NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu yang menjelma perih

Seminggu telah berlalu sejak keberangkatan Shaheer. Kesunyian rumah nomor 12 ternyata lebih tajam dari sembilu. Adeeva mencoba mengubur diri dalam tumpukan kain dan sketsa gaun pengantin pesanannya, namun tubuhnya tak bisa berbohong. Ia melewatkan waktu makan, lupa beristirahat, dan hanya tidur dua atau tiga jam di studio kecilnya—menunggu getar ponsel yang tak kunjung datang.

Malam itu, hujan turun dengan lebat di asrama. Adeeva merasa tubuhnya menggigil hebat meskipun sudah mengenakan jaket tebal milik Shaheer yang masih menyisakan aroma parfum sandalwood suaminya. Kepalanya terasa berat, seolah dunia sedang berputar dengan poros yang salah.

Saat ia mencoba berdiri untuk mengambil air minum, pandangannya mengabur. Tepat saat itu, ponselnya di atas meja bergetar kuat. Sebuah nomor satelit muncul di layar.

Dengan tangan gemetar, Adeeva menggeser tombol hijau.

"Sha... heer?" suaranya parau, nyaris hilang tertelan suara hujan.

"Deeva? Suaramu kenapa?" Suara Shaheer terdengar jauh, terputus-putus oleh statis, namun nada kekhawatiran di dalamnya sangat nyata. "Kamu sakit?"

Mendengar suara bariton itu, pertahanan Adeeva runtuh. Air mata yang ia tahan selama seminggu ini tumpah begitu saja. "Shaheer... dingin. Aku... aku pusing sekali."

"Dengarkan aku, Sayang," suara Shaheer mendadak tegas namun lembut, mencoba menembus kabut kesadaran Adeeva. "Sinyal di sini sangat buruk, aku hanya punya waktu semenit. Jangan tutup teleponnya. Aku akan minta Nadhir dan Fathiyah ke sana sekarang. Tetaplah terjaga, Deeva. Jangan matikan teleponnya..."

Klik.

Sambungan terputus. Sinyal di perbatasan kembali hilang ditelan rimba. Adeeva merosot di lantai studio, memeluk ponselnya di dada. Itu adalah kata "Sayang" kedua yang ia dengar dari Shaheer, dan kali ini, kata itu terasa seperti obat yang paling ia butuhkan.

Sepuluh menit kemudian, pintu depan dibuka paksa dengan kunci cadangan. Fathiyah masuk dengan wajah pucat, diikuti Nadhir yang membawa tas medis.

"Adeeva!" Fathiyah menghambur ke arah studio dan menemukan kakak iparnya tergeletak lemas di samping meja gambar. Ia menyentuh dahi Adeeva. "Ya Allah, panas sekali. Nadhir, bantu aku pindahkan dia ke tempat tidur!"

Fathiyah bergerak dengan sigap. Profesionalismenya sebagai dokter militer muncul, namun kali ini ada gurat ketakutan seorang kakak di wajahnya. Ia memasangkan infus dan memberikan kompres.

"Dia kelelahan kronis dan dehidrasi, Dok, " lapor Nadhir setelah memeriksa tanda-tanda vital Adeeva.

Fathiyah menghela napas panjang, menatap wajah pucat Adeeva yang bahkan dalam pingsannya masih menggumamkan nama Shaheer. Fathiyah duduk di pinggir ranjang, mengusap kepala Adeeva dengan lembut—sebuah pemandangan yang takkan pernah disangka oleh siapa pun di asrama ini.

"Maafkan aku, Deeva," bisik Fathiyah lirih. "Aku terlalu keras padamu, padahal kamu hanya gadis kecil yang merindukan rumah."

Menjelang subuh, Adeeva mulai sadar. Matanya terbuka perlahan, mendapati Fathiyah yang tertidur di kursi di samping ranjangnya dengan tangan masih memegang termometer.

Adeeva mencoba bergerak, membuat Fathiyah terjaga.

"Sudah bangun?" Fathiyah segera mengecek suhu tubuh Adeeva. "Demammu mulai turun. Jangan banyak gerak dulu. Kamu mau membuat Bang Shaheer pulang dari medan tugas hanya untuk menghukumku karena gagal menjagamu?"

Adeeva tersenyum lemah. "Tadi... Shaheer menelepon, Kak."

Fathiyah mengangguk, ia membantu Adeeva minum. "Iya, dia menghubungi markas pusat lewat radio satelit hanya untuk memastikan kita sudah sampai di sini. Dia sangat mencintaimu, Deeva. Aku belum pernah melihat Bang Shaheer sefrustrasi itu hanya karena tidak bisa berada di samping seseorang."

Adeeva menatap cairan infus yang menetes perlahan. "Aku juga merindukannya, Kak. Rasanya... sakit."

Fathiyah menggenggam tangan Adeeva. "Itulah risiko menjadi istri kami, para abdi negara. Kita sering kali menjadi nomor dua setelah tugas, tapi percayalah, di dalam doa dan setiap napasnya, kamulah yang nomor satu."

Pagi itu, di tengah rasa sakitnya, Adeeva belajar satu hal lagi tentang cinta di lingkungan asrama. Cinta di sini tidak selalu diungkapkan dengan makan malam romantis, tapi dengan panggilan radio satelit di tengah kontak senjata, dan tangan seorang adik ipar yang akhirnya mau merangkul di saat rapuh.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!