Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.
Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.
Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.
Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?
Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersenyum malu
Beberapa menit telah berlalu, dan mereka telah tiba di depan rumah. Dengan kaki yang terasa berat, Hanum melangkah keluar dari mobil menuju pintu rumah.
Tangannya baru saja tergerak akan menekan lekuk pintu, saat itu juga bersamaan dengan Nesa yang ingin keluar dari sana.
Ditengah rasa tegangnya Abi, Hanum tersenyum manis menatap Nesa dengan mata yang lebar dan ceria.
"Hai, sudah lama, ya?" Sapa Hanum dengan ramah, meskipun di dalam hati terdapat api cemburu yang membara, tetapi Hanum tidak akan membiarkan Nesa melihatnya.
Nesa pun membalas dengan senyuman yang sama. "Hai, aku cukup lama." Kata Nesa, lalu menatap Abi, "iya kan, Bi?"
Degup jantungnya menembus baju yang sedang ia pakai, Abi tak menyangka Nesa akan bertanya itu padanya. "E, iya. Tadi Nesa datang pas aku mau jemput kamu," kata Abi dengan gugup, sembari melirik Hanum.
"Maaf ya, soalnya Abi nggak bilang." Kata Hanum sambil diam-diam mencubit pingang Abi, "coba tadi Abi bilang, pasti aku pulangnya sudah dari tadi, terus kita bisa ngobrol santai."
Nesa tersenyum, "nggak apa-apa, besok aku bisa ke sini lagi. Aku tinggalnya nggak jauh dari sini, kok!"
"Oh, ya bagus dong, bisa sering-sering ke rumah." Sindiran Hanum yang membuat Nesa semakin ingin mengambil kesempatan.
"Iya, alhamdulillah. Aku jadi bisa berbagi makanan sama ibu, seperti kemarin-kemarin, iya kan, Bi?"
Abi tersenyum paksa, "iya." Jawabnya.
"Nesa, nanti kemalaman lho, kalau ngobrol terus." Kata bu Elis, mengusir halus.
"Nggak apa-apa, ibu. Lagian rumah aku dekat ini, tinggal belok kanan langsung sampai." Jawab Nesa lalu menatap Abi, "oh ya, Bi. Mulai besok aku berangkatnya bareng kamu aja, ya? Kan kita satu tujuan."
Manik hitam Abi dan Hanum membulat ketika mendengar ucapan Nesa, keduanya saling menatap, namun terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Maaf Nesa, sebenarnya setiap pagi Abi pasti antar Hanum dulu." Kata bu Elis, memecah suasana yang langsung dibenarkan oleh Abi.
"Iya, benar kata ibu."
"Kemana?" tanya Nesa, penasaran. Kemudian lanjut bertanya sebelum mereka memberi jawaban, "aku duduk di belakang nggak masalah kok, Bi. Kita antar Hanum ke tempat tujuan dulu, baru kita sama-sama berangkat ke kantor, ide bagus kan?"
"Nggak!!" pangkas Abi dengan cepat. "Maksud aku, aku nggak bisa. Sebaiknya kita berangkat sendiri-sendiri saja, supaya nggak ada yang saling menunggu."
"Nggak apa-apa, Bi. Aku mau kok kalau aku yang harus nunggu terus, aku bakal siap sebelum kamu datang." Kata Nesa agak ngeyel, yang tidak mendapat tanggapan dari Abi.
Abi menggenggam erat tangan Hanum, "aku capek banget, sayang." Ucapnya sambil menarik tangan Hanum.
Hanum tersenyum sambil melambaikan tangan, saat melewati Nesa.
Nesa menggelakkan kepalanya, mencoba mengalihkan pandangan dari pasangan itu.
Ia merasa terbakar hatinya, "ugh, bisa nggak simpan dulu keromantisan kalian saat di depan aku?" Bisik Nesa dalam hatinya.
"Maaf ya, Nesa, ibu masuk dulu." Pamit bu Elis sambil menutup pintu sebelum Nesa menjawab.
"Ck, kenapa jadi gini sih?!" Ucapnya, lalu pergi dengan membawa rasa kesal yang masih menggumpal di dalam hatinya.
"Mulai besok aku berangkatnya bareng kamu aja, ya? Kan satu tujuan." Hanum mengulang ucapan Nesa kepada Abi sembari berjalan ke dapur.
Abi tertawa kecil sambil mengekor di belakangnya. Setelah melihat sedikit kecemburuan di mata Hanum, Abi merasa semakin ingin mengodanya.
Hanum menoleh, matanya sedikit berkedip. Kemudian mengambil kopi, gula, dan krimer dengan gerakan agak kasar.
Abi mengambil dua cangkir sambil menahan tawa, lalu meletakannya di atas meja, "aku bantu ya, sayang."
"Nggak usah, Yang, kita kan nggak satu tujuan." Kata Hanum sambil membuat kopinya.
Abi menyipitkan matanya, "kamu cemburu, ya?"
Hanum mencibir, "nggak Yang, tenang saja!"
"Tapi kelihatannya gitu?" kata Abi sambil membuka kamera yang ada di ponsel, lalu mengarahkannya ke Hanum. "Tuh kan, wajahmu kelihatan jauh lebih manis pas lagi cemburu," goda Abi.
Sendok kopi itu mendarat halus di punggungnya, Hanum tidak bisa tidak merasa gemas. "Kamu emang nggak bisa di bohongi!"
"Makasih ya, sayang, kamu sudah cemburu." Goda Abi lagi.
"Kok malah bilang terimakasih?"
"Iya, itu kan artinya kamu mulai perhatian sama aku." Kata Abi sambil menyeruput kopinya.
Kemudian bu Elis datang. "Hanum, jangan terlalu memikirkan sikap Nesa, ya! Mungkin dia masih belum bisa move on, makanya gitu. Yang penting fokus sama diri kalian saja."
Hanum mengukir senyum, "iya, ibu. Aku biasa aja kok, kalau Nesa mau datang setiap hari juga nggak apa-apa."
"Yakin?" saut Abi yang menciptakan kerutan di hidung Hanum.
Bu Elis tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "ya sudah, kalian atur saja." Kata bu Elis sebelum pergi ke kamarnya.
Kemudian Abi kembali menatap Hanum yang duduk menghadap dirinya.
Hanum tersenyum malu, ia menunduk demi menyembunyikan pipinya yang kini terasa memanas. Tetapi Abi tak kunjung mengakhiri tatapan matanya yang hangat itu.
"Jangan buat aku malu seperti ini, Bi?" kata Hanum sambil melirik ke samping. "Jujur, ini pertama kali aku merasa malu di depan laki-laki."
Abi tertawa geli dibuatnya, "nggak percaya." Lirihnya.
"Apa?"
"Nggak percaya!" Abi kembali mengulang kalimat itu.
"Ih, beneran! Aku emang nggak pernah merasa begini." Kata Hanum sambil terkekeh.
Abi menatapnya lebih dalam lagi, "cantik banget sih, istri aku ini?"
"Abi..."
"Masya Allah, baru beberapa hari kamu jadi istri aku, sudah buat aku terpesona begini?"
"Bukanya yang buat terpesona itu, wanita cantik yang tadi, ya? Rambutnya lurus, matanya bulat, bodynya juga—" kata Hanum yang langsung dipotong oleh Abi.
"Tapi hijabmu tidak menyembunyikan kecantikanmu, menurut aku justru malah membuatnya semakin terpancar, dan yang terpenting dari bagian itu adalah....karena membuatku semakin jatuh cinta sama kamu~" Ucapnya yang membuat Hanum tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kok jadi diam?" sambung Abi lagi, setelah beberapa saat Hanum terdiam sambil menunduk malu.
"Aku nggak biasa dengar kata-kata manis secara langsung, Bi. Aku pikir, kata-kata manis itu cuma ada di buku-buku yang sudah aku baca." Jawab Hanum tanpa berani mengangkat wajahnya.
* *
Putus dari Reza, lalu mendapatkan Rendra, merupakan suatu kebangaan buat Nadia. Dia merasa berada di level berkali-kali lipat di atas hubungannya bersama Reza.
Rasa kebanggaan itu membuatnya merasa wajib menyombongkan diri pada teman-temanya, terutama pada Reza. Diambilnya ponsel dari atas meja, jarinya menggeser nama-nama yang berada di dalam kontaknya.
"Ah, ini dia orang pertama yang harus aku buat menyesal!" ucapnya ketika melihat nama Reza.
Tak ingin berlama-lama membuang waktu, ia pun menekan simbol hijau demi menghubungkan panggilan dengan Reza.
"Hallo! Mau ngapain kamu?" jawab Reza dengan ketusnya. "Mau ngajak balikan? Jangan Harap, ya! Mendingan aku nunggu kakakmu jadi janda!" katanya.
"Cih! Aku juga ogah kali! Nggak usah kepedean deh, kamu!"
"Terus mau ngapain, malam-malam telepon?"
"Dengar, ya! Aku cuma mau ngundang kamu secara langsung, buat acara penikahan aku!" Dengan bangganya, Nadia ceritakan tentang rencana pernikahannya dengan Rendra, yang akan digelar secara mewah.
"Aku bakal datang! Tapi karena aku mau dekat sama Hanum, bukan karena aku akan menggagumi pesta kalian!" tegas Reza, kemudian memutus panggilannya.
"Agrh, sial! Dasar laki-laki miskin!!"
Nadia menghempaskan tangannya ke meja, membuat gelas yang berada di atasnya bergetar. Napasnya memburu, hingga membuat urat di lehernya menonjol. Dia sangat kesal pada jawaban yang Reza beri.
...****************...