Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan di Meja Makan
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit restoran privat itu meredup, menyisakan pendar keemasan yang memantul di atas permukaan meja marmer hitam. Aroma hidangan truffle yang pekat bercampur dengan wangi mawar merah yang mekar sempurna di tengah meja. Asha, dalam balutan gaun sutra berwarna merah darah, duduk dengan punggung tegak, menatap pria di hadapannya.
Arlan Valeska tampak terhipnotis, matanya tidak sedetik pun berpaling dari sosok V yang terlihat begitu menawan sekaligus berbahaya. Keheningan di antara mereka hanya dipecahkan oleh denting halus pisau perak yang beradu dengan piring porselen mahal. Asha tahu persis bahwa Arlan menyukai suasana yang intim namun penuh dengan dominasi tersembunyi.
"Anda tampak sangat tenang malam ini, Arlan. Padahal pasar saham sedang membicarakan kerugian besar yang dialami Neovault pagi tadi," ujar Asha membuka percakapan.
Suaranya rendah dan serak, nada yang sengaja ia latih untuk mengubur getaran Asha yang dulu lembut dan penuh kepatuhan. Arlan meletakkan gelas anggurnya, bibirnya tersenyum tipis, memperlihatkan kepercayaan diri yang mulai retak di bawah permukaan. Ia mencondongkan tubuh, mencoba menangkap lebih banyak aroma parfum kayu cendana yang menguar dari tubuh wanita itu.
"Kerugian hanyalah angka-angka yang bisa berubah dalam semalam, V. Namun, makan malam dengan wanita sepertimu adalah investasi yang jauh lebih berharga," jawab Arlan.
"Investasi selalu membutuhkan jaminan, bukan? Saya bukan wanita yang memberikan segalanya tanpa kepastian yang jelas," sahut Asha sambil menyesap anggur merahnya perlahan.
"Katakan apa yang kau inginkan. Kekuasaan? Properti? Atau mungkin kau ingin kursi di dewan direksi yang lebih tinggi?" Arlan mulai memancing, suaranya mengandung nada putus asa yang tersamar.
Asha tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan beludru yang dingin di telinga Arlan. Ia teringat betapa Arlan dulu sangat membenci wanita yang terlalu vokal mengenai keinginan mereka. Namun sekarang, pria ini justru terlihat memuja setiap kata yang keluar dari bibirnya yang dipulas lipstik merah gelap.
"Saya ingin sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, Arlan. Saya ingin loyalitas yang mutlak, sesuatu yang sepertinya sulit kau berikan pada orang lain," ucap Asha.
"Kau meragukan kemampuanku untuk setia? Aku bisa memberikan segalanya jika wanita itu adalah kau," Arlan mencoba meraih tangan Asha di atas meja.
Asha tidak menarik tangannya, ia membiarkan jemari Arlan yang hangat dan sedikit lembap menyentuh kulitnya yang dingin. Di dalam batinnya, rasa mual yang hebat kembali menyerang, seolah-olah kulitnya sedang dirayapi oleh serangga yang menjijikkan. Namun, ia mempertahankan ekspresi wajahnya yang penuh misteri, memberikan tatapan yang membuat Arlan merasa menjadi pria paling diinginkan.
"Loyalitas dibuktikan dengan pengorbanan. Aku mendengar istrimu, Elena, sedang mengamuk karena kau mulai memindahkan beberapa aset pribadi ke firma hukum pihak ketiga," ujar Asha tenang.
Arlan terdiam sejenak, genggamannya pada tangan Asha mengerat, seolah takut wanita ini akan menghilang jika ia melepaskannya. "Elena adalah masa lalu yang mengganggu. Dia tidak memiliki visi seperti yang kau miliki, V. Dia hanya parasit yang memakan sisa-sisa kejayaanku."
"Begitukah cara Anda memperlakukan wanita yang sudah menemani Anda sejak awal? Sangat efisien, namun juga sangat kejam," Asha menarik tangannya perlahan untuk mengambil sepotong daging steak.
"Dalam bisnis, tidak ada tempat untuk perasaan yang menghambat. Kau sendiri yang mengatakannya saat pertemuan pertama kita, bukan?" Arlan membela diri.
Asha mengiris dagingnya dengan presisi yang menakutkan, membayangkan setiap sayatan itu adalah apa yang ingin ia lakukan pada harga diri Arlan. Ia tahu Arlan menyukai steak dengan tingkat kematangan medium rare, dengan lumatan saus lada hitam yang tajam. Ia telah memesankan hidangan itu bahkan sebelum Arlan datang, sebuah detail kecil yang membuat Arlan merasa V sangat memahaminya.
"Anda benar. Perasaan hanya akan membuat nakhoda kapal kehilangan arah saat badai datang," kata Asha sambil menyuapkan potongan daging ke mulutnya.
"Lalu, apa langkah kita selanjutnya? Kontrak investasi itu sudah siap saya tanda tangani jika kau memberikan lampu hijau malam ini," tanya Arlan dengan mata berbinar.
"Jangan terburu-buru, Arlan. Malam masih panjang, dan saya ingin tahu seberapa jauh Anda bersedia melangkah untuk memenangkan hati saya," goda Asha.
Ia mulai bercerita tentang filosofi kekuasaan, menggunakan istilah-istilah ekonomi yang rumit namun dibalut dengan nada bicara yang menggoda. Ia menggunakan informasi yang ia curi dari masa lalu; ia tahu Arlan terobsesi dengan sejarah penaklukan Romawi. Asha menyelipkan analogi tentang Julius Caesar, membuat Arlan merasa sedang berbicara dengan belahan jiwanya.
"Kau luar biasa, V. Bagaimana bisa ada wanita yang memiliki kecerdasan sepertimu sekaligus kecantikan yang begitu menghantui?" gumam Arlan, wajahnya mulai memerah karena pengaruh alkohol.
"Mungkin karena saya dibentuk oleh rasa sakit yang luar biasa, Arlan. Sesuatu yang tidak akan pernah Anda pahami dari balik meja mahoni Anda yang nyaman," sahut Asha.
Arlan tertawa, menganggap kalimat itu hanyalah bagian dari pesona gelap yang dimiliki V. Ia tidak menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan Asha adalah belati yang sedang diasah di balik punggungnya. Arlan mulai bercerita tentang ambisinya untuk menguasai seluruh sektor properti di Neovault, mengabaikan fakta bahwa perusahaannya sedang berada di ambang kehancuran.
"Aku akan menjadikanmu ratu di kota ini, V. Kita akan menghancurkan siapa saja yang mencoba menghalangi jalan kita," janji Arlan dengan nada sombong.
"Ratu? Saya lebih suka menjadi tangan yang memegang mahkota itu sendiri," balas Asha dengan tatapan yang sangat tajam hingga Arlan terkesiap.
Makan malam berlanjut dengan permainan kata-kata yang penuh ketegangan, di mana Asha terus menarik dan mengulur emosi Arlan. Ia tahu kapan harus memberikan pujian yang halus dan kapan harus menjatuhkan harga diri Arlan dengan kritik yang tajam. Pria itu benar-benar berada di bawah kendalinya, persis seperti boneka yang talinya ditarik oleh tangan yang tak terlihat.
Bau mawar yang mulai layu di atas meja seolah menjadi simbol dari apa yang akan terjadi pada hidup Arlan. Asha memperhatikan bagaimana Arlan berkali-kali menyeka keringat di dahinya, pertanda bahwa pria itu mulai merasa terintimidasi namun tetap ingin memiliki. Ketegangan di antara mereka bisa dirasakan oleh para pelayan yang bergerak dalam diam di kejauhan.
"Anda tahu, Arlan? Ada sesuatu tentang Anda yang membuat saya ingin melihat Anda kehilangan segalanya," bisik Asha sambil condong ke depan.
Arlan tertegun, matanya membelalak mencari tanda-tanda candaan di wajah V, namun ia hanya menemukan kekosongan yang dingin. "Apa maksudmu? Kenapa kau ingin aku kehilangan segalanya?"
"Karena hanya saat seseorang kehilangan segalanya, kita bisa melihat siapa mereka yang sebenarnya. Bukankah itu esensi dari sebuah ujian?" Asha tersenyum licik.
"Kau benar-benar unik, V. Kau membuatku merasa takut sekaligus sangat bergairah dalam waktu yang bersamaan," Arlan tertawa lagi, kali ini lebih keras.
Asha membiarkan Arlan tenggelam dalam ilusinya sendiri, ia tahu bahwa pria ini sudah benar-benar bertekuk lutut. Pengabaian Arlan terhadap Elena dan pekerjaannya akan menjadi kunci utama dari kejatuhannya yang spektakuler. Makan malam ini bukan sekadar jamuan, melainkan upacara pemakaman bagi sisa-sisa kewarasan Arlan Valeska.
"Malam ini sangat mengesankan, Tuan Arlan. Saya rasa investasi ini akan menjadi awal dari sesuatu yang tak terlupakan," ucap Asha sambil berdiri.
"Kau akan pergi sekarang? Aku baru saja memesan pencuci mulut yang paling kau sukai," Arlan mencoba menahan dengan nada kecewa.
"Simpan itu untuk pertemuan kita selanjutnya. Saya suka membiarkan orang lain merasa lapar akan kehadiran saya," sahut Asha sambil mengambil tasnya.
Ia melangkah keluar dari restoran dengan kepala tegak, meninggalkan Arlan yang masih terpaku di kursinya, menatap gelas anggur yang kosong. Begitu pintu lift tertutup, Asha menyandarkan tubuhnya dan menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang sisa-sisa aroma Arlan dari paru-parunya. Ia merasa kotor, namun ia merasa menang.
"Satu tahap lagi selesai, Paman. Dia sudah benar-benar terobsesi," lapor Asha melalui perangkat komunikasinya.
Di dalam restoran, Arlan masih duduk sendirian, jemarinya menyentuh bekas tempat duduk V yang masih terasa hangat. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah V, suara rendahnya, dan bagaimana wanita itu seolah-olah mengenalnya lebih baik dari dirinya sendiri. Arlan tidak tahu bahwa di balik kecantikan itu, ada iblis yang sedang menghitung mundur waktu kehancurannya.
"Siapa kau sebenarnya, V?" bisik Arlan pada kegelapan di hadapannya.
Malam di kota Neovault terasa semakin dingin, namun bagi Arlan, dunia seolah-olah baru saja mulai menyala karena kehadiran V. Ia tidak sadar bahwa cahaya yang ia lihat bukanlah fajar, melainkan api yang akan melahap seluruh hidupnya tanpa sisa. Asha telah berhasil menanamkan benih obsesi yang akan tumbuh menjadi duri yang mencekik Arlan dari dalam.
Langkah kaki Asha yang menjauh dari restoran itu terdengar seperti irama genderang perang yang tak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Perang ini bukan lagi tentang saham atau uang, tapi tentang menghancurkan jiwa pria yang telah merenggut jiwanya di tepi sungai Rust. Godaan di meja makan itu hanyalah pembuka dari simfoni kehancuran yang telah ia susun dengan sangat rapi.