Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan Dimulai
Keesokan paginya, suasana Akademi Arclight terasa berbeda dari biasanya. Meskipun matahari bersinar cerah dan para siswa mulai kembali ke aktivitas mereka, ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Bekas pertempuran masih terlihat di berbagai sudut—dinding retak, tanah yang belum sepenuhnya diperbaiki, dan aura sihir yang masih tersisa tipis di udara. Semua orang tahu, apa yang terjadi kemarin bukanlah insiden biasa.
Ren berdiri di lapangan latihan utama bersama Mira, Lilia, Nyra, Aria, dan Selene. Tubuhnya sudah pulih cukup banyak, tetapi ia masih bisa merasakan sisa kelelahan di dalam dirinya. Meski begitu, tatapannya jauh lebih fokus dibanding sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan seperti saat pertama kali ia tiba di akademi.
Di depan mereka, Gareth berdiri dengan tangan di belakang punggung, ditemani pria berambut perak yang kini diketahui bernama Eldric—salah satu instruktur tertinggi akademi dan penyihir yang pernah menyaksikan era Aldric Valen.
“Mulai hari ini,” kata Gareth dengan suara tegas, “kalian bukan lagi siswa biasa.”
Mira menyeringai. “Sejak kapan kami pernah ‘biasa’?”
Gareth mengabaikannya. “Kalian adalah unit khusus.”
Aria terlihat sedikit kaget. “Unit… khusus?”
Eldric melangkah maju. “Serangan Ordo Umbra kemarin membuktikan satu hal—kalian sudah berada di pusat konflik. Dan kami tidak punya waktu untuk melatih kalian seperti siswa normal.”
Nyra menyilangkan tangan dengan senyum puas. “Bagus. Aku sudah bosan dengan latihan dasar.”
Lilia meliriknya. “Jangan terlalu santai. Ini berbeda.”
Selene tetap diam, matanya tertuju pada Ren.
Eldric melanjutkan, “Pelatihan kalian akan difokuskan pada pertempuran nyata. Bukan simulasi. Bukan teori.”
Ren bertanya pelan, “Seberapa serius?”
Gareth menjawab singkat, “Sampai kalian siap menghadapi Ordo Umbra… atau mati.”
Suasana langsung hening.
Namun tidak ada yang mundur.
Mira justru mengangkat dagunya. “Kalau itu syaratnya, kita jalani saja.”
Aria menelan ludah, tetapi tetap mengangguk.
Nyra tersenyum lebar.
Lilia terlihat tenang seperti biasa.
Selene hanya berkata pelan, “Mulai saja.”
Eldric mengangkat tangannya.
Tiba-tiba, lingkaran sihir besar muncul di bawah kaki mereka.
Tanah di lapangan latihan berubah.
Dalam sekejap, lingkungan di sekitar mereka berganti menjadi hutan gelap yang lebat, penuh kabut dan suara-suara asing.
Aria langsung panik sedikit. “I-ini… ilusi?”
Eldric menggeleng. “Simulasi dimensi. Semua yang kalian rasakan di sini… nyata.”
Ren memperhatikan sekelilingnya. Energi di tempat itu terasa aneh, tetapi stabil.
Gareth berkata, “Aturan sederhana. Bertahan hidup.”
Mira tersenyum. “Itu saja?”
Nyra tertawa kecil. “Aku suka aturan seperti itu.”
Namun sebelum mereka bisa berkata lebih banyak—
Suara geraman terdengar dari dalam hutan.
Satu.
Dua.
Lalu puluhan.
Dari balik kabut, makhluk-makhluk muncul. Tubuh mereka besar, mata mereka merah, dan aura mereka dipenuhi energi gelap.
Aria mundur satu langkah. “Apa itu…?”
Eldric menjawab datar, “Makhluk hasil eksperimen Ordo Umbra.”
Ren langsung fokus. Ia bisa merasakan energi yang mirip dengan yang digunakan Kael.
“Jadi ini…” gumamnya, “…bukan sekadar latihan.”
Gareth mengangguk. “Ini gambaran kecil dari apa yang akan kalian hadapi.”
Makhluk pertama langsung melompat ke arah mereka.
“Mulai!” teriak Gareth.
Pertempuran langsung pecah.
Mira maju pertama, api menyala di tangannya. “Flame Burst!” Serangannya meledak di depan makhluk itu, menghentikannya sejenak.
Nyra menghilang ke dalam bayangan dan muncul di belakang musuh lain, menyerangnya dengan kecepatan tinggi.
Lilia menciptakan dinding es untuk menahan dua makhluk sekaligus.
Aria memperkuat perisai dan memberikan dukungan dari belakang.
Selene bergerak cepat seperti bayangan, menyerang titik lemah dengan presisi tinggi.
Ren berdiri di tengah beberapa detik.
Ia mengamati.
Menghitung.
Mengendalikan napasnya.
Lalu ia bergerak.
Tidak seperti sebelumnya, ia tidak langsung melepaskan kekuatan besar.
Ia mengangkat tangannya, energi gelap muncul tipis.
“Void Pulse.”
Gelombang kecil energi dilepaskan—cukup untuk menghentikan satu makhluk tanpa menghancurkan sekitarnya.
Selene langsung menyadarinya.
“Dia mengontrol outputnya.”
Nyra menyeringai. “Akhirnya dia tidak meledakkan semuanya.”
Ren bergerak lagi, kali ini lebih cepat.
Ia menghindari serangan makhluk lain dan menyerang balik dengan presisi.
Tidak berlebihan.
Tidak boros.
Efisien.
Namun jumlah musuh terus bertambah.
Kabut semakin tebal.
Suara geraman semakin banyak.
Aria mulai kewalahan. “Mereka tidak habis-habis!”
Gareth mengamati dari luar lingkaran sihir. “Tekanan akan terus meningkat.”
Eldric menambahkan, “Kita lihat seberapa lama mereka bertahan.”
Di dalam simulasi, situasi mulai memburuk.
Mira kelelahan.
Lilia mulai melambat.
Nyra masih tersenyum, tetapi gerakannya tidak secepat sebelumnya.
Selene tetap stabil, tetapi jumlah musuh terlalu banyak.
Ren melihat semua itu.
Ia mengepalkan tangannya.
“Kalau begini terus…” gumamnya.
Ia menarik napas panjang.
Energi di dalam dirinya mulai merespon.
Namun kali ini—
ia tidak membiarkannya lepas.
Ia mengarahkannya.
“Semua mundur,” katanya tegas.
Mira langsung menoleh. “Apa?”
“Sekarang.”
Nada suara Ren berbeda.
Lebih tegas.
Lebih yakin.
Tanpa banyak tanya, mereka mundur beberapa langkah.
Ren melangkah ke depan.
Energi gelap muncul di sekelilingnya—tidak liar, tetapi terkendali.
Ia mengangkat tangannya.
“Void Field.”
BOOM.
Gelombang energi menyebar, tetapi tidak menghancurkan.
Melainkan menekan.
Semua makhluk di area itu terhenti sejenak, seolah tertahan oleh tekanan tak terlihat.
Selene membuka mata sedikit lebar. “Area control…”
Nyra tertawa. “HAHA… ini baru menarik.”
Ren memanfaatkan momen itu.
“Sekarang!”
Mira langsung menyerang dengan api besar.
Lilia menjatuhkan hujan es.
Selene dan Nyra menyerang bersamaan.
Aria memperkuat semua serangan.
Dalam beberapa detik—
gelombang pertama musuh hancur.
Kabut perlahan menipis.
Namun dari kejauhan…
sesuatu yang lebih besar bergerak.
Tanah bergetar.
Suara langkah berat mendekat.
Aria menelan ludah. “Jangan bilang…”
Dari dalam hutan, muncul makhluk raksasa—tiga kali lebih besar dari yang sebelumnya, dengan aura gelap yang jauh lebih kuat.
Gareth melihat itu dari luar.
“Boss phase,” katanya singkat.
Eldric tersenyum tipis. “Sekarang bagian menariknya.”
Ren menatap makhluk itu.
Ia menarik napas pelan.
Kali ini…
ia tidak ragu.
“Semua siap,” katanya.
Tapi,penyajian pembahasan mu keren Thor.Tidak bertele-tele,semua nya sudah bagus.Tinggal itu yang tadi terkait penjelasan dari cerita Arka menjadi Ren.💪💪💪💪