"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Topeng yang Retak
Brak!
Pinto utama rumah kolonial itu terbuka lebar setelah dihantam telapak tangan Elang secara kasar. Ia melangkah masuk dengan napas memburu, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruang tengah lantai bawah yang sunyi. Namun, langkah kakinya mendadak terkunci di atas marmer ketika melihat Alin berdiri tegak tepat di depan pintu kamar Nenek Aisyah.
Rambut panjang Alin yang hitam pekat terikat gaya high ponytail, bergoyang pelan seiring helaan napasnya. Tidak ada koper di sampingnya, juga tidak ada air mata di pipinya. Yang ada hanyalah sepasang mata bulat yang menatap Elang dengan pandangan menusuk, dingin, dan sarat akan tantangan.
"Alin! Apa-apaan kamu ini, hah?!" bentak Elang rendah, melangkah cepat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. Wajahnya merah padam, perpaduan antara kepanikan karena kondisi sang nenek dan amarah yang meluap karena mendapati lemari pakaian di rumah baru mereka kosong melompong. "Kamu kabur dari rumah, mengosongkan lemari tanpa izin, dan sekarang kamu berdiri di sini seolah tidak punya dosa?! Apa jangan-jangan Nenek drop karena ulah kamu! Kamu mengadu yang tidak-tidak pada Nenek! Di mana otakmu, Alin?!"
Alin tidak mundur satu sentimeter pun. Ia justru melipat kedua tangan di depan dada, mendongak menatap rahang ketat suaminya dengan senyum meremehkan yang sangat kentara.
"Kecilkan suaramu, Mas Elang yang terhormat," desis Alin, nada suaranya teratur, namun ketajamannya sanggup menguliti harga diri Elang. "Di dalam ada Nenek yang sedang bertaruh nyawa karena ulah brengsekmu semalam, bukan karena ulah saya. Jadi, jangan berlagak seperti raja yang kehilangan budaknya di sini."
"Ulah brengsek?!" Elang menudingkan telunjuknya tepat di depan wajah Alin, matanya berkilat murka. "Jaga bicaramu! Aku ini suamimu! Hak apa yang kamu punya sampai berani mengosongkan lemari dan keluar dari rumah tanpa izin dariku?!"
"Hak sebagai manusia merdeka yang menolak menghirup oksigen di bawah atap yang sama dengan pria egois dan mantan kekasihnya," balas Alin telak. Ia memajukan wajahnya, menepis kasar tangan Elang yang menudingnya. "Dan tolong, jangan bawa-bawa status 'suami' di depan saya. Mas sendiri yang bilang tadi pagi di kamar atas kalau Mas menikah karena terpaksa dan masih mengemis cinta pada wanita bernama Cindy itu, kan? Jadi untuk apa saya izin pada pria yang menganggap saya hanya sebagai beban perjodohan?"
Elang tersentak. Ia tidak pernah menduga bahwa gadis berusia dua puluh dua tahun yang selama satu bulan ini selalu tampil anggun, penurut, dan berbicara lemah lembut di depan Nenek Aisyah, mendadak berubah menjadi sosok yang begitu tajam dan intimidatif.
"Kamu ... kamu benar-benar bermuka dua, Alin," ucap Elang dengan kekehan sinis, mencoba menutupi rasa terkejutnya atas arogansi Alin yang tak terduga. "Di depan Nenek kamu berlagak seperti gadis santun yang tidak berdaya, tapi di belakangnya kamu menjelma jadi wanita pembangkang seperti ini?"
"Saya bukan bermuka dua, Mas. Saya hanya tahu cara menempatkan diri," potong Alin cepat, binar matanya berkilat liar layaknya seekor harimau yang siap menerkam. "Saya menghormati Nenek, karena beliau wanita yang sangat berjasa bagi ibu saya. Tapi di depan pria arogan yang memperlakukan istrinya seperti sampah di malam pertama? Maaf, saya tidak punya stok kesabaran atau kesantunan untuk tipe pria kotor seperti itu. Kalau Mas mau tahu siapa saya sebenarnya, inilah saya. Saya bukan gadis cengeng yang akan menangis di pojokan meratapi nasib karena suaminya selingkuh secara terang-terangan!"
"Aku tidak selingkuh, Alin!" bela Elang, suaranya meninggi menahan emosi yang nyaris membakar akal sehatnya. "Ega anakku! Cindy terlantar! Aku hanya bertanggung jawab!"
"Tanggung jawab atau memanfaatkan situasi karena Mas memang belum move on?!" cecar Alin, suaranya naik satu oktaf, menekan Elang tepat di titik terlemahnya. "Kalau memang hanya ingin bertanggung jawab pada Ega, kenapa ibunya harus dibawa masuk ke kamar bawah rumah baru kita? Kenapa harus apron saya yang ia pakai pagi ini? Kenapa harus menu kesukaan Mas yang ia siapkan di atas meja makan saya?! Mas pikir saya juga buta?!"
Elang terdiam, napasnya memburu kencang. Ia merasa terpojok oleh rentetan kalimat Alin yang menghantam logikanya tanpa ampun. "Itu ... Cindy hanya ingin membantu karena kamu belum bangun!"
"Jangan membuat alasan yang menjijikkan, Mas Elang," tawa Alin pecah, sebuah tawa hambar yang terdengar begitu dingin di koridor lantai bawah itu. "Mas bilang saya kekanak-kanakan karena meminta pembatalan pernikahan? Tidak. Justru saya adalah orang paling dewasa di sini yang mencoba menyelamatkan kita semua dari sandiwara busuk ini. Mas bisa hidup bahagia dengan masa lalumu, dan saya bisa kembali bernapas lega tanpa perlu melihat kemunafikanmu setiap hari."
"Aku sudah katakan, tidak akan ada pembatalan pernikahan!" Elang mencengkeram kedua sisi kusen pintu di belakang Alin, mengurung tubuh gadis itu dalam jarak yang sangat dekat, mencoba menggunakan intimidasi fisiknya untuk menundukkan Alin. "Kamu harus tetap patuh padaku dan tinggal di rumah itu! Jangan berani-berani kamu melangkah keluar lagi dan mengadu yang macam-macam pada Nenek di dalam!"
Alin menatap dada bidang Elang yang naik turun, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa ada setitik pun rasa takut. Ia justru menepuk dada Elang dua kali dengan ujung jari telunjuknya, sebuah gestur yang sangat meremehkan kekuatan pria itu.
"Jangan pernah mendikte saya dengan nada bicaramu yang sok berkuasa itu, Mas. Di kantor, Mas mungkin bisa memecat ratusan karyawan dengan satu jentikan jari. Tapi di sini? Di depan saya? Mas tidak punya kuasa apa-apa," desis Alin, senyumnya kian melebar, penuh kemenangan. "Saya akan kembali ke rumah terkutuk, tapi bukan karena saya takut pada ancamanmu, Mas Elang. Saya kembali murni karena menghargai kesehatan jantung Nenek yang sedang drop. Tapi ingat ini baik-baik ...."
Bersambung ....