Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Perjalanan pulang hari ini begitu berbeda bagi Nurlia. Angin sore yang berhembus terasa lebih sejuk, dan kakinya jauh lebih ringan. Dia mengayuh sepeda ontel tua miliknya dengan semangat yang meluap-luap.
Akhirnya, Nurlia sampai di depan rumah kontrakan kecil mereka. Dia memarkirkan sepedanya dengan rapi di pelataran rumah yang terbatas itu.
Assalamu’alaikum... ucapnya dalam hati saat membuka pintu.
"Wa’alaikumsalam..." sahut suara Adelia dari ruang tengah.
Nurlia masuk dan melihat adiknya itu sedang asyik memegang ponsel, mungkin sedang chatting atau melihat media sosial.
"Langsung masuk kamar dulu ya Del, Kakak mau ganti baju," kata Nurlia sambil tersenyum misterius.
"Iya Kak," jawab Adelia santai.
Nurlia segera bergegas masuk ke kamar pribadinya yang kecil namun sangat bersih dan rapi. Pintu kamar ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Dia ingin menikmati momen ini sendirian.
Dengan hati-hati, Nurlia mengeluarkan isi saku bajunya. Ada lima lembar uang merah yang masih terasa hangat, dan selembar kertas kecil berwarna putih yang dilipat rapi.
Nurlia membuka laci lemari besi tempat dia menyimpan barang-barang berharga dan uang tabungan. Uang 500 ribu itu dia masukkan ke dalam dompet tabungannya, merasa sangat lega karena keuangan mereka untuk bulan ini pasti akan sangat terbantu.
Namun, matanya terus tertuju pada secarik kertas itu. Rasa penasaran mulai menggelitik hatinya lagi. "Apa isinya ya? Kenapa Tuan Sulthan menyuruh baca di rumah saja?" batinnya bertanya-tanya.
Sebelum membukanya, Nurlia keluar sebentar untuk mengambil air wudhu atau sekedar mencuci muka dan kaki di kamar mandi agar badannya lebih segar dan bersih. Dia ingin pikirannya jernih saat membaca pesan itu.
Setelah merasa segar, Nurlia kembali masuk ke kamar dan duduk di tepi kasurnya. Jantungnya berdegup kencang, deg...deg...deg, terdengar jelas di telinganya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena grogi, Nurlia mengambil surat itu dari laci, lalu perlahan membuka lipatannya.
Matanya mulai membaca tulisan tangan yang rapi dan tegak. Satu kalimat demi kalimat dibaca Nurlia berulang-ulang. Mata gadis itu membelalak lebar, mulutnya tertutup rapat menahan teriakan bahagia.
"Tuu... Tuan Sultha...n menyukaiku?" bisiknya tak percaya.
Wajahnya seketika memerah padam, panas menjalar dari pipi hingga ke leher. Tangannya menutup mulutnya untuk menahan seruan kegembiraan.
Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia yang luar biasa. Dia tak menyangka, pria setinggi, sekaya, dan setampan Sulthan Aditama bisa menaruh hati pada dirinya yang hanya seorang wanita miskin pelayan restoran.
"Jadi... perasaanku itu berbalas? Dia juga suka sama aku?" batin Nurlia melonjak kegirangan.
Rasa bahagia itu meledak di dadanya. Nurlia memeluk surat itu erat-erat ke dadanya, lalu merebahkan dirinya di atas kasur sambil tersenyum lebar menatap langit-langit kamar.
"Ya Allah... terima kasih... ternyata dia juga menyukaiku..." gumamnya lirih, hatinya berbunga-bunga dan rasanya ingin bernyanyi sekuat tenaga malam ini.
Rasa bahagia itu membuat Nurlia tak bisa diam. Dia berguling-guling di atas kasurnya, menutup wajahnya dengan bantal sambil mencicit kecil menahan kegembiraan yang meluap-luap.
"Yaa Tuuuhan... beneran gak sih ini?" gumamnya sambil mencubit lengannya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi.
Rasanya campur aduk sekali. Antara malu, senang, kaget, dan deg-degan yang luar biasa. Nurlia jadi salah tingkah sendiri di kamar. Sesekali dia tersenyum-senyum sendiri melihat tulisan tangan Sulthan yang rapi itu, lalu tiba-tiba dia menutup surat itu karena merasa malu saat membaca kalimat "Aku menyukaimu".
"Aaaahhh... masa iya Bos besar suka sama aku sih..." rengeknya manja dalam hati.
Namun, euforia itu perlahan berubah menjadi rasa ingin membalas. Nurlia merasa tak enak hati kalau hanya diam saja. Dia ingin sekali menulis balasan untuk Sulthan, ingin mengatakan bahwa perasaannya ternyata sama, bahwa dia juga sangat menyukai pria itu.
"Aku harus balas surat ini... aku harus bilang kalau aku juga suka sama dia," putus Nurlia mantap.
Segera dia mengambil buku tulis bersih, gunting, dan pulpen hitam kesayangannya. Dia memotong kertas menjadi ukuran kecil yang pas, persis seperti surat yang diberikan Sulthan tadi.
Nurlia duduk bersila di atas kasur, pulpen siap di atas kertas. Tapi... saat jari-jarinya hendak menulis, otaknya tiba-tiba terasa kosong melompong.
"Duh, mulai dari apa ya?" batinnya bingung.
Dia mencoba menulis, "Untuk Tuan Sulthan..."
Dihapus lagi. "Ah, terlalu kaku, kayak surat resmi."
Coba lagi, "Terima kasih suratnya, saya juga..."
Dihapus lagi. "Ih, 'saya' segala, kan bukan urusan dinas. Harusnya pake 'aku' biar lebih akrab ya? Tapi nggak sopan dong..."
Nurlia mengerutkan kening, tampak sangat serius memikirkan diksi yang pas. Dia ingin kata-katanya sopan tapi tetap terlihat manis, tulus, dan bisa menggambarkan betapa bahagianya dia.
"Gimana ya bilang kalau aku juga suka? Jujur aja kah? 'Aku juga menyukai Tuan'... ah, maluuuu!"
Nurlia memegang kepalanya frustrasi tapi bahagia. Pulpen digigit-gigit kecil, kertas dicoret-coret sampai beberapa lembar rusak karena salah tulis atau merasa kalimatnya kurang pas.
Ingin menulis "Sayang" tapi takut terlalu berlebihan. Ingin menulis "Terima kasih sudah menyukaiku" tapi merasa gengsi.
"Ya ampun Nurlia... biasa aja kali ah. Kenapa jadi pusing banget sih cuman mau balas surat cinta," omelnya pada diri sendiri sambil tertawa kecil melihat tumpukan kertas gagal di sampingnya.
Akhirnya dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati yang berdebar kencang itu.
"Ya sudah... tulis apa adanya saja. Apa yang ada di hati, tulis saja. Pasti Tuan Sulthan mengerti kok," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Pulpen pun kembali menyentuh kertas putih, kali ini dengan hati yang lebih siap untuk menuangkan segala rasa sayang dan bahagianya.
•••
Malam semakin larut, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19:00 tepat.
Di ruang kerja pribadinya yang mewah, Sulthan duduk santai di hadapan layar laptop besarnya. Koneksi internet lancar, dan di layar monitor sudah tampak wajah dua orang kepercayaannya, Juniarta dan Putri. Mereka sedang melakukan video call dari rumah masing-masing.
"Jadi begini Bos, data pengiriman emas dari pusat ke cabang toko lama tadi sempat tertunda, sekarang sudah kami susun ulang," buka Juniarta memulai pembahasan.
"Iya Pak, ini detailnya," sahut Putri yang duduk di sebelah Juniarta (mungkin mereka sedang di satu tempat). Putri pun mulai memutar layar atau menunjukkan dokumen yang berisi angka-angka dan laporan rinci.
"Lihat ini Pak, data stok masuk, stok keluar, dan estimasi keuntungan untuk bulan depan semuanya sudah tercatat jelas di tabel ini. Angkanya valid dan sudah dicek ulang," jelas Putri dengan suara yang tegas dan profesional. Wajahnya tampak segar dan sudah tidak terlihat takut seperti tadi siang.
Sulthan mengangguk-angguk, matanya menyimak data yang ditampilkan.
"Bagus, Putri. Tapi, kamu bisa tambahkan detail soal biaya operasionalnya. Pisahkan antara biaya listrik, keamanan, dan gaji karyawan biar lebih transparan," perintah Juniarta menyela.
"Betul kata Juniarta," sahut Sulthan ikut membenarkan. "Saya ingin laporannya breakdown jelas. Jangan digabung jadi satu item. Besok pagi saya butuh versi yang paling lengkap dan detail."
"Baik Pak, mengerti. Nanti saya revisi lagi," jawab Putri sigap mencatat.
Pembahasan pun berlanjut cukup lama dan serius. Mereka membahas target penjualan, persiapan grand opening cabang baru, hingga jadwal rapat mingguan.
Namun...
Di tengah fokus mendengarkan penjelasan Juniarta atau saat Putri sedang menjelaskan grafik, pikiran Sulthan sering kali melayang entah ke mana.
Matanya mungkin menatap layar, tapi otaknya justru membayangkan wajah Nurlia.
"Sekarang dia lagi ngapain ya? Apa surat itu sudah dia baca?"
"Gimana reaksinya? Dia kaget nggak? Atau malah dia jadi jijik dan benci sama aku?"
Rasa penasaran dan cemas bercampur aduk menghantui pikirannya. Sesekali dia tersenyum sendiri tanpa sadar saat terbayang wajah polos Nurlia tadi sore. Juniarta dan Putri sedikit heran melihat Bos mereka yang biasanya dingin tiba-tiba senyum-senyum sendiri saat rapat.
"Jadi gimana Bos? Setuju dengan usul kita?" tanya Juniarta membuyarkan lamunan Sulthan.
"Eh? I-iya... setuju-setuju. Lakukan saja seperti yang kalian rencanakan," jawab Sulthan sedikit gugup lalu berdeham untuk menutupi kegugupannya. "Sudah cukup segini saja, lanjutkan besok pagi di kantor. Assalamu’alaikum."
Klik.
Panggilan video diakhiri. Sulthan menghela napas panjang, menyandarkan badannya ke kursi.
"Ah... Nurlia... kenapa sih kamu bikin aku nggak bisa fokus begini..." gumamnya, hatinya berdebar menanti balasan dari gadis pujaannya itu.