NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Tawaran di Atas Meja

****

Matahari hari Rabu pagi terbit dengan membawa hawa dingin yang menusuk pori-pori kulit. Sinar fajar yang kekuningan memantul di atas hamparan ubin koridor lantai dua gedung XII MIPA, menciptakan bayangan panjang dari langkah kaki para murid yang berjalan lesu memasuki ruang kelas. Aku melangkah melewati ambang pintu XII MIPA 2 dengan tas ransel yang terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena beban buku pelajaran, melainkan karena isi kepalaku yang terus berputar memikirkan pembicaraan telepon dengan Saka tadi malam.

Aku menarik kursi kayu di barisan paling depan, lalu mendudukkan diriku dengan perlahan. Di sebelah kananku, meja milik Devan masih tampak lengang dan bersih dari debu, menyisakan ruang kosong yang kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Meskipun Devan secara fisik tidak ada di sekolah karena sanksi skorsing, bayang-bayang kekuasaan modal keluarganya yang mengikat jalur beasiswa kuliahku terasa seperti rantai tak kasat mata yang mencekik leherku di dalam ruang kelas ini.

"Pagi, Mik. Muka lo kok kusut banget kayak baju belum disetrika?" celetuk Risa yang baru saja datang dan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi sebelahku, menatapku dengan kening berkerut dalam. "Lo gak tidur semalaman gara-gara kepikiran mobil hitam di ujung komplek itu?"

Aku mengembuskan napas panjang, lalu membetulkan letak gelang perak di tangan kananku hingga bandul bintang kecilnya berdenting halus. "Saka udah mengusir mobil itu semalam, Ris. Tapi masalahnya gak selesai di sana. Devan mulai menggunakan jalur beasiswa yayasan keluarganya buat menekan mental gue dari luar sekolah."

Risa yang mendengar hal itu langsung terbelalak, wajahnya berubah menjadi sangat serius dan penuh amarah yang tertahan. "Gila! Si ular itu bener-bener gak punya batas ya buat berbuat licik?! Dia tahu banget kalau lo gak bisa kuliah kalau gak ada beasiswa itu!"

"Gue tahu, Ris. Dan itu yang bikin gue takut setengah mati sekarang," jawabku lirih, menatap kosong ke arah papan tulis putih di depan kelas.

Sebelum Risa sempat membalas kalimatku, langkah kaki seorang guru piket paruh baya mendadak berhenti tepat di depan pintu kelas kami. Beliau mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, lalu tatapannya terkunci tepat pada sosok diriku.

"Mikaela dari kelas XII MIPA 2? Silakan ikut Ibu sebentar ke ruang tata usaha. Ada tamu dari perwakilan Yayasan Dirgantara Pendidikan yang ingin menemui kamu secara pribadi," ucap guru piket tersebut dengan intonasi suara yang sangat formal.

Jantungku seketika mencelos ke dasar perut mendengar nama yayasan tersebut disebut secara lantang di depan teman-teman sekelasku. Seluruh pasokan oksigen di dalam paru-paruku rasanya tersedot habis seketika. Aku melirik ke arah Risa yang kini menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Taktik Devan bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kami perkirakan. Dia tidak menunggu hingga dua minggu masa skorsingnya habis; dia langsung mengirimkan perwakilannya ke sekolah pagi ini juga.

Dengan langkah kaki yang terasa sangat lemas seperti jeli, aku bangkit berdiri dari kursi, merapikan rok abu-abuku yang kaku, lalu berjalan mengekor di belakang guru piket menelusuri koridor gedung utama yang mulai riuh oleh kedatangan murid lain. Di sepanjang jalan, aku terus meremas ujung almamaterku, mencoba mencari kekuatan dari dinginnya bandul bintang kecil di pergelangan tanganku.

Suasana di dalam ruang tamu khusus tata usaha terasa begitu formal dan dingin. Pendingin ruangan yang menyala maksimal membuat atmosfer di ruangan kedap suara itu terasa semakin menekan mental. Di atas sofa kulit berwarna cokelat tua, seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam rapi dan kacamata berbingkai emas sudah duduk dengan tegap. Di atas meja kaca di hadapannya, sebuah draf berkas bermaterial tebal dengan logo emas Yayasan Dirgantara Pendidikan sudah tergeletak dengan rapi.

"Silakan duduk, Nak Mikaela," ucap pria berjas itu dengan senyuman ramah yang terasa begitu kaku dan artifisial—tipe senyuman korporat yang biasa digunakan untuk menyembunyikan maksud tersembunyi.

Aku mendudukkan diriku di sofa tunggal yang berada di hadapannya, mencoba mempertahankan posisi tubuhku agar tidak terlihat gemetar ketakutan. "Selamat pagi, Pak. Ada urusan apa ya sampai Bapak mencari saya langsung ke sekolah?" tanyaku dengan suara yang diusahakan tetap konstan dan tenang.

Pria itu membetulkan letak kacamatanya, lalu membuka lembaran draf berkas di atas meja dengan gerakan tangan yang sangat teratur. "Perkenalkan, saya perwakilan hukum dari pihak keluarga besar Bapak Dirgantara. Kedatangan saya ke sini adalah untuk menyerahkan draf pembaruan dan penandatanganan kontrak akhir terkait dana bantuan beasiswa penuh untuk kelanjutan kuliah kamu di universitas impian tahun depan."

Dia menyodorkan selembar kertas putih tebal bersertifikat resmi ke hadapanku, lengkap dengan sebuah pulpen hitam mewah yang diletakkan tepat di atasnya.

"Semua dana perkuliahan tunggal, biaya hidup, hingga fasilitas asrama sudah disetujui sepenuhnya oleh pihak yayasan kami. Namun..." pria itu menjeda kalimatnya, senyuman ramahnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata tajam yang penuh dengan penekanan psikologis yang mutlak. "Ada satu draf klausul tambahan mengenai kode etik penerima beasiswa yang harus kamu penuhi secara tertulis mulai hari ini, Mikaela."

Aku menelan ludah dengan susah payah, mataku bergerak cepat membaca baris demi baris kalimat hukum yang tercetak di atas kertas tersebut. "Klausul tambahan apa, Pak?"

"Pihak yayasan meminta kamu untuk menjaga reputasi dan hubungan sosial kamu dengan pihak keluarga besar Dirgantara selama berada di dalam maupun di luar lingkungan sekolah," tutur pria itu dengan intonasi suara yang sangat teratur namun sarat akan ancaman tak kasat mata. "Secara spesifik, kamu diminta untuk memutuskan segala bentuk hubungan pertemanan maupun interaksi sosial dengan siswa atas nama Saka Aditya dari kelas XII IPS 3, dan kembali memenuhi komitmen hubungan personal kamu bersama Devan Dirgantara tanpa ada bantahan apa pun. Jika klausul ini dilanggar... maka hak pemanfaatan dana beasiswa penuh ini akan dicabut secara sepihak oleh yayasan detik itu juga, dan orang tua kamu diwajibkan membayar denda ganti rugi administrasi yang sangat besar."

Duniaku rasanya benar-benar runtuh seutuhnya mendengar penuturan beracun dari mulut perwakilan hukum tersebut. Genggaman tanganku pada pinggiran meja kaca seketika mengeras hingga buku-buku jariku memutih. Devan... dia benar-benar iblis manipulatif tingkat tinggi yang memiliki *red flag* sesungguhnya. Dia menggunakan kekuatan uang, hukum, dan masa depan kuliahku untuk memeras emosiku, mengurungku kembali ke dalam sangkar emas penuh racun yang sudah dia siapkan dengan sangat matang di luar sekolah.

"Ini... ini pemerasan namanya, Pak," bisikku dengan suara yang bergetar hebat karena kombinasi rasa takut dan amarah yang luar biasa hebat meletup-letup di dalam dadaku.

"Ini bukan pemerasan, Nak Mikaela. Ini adalah bentuk investasi masa depan yang memiliki syarat dan ketentuan hukum yang sah," balas pria itu dengan nada dingin tanpa ampun. "Semua keputusan sekarang ada di tangan kamu. Apakah kamu mau mengorbankan masa depan kuliah kamu dan membebani ekonomi orang tua kamu hanya demi membela seorang berandal ugal-ugalan dari jurusan IPS? Pulpennya sudah ada di sana, silakan ditandatangani."

Aku menatap pulpen hitam di atas meja dengan pandangan mata yang mulai mengabur karena air mata yang kian mendesak keluar. Pikiranku benar-benar buntu. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan ekstrem yang sama-sama berujung pada kehancuran jiwaku. Jika aku menandatangani kontrak ini, aku akan kembali menjadi budak emosi Devan seumur hidupku. Namun jika aku menolaknya, impian kuliahku akan hancur lebur pagi ini juga.

*BRAK!*

Pintu kaca ruang tamu tata usaha mendadak didorong terbuka dari luar dengan sangat kasar hingga menimbulkan suara dentuman yang nyaring, mengejutkan aku dan pria berjas hitam itu seketika. Kami berdua refleks menoleh ke arah ambang pintu.

Di sana, berdiri sosok tegap Saka Aditya dengan napas yang memburu naik turun menahan amarah yang luar biasa hebat. Almamater biru tuanya terkancing rapi, namun potongan rambut pendek barunya tampak sedikit berantakan karena dia tampaknya baru saja berlari kencang membelah gedung sekolah dari arah jurusan IPS. Mata elangnya berkilat tajam memancarkan keagresifan tulus yang luar biasa pekat, mengunci pandangannya langsung ke arah pria berjas hitam di hadapanku.

"Saka?! Ngapain lo ke sini?!" seruku panik, refleks bangkit dari sofa.

Saka tidak membalas kalimatku. Dia melangkah lebar memasuki ruangan dengan gerakan kaki yang sangat kokoh dan konstan, menguarkan aura dominasi berandal yang sangat mengintimidasi hingga membuat perwakilan hukum Devan itu ikut mengernyitkan keningnya ngeri. Saka berjalan mendekati meja kaca, lalu dengan satu gerakan tangan yang sangat cepat dan agresif, dia langsung menyambar kertas kontrak beasiswa beserta pulpen hitam mewah milik yayasan tersebut.

Saka menatap draf kertas itu selama beberapa detik dengan seringai sinis nan sangat dingin terukir di sudut bibirnya yang tampan. Tanpa membuang waktu atau memedulikan ancaman hukum mana pun, Saka mencengkeram kertas tebal bersertifikat resmi itu dengan kedua tangan kokohnya, lalu merobeknya menjadi dua bagian dengan satu sentakan kasar.

*SREEEKKK!*

Aku membelalakkan mata lebar-lebar, menahan napas di tenggorokan melihat kenekatan luar biasa yang baru saja ditunjukkan oleh Saka di depan perwakilan hukum keluarga Dirgantara.

Saka melemparkan serpihan kertas kontrak yang sudah hancur itu tepat ke atas wajah pria berjas hitam tersebut, lalu menjatuhkan pulpen mewahnya hingga menggelinding jatuh ke atas lantai ubin yang dingin.

"Bawa kertas sampah ini dan pulpen mahal lo balik ke rumah majikan muda lo, bangsat," geram Saka dengan nada suara bariton yang sangat rendah, serak, dan sarat akan ancaman maut yang mengerikan. Dia memajukan tubuh tingginya, menatap lurus ke dalam manik mata pria berjas itu dari jarak dekat dengan kilat posesif yang teramat pekat. "Kasih tahu Devan Dirgantara... kalau dia mau membeli masa depan orang lain pake uang keluarganya, jangan pernah berani dia coba-coba menyentuh Mikaela. Hak perlindungan dan masa depan cewek ini udah resmi dikunci di bawah tangan gue mulai detik ini."

Pria berjas hitam itu refleks berdiri dengan wajah yang memerah padam karena merasa dihina dan terkejut oleh keagresifan Saka. "Kamu... kamu siswa berandal gak tahu aturan! Kamu bisa saya laporkan ke pihak kepolisian atas tindakan perusakan dokumen dan ancaman kekerasan ya!"

"Laporkan saja, anjing korporat," kekeh Saka sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar begitu liar dan gak kenal rasa takut mati sedikit pun di luar sistem sekolah. Saka tiba-tiba terulur maju, tangan kokohnya mencengkeram pinggiran sofa kulit dengan kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol memerah. "Gue gak punya beban apa-apa buat dikeluarkan dari sekolah ini atau masuk penjara malam ini juga. Tapi lo dan keluarga Dirgantara... reputasi perusahaan kalian di media massa bakal hancur lebur kalau draf rekaman suara pemerasan emosional Devan di ruang OSIS kemarin sampai gue sebar ke jalur publik luar. Kita lihat siapa yang bakal hancur duluan di dunia nyata."

Mendengar gertakan mental yang begitu matang, taktis, dan sarat akan amunisi cadangan yang dikeluarkan oleh Saka sore itu, pria berjas hitam tersebut seketika bungkam seribu bahasa. Wajahnya yang semula dipenuhi keangkuhan modal kini berubah menjadi sangat kaku dengan rahang yang mengatup rapat menahan rasa malu yang luar biasa hebat. Dia baru menyadari bahwa berandal IPS di hadapannya ini bukanlah tipe anak sekolahan biasa yang bisa ditakut-takuti oleh draf hukum biasa.

Saka tidak membuang waktu lagi untuk meladeni orang itu. Dia kembali berbalik menatapku, binar mata elangnya seketika melunak seutuhnya menjadi sangat hangat dan penuh perlindungan saat tangan besarnya meraih pergelangan tangan kananku dengan cengkeraman yang sangat erat, memastikan bandul bintang kecil di gelang perakku menekan kulitku dengan mantap.

"Yuk, Mik. Gak ada gunanya lo lama-lama berdiri di dalam ruangan penuh racun ini. Kita balik ke kelas sekarang," ucap Saka dengan nada suara yang sangat lembut namun penuh dominasi posesif yang tak terbantahkan.

Gue mengangguk pelan dengan setitik air mata lega yang akhirnya jatuh membasahi pipiku sore itu. Aku membiarkan tubuhku dituntun oleh langkah kaki lebar Saka berjalan keluar meninggalkan ruang tamu tata sekolah, melewati pria berjas hitam yang kini hanya bisa mematung lesu menatap kehancuran draf kontraknya di atas lantai. Sumbu konflik asmara berkarakter *red flag* ini telah resmi dinaikkan ke tingkat konfrontasi nyata yang jauh lebih liar dan memacu adrenalin di luar sana, dan di bawah perlindungan keagresifan tulus milik Saka Aditya, aku tahu kami tidak akan pernah mundur selangkah pun sebelum permainan berbahaya ini selesai seutuhnya.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> Ketegangan taktis dan perang psikologis di luar sekolah bener-bener pecah dan meroket tajam di Bab 28 ini! Devan yang nekat mengirimkan perwakilan hukum yayasan keluarganya ke sekolah untuk memeras emosi Mikaela lewat draf beasiswa kuliah bener-bener nunjukin esensi dari karakter *red flag* manipulatif yang sangat berbahaya.

> Tapi untungnya, aksi penggerebekan nekat, ugal-ugalan, namun sangat cerdas dari seorang Saka Aditya di ruang tata usaha tadi bener-bener sukses bikin merinding sekaligus puas banget, kan? Momen pas Saka merobek draf kontrak beasiswa tersebut dan mematahkan mental perwakilan hukum Devan bener-bener nunjukin pesona *bad boy* versi rapi-posesif yang siap mempertaruhkan segalanya demi menjaga kebebasan orang yang dia cintai. Hubungan mereka sekarang udah gak bisa lagi diganggu gugat oleh ancaman modal mana pun!

> Kira-kira langkah nekat apa lagi yang bakal diambil oleh Devan setelah tahu perwakilan hukumnya dipermalukan habis-habisan oleh Saka di sekolah hari ini? Apakah dia bakal langsung memotong jalur ekonomi keluarga Mikaela? Yuk, ikuti terus perkembangan cerita ini setiap harinya ya!

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!