NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Gangguan Kecil yang Mencurigakan

Hutan Data Lama di Sektor 9 bukanlah hutan dalam arti biologis. Tidak ada pohon yang tumbuh dari biji, tidak ada akar yang menembus tanah, dan tidak ada daun yang membusuk menjadi humus. Ini adalah arsitektur digital raksasa, sisa-sisa server farm kuno dari era sebelum Perang Kode, yang kini telah diambil alih oleh alam simulasi. Pohon-pohon di sini adalah menara data vertikal yang ditutupi oleh algoritma pertumbuhan vegetasi, menciptakan ilusi kanopi hijau yang rimbun. Cahaya matahari yang menembus dedaunan sebenarnya adalah proyeksi pencahayaan global yang dihitung secara real-time, menciptakan efek dappled light yang begitu sempurna hingga mata manusia biasa sulit membedakannya dari kenyataan.

Tim Aurora berjalan menyusuri jalur setapak yang terbuat dari serat optik tertanam, langkah kaki mereka tidak menimbulkan suara. Suasana hening, terlalu hening untuk sebuah area yang seharusnya memiliki "gangguan sinyal minor". Burung-burung mekanik kecil yang biasanya berkicau di cabang-cabang pohon data tampak diam, seolah-olah sistem audio mereka telah dimatikan paksa.

"Bacaan sinyalnya aneh," gumam Kai, matanya terpaku pada tablet hologram di tangannya. Jari-jarinya menari cepat di atas antarmuka virtual, mencoba melacak sumber anomali. "Ini bukan noise acak. Polanya... terstruktur. Seperti kode biner yang dikompresi, tapi enkripsinya sangat tua. Aku belum pernah melihat protokol seperti ini sejak kita mempelajari arsip sejarah pra-perang."

Raka berjalan di depan, tangan kanannya siap di dekat sarung pistol energinya, meskipun ia berharap tidak perlu menggunakannya. Instingnya waspada. Keheningan di Hutan Data Lama ini terasa berat, menekan dada seperti udara sebelum badai petir. "Apakah kau bisa mendekripsi sumbernya, Kai? Atau setidaknya melacak koordinat pastinya?"

"Sedang coba," jawab Kai, keringat dingin mulai muncul di dahinya. "Sinyalnya bergerak. Tidak, tunggu... itu tidak bergerak. Itu berpindah melalui node. Seolah-olah sinyal itu hidup, Ka. Ia melompat dari satu server ke server lain dengan kecepatan cahaya."

Bimo, yang berjalan di belakang sambil membawa tas peralatan perbaikan, terlihat gelisah. Dia terus menoleh ke kiri dan kanan, matanya menyipit mengamati bayangan-bayangan di antara pohon-pohon data. "Aku tidak suka ini, teman-teman. Tempat ini rasanya... salah. Seperti ada seseorang yang sedang mengintai kita dari balik layar. Apakah kalian merasakan itu? Udara terasa statis."

Elara, yang berjalan di samping Raka, menggenggam tangan pemimpinnya lebih erat. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan ketegangan yang sama. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut, mencari ancaman yang tak terlihat. "Raka," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Apakah kita harus melanjutkan? Laporan bilang ini hanya gangguan minor. Tapi ini terasa seperti jebakan."

Raka berhenti sejenak. Ia menatap Elara, melihat kekhawatiran di mata gadis itu. Ia ingin meyakinkannya, ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ini hanyalah misi rutin. Tapi kata-kata itu macet di tenggorokannya. Karena di kedalaman hatinya, Raka juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang besar dan gelap sedang mengamati mereka dari kekosongan digital.

Namun, ia tidak bisa mundur. Jika ini memang jebakan, mundur sekarang justru akan memicu serangan. Mereka harus menemukan sumbernya, menetralisirnya, dan pergi. Itu satu-satunya jalan.

"Kita lanjutkan," kata Raka, suaranya tegas meski dadanya berdebar kencang. "Kai, ikuti jejak sinyalnya. Bimo, tetap waspada di belakang. Elara, jaga flank kiri. Kita bergerak lambat dan hati-hati."

Mereka melanjutkan perjalanan, memasuki bagian hutan yang lebih lebat. Cahaya di sini lebih redup, warna hijau daun berubah menjadi ungu tua dan biru gelap, menciptakan suasana surealis yang mencekam. Suara langkah kaki mereka bergema di antara batang-batang pohon data, terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur.

Setelah sepuluh menit berjalan, Kai tiba-tiba berhenti. "Di sana," tunjuknya ke arah sebuah clearing kecil di tengah hutan. Di tengah clearing itu, berdiri sebuah monolit hitam pekat, sebuah server tunggal yang tidak terhubung dengan kabel apa pun. Monolit itu melayang beberapa sentimeter di atas tanah, berputar perlahan pada porosnya. Dari permukaannya yang halus seperti kaca obsidian, keluar cahaya merah samar yang berdenyut-denyut, seperti jantung yang berdetak.

"Itu sumber sinyalnya," kata Kai, suaranya bergetar. "Tapi... itu tidak mungkin. Server itu model kuno, tipe 'Void-Box'. Itu seharusnya sudah dimusnahkan puluhan tahun lalu karena dianggap berbahaya. Bagaimana bisa itu masih aktif?"

Raka maju selangkah, matanya terkunci pada monolit hitam itu. "Hati-hati. Jangan sentuh apapun."

Saat mereka mendekati monolit itu, cahaya merah di permukaannya tiba-tiba menjadi lebih terang. Denyutannya semakin cepat, semakin agresif. Lalu, tanpa peringatan, layar-layar hologram di pergelangan tangan semua anggota Tim Aurora—jam tangan pintar, kompas digital, bahkan kacamata AR Kai—tiba-tiba menyala serentak.

Layar-layar itu tidak menampilkan data sistem atau peta. Mereka menampilkan teks. Teks sederhana, berwarna merah darah, dengan font yang kasar dan retak, seolah-olah ditulis dengan jari yang berlumuran darah digital.

"Waktunya Fajar Telah Habis."

Kalimat itu muncul di semua layar mereka secara bersamaan. Hutan yang tadinya hening mendadak dipenuhi oleh suara statis yang keras, suara desisan putih yang menusuk telinga.

"Apa-apaan ini?" teriak Bimo, menutup telinganya. "Suara apa itu?!"

Kai panik, jarinya mencoba mematikan perangkatnya, tapi layarnya tidak merespons. "Aku tidak bisa mematikannya! Sistemnya terkunci! Ada intrusi tingkat root!"

Teks di layar berubah lagi.

"Kegelapan Abadi Dimulai."

Dan kemudian, dari monolit hitam itu, sebuah gelombang kejut energi tak terlihat meledak keluar. Gelombang itu tidak merusak fisik, tidak menjatuhkan pohon, tidak melukai kulit mereka. Tapi gelombang itu menyentuh pikiran mereka. Selama sepersekian detik, Raka merasa dunianya runtuh. Ia melihat kilasan visi: langit yang terbakar, teman-temannya yang terbaring tak bernyawa, dan Elara yang menjeritkan namanya dengan wajah penuh air mata dan darah. Visi itu begitu nyata, begitu menyakitkan, hingga Raka hampir jatuh berlutut.

Elara juga terhuyung, memegang kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi. "Raka... aku melihat... aku melihat..."

Raka segera bangkit, menahan rasa sakit di kepalanya. Ia meraih bahu Elara, menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir visi itu. "Itu cuma ilusi! Jangan percaya! Itu cuma trik psikologis!"

Dengan usaha keras, Kai akhirnya berhasil memutus koneksi paksa. Layar-layar mereka kembali normal, menampilkan antarmuka sistem yang biasa. Suara statis berhenti seketika, meninggalkan keheningan yang lebih menakutkan daripada sebelumnya.

Monolit hitam itu masih melayang di sana, tapi cahayanya sudah padam. Ia tampak mati, seperti benda mati biasa.

"Misi... selesai?" tanya Bimo dengan suara gemetar, matanya masih lebar karena ketakutan. "Apa itu... apa itu musuh?"

Kai menatap monolit itu dengan ngeri. "Aku tidak tahu. Sinyalnya hilang total. Server itu... kosong. Tidak ada data, tidak ada log, tidak ada jejak. Seolah-olah itu hanya cangkang kosong yang diprogram untuk menampilkan pesan itu."

Raka menatap monolit itu lama. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena pengenalan. Pesan itu... "Waktunya Fajar Telah Habis." Itu adalah referensi langsung pada nama tim mereka, Tim Aurora, yang berarti Fajar. Dan "Kegelapan Abadi"... itu adalah ancaman eksistensial.

Ini bukan hacker iseng. Ini bukan error sistem. Ini adalah panggilan. Panggilan dari seseorang—atau sesuatu—yang telah lama bersembunyi di balik tirai realitas digital. Seseorang yang mengenal mereka. Seseorang yang menunggu momen ini.

"Kita harus pulang," kata Raka, suaranya datar dan dingin. "Sekarang."

"Tapi laporan..." mulai Kai.

"Lupakan laporannya!" bentak Raka, nada suaranya membuat ketiga temannya terdiam. "Kemas peralatan. Kita kembali ke markas. Jangan singgah di mana pun. Jangan bicara dengan siapa pun tentang ini sampai kita menganalisis data rekaman Kai di server aman markas."

Mereka bergerak cepat, meninggalkan clearing dan monolit hitam itu di belakang. Perjalanan kembali ke Aurora Wing terasa jauh lebih panjang dan mencekam. Tidak ada lagi candaan, tidak ada lagi diskusi tentang piknik atau road trip. Wajah-wajah mereka serius, penuh dengan pertanyaan yang tidak berani mereka ucapkan.

Saat mereka naik ke kapal dan pintu tertutup rapat, Raka menghela napas panjang. Ia menatap teman-temannya. Bimo masih gemetaran, Kai terlihat bingung dan frustrasi, dan Elara... Elara menatapnya dengan mata yang penuh kecemasan.

"Ka," bisik Elara. "Apa artinya itu? 'Fajar telah habis'?"

Raka menelan ludah. Ia ingin berbohong. Ia ingin mengatakan itu hanya prank jahat, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ia tahu mereka tidak akan percaya. Dan lebih penting lagi, ia tahu bahwa bohong tidak akan melindungi mereka dari apa yang akan datang.

"Entahlah," kata Raka akhirnya, memilih jalan tengah. "Mungkin itu hanya peringatan dari kelompok peretas baru. Mereka mencoba menakut-nakuti kita. Tapi kita tidak akan membiarkan mereka berhasil. Kita akan cari tahu siapa mereka, dan kita akan hentikan mereka."

Dia tersenyum, mencoba terlihat percaya diri. "Jangan khawatir. Kita Tim Aurora. Kita sudah menghadapi hal yang lebih buruk dari pesan teks misterius, kan?"

Bimo mencoba tersenyum, meski canggung. "Benar juga. Kalau cuma hacker, aku bisa bikin sup pedas yang akan membakar server mereka!"

Kai tertawa kecil, ketegangan sedikit mencair. "Sup pedas vs firewall. Pertandingan yang menarik."

Elara tidak tertawa. Dia masih menatap Raka, seolah-olah mencari kebenaran di balik mata pemimpinnya. Raka menghindari tatapannya, berpura-pura memeriksa panel kontrol kapal.

Kegelapan Abadi Dimulai.

Kalimat itu bergema di kepala Raka. Ia tahu, di lubuk hatinya, bahwa permainan santai mereka telah berakhir. Misi "mudah" ini hanyalah pembuka. Tirai telah disingkap, dan di baliknya, musuh sesungguhnya sedang menunggu.

Kapal Aurora Wing lepas landas, meninggalkan Hutan Data Lama di bawah mereka. Langit di luar jendela masih biru, matahari masih bersinar cerah. Tapi bagi Raka, warna biru itu kini terasa palsu. Ia tahu bahwa di balik kecerahan itu, awan badai sedang berkumpul. Awan yang berwarna merah darah.

Dan badai itu akan datang lebih cepat dari yang mereka kira.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!