Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGETAHUI SEMUA
Ira melangkah maju, mencoba meraih tangan Mikha dengan gestur memohon. Namun Mikhaela menolaknya. Mikha menjauhkan tangannya tidak mau di sentuh Ira.
"Nania juga terlibat, Mik. Dia yang memalsukan surat-surat tes DNA Salfa dan suami mu. Mereka ingin kamu merasa bersalah karena tidak memberi keturunan pada Dion. Mereka pikir dengan mengintimidasi, kamu akan menyerahkan semua aset atas nama Dion ke yayasan yang sebenarnya dikelola secara gelap oleh mereka berdua."
Mikha mundur selangkah, otaknya berputar cepat. Berarti selama ini ia bukan hanya anggap sebagai penghalang bagi Nania dan Tio, tapi juga akan di jadikan target dari sebuah perampokan terencana mereka berdua.
"Kenapa kamu beri tahu aku sekarang? Apa tujuanmu?", tanya Mikha tajam, matanya menatap tajam Ira dengan sorot penuh selidik.
"Karena Tio mulai kasar pada ku setelah ia mengetahui kamu dekat dengan Dante. Tio merasa terancam. Ia merasakan semakin sulit merebut harta mu," isak tangis Ira pecah. "Dia nggak peduli sama anak kami, Mik. Bagi dia, Salfa cuma alat tukar. A-ku takut... aku takut Salfa kenapa-napa kalau permainan ini terus berlanjut dan mereka tidak dapat mewujudkan tujuan mereka akan menyakiti anak ku. Kalau hanya aku yang mereka sakiti aku bisa terima. T-api kalau itu Salfa, aku tidak bisa membiarkan nya", ucap Ira berderai air mata.
"Aku tidak meminta bagian apa-apa. Aku hanya meminta mu membantu aku dan Salfa pergi dari Jakarta agar Tio dan keluarganya tidak menyakiti anak ku. Itu saja".
Ira mengusap tangisannya. "M-aafkan aku karena telah ikut bersekongkol dengan mereka dan membuat mu meragukan cinta suamimu. M-aafkan Aku.."
Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara Air conditioner yang menyala. Mikha tahu, ia tidak bisa lagi diam. Jika harta Dion adalah tujuannya, maka dengan alasan harta itulah ia akan menghancurkan saudara-saudaranya, Nania dan Tio.
"Simpan tangisanmu, Ira," ucap Mikha dingin, namun tegas.
"Kalau kamu mau aku percaya, bantu aku kumpulkan bukti pemalsuan itu. Kita seret Tio dan Nania sebelum mereka sadar pion mereka, kaki tangan mereka yaitu kamu sudah berbalik arah!", tegas Mikhaela.
*
Tawa Tio menggelegar memenuhi ruang tamu berukuran luas rumah orangtuanya yang berada di kompleks perumahan mewah.
Tio tidak sendirian namun bersama Nania, Warda dan pengacara juga.
Ketiganya membahas tentang rencana perampasan aset keluarga yang kini di kuasai Mikhaela. Ketiganya sepakat
Tio puas karena idenya di setujui Warda juga Nania.
"Baik. Karena semua sudah sepakat maka akan lebih mudah bagi saya bekerja. Besok pagi, saya akan melayangkan somasi pada nonya Mikhaela.
"Karena bukti sertifikat ini menjelaskan bagaimana perusahaan Sadewa mulai berdiri, hingga bisa menjadi perusahaan besar seperti sekarang", ujar pengacara yang di sewa Tio.
Warda yang duduk di kursi goyang, tersenyum puas mendengar ucapan pengacara itu. "Lakukan saja secepatnya, sebelum wanita itu lari dengan surat-menyurat penting yang masih ia kuasai. Aku tidak akan memberi uang sepeser pun padanya. Karena ia membuat kita sulit seperti ini", ketus Warda.
"Iya, aku setuju dengan mama. Permasalahan ini seharusnya bisa selesai cepat tahun lalu, tapi gara-gara wanita tidak tahu diri itu akhirnya berlarut-larut begini. Biarkan saja ia menjadi gembel di jalanan sana–"
"Apa tidak terbalik nantinya Nania. Malah kau yang jadi gembel di jalan.."
...***...
To be continue