Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Tubuh Seraphina rasanya hampir remuk saat dia bangun keesokan harinya. Saat sepasang matanya terbuka, sosok pria yang semalam menguasai dirinya sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya harum maskulinnya saja serta lekukan kusut sprei yang menandakan bahwa kejadian semalam benar-benar nyata.
Wajah Seraphina memerah saat adegan semalam kembali berputar didalam kepalanya seperti rekaman video.
Jejak bibir Noah hampir ada di setiap inci kulit tubuhnya. Tatapan mata pria itu, suaranya yang berat dan selalu mengeluarkan kalimat pujian membuat Seraphina benar-benar terbakar.
Dia benar-benar jatuh pada laki-laki yang bahkan belum dia tahu bagaimana kepribadian sebenarnya.
"Aku mau ke toilet," gumam Seraphina. Dengan percaya diri, dia menurunkan sepasang kakinya ke lantai.
Dan, begitu dia berdiri, lututnya langsung lemas dan dia hilang kehilangan keseimbangan.
Aaaaahhh...
Seraphina menutup mata. Dia pikir, dia akan menghantam lantai dengan keras. Namun, sepasang tangan kokoh ternyata berhasil menangkap tubuhnya tepat waktu.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Noah dengan senyuman manisnya.
Pria itu mengenakan celana training panjang berwarna hitam tanpa mengenakan atasan.
Rambut dan tubuhnya basah oleh keringat.
"Pa-pagi," jawab Seraphina.
Noah membantunya untuk duduk kembali di tepi ranjang.
"Sepertinya, kondisimu kurang baik," kata Noah.
"Kaki ku lemas," timpal Seraphina.
Noah tersenyum kecil. Dia mengecup hidung Seraphina.
"Maaf. Sepertinya, tadi malam aku terlalu bersemangat."
Seraphina tak menjawab. Membahas soal tadi malam hanya akan membuat dia merasa malu.
"Kamu mau kemana?" tanya Noah.
"Aku harus ke kamar mandi," jawab Seraphina.
"Baiklah. Akan ku antar."
Tanpa aba-aba, Noah langsung menggendong sang istri ke kamar mandi.
"Kamu mau aku mandikan?" tanya Noah. Dia sengaja ingin menggoda istrinya.
"Tidak usah," jawab Seraphina cepat.
Jangan sampai, adegan seperti kemarin terulang kembali. Saat ini, Seraphina benar-benar tidak sanggup. Seluruh tenaganya sudah tersedot habis.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Perempuan itu membuang muka ke arah lain.
"Aku mau buang air kecil. Bisakah kamu keluar dulu?"
"Tidak bisa," jawab Noah dengan tegas.
Mata Seraphina reflek membulat. "Kenapa tidak bisa?"
"Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa. Jadi, aku harus tetap di sini untuk mengawasi mu."
"Tidak perlu, Noah."
"Perlu, Seraphina. Kamu istriku sekarang. Aku tidak mau ada gosip yang beredar jika aku tidak memanjakan istriku sendiri."
"Siapa yang akan membuat gosip seperti itu hanya karena kamu tidak menemaniku di kamar mandi?" tanya Seraphina. Bingung.
"Yaaa... Siapa tahu saja, kan?"
"Kecuali para wartawan itu ikut masuk ke dalam kamar mandi kita baru berita seperti itu akan tersebar, Noah."
Noah tersenyum paksa. Ah, benar juga. Tapi, Noah hanya sekadar berjaga-jaga. Tidak salah, kan?
"Aku akan siapkan air di bak mandi untukmu. Kalau sudah selesai buang air kecil, panggil aku! Aku akan menggendong mu ke bak mandi."
Pria itu bergegas menjauh. Dia mengisi bak mandi mewah yang nyaris tak pernah dia gunakan dengan air hangat.
Sepanjang proses itu, dia terus tersenyum.
"Akhirnya... bak mandi ini terpakai juga," gumamnya dengan pikiran yang dipenuhi pemikiran dewasa.
Hehehehe!
Dia tertawa. Ternyata, menikah bisa semenyenangkan ini.
"Sera, bagaimana kalau kita..."
Seraphina langsung membekap mulut Noah dengan telapak tangannya. Saat ini, dia sudah berada didalam bathtub dan Noah duduk disampingnya.
"Aku masih sangat lemas, Noah. Tolong jangan aneh-aneh dulu."
"Tapi, di sini kita tidak butuh banyak gaya seperti tadi malam. Kamu cukup pilih, mau dibawah atau duduk diatasku?"
Plak!
Tanpa sadar, telapak tangan Seraphina melayang mengenai pipi Noah. Wajah pria itu tertoleh ke samping.
"Kamu... menamparku?" tanya Noah.
"Maaf," ucap Seraphina. Tadi, dia khilaf. Tidak berpikir panjang. "Aku hanya terlalu malu jika kamu mengatakan hal sefrontal itu."
Seraphina menundukkan kepalanya. Tatapan mata hazel itu, terlihat tajam dan menakutkan.
"Ouchh... manisnya," kata Noah sambil mencubit pipi Seraphina.
Eh?
Kepala wanita itu kembali mendongak.
"Kamu tidak marah?"
"Tentu saja tidak. Selama istriku yang memukul, tidak apa-apa. Aku tidak keberatan."
"Dia bilang tidak keberatan. Tapi, kenapa seringainya menakutkan sekali?'" gumam Seraphina dalam hati.
"Kalau kamu mau balas, silakan saja! Kamu juga boleh menamparku sekali."
Seraphina menyodorkan pipinya. Dia menutup mata, menunggu pukulan itu datang.
Namun, yang Seraphina rasakan bukanlah pukulan. Justru, Noah malah menciumnya lembut.
"Sudah ku balas," ucap Noah.
Seraphina kembali membuka matanya. Ah, pria ini benar-benar berbahaya. Seraphina harus meningkatkan keamanan pertahanan hatinya jika tak ingin jatuh cinta.
*******
Selesai memastikan sang istri mandi, Noah kembali membantu Seraphina berpakaian dan mengeringkan rambutnya.
"Noah, sebenarnya aku bisa sendiri," ucap Seraphina.
"Kamu masih lemah. Wajar jika aku membantumu. Aku kan suamimu."
Setiap kali menyebut dirinya sebagai 'suami', Noah selalu tersenyum senang. Status itu membuat kebanggaannya semakin meningkat drastis.
"Sekarang, waktunya sarapan. Ayo turun ke bawah!"
Noah meletakkan hairdryer kemudian menggendong sang istri keluar dari kamar.
Para pelayan tidak berkomentar apa-apa saat melihat pemandangan itu. Namun, dari binar mata mereka, mereka terlihat senang dan ikut merasa lega.
Baru kali ini, mereka melihat majikan mereka begitu peduli kepada seseorang.
"Noah!"
Marco datang. Pria itu membawa beberapa berkas penting untuk Noah tandatangani.
"Selamat pagi, Nona Seraphina!" sapa Marco sambil tersenyum lebar.
"Tidak usah tersenyum," tegur Noah. "Kau cukup menyapa saja."
Senyum di wajah Marco langsung sirna. "Maaf," ucapnya.
Kemudian, Noah menatap Seraphina. Dia sengaja menutupi Marco dengan punggungnya agar Seraphina tidak menatap wajah sahabatnya itu.
"Kamu makan sendirian saja! Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus bersama Marco."
"Oke," angguk Seraphina.
Dia berusaha menahan senyum. Apa Noah sedang cemburu pada Marco?
Setelah dua pria tampan itu pergi, Seraphina melanjutkan sarapannya. Ternyata, hidup bersama Noah tidak sesulit yang dia bayangkan.
Apa karena baru hari pertama?
******
Tiba di ruang kerjanya, Noah langsung duduk dan mulai memeriksa setiap berkas yang sudah diletakkan lebih dulu oleh Marco diatas meja.
Sementara, Marco sendiri memilih berbaring di sofa, menunggu Noah selesai menandatangani berkas yang dia bawa.
"Jadi, bagaimana? Apa malam pertama kalian berlangsung lancar?"
Marco mulai buka suara.
"Tentu saja," jawab Noah.
"Bagaimana Seraphina? Apa sejauh ini, dia cukup menarik perhatian mu?"
"Biasa saja," jawab Noah datar.
"Yakin?" tanya Marco penasaran.
"Ehm."
"Tapi, sepertinya dia perempuan yang cukup penurut dan penakut. Dia pasti mudah kau kendalikan, Noah."
"Penurut dan penakut?" ulang Noah. "Cih, dia tidak seperti itu. Tadi saja, dia berani menamparku."
Mata Marco langsung terkejut. "Serius? Lalu, apa yang kau lakukan padanya? Kau tidak balas memukulnya, kan?"
"Tentu saja ku balas dengan keras," timpal Noah. "Kau pikir, hanya karena dia berstatus sebagai istriku lantas aku akan membiarkannya semena-mena? Heh, enak saja! Kalau dia berani memukulku, maka akan ku balas dua kali lipat."
lani ga sadar diri dari kira semua lelaki tuh mau di kasih sisa lobang udah kaya terowongan Casablanca juga