Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Rahasia di Balik Gelar Duke (2)
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Luvya?"
Pertanyaan itu terus menggema di benak Kael, menjadi sebuah bisikan hampa yang menemaninya sepanjang tahun keempat penjelajahannya. Setelah berhasil meruntuhkan reputasi menjijikkan Bapak Kuil Penitensi dan membersihkan nama Luvya di sidang agung kekaisaran, seolah tidak ada lagi beban hukum yang bisa mengikat gadis itu. Namun, keberhasilan politik dan hukum itu justru meninggalkan lubang kehampaan yang semakin menganga di dada Kael. Untuk apa semua nama baik ini dipulihkan jika sang pemilik nama tetap tidak ada di sisinya?
Hingga tibalah ekspedisi militer terbesar yang pernah Kael ambil. Perang kali ini begitu brutal dan kejam, sebuah pertempuran sengit di wilayah perbatasan utara yang ekstrem. Medan yang berat dan strategi musuh yang nekat telah menewaskan hampir setengah dari pasukan elit yang dipimpinnya. Meskipun pada akhirnya Kael tetap keluar sebagai pemenang, sang Hantu Pedang yang tak terkalahkan, kemenangan itu terasa hambar.
Dalam perjalanan pulang menuju ibu kota, Kael memimpin sisa pasukannya melewati sebuah rute yang sangat ia kenal. Jalur itu adalah tempat terakhir di mana Luvya dikabarkan menghilang empat tahun lalu. Tempat di mana rumor mengatakan gadis itu tewas tanpa jasad. Entah karena hancur dimakan binatang buas, atau ditangkap oleh pihak lain yang tak dikenal.
Logika semua orang mengatakan bahwa Nona Vounwad yang malang telah lama membusuk di tanah. Namun, ikatan batin Kael menolak mentah-mentah logika itu. Keyakinannya tetap sekokoh batu karang, Luvya masih hidup. Gadis itu pasti berada di suatu tempat, sedang menantinya.
Tiba-tiba, langit utara yang pekat mendadak bergolak. Badai salju yang dahsyat bertiup tanpa peringatan, membutakan pandangan dan menusuk tulang.
"Hentikan barisan! Cari tempat berlindung!" perintah Kael, suaranya menggelegar menembus deru angin.
Semua pasukan terpaksa menahan langkah dan berlindung di balik dinding-dinding batu tebing untuk sementara waktu. Beruntung, badai itu tidak bertahan lama. Setelah perlahan mereda dan menghilang, menyisakan udara dingin yang membekukan, Kael kembali memberi perintah untuk berjalan. Kudanya melangkah perlahan di atas tumpukan salju yang baru.
Namun, beberapa ratus meter dari tempat mereka berlindung, pandangan tajam Kael menangkap sesuatu yang aneh. Di tengah hamparan putih yang monoton, ada sebuah gundukan salju yang berbeda. Gundukan itu tampak berkilau, memantulkan seberkas cahaya yang sangat asing dari kejauhan, seolah-olah menyembunyikan sebongkah permata berharga di dalamnya.
Kael menarik tali kekang kudanya, membuat hewan besar itu berhenti mendadak. Seluruh barisan di belakangnya ikut terhenti.
"Mengapa berhenti, Kapten?" tanya salah seorang prajurit dari barisan depan dengan nada bingung.
Kael diam sejenak, matanya menyipit menatap gundukan berkilau itu. Dadanya tiba-tiba berdegup dengan ritme yang tidak wajar. "Coba kalian periksa tumpukan salju di sebelah utara itu," perintah Kael rendah.
"Siap, Kapten!"
Dua orang prajurit segera memacu kuda mereka mendekati gundukan tersebut. Namun, hanya dalam hitungan detik, gerakan mereka mematung.
"Tuan! Ada seorang wanita di sini!" teriak salah satu prajurit di barisan depan dengan suara lantang yang dipenuhi rasa terkejut.
Mendengar seruan itu, beberapa prajurit lain dengan sigap langsung turun dari kuda mereka dan menghampiri tempat kejadian, bersiap menghadapi segala kemungkinan. Di tengah kepungan para prajurit, sosok di balik salju itu perlahan bergerak. Kelopak matanya bergetar, dan Luvya akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.
Dari atas kudanya, Kael terpaku. Dari jarak beberapa meter itu, seolah waktu berhenti berputar. Pandangannya langsung menangkap sosok wanita luar biasa cantik yang baru saja bangkit dari pelukan es. Rambut pirang pucatnya yang panjang tergerai berantakan namun tampak begitu bersinar, kontras dengan hamparan salju putih yang dingin di sekelilingnya. Sosok itu tampak begitu agung, seolah-olah salju Utara sengaja menjaganya agar tetap utuh selama ini.
Jantung Kael berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa sesak.
"Luvya..." gumam Kael lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun.
Tanpa membuang waktu sembilan detik pun, Kael turun dari kudanya dengan gerakan terburu-buru yang jarang ia tunjukkan. Ia melangkah lebar membelah kerumunan prajuritnya yang langsung memberi jalan. Kael mendekat, lalu berlutut di atas salju, memperhatikan sosok wanita dewasa di hadapannya dengan sangat seksama.
Ia menatap garis wajahnya yang kini lebih tegas, bentuk bibirnya yang familier, kelopak matanya yang perlahan terbuka memamerkan warna yang selalu ia rindukan, hingga helaian rambut pirang pucat yang berkilau itu. Benar, dia adalah Luvya-nya yang hilang. Gadis yang ia cari selama ini.
Rasa lega, haru, dan kepemilikan yang mendalam membuncah seketika di dalam dada Sang Hantu Pedang. Kael mengulurkan tangannya yang kokoh, mendekap tubuh Luvya yang masih lemas ke dalam pelukannya, menghirup aroma yang sangat ia rindukan di tengah amis darah medan perang.
Ia berbisik dengan suara yang teramat lembut di telinga gadis itu, sebuah janji yang akhirnya terpenuhi.
"Aku menemukanmu lagi, Luvya."
......................
Kereta kuda mewah berlambang kebesaran sang Duke baru itu melaju dengan kecepatan konstan di atas jalanan batu menuju jantung kekaisaran. Di dalam kabin yang luas dan berlapis beludru nyaman, keheningan kembali tercipta, namun dengan tensi yang jauh berbeda dari ruang makan sebelumnya.
Dari sudut pandang Kael, perjalanan ini adalah pembuktian dari seluruh jerih payahnya selama empat tahun terakhir. Matanya yang biru sedalam samudera tidak pernah sedetik pun beralih dari sosok wanita berambut pirang pucat yang duduk di hadapannya.
Kael terus memperhatikan setiap jengkal wajah Luvya. Memastikan bahwa guratan kedewasaan yang kini terukir di sana nyata, dan bahwa gadis itu tidak akan menguap menjadi butiran salju lagi seperti di pegunungan utara. Ada kepuasan tersendiri di dalam hatinya melihat Luvya mengenakan gaun mewah yang sangat pas.
Sementara itu, Luvya justru berada di ambang batas kesabarannya. Ia sengaja memalingkan wajah, melempar pandangannya keluar jendela kereta untuk menatap pemandangan kota yang bergerak lambat. Ia malas menatap wajah Kael yang terus-menerus memandangnya seperti singa yang mengawasi mangsa.
Dalam benak Luvya, situasi ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa pria ini bersikap sehangat dan sesantai itu? batin Luvya geram. Ia merasa Kael sudah kehilangan akal sehatnya. Di luar sana, dalam ingatan Luvya, namanya telah kotor sepenuhnya. Ia adalah anak haram yang dibuang, buronan kelas kakap, dan dicap sebagai pembunuh berdarah dingin dari seorang pemuka agama suci. Menuju istana dalam keadaan seperti ini sama saja dengan mengantar nyawa ke tiang gantungan.
Luvya sama sekali tidak tahu bahwa di balik ketenangan pria itu, Kael telah menjungkirbalikkan hukum kekaisaran. Luvya tidak tahu tentang persidangan agung, tentang tangisan Willy, tentang kesaksian para gadis muda korban Bapak Kuil, atau tentang bagaimana Kael telah mencuci bersih namanya hingga tak tersisa satu noda pun di mata publik.
Bagi Kael, ia tidak merasa perlu menjelaskan semua perjuangan berdarah itu sekarang. Biarlah dunia luar yang menunjukkan sendiri pada Luvya seberapa besar kekuasaan yang kini dimiliki sang Hantu Pedang untuk melindunginya. Kael hanya ingin menikmati kehadiran Luvya yang nyata di hadapannya.
Tidak ada percakapan khusus di antara mereka. Di dalam kabin yang kedap itu, hanya terdengar bunyi derap kaki kuda yang beraturan dan derit roda kereta yang berputar, menemani Luvya yang tenggelam dalam kecemasan batinnya, dan Kael yang terus mengagumi takdir yang berhasil ia rebut kembali.
Kereta kuda akhirnya berhenti dengan mulus di pelataran utama istana kaisar yang megah. Pintu kereta dibuka oleh pengawal, menampilkan kemegahan pilar-pilar putih tinggi dan karpet merah yang membentang luas hingga ke dalam aula utama.
Melihat kemegahan yang dulu pernah membuangnya, Luvya mendadak merasa lumpuh. Seluruh tubuhnya menegang, dan guratan gugup tercetak jelas di wajah cantiknya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya menyakitkan. Di tengah rasa cemas yang mendera itu, Kael mengulurkan tangan kanannya yang kokoh di depan Luvya, menawarkan tuntunan dengan gerakan yang sangat jantan dan protektif.
Sebagai wanita yang pernah belajar tata krama bangsawan, Luvya tahu betul apa yang harus ia lakukan dalam situasi publik seperti ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya, lalu meletakkan jemarinya yang dingin di atas telapak tangan Kael.
Begitu melangkah turun, Kael meremas pelan tangan Luvya, lalu berbisik rendah, "Jangan khawatir."
Mendengar kalimat yang terlampau santai itu, ketakutan Luvya sesaat berubah menjadi kekesalan. Ia mendesis pelan, memastikan suaranya hanya terdengar oleh Kael. "Jangan khawatir katamu? Asal kau tahu sebe—"
"Luvya?"
Sebuah suara tiba-tiba memotong kalimat Luvya, memecah ketegangan di antara mereka.
Luvya menoleh dan seketika terpaku. Berdiri tidak jauh dari mereka adalah seorang pria dengan postur tubuh yang tegap dan gagah, seorang laki-laki yang kini telah sepenuhnya beranjak dewasa. Rambutnya berwarna kuning cerah, dan sepasang matanya yang berwarna coklat menatap Luvya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dia adalah Lucian.
Melihat kehadiran Lucian, ingatan Luvya langsung berputar ke masa-masa akademi dulu. Mengingat statusnya sebagai anak haram Duke Vounwad yang penuh skandal dan kriminal, Luvya langsung berasumsi dalam hati bahwa Lucian pasti sangat membencinya seperti di novel. Pertemuan kembali setelah sekian lama ini terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Luvya.
Sebelum Lucian sempat melangkah lebih dekat atau melontarkan pertanyaan lebih lanjut yang bisa mengacaukan isi kepala Luvya, Kael langsung bergerak maju. Tubuh tegapnya yang besar sengaja bergeser sedikit, menghalangi pandangan Lucian dari Luvya, memancarkan aura dominan yang sangat dingin.
"Mohon maaf, Tuan Muda Lucian, saya ada perlu dengan Yang Mulia Kaisar," ucap Kael datar namun penuh penekanan, langsung menutup topik pembicaraan yang bahkan belum sempat dimulai.
Tanpa menunggu balasan dari pemuda berambut kuning itu, Kael mempererat genggamannya pada tangan Luvya. Dengan langkah lebar dan tegas, Kael langsung menuntun Luvya berjalan melewati Lucian, membawa gadis itu pergi menjauh sebelum pusaran masa lalu mereka kembali mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun.