Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak di Balik Janji
“Saudara Adrian dan Saudari Alya, apakah kalian siap—”
Kalimat itu seharusnya menjadi awal dari sesuatu yang sakral. Sesuatu yang rapi, indah, dan penuh harapan. Namun kata-kata itu menggantung di udara, tidak pernah selesai, seolah bahkan takdir pun memutuskan untuk menekan tombol pause di detik yang paling tidak tepat. Bukan karena angin berhenti, bukan karena suara menghilang, melainkan karena cahaya di belakang altar tiba-tiba berkedip seperti sinyal buruk dalam hidup seseorang.
Videotron besar yang sejak tadi menampilkan foto prewedding mereka, yang jujur saja sudah cukup membuat Alya ingin kabur karena terlalu romantis, mendadak glitch sekali, lalu berubah total. Perubahan itu begitu cepat hingga sebagian tamu masih sibuk memperbaiki posisi duduknya ketika realita sudah lebih dulu menghantam mereka.
Namun Alya melihatnya dengan sangat jelas, tanpa filter, tanpa delay, tanpa kesempatan untuk pura-pura tidak tahu.
Satu foto muncul.
Adrian.
Dan seorang perempuan.
Wajah perempuan itu tertutup rambut panjang yang jatuh tidak pada tempatnya, menutupi hampir seluruh identitasnya, seperti sengaja dibuat misterius tapi justru mencurigakan.
Posisi mereka terlalu dekat untuk disebut kebetulan, terlalu intim untuk dianggap “ah mungkin lagi ngobrol biasa.”
Tidak ada penjelasan, tidak ada caption, bahkan tidak ada watermark yang bisa disalahkan. Hanya satu gambar yang langsung memancing seribu asumsi liar dalam waktu kurang dari dua detik.
Napas Alya langsung tersendat, seperti paru-parunya lupa cara bekerja. Tangannya dingin, benar-benar dingin, seperti habis pegang es batu terlalu lama di tengah Kepulauan Atlantis. Namun anehnya, ia tidak bergerak. Tidak menjerit. Tidak menangis. Ia hanya berdiri di sana, mencoba berpikir, meskipun otaknya sudah mulai lemot seperti sinyal di daerah pelosok.
Karena Alya yakin, Adrian tidak seperti itu. Walaupun pernikahan mereka erdia tidak dilandasi cinta dan kasih sayang layaknya dua orang sejoli yang sedang memadu kasih, namun Alya tahu dan paham persis, Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Alya hanya hanyut dalam pikirannya sendiri.
Oke… ini mungkin editan… mungkin panitia salah file… mungkin ini bagian dari kejutan? Atau… prank? Ya, prank. Ini pasti prank. Siapa sih yang bikin prank sekelas ini…
Namun sebelum logika absurdnya berhasil menyelamatkan sisa kewarasannya—
Gambar itu bergerak.
Video.
Lima detik.
Dan lima detik itu terasa seperti lima tahun hidup yang salah arah.
Tubuh Adrian terlihat jelas, tanpa pakaian bagian atas, sementara perempuan itu wajahnya tetap tertutup oleh rambut panjangnya, membuat situasi justru semakin buruk. Tidak ada suara, hanya gerakan singkat yang cukup untuk membuat seluruh ruangan berubah dari sakral menjadi… gosip level nasional.
Hening.
Benar-benar hening.
Lalu—
Bisikan mulai muncul.
Pelan.
Tapi tajam.
“Eh itu beneran dia ya?”
“Ya ampun… ini nikah atau sidang kasus?”
“Ceweknya siapa tuh? Kok nggak keliatan mukanya… sengaja ya?”
“Wah ini sih bukan cinta segitiga lagi, ini polygon…”
"Mereka lagi di ranjang?"
"Wahhh, mereka berpelukan tanpa pakaian."
Alya merasakan telinganya berdengung, suara-suara itu seperti masuk dari semua arah tanpa izin. Dunia di sekitarnya terasa menjauh, seperti ia berdiri di tengah ruangan tapi semuanya ada di balik kaca tebal. Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang sangat nyata.
Tangannya.
Digenggam.
Kuat.
Sangat kuat.
Alya menoleh.
Adrian.
Pria itu berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi rahangnya mengeras jelas dan dahinya dihiasi oleh urat yang timbul akibat tekanan. Genggamannya bukan sekadar pegangan, itu seperti jangkar. Seolah ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar situasi memalukan.
Alya menelan ludah, tangannya masih dingin, tapi kali ini ia tidak menariknya. Justru tanpa sadar, ia menggenggam balik, sedikit, pelan, seperti orang yang tidak tahu harus lari ke mana selain bertahan.
Pendeta di depan mereka tampak kehilangan skrip hidupnya selama beberapa detik. Ia menutup bukunya perlahan, menarik napas dalam seperti orang yang mencoba tetap profesional di tengah kekacauan yang tidak dia daftar.
“Mohon… tenang,” katanya akhirnya, meskipun suaranya sedikit goyah. “Kita akan… menyelesaikan ini dengan baik.”
“Dengan baik gimana, Pak? Videonya aja belum selesai,” bisik seseorang dari kursi belakang.
“Ini paket lengkap ya, ada drama, ada visual,” tambah yang lain.
“Kurang popcorn aja,” sahut suara lain, membuat beberapa orang hampir tertawa tapi langsung menahan.
Namun sebelum situasi bisa diselamatkan...,
Ibunya Adrian melangkah maju.
Wajahnya pucat, tapi matanya menyala penuh emosi yang tidak lagi bisa disembunyikan.
“Adrian,” panggilnya, suaranya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena terlalu banyak yang ditahan sekaligus.
Adrian tidak menjawab.
Ia tetap diam.
Dan detik berikutnya—
PLAK!
Suara tamparan itu menggema jelas, keras, dan sangat tidak masuk dalam rundown acara. Alya tersentak, tubuhnya ikut bergetar seperti baru kena efek petir sosial.
“Ini hari pernikahanmu!” suara ibunya pecah, emosinya tumpah tanpa filter. “Dan kamu mempermalukan keluarga kita seperti ini?!”
“Waduh… live action,” bisik seseorang.
“Ini lebih seru dari sinetron jam tujuh,” tambah yang lain.
Ayah Adrian ikut maju, wajahnya tidak kalah gelap.
“Apa maksud semua ini, Adrian?” tanyanya tajam, suaranya rendah tapi tekanannya terasa sampai ke kursi belakang.
Adrian tetap diam.
Tangannya masih menggenggam Alya.
Tidak dilepas.
Tidak goyah.
Di sisi lain, orang tua Alya hanya berdiri. Membeku. Tidak berbicara. Wajah mereka seperti orang yang baru sadar mereka masuk ke acara yang salah tanpa bisa keluar. Alya merasakannya, perasaan kecil itu muncul perlahan, merayap tanpa permisi.
Matanya turun ke gaunnya.
Yang tadi terasa indah.
Sekarang terasa… berat.
Seperti bukan miliknya.
Lihat… ini level dia… bukan kamu… pikirannya berbisik kejam. Dia punya dunia sendiri… kamu cuma cameo…
Dadanya sesak, tapi ia tetap berdiri. Karena kalau ia menangis sekarang, itu berarti semua ini nyata. Dan ia belum siap mengakui itu.
Akhirnya, Adrian bergerak.
Perlahan.
Ia melepaskan genggaman Alya, bukan karena ingin, tapi karena harus. Tatapannya berubah, tidak lagi sekadar dingin, tapi tajam, fokus, seperti seseorang yang akhirnya memutuskan berhenti menahan diri.
Ia melangkah turun dari altar.
Setiap langkahnya terdengar jelas di tengah ruangan yang masih dipenuhi bisikan dan komentar tidak diundang.
Orang-orang otomatis memberi jalan.
“Wah dia mau ngapain…”
“Jangan-jangan mau klarifikasi?”
“Atau… lanjut bab dua?”
Alya menatap punggungnya, jantungnya kembali tidak stabil. Direktur mau ngapain… jangan-jangan dia kabur… atau dia mau mukul orang… atau—
Langkah Adrian berhenti.
Di depan seseorang.
Tangannya terangkat perlahan, ototnya menegang, seperti semua emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya mencapai titik kritis.
Seluruh ruangan menahan napas.
Alya bahkan lupa cara berkedip.
Dan tepat sebelum tangan itu jatuh—
“ADRIAN, JANGAN!”
Suara itu memecah suasana.
Histeris.
Panik.
Dan datang dari satu orang.
Seraphina Claudine.
"Tolong, jangan Adrian!"