sabun ajaib yang nona muda miliki. Nyonya Yue menyalahkan aku karena membiarkan nona muda pergi."
Mata Bai Anshu melotot sempurna, meronta ingin merangkak keluar dari cangkangnya.
"Bukannya nyonya itu yang memintamu mengusir kami..?"
Meng-Meng melorotkan bahunya kesal "memang, tapi aku tetap disalahkan karena tidak memberitahu jika nona muda membawa sabun. Padahal aku saja belum tahu apa yang ingin nona tawarkan."
Bai Anshu berdecak keras "sungguh tidak masuk akal, dasar sinting..!"
Meng-Meng terkekeh melihat mimik marah Bai Anshu. Bukannya seram, justru malah terkesan menggemaskan.
"Lalu, apa yang kakak lakukan ditoko itu..?"
"Tadi aku menanyakan soal pekerjaan, tapi----
Meng-Meng menggantung ucapannya, seraya melipat bibir sebagai isyarat jawaban jika ia diusir oleh pemilik ruko.
Bai Anshu berpikir, menguliti visual Meng-Meng dari ujung kaki hingga kepala.
Berkulit putih, pakaian katun kasar namun bersih, wajah bulat, hidung mungil, badan langsing dengan tinggi 160cm.
"Kakak tinggal dimana..?"
"Desa Dongshan nona muda...!"
Senyum secerah sang surya dimusim semi, Bai Anshu torehkan.
Desa Dongshan, cuma berjarak sepuluh menit dari Huanshan jika menaiki gerobak. Dipisahkan oleh hamparan ladang pertanian, dengan medan jalan tanah berbatu halus.
"Kakak, apa kau mau bekerja denganku..?"
Wajah Meng-Meng menegang sesaat, sebelum mengendur. Bibirnya melengkung bak celurit, manis berseri-seri.
"Sungguh nona..?"
Bai Anshu mengangguk, lalu mengajak Meng-Meng kekedai paman Jang.
Dua mangkuk mie acar ikan pedas porsi medium, Bai Anshu order.
"Kakak tinggal bersama siapa..?"
"Hanya ibu dan dua adik lelaki nona..!"
"Untuk sementara tugas kakak Meng, membantu produksi sabun, pembuatan pernak pernik, dan mengikuti aku jika pergi kekota."
Meng-Meng memasang indra pendengarannya dengan baik.
"Nanti kalau pembangun tempat tinggalku dan pabrik sabun sudah selesai, kakak Meng bisa mengajak ibu serta kedua adikmu bekerja bersama."
Kilat bahagia melintas diiris kecokelatan Meng-Meng. Senyumnya merekah sampai kemata, membuat wajah bulatnya kian mempesona.
"Sungguh nona, aku bisa mengajak keluargaku..?"
Bai Anshu mengangguk tegas "nanti bibi bertugas membantu ibuku mengurus rumah, sedangkan kedua adikmu bekerja dipabrik sabun----
Bai Anshu menjabarkan perihal tugas, jam kerja, gaji juga aturan.
Semua jelas Anshu paparkan sampai keperintilan remeh temeh sekali pun.
"Nona, aku mau, aku mau...!"
"Kalau begitu, sekarang kakak ikut aku kemenara Luo, dan beberapa toko lain, lalu pulang kedesa Huanshan."
"Baik nona muda, terimakasih, terimakasih sudah menolongku." Meng-Meng berdiri, membungkuk rendah dengan segaris air mata menghiasi pipinya.
Setelah menghabiskan pesanan mienya, Meng-Meng mengikuti majikan barunya ketoko kain Luo.
"Shu-ya...!" teriak Luo Xia dari dalam toko, berlari menubruk raga sang teman.
"Wah, bersemangat sekali, sepertinya kau sedang senang hari ini..?"
Luo Xia mengangkat dagunya tinggi-tinggi "tentu saja, lihatlah..!"
Luo Xia menunjuk ruko miliknya yang dipadati oleh pembeli.
"Kau tahu..? sebagian desainmu sudah diproduksi dan dipasarkan. Hasilnya sangat luar biasa, selalu terjual habis. Selain itu, kita sudah menerima banyak pesanan pakaian, jubah, mantel dan juga tas tangan." lapor Luo Xia seraya melompat kecil karena saking bahagianya.
"Benarkah..?"
Luo Xia mengangguk cepat.
Bai Anshu mengamati keramaian menara Luo, kilau perak menggunung berdansa menggoda dipelupuk mata.
Hasil dari sabun pesanan Guangdong saja sudah melimpah, ditambah orderan serikat dagang Dao. Sekarang ada toko Luo.
Kaya raya, keluarga Bai cabang kedua akan mempunyai banyak harta dimasa depan.
Bai Anshu memperkenalkan Meng-Meng, sebelum melangkah masuk menyapa tuan dan nyonya Luo, serta Luo Chenji.