Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama untuk Juju
Jenna hampir gila. Ia menurunkan suaranya. “aku yang harusnya nanya! kamu kenal Marco gimana?!”
“Udah aku bilang, dia paman aku!”
“Kenapa nggak bilang dari awal!”
“Kamu juga nggak nanya!”
“...”
“Terus kamu kenal dia gimana?” Justin menatap mereka bergantian, semakin curiga.
“Panjang ceritanya...” Jenna memijat pelipisnya.
Ia baru saja selesai mandi. Aroma segar masih melekat di tubuhnya. Dua kaki jenjangnya terlihat di bawah kaus longgar. Tangannya mencoba menutup sobekan, tapi justru membuatnya makin terlihat.
Pemandangan itu membuat darah Marco mendidih. Melihat Jenna seperti itu di rumah pria lain, Marco ingin menghancurkan segalanya.
Meski dalam hati sudah berkali-kali meledak, wajahnya tetap dingin. Ia menatap Jenna. “Kamu mau tinggal di sini, atau pulang bersamaku?”
Kalimat itu terdengar tenang, tapi tekanannya jelas terasa.
Justin langsung menatap Jenna dengan tidak percaya.
Apa maksudnya?
Mereka tinggal bersama?
Jenna menatap Marco, lalu Justin yang marah. Ia menelan ludah. “aku... aku pulang...”
Aura dingin di tubuh Marco sedikit mereda. Namun Justin langsung meledak. Ia menarik pergelangan tangan Jenna. Matanya biru terang, penuh emosi. “Kamu janji malam ini sama aku!!!”
Jenna hampir meninju wajahnya. Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin salah paham?!
Ia melirik Marco. Wajah pria itu sudah dingin.
Dengan sabar, Jenna berkata, “Justin, aku besok kerja. kamu juga ada jadwal, kan? Nanti kalau kita sama-sama kosong, aku datang lagi buat main game, ya?”
Ia sengaja menekankan kata “main game”.
Setelah itu, ia buru-buru mengambil tasnya, menutup sobekan di bajunya, dan kabur seperti dikejar sesuatu, bahkan tidak sempat ganti baju.
Marco memberi satu tatapan dalam ke arah Justin, lalu mengikuti Jenna.
Justin berdiri di tempat, amarah menyala di matanya. Sial. Pantas saja Jenna tahu jalan tadi ditutup.
"Jenna, sebenarnya apa lagi yang kamu sembunyikan dari aku?"
Di luar, Jenna berjalan dengan gugup. Tiba-tiba tas di tangannya terasa ringan.
Marco sudah mengambilnya. Lalu sesuatu yang hangat jatuh di bahunya. Pria itu melepas jaketnya dan menyampirkannya.
“Makasih...” ucap Jenna canggung.
Marco tidak bereaksi. Dan justru itu yang membuatnya semakin gelisah.
...***...
Di kediaman keluarga Alamsyah.
Setelah kembali ke kamar dan berganti piyama, Jenna langsung melesat seperti kilat mencari si bakpau kecil.
“Sayang, tante hari ini agak takut gelap. Boleh tidur sama kamu?”
Si bakpau kecil tentu saja menyambut dengan senang hati. Ia bahkan dengan sukarela memberi lebih dari setengah tempat tidurnya.
“Makasih ya, sayang. Selamat malam, sayang.”
Semua yang terjadi hari ini terlalu intens. Jantungnya masih berdetak cepat sampai sekarang.
Setelah kejadian hari ini, ia bisa merasakan bahwa batas tipis antara dirinya dan Marco semakin rapuh, seolah bisa hancur hanya dengan satu sentuhan.
Kalau benar-benar hancur... ia tidak tahu harus bagaimana. Untungnya, si bakpau kecil di pelukannya seperti obat penenang. Setelah setengah jam, detak jantungnya perlahan tenang dan ia tertidur.
Namun, tidak semua orang bisa tidur dengan nyenyak.
...***...
Di tengah malam, ruang kerja Marco dipenuhi asap rokok tebal seperti kabut.
Pantas saja Hercules tidak bisa menemukan identitas dua orang yang mengirim hadiah kepada Jenna hari itu. Salah satunya ternyata pengkhianat yang tersembunyi. Keponakannya sendiri.
Sedangkan orang yang satu lagi, masih belum ada petunjuk.
Di dalam gelap, pria itu mematikan rokoknya, lalu berdiri dan keluar. Ia membuka pelan pintu kamar tamu.
Kosong.
Alisnya sedikit berkerut, lalu ia berbalik ke kamar sebelah.
Benar saja.
Jenna sedang memeluk Juju, tidur dengan nyenyak. Gadis ini cukup pintar.
Tapi apa dia pikir semuanya sudah selesai begitu saja?
Marco berjalan ke sisi ranjang kecil, dengan lembut melepaskan tangan Juju yang memegang pakaian Jenna, lalu menggantinya dengan boneka.
Kemudian, ia langsung mengangkat Jenna. Dalam tidurnya, Juju sempat mengerutkan kening dan meraba-raba, lalu memeluk boneka itu.
Setelah “menipu” anaknya, Marco membawa Jenna ke kamar utama. Dengan hati-hati, ia meletakkan gadis itu di tempat tidur, lalu duduk di sampingnya.
Tangannya yang sedikit kasar mengelus rambut halusnya, lalu matanya, pipinya... Seperti binatang buas sebelum menyantap mangsanya, ia sabar menikmati momen ini.
Akhirnya, ia menghela napas dan menempelkan bibirnya ke bibir Jenna. Perlahan, ia memperdalam ciuman itu, mengecap, menjelajah, menyatu.
Manis. Sama seperti yang ia bayangkan.
Bibirnya bergerak ke pipi, lalu ke daun telinga, turun ke leher, dan berhenti di tulang selangka.
...***...
Selama 32 tahun hidupnya, ia tidak pernah jatuh cinta. Ia selalu menganggap cinta tidak berarti. Tanpa hasrat, tanpa cinta, hidup tetap berjalan.
Namun ia tidak pernah menyangka, suatu hari cinta akan masuk begitu saja ke dalam hidupnya. Gadis yang delapan tahun lebih muda ini membuat hidupnya berubah.
Hidupnya bukan lagi tentang rencana dan angka, tetapi tentang kehangatan, kerinduan, kebahagiaan, dan kepuasan. Namun bersamaan dengan itu, muncul juga amarah, dorongan, dan keinginan.
Saat teringat pemandangan di rumah Justin, sisi gelapnya langsung muncul. Tanpa sadar ia memperdalam ciumannya.
Detik berikutnya, rasa samar menyebar di antara bibir mereka.
Gadis di bawahnya mengerutkan kening. Tubuh Marco menegang. Namun Jenna hanya bergumam pelan, lalu kembali tidur.
Marco menyentuh bibirnya yang lembap dengan ujung jari. Api menyala di matanya.
Ia hampir kehilangan kendali.
...***...
Jenna tidur semalaman dan bangun dengan sendirinya keesokan pagi. Tidurnya sangat nyenyak, sampai terasa aneh.
Kenapa lidahnya sedikit sakit?
Apa dia tidak sengaja menggigitnya saat mimpi?
Sarapan berjalan normal.
Melihat pakaian Marco, sepertinya ia akan kembali bekerja hari ini. Ia duduk rapi, seperti bangsawan, minum kopi sambil membaca koran. Wajahnya tetap dingin, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Jenna diam-diam lega. Mungkin ia hanya terlalu sensitif.
Mungkin Marco memang punya sedikit perasaan padanya, tapi tidak sampai cemburu... apalagi dengan keponakannya sendiri.
Ekspresi Marco normal. Tapi tidak dengan Juju. Sejak pagi, wajahnya kaku dan cemberut, seperti kehilangan sesuatu.
Jenna mengambil siomay dan menaruhnya di mangkuknya. “Sayang, kenapa? Lagi nggak senang?”
Juju melirik ayahnya yang pura-pura tidak tahu apa-apa, lalu semakin kesal.
Namun karena ia tahu Jenna paling suka melihatnya tersenyum, ia memaksakan diri tersenyum kecil.
Melihat itu, Jenna akhirnya tenang. Ia segera menghabiskan sarapannya. “Tante berangkat dulu ya. Kalian makan pelan-pelan.”
Hari ini pemeran utama pria kedua akan datang, jadi ia harus lebih cepat.
Saat hendak pergi, Juju tiba-tiba memegang bajunya.
“Ada apa?”
Wajah si kecil langsung penuh keluhan, hampir menangis. Jenna bingung, tidak tahu apa yang salah. Ia hanya bisa meminta bantuan dengan tatapan ke Marco.
Pria itu meliriknya. “Kamu lupa cium perpisahan.”
“Oh! Iya!” Jenna menepuk dahinya.
Juju melambaikan tangan setelah mendapat ciuman, lalu menatap ayahnya dengan wajah marah.
Marco pura-pura tidak melihat. Ia minum kopi dengan tenang. “Maaf, aku gak ngerti. Kalau mau bicara, bicara atau tulis.”
Juju makin kesal.
Akhirnya ia menulis satu kata di kertas: Pencuri.
Marco melirik. “Apa? Kita kemalingan?”
Pipi Juju langsung menggembung. Ia menulis lagi dengan kesal: "Kamu mencuri Tante Jenna tadi malam!!!”
Melihat kalimat lengkap itu, Marco akhirnya puas.
Ia menaruh koran dan menatap anaknya. “Kamu gak mau Tante Jenna jadi istriku?”
Juju menulis cepat: “Punya aku!”
Marco mengangkat alis. “Sayangnya, kalian gak cocok. Kamu lebih muda 19 tahun. Mau dia nunggu selama itu?”
Juju menunduk dan menggambar telur busuk.
Melihat gambar itu, Marco tersenyum tipis. “Aku cuma bilang yang sebenarnya.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata pelan, “Tapi kalau dia jadi istriku, dia akan jadi Mamamu.”
Ibu...
Juju membeku.
Ia menunduk, berpikir dalam-dalam. Pergulatan di wajah kecilnya terlihat jelas.