Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Beberapa saat setelah itu, kamar inap kembali sunyi, Marcel masih berada di samping tempat tidur istrinya. Pria itu menatap dengan tatapan kosong, seolah tidak percaya jika sang istri akan terbaring seperti ini.
Sementara Nathan, berdiri tidak jauh dari situ, pria itu memberikan pesan pada sang ayah agar tidak terlalu memikirkan kondisi sang ibu.
“Papi sebaiknya istirahat dulu,” katanya pelan. “Dokter bilang kondisi Mami stabil.”
Marcell tidak langsung menjawab. Ia justru masih menatap wajah Vivian yang terbaring lemah lalu beberapa detik kemudian barulah pria itu berkata pelan, namun nadanya berat.
“Semua ini tidak akan terjadi kalau perempuan itu tidak muncul lagi.”
Nathan langsung menatap ayahnya. “Papi masih saja menyalahkan Andin?”
Marcell menoleh perlahan. “Kamu terlalu mudah dibutakan perasaan, Nathan.”
Nathan mengeraskan rahangnya. “Ini bukan soal perasaan.”
“Lalu apa?” potong Marcell.
Nathan menahan emosinya beberapa detik sebelum menjawab. “Soal kebenaran.”
Kalimat itu membuat Marcell terdiam sejenak, namun bukan berarti ia setuju, pria itu justru menyeringai tipis. “Kamu pikir kamu sudah tahu semuanya?”
Nathan tidak menjawab, tapi dalam hatinya ia yakin jika Andin tidak melakukan apapun terlebih ada beberapa orang yang menjadi saksi dalam kejadian tadi.
Marcell melangkah mendekat.
“Nathan,” katanya pelan namun tajam, “perempuan seperti Andin tidak akan kembali ke hidupmu tanpa alasan.”
Nathan menatap ayahnya lurus. “Dia tidak pernah mencoba kembali.”
Jawaban itu membuat Marcell terdiam lagi, akan tetapi hatinya memberontak seolah tidak terima dengan sudut pandang sang anak yang selalu membela perempuan itu.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “aku sendiri yang akan memastikan.”
Nathan langsung mengerutkan dahi. “Memastikan apa?”
Marcell mengambil ponselnya dari saku jas. “Bahwa perempuan itu tidak akan membuat masalah lagi dalam keluarga kita.”
Nada bicaranya sangat tenang, tanpa basa-basi pria itu langsung melakukan sesuatu dihadapan anaknya.
Nathan seolah merasakan sesuatu yang tak enak. “Papi… jangan macam-macam.”
Marcell hanya tersenyum tipis. “Kamu terlalu khawatir.”
Namun Nathan mengenal ayahnya, senyum seperti itu bukan tanda baik, dan hal itu membuat kekhawatiran Nathan semakin kuat terhadap Andin.
"Pi," tegur Nathan. "Sekali lagi aku tegaskan, jangan sentuh dia," tekan anaknya itu.
Marcell tidak menggubris, bibirnya terangkat miring. Bahkan tanpa berkata apa-apa lagi, pria paruh baya itu berjalan keluar dari kamar rawat.
Nathan hanya bisa menatap punggung ayahnya dengan perasaan tidak tenang.
Ia tahu satu hal dengan sangat jelas. Jika Marcell sudah mulai bergerak, maka Andin mungkin akan kembali berada dalam masalah.
"Ini tidak bisa terjadi aku harus segera bertindak," gumamnya.
Tanpa basa-basi lagi, akhirnya pria itu langsung menghubungi Mark, untuk memastikan keadaan Andin di dalam kontrakannya.
Nathan menekan tombol panggil pada ponselnya. Hanya beberapa detik kemudian sambungan itu terangkat.
“Ya, Bro?” suara Mark terdengar dari seberang.
Nathan tidak membuang waktu. “Mark, kamu sekarang di mana?”
“Masih di kantor, Bro.”
“Pergi ke kontrakan Andin sekarang juga.”
Mark langsung terdiam sejenak. “Ada apa?”
Nathan menghela napas pendek. Rahangnya mengeras. “Papi baru saja keluar dari kamar rawat Mami. Aku tidak suka firasatku… aku takut dia akan melakukan sesuatu.”
Nada suara Nathan membuat Mark langsung mengerti.
“Baik, Bro. Gue berangkat sekarang.”
“Hubungi aku begitu kamu sampai.”
“Siap.”
Sambungan terputus. Nathan menatap layar ponselnya beberapa detik. Dadanya terasa semakin tidak nyaman.
Ia mengenal ayahnya. Marcell bukan tipe orang yang hanya mengancam tanpa bertindak.
Jika pria itu sudah mengatakan sesuatu biasanya itu berarti semuanya sudah direncanakan.
Nathan meremas ponselnya kuat-kuat. “Jangan sampai terlambat…” gumamnya pelan.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu. Langit di atas gang kecil tempat kontrakan Andin berada sudah benar-benar gelap.
Lampu jalan yang redup hanya menerangi sebagian kecil area. Suasana malam terasa sunyi. Andin masih duduk di kursi kayu dekat jendela.
Sejak kejadian sore tadi, ia belum benar-benar merasa tenang. Pikirannya teringat pada bunyi ambulan tadi, tetangga yang berkerumun, tubuh Vivian yang terbujur kaku. Semua itu masih berputar di kepalanya.
Andin menghela napas pelan lalu berdiri dari kursinya. Ia melangkah menuju dapur kecil untuk mengambil segelas air.
Namun baru saja ia meminum seteguk, suara mesin mobil tiba-tiba terdengar dari luar gang.
Andin mengerutkan kening. Malam-malam seperti ini biasanya jarang ada kendaraan yang berhenti di depan kontrakannya. Ia tanpa sadar melangkah mendekati jendela lagi.
Dari balik tirai tipis, ia melihat sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari kontrakannya.
Pintu mobil terbuka.
Satu orang pria turun.
Lalu dua orang lainnya.
Andin langsung merasakan sesuatu yang tidak beres. Instingnya tiba-tiba menegang. Tiga pria itu tidak terlihat seperti orang yang sedang mencari alamat.
Mereka justru berdiri beberapa detik menatap ke arah rumah kontrakan. Tepat ke arah kontrakannya. Jantung Andin mulai berdetak lebih cepat.
“Siapa mereka…?” gumamnya pelan.
Di luar, salah satu pria itu mengeluarkan ponsel dan melihat layar sejenak.
Kemudian ia mengangkat kepala. “Yang mana rumahnya?” tanya salah satu dari mereka.
Pria yang memegang ponsel menunjuk lurus ke depan.
“Itu.”
Tatapan mereka langsung mengarah pada pintu kontrakan Andin. Andin refleks mundur selangkah dari jendela. Napasnya berubah tidak teratur.
Perasaannya mengatakan sesuatu yang sangat jelas. Mereka datang untuknya.
Di luar, salah satu pria itu menyeringai tipis.
“Cepat saja. Bos bilang jangan sampai ribut.”
“Tenang saja,” jawab yang lain santai. “Cuma perempuan.”
Mereka mulai berjalan mendekati rumah kontrakan. Langkah mereka terdengar jelas di jalan gang yang sunyi.
Tok.
Tok.
Tok.
Setiap langkah terasa seperti pukulan di dada Andin. Tangannya mulai gemetar. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Namun sebelum sempat mengambilnya
Tok!
Suara ketukan keras terdengar di pintu kontrakan.
Andin membeku, ketukan itu lebih keras lagi, seolah menghantam dadanya yang sejak tadi bergetar ketakutan.
Tok! Tok! Tok!
“Buka pintunya!” suara pria terdengar dari luar.
Andin tidak menjawab. Ia mundur beberapa langkah dengan napas tertahan.
Di luar, salah satu pria itu mulai kehilangan kesabaran. “Perempuan itu pasti di dalam.”
“Dobrak saja?”
Pria yang paling besar menggeleng.
“Jangan. Bos bilang jangan bikin ribut.”
Ia lalu melangkah lebih dekat ke pintu. “Dengar ya!” katanya dengan suara lebih keras.
“Kami cuma mau bicara sebentar!”
Andin menggigit bibirnya. Tubuhnya terasa dingin. Ia tahu… orang-orang ini tidak datang untuk sekadar bicara.
Belum sempat Andin menjawab, tapi ketukan itu terdengar kembali.
“Buka pintunya sekarang!”
Andin masih tidak bergerak.
Detik demi detik terasa sangat panjang, lalu tiba-tiba. Salah satu pria itu berkata pelan pada temannya.
“Sudah. Kita masuk saja.”
Andin berlari ke kamarnya, lalu menguncinya rapat, meskipun tangannya saat ini sedang bergetar hanya untuk memegang kunci saja.
Sementara di luar salah satu dari pria itu kakinya terangkat, bersiap menendang pintu kontrakan.
Dan tepat pada saat itu. Lampu mobil di ujung gang tiba-tiba menyala terang.
Sebuah mobil lain baru saja berhenti. Pintu mobil terbuka. Seseorang keluar dengan langkah cepat. Pria-pria di depan kontrakan langsung menoleh.
Di dalam rumah, Andin berdiri membeku. Jantungnya berdetak semakin keras, karena ia belum tahu, bagaimana nasib dirinya kedepannya.
"Ya Allah, selamatkan aku ...," pinta Andin.
Bersambung