NovelToon NovelToon
SELAMATKAN AKU

SELAMATKAN AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis / Selingkuh / Cintamanis / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Sazi mengintip dari balik bahu ayah mertuanya, wajahnya setengah takut, tapi setengah menahan tawanya. "Yah,.liat tuh bang Fadli nyeremin."

"Fadli, jangan yang aneh aneh, sama anak ayah."

"Siapa yang aneh sih yah, dia istri Fadli sendiri yah, bukan istri orang."

"Terlepas itu Fadli, Sazi sampai ketakutan gitu."

Sadewa berjalan ke arah mereka, dan tersenyum melihat kelakuan saudaranya itu lalu menepok pundak Fadli, "elo tuh dah bikin si Sazi ketakutan tau"

"Ya Allah apalagi sih ini, emang gue ngapain, gue salah apa lagi sih, Sazii,..tega ya kamu fitnah Abang dirumah Abang sendiri." ucap Fadli dengan ekspresi dramatis dan sempat frustasi dibuatnya.dt

"Siapa yang fitnah Abang sih, lagian itu ayah sama Sadewa aja liatnya serem kan kayak muka harimau mau ngejar mangsa gitu kayak mau makan orang."

"SAZII!."

Seketika ayah Fadli dan Sadewa ketawa ngakak mendengarnya, "Fadli, kamu tuh mau ngapa ngapain istri kamu ya enggak masang wajah serem juga hahaha."

"Ini ada apa sih ribut ribut, kayak taman bermain aja." celetuk mama Fadli yang tiba tiba muncul dari kejauhan masih menururuni anak tangga.

"Ini mah, bang Fadli nyeremin nakut nakutin Sazi." ucap Sazi memeluk mama mertuanya.

"SAZIII."

"Fadli kenapa lagi, jangan macem macem"

"Ya Allah kena lagi, saya lagi yang salah." seketika suasana rumah menjadi pecah, Sazi menjulurkan lidahnya pada Fadli mengejeknya dengan begitu puasnya mendapat pembelaan dari ayah sama ibu mertuanya. sementara Fadli mendapat teguran ia hanya menundukkan kepala pasrah saja meski pada akhirnya tatapannya melirik tajam pada Sazi "Awas kamu nanti , Sazi!." ucap Fadli dalam benaknya.

"Sudah sudah, ada ada saja kalian ini, Wa, main catur temani om."

"Siap Om, bentar dewa mau buat kopi dulu, om mau?."

"Boleh boleh."

"Eh si om jangan minum kopi, ayah gimana sih inget penyakit yah ntar kambuh aja mama yang ribet."

Seketika ayah Fadli lemas mendengar teguran istrinya itu yang tiba tiba muncul dan mendekat ke arah mereka lalu duduk dan menyetel televisi, malam itu mendadak pada begadang semalaman.

Sazi sudah balik ke kamarnya dan Fadli sedang menghukumnya. "Bang engap, gerah ikh." celetuk Sazi.

"Biarin, Abang cuma pengen peluk istri Abang, lagi ini, gimana kamu enggak kegerahan ngapain kamu pake berlapis lapis kek gini sih Sazi Sazi, kek ketakutan Abang mau ngapa ngapain kamu aja." ucap Fadli yang masih mengeratkan pelukannya itu.

"Lagian Abang nyeremin,"

"Yaudah lepas itu sweaternya, udah banjir keringet gitu." titah Fadli yang langsung melonggarkan pelukannya. Sempat menyentuh kancing yang hampir ia buka namun Sazi menahannya.

"Enggak mau."

"Apa mau Abang yang bantu bukain hmm." ucap Fadli dengan ekspresi nakal.

"Abang ikh, yaudah bentar."

Pada akhirnya Sazi melepas sweater yang menumpuk di tubuhnya satu persatu, sedangkan Fadli menatap lekat istrinya dan menelan ludahnya dengan susah payah.

"Fadli tahan diri, dia masih sekolah fad." ucap Fadli membatin, dalam pikiran yang bertraveling, saat hasrat itu tiba tiba muncul begitu saja ingin sesuatu yang lebih dari istri kecilnya itu, namun ia harus berusaha bersabar sampai Sazi lulus sekolah.

Malam semakin larut rumah bernuansa eropa timur tengah semakin sepi, semua sudah pada ampih ke kamarnya masing masing, Sadewa dan ayah Fadli yang tadi menyempatkan bermain catur pun mereka sudahi saat salah satunya sudah menang yaitu ayah Fadli yang memenangkan permainan tersebut dengan rasa bangga.

Sementara di dalam kamar Fadli yang masih berusaha menahan dirinya lebih memilih merebahkan tubuhnya disamping Sazi seraya memeluknya.

Sazi yang kini sudah terlelap namun tanpa ia sadari ada cairan kristal yang hampir terjatuh disudut matanya membuat Fadli yang melihat langsung menyeka airmatanya saat itu.

"Maafin aku Zi, karena aku, kamu jadi kena imbasnya, aku janji akan menemukan orang yang berusaha merusak rumah tangga kita. Dan aku akan berusaha mencari tau tentang dimana keberadaan ayahmu." ucap Fadli dalam batinnya lalu mengecup pipi Sazi dan Lang memejamkan kedua netranya itu.

Alunan nafas yang berhembus dengan lembut membuat keduanya terlelap dalam sunyinya malam,

Sadewa yang tidak bisa tidur tak ada bosannya menscroll digalery ponselnya, melihat foto maupun video kebersamaannya dengan Sazi saat itu.

"Zi, kalo gue balik ke Swiss, elo gimana disini?."

"Gue enggak tenang tinggalin elo Zi, apalagi sepupu gue kek begitu kelakuannya. Andai aja elo sadar gue naksir elo dari dulu,..tapi gue terlambat Zi, elo makin sulit gue raih,..apa gue harus rebut paksa elo atau gue harus relakan elo sama sepupu gue itu, gue cuma pengen elo bahagia Sazi." Sadewa. Sesekali ia tersenyum saat semua terlintas dalam ingatannya itu.

Detak jam terus berputar hingga tak terasa suara kokok ayam pun sudah terdengar dan azan subuh pun berkumandang. Seperti biasa Fadli membangunkan Sazi untuk melakukan sholat berjama'ah itu beberapa Minggu yang lalu namun kali ini Sazi tumben tumbenan sudah bangun pagi sekali.

Semua sudah sat set ia lakukan dan kerjakan setelah semua selesai barulah ia membangunkan suaminya untuk melakukan sholat subuh.

"Bang, bangun, sudah subuh."

"Hmm, jam berapa sekarang?."

"Jam lima lewat, udah cepet sholat sana keburu siang."

"Hmm."

"Kamu sudah sholat?."

"Sudah baru aja."

"Kenapa enggak berjama'ah, bangunin Abang dulu."

"Abang keliatan capek jadi Zi, enggak mau bangunin Abang dulu, lagian Zi juga buru buru hari ini Zi ada piket disekolah,"

"Abang kalo mau sarapan sudah Zi siapkan sarapannya di meja makan, bentar Zi turun mau beresin jadwal pelajaran dulu."

Fadli pun hanya mengangguk, ia langsung ke toilet membersihkan tubuhnya dan tak lama ia pun menjalankan sholat subuh. Selesai itu ia pun menghampiri istrinya, tak lupa Sazi meraih tangan suaminya dan mencium tangan Fadli selepas sholat dan Fadli mengecup kening Sazi seraya mengusap kepala istrinya begitu khidmat.

Beberapa menit kemudian keduanya turun bersamaan menuju meja makan. Disana sudah menunggu ayah, mama Fadli dan Sadewa yang sudah duduk di area meja makan.

"Zi,..sekolah pagi, ayo sekalian gue antar." ajak Sadewa sambil mengunyah roti bakar berlapis selai coklat.

"Sazi gue yang bakal antar Wa."

"Oh oke, gue kira Sazi bakal jalan kaki lagi."

"Thanks Wa, katanya bang Fadli mau antar kok, tapi sebetulnya enggak usah kalian repot repot antar Sazi, haish sayang banget ini Sazi mau sarapan enak takut dimuntahin lagi."

Seketika semua pecah dengan tawa gegara celetukan Sazi pagi itu.

"Zi, kamu tuh ya, ada aja kelakuan, ntarlah kita belajar nyetir biar enggak muntah terus, kamu mesti terbiasa diseringin jalan jalan pake mobil Zi."

"Iya, Zi, kamu harus sering jalan jalan biasaain deh, kalo sudah terbiasa enggak akan kamu mabok lagi."

"Susah yah, sama Fadli sering diajak jalan dia pengennya ngerem terus dirumah."

"Apaan sih bang Fadli, puas banget kalo udah ledekin Zi, kamu juga Dewa haish nyebelin banget."

"Sudah sudah kalian sarapan saja fokus, nanti ayah akan belikan Sazi motor listrik yang roda tiga biar Sazi minimal bisa kendarain itu jadi sekolah enggak jalan kaki lagi."

"Kalo pake model gitu kamu bisa kali Zi?." tanya Ayah Fadli.

"Insyaallah bisa yah." sahut Sazi.

"Nah bagus kalo gitu nanti Ayah belikan."

"Yah enggak usah repot, nanti biar saya saja yang belikan,.sepulang sekolah kamu ikut Abang kita pilih motor listrik ya."

"Iya Bang." sahut Sazi mengangguk pelan sambil berusaha memotong ayam kecap dan menyantapnya dengan lahap.

"Yaudah kalo gitu maunya ayah sih terserah saja, Oia fad band kamu gimana sama.si Arven masih?."

"Masih Yah, tapi sekarang fadli lagi mau fokus buat pertandingan dulu"

"Eh Bang, nanti kalo Abang tanding, Zi mau buat poster ah."

Semua menaikkan dahinya dan menoleh ke arah Sazi. "Hmm, Poster."

"Buat apa Zi?." tanya Mama Fadli.

"Biar keren Mah, ada foto bang Fadli diposter gitu mah, terus ada tulisannya Suamiku juara dunia gitu."

"Astaga Sazi, tandingnya aja belom udah bikin kata kata kayak gitu, enggak usahlah malu Zi Haha, yang ada menang kagak malunya iya" Dan seketika semua tertawa ngakak dibuatnya.

Namun Sazi langsung membeku dan menunduk tak lama ia pun pamit dan tak banyak bicara. Melihat perubahan itu seketika ayah Fadli dan Sadewa juga mama Fadli langsung melirik ke arah Fadli agar langsung menyusulnya.

Diperjalanan menuju sekolah. Keduanya tak banyak bicara hanya terdiam tanpa adanya tema pembicaraan sama sekali.

Fadli yang tak enak hati pun pada akhirnya memulai pembicaraan demi memperbaiki hubungannya dengan istri kecilnya, masa baru juga baikan harus berantem diem dieman lagi kan enggak lucu, begitulah pikirnya.

"Zi."

Sazi menoleh dan menatap sebentar lalu kembali kedua netranya ke arah jendela. Fadli menoleh lagi kearahnya "Zi, emang kamu yakin Abang bakal juara di pertandingan nanti?."

"Hmm, ya yakin enggak yakin yang pentingkan do'a dulu bang."

"itu kan cita cita Abang kan dari dulu." ucap Sazi jujur.

"Kok kamu tau kalo itu cita cita Abang, Abang belum bilang loh padahal."

"Sazi tau dari mama Abang yang cerita banyak tentang Abang." jelas Sazi.

"Oh." ucapnya mengangguk faham.

"Emang si mama cerita apa aja tentang Abang?."

"Kepo."

"Abang mau tau aja, lagian ya kenapa enggak tanya aja langsung ke Abang kalo kamu mau tau apapun tentang Abang bakal Abang jawab kok."

"Emang kalo Sazi tanya apapun, Abang bakal jawab semua dengan jujur?."

Degh!

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!